Jumat, 15 Februari 2013

Tembok




cuma Berlin yang sudi menerima batas-batas dalam diri.
China yang kokoh,kotak-kotak tak pernah surut menghadang kita
semenjak Genghis ingin kembali berkuasa.

kita dengar lirih para pekerja.peluh berkilatan menempuh laju lengan.
kita sampai pada aduh paling mengaduh.rindu kampung nun jauh.
kita telah memaksa mereka,memamerkan wisata lelah dan nyawa.

hanya laknat yang kita tundukkan pada Her Fuhrer
tergagap berpaling,kita telah tersihir kumis angker
membunuhi nyawa-nyawa Peratap.membuang mayat jutaan diri.

aku tahu engkau mesti selalu lari.sebab memang kau ditugaskan untuk berlari
walau kau tak ingin.namun aku akan menjadi ribuan mata pada bata-bata
yang menghadang pertemuan kita.meski si Raksasa atau milik wajah Germania.

2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar