Sabtu, 16 Februari 2013

Mazmur Musim Sunyi




 DATA BUKU:

Judul      : Mazmur Musim Sunyi

 Penulis    : Sulaiman Djaya

 Penerbit  : Kubah Budaya

 Cetakan  : I,Januari 2013

 Tebal      : 105 halaman

 ISBN      : 978-602-19376-2-4



Kesunyian yang Membentuk Sajak

oleh:Bagus Burham



       Setiap musim selalu menanggalkan tandanya untuk tetap dinikmati oleh musim yang lain setelahnya.Itulah kesan saya pada buku puisi “Mazmur Musim Sunyi” gubahan Sulaiman Djaya. Di sini penyair menggarap peta jalan cerita hidup yang penuh dengan kesunyian.Sajak-sajak yang terangkum dalam buku ini menyoalkan seputar hidupnya yang di selubungi oleh cinta.Banyak sajak yang memperbincangkan masalah cinta yang disusun penuh dengan metafor-metafor yang seakan hidup dan mempunyai makna.Di sinilah kerja yang baik dari penyair itu.Berpuisi secara total hingga melahirkan sajak-sajak yang mempunyai album sendiri di hati pembacanya.

       Buku ini juga memiliki daya pikat pada setiap gaya bahasa yang ditampilkan.Personifikasi yang secara lembut mendaras di dalamnya dengan penggunaan tipografi kontemporer ataupun kotak rapi--yang kadang berada pada tubuh sajak-sajak naratifnya--serta-merta membawa kita terus mengulangi membaca sajak-sajak yang halus dan renyah untuk diambil kiasan-kiasan yang dimilikinya.Namun bukan berarti kita mencuri.Kita tidak sedang membicarakan ajaran TS Eliot di sini.Maksud saya kita akan disuguhi berbagai pilihan kata-kata untuk bagaimana menyusun sajak yang baik menggunakan paradoks,silogisme dan menyatukannya dengan realitas.Akan menimbulkan efek yang mengena dan terasa enak.Dikhususkan pada para peminat puisi yang ingin lebih menggeluti dunia perpuisian yang semakin bertambah ramai dengan munculnya buku sajak ini.

     Judul dalam buku ini memang sangat klop dengan isi di dalamnya.Banyak kata-kata yang bernyanyi yang berasal dari pikiran penulis,tergubah dengan sangat merdu.Ia juga hadir membawa nuansa romantik yang sudah lama namun terkesan baru jika digubah olehnya.Banyak sajak yang menyoal cinta namun cinta itu tak kelihatan secara gamblang pada sajak-sajak yang diruwatnya.Seperti Rubayyat Dua Mastnawi,Surat Cinta,Rubayyat Cinta,Kotak Cinta Bulan April,Menulis Sajak Romantis,dan masih banyak lagi sajak yang bernafaskan cinta.

    Sajak-sajak dalam buku ini tak memerlukan perundingan yang sangat panjang untuk memahaminya.Pembaca tak harus mempunyai kekayaan literatur yang melimpah untuk mengerti isi dalam sajak-sajak buku ini,sebab bahasa yang dipilinkan dalam sajak-sajak yang terangkum di buku ini adalah bahasa sehari-hari yang sederhana dan sangat menyenangkan bagi para peminat tema cinta,terutama puisi.



Usaha Menyambung para Pendahulu



      Seperti pengantar yang terangkum pada buku sajak ini yang ditulis oleh Sulaiman Djaya,ia hanya memungut kembali puing-puing keruntuhan,batu bata yang ia miliki dan ditumpuknya di atas sekian batu bata milik para penulis dan pemikir terdahulu.Dalam kecendekiaan yang di milikinya,ia meminjam pandangan ini dari Bataille dan Derrida.Bahwa apakah dengan menulis ia sebenarnya tengah mencari identitas,hanya waktu dan perjalanannya di dunia puisi yang akan menjawabnya.

    Puisi seperti halnya mesin foto kopi.Telah menyetak-melipat gandakan usaha-usaha untuk terus melanjutkan apa yang telah diperbuat oleh para pendahulu terhadap puisi.Meski usaha itu tak pernah diproklamirkan seorang penyair di dunia ini,namun bagi mereka yang berhasrat ingin mewarisi tekad itu,maka dengan meninggalkan tanda berupa tinta kerjanya,ia akan dikenang dan di kenal sebagai penyair,meski ia mengakui itu atau tidak pada dirinya.Inilah jalan puisi itu.Puisi yang bagi sebagian orang hanya angin lalu,diucapkan bila merasa patah hati,atau tengah iba dengan keadaan sekitar,semisal masalah sosial dan kemiskinan adalah seperti kulit kuaci yang terbuang semenjak isinya digigit mulut.Namun masyarakat penyair yang hidup dibawahnya sadar akan jalan yang mereka pilih.Demi tercapainya sebuah estetika yang terus harus dilanjutkan oleh generasi muda;generasi penerus.Maka puisi akan terus hidup dalam rutinitas dan kesehariaan hingga penyair terakhir telah tahu takdirnya di hari akhir.
    

         Bagus Burham,penikmat puisi.Bergiat di Komunitas Kopi,Kudus.

Dimuat di : Banten Raya,27 April 2013
Informasi dari Sulaiman Djaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar