DATA BUKU:
Judul : Mazmur Musim Sunyi
Penulis : Sulaiman Djaya
Penerbit : Kubah Budaya
Cetakan : I,Januari 2013
Tebal :
105 halaman
ISBN :
978-602-19376-2-4
Kesunyian yang
Membentuk Sajak
oleh:Bagus
Burham
Setiap musim selalu menanggalkan tandanya untuk tetap dinikmati oleh
musim yang lain setelahnya.Itulah kesan saya pada buku puisi “Mazmur Musim
Sunyi” gubahan Sulaiman Djaya. Di sini penyair menggarap peta jalan cerita
hidup yang penuh dengan kesunyian.Sajak-sajak yang terangkum dalam buku ini
menyoalkan seputar hidupnya yang di selubungi oleh cinta.Banyak sajak yang
memperbincangkan masalah cinta yang disusun penuh dengan metafor-metafor yang
seakan hidup dan mempunyai makna.Di sinilah kerja yang baik dari penyair
itu.Berpuisi secara total hingga melahirkan sajak-sajak yang mempunyai album
sendiri di hati pembacanya.
Buku ini juga memiliki daya pikat pada setiap gaya bahasa yang ditampilkan.Personifikasi
yang secara lembut mendaras di dalamnya dengan penggunaan tipografi kontemporer
ataupun kotak rapi--yang kadang berada pada tubuh sajak-sajak naratifnya--serta-merta
membawa kita terus mengulangi membaca sajak-sajak yang halus dan renyah untuk
diambil kiasan-kiasan yang dimilikinya.Namun bukan berarti kita mencuri.Kita
tidak sedang membicarakan ajaran TS Eliot di sini.Maksud saya kita akan
disuguhi berbagai pilihan kata-kata untuk bagaimana menyusun sajak yang baik
menggunakan paradoks,silogisme dan menyatukannya dengan realitas.Akan
menimbulkan efek yang mengena dan terasa enak.Dikhususkan pada para peminat
puisi yang ingin lebih menggeluti dunia perpuisian yang semakin bertambah ramai
dengan munculnya buku sajak ini.
Judul dalam buku ini memang sangat klop dengan isi di dalamnya.Banyak
kata-kata yang bernyanyi yang berasal dari pikiran penulis,tergubah dengan
sangat merdu.Ia juga hadir membawa nuansa romantik yang sudah lama namun
terkesan baru jika digubah olehnya.Banyak sajak yang menyoal cinta namun cinta
itu tak kelihatan secara gamblang pada sajak-sajak yang diruwatnya.Seperti Rubayyat Dua Mastnawi,Surat Cinta,Rubayyat
Cinta,Kotak Cinta Bulan April,Menulis Sajak Romantis,dan masih banyak lagi
sajak yang bernafaskan cinta.
Sajak-sajak dalam buku ini tak memerlukan
perundingan yang sangat panjang untuk memahaminya.Pembaca tak harus mempunyai
kekayaan literatur yang melimpah untuk mengerti isi dalam sajak-sajak buku
ini,sebab bahasa yang dipilinkan dalam sajak-sajak yang terangkum di buku ini
adalah bahasa sehari-hari yang sederhana dan sangat menyenangkan bagi para
peminat tema cinta,terutama puisi.
Usaha
Menyambung para Pendahulu
Seperti pengantar yang terangkum pada buku sajak ini yang ditulis oleh
Sulaiman Djaya,ia hanya memungut kembali puing-puing keruntuhan,batu bata yang
ia miliki dan ditumpuknya di atas sekian batu bata milik para penulis dan
pemikir terdahulu.Dalam kecendekiaan yang di milikinya,ia meminjam pandangan
ini dari Bataille dan Derrida.Bahwa apakah dengan menulis ia sebenarnya tengah
mencari identitas,hanya waktu dan perjalanannya di dunia puisi yang akan
menjawabnya.
Puisi seperti halnya mesin foto kopi.Telah menyetak-melipat gandakan
usaha-usaha untuk terus melanjutkan apa yang telah diperbuat oleh para
pendahulu terhadap puisi.Meski usaha itu tak pernah diproklamirkan seorang
penyair di dunia ini,namun bagi mereka yang berhasrat ingin mewarisi tekad
itu,maka dengan meninggalkan tanda berupa tinta kerjanya,ia akan dikenang dan
di kenal sebagai penyair,meski ia mengakui itu atau tidak pada dirinya.Inilah
jalan puisi itu.Puisi yang bagi sebagian orang hanya angin lalu,diucapkan bila
merasa patah hati,atau tengah iba dengan keadaan sekitar,semisal masalah sosial
dan kemiskinan adalah seperti kulit kuaci yang terbuang semenjak isinya digigit
mulut.Namun masyarakat penyair yang hidup dibawahnya sadar akan jalan yang
mereka pilih.Demi tercapainya sebuah estetika yang terus harus dilanjutkan oleh
generasi muda;generasi penerus.Maka puisi akan terus hidup dalam rutinitas dan
kesehariaan hingga penyair terakhir telah tahu takdirnya di hari akhir.
Bagus Burham,penikmat puisi.Bergiat di
Komunitas Kopi,Kudus.
Dimuat di : Banten Raya,27 April 2013
Informasi dari Sulaiman Djaya
Informasi dari Sulaiman Djaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar