Jumat, 15 Februari 2013

Labu Ajaib



Labu Ajaib
oleh Bagus Burham

     Sekian lama Pak Mawi menunggu di belakang pohon jambu tengah malam.Menyaksikan beberapa unggas berlalu-lalang di kebun itu.Burung hantu memekik perlahan tanda hari kian larut oleh waktu.Pak Mawi tak beranjak dari tempatnya semula menunggu-nunggu.Benda keramat itu telah ia cari berbulan-bulan.Benda yang dapat memberinya segala keinginan yang ia pinta.Mulai dari sawah yang subur dan menghasilkan ketela yang gemuk ketika dipanen,dagangan es cendol Mak Nok istrinya yang kian hari kian laris di emperan rumahnya,hingga makanan-makanan nikmat yang tersaji dalam sekejap mata.Pak Mawi mencarinya terus.Aku telah sekian lama bersabar di sini digigit nyamuk berkali-kali.Yah,aku memang yang bersalah telah menghilangkannya suatu hari ketika kami pergi bersama mencangkul di sawah Pak Mawi.Ketika itu kuletakkan benda itu di gubuk biasa kami berteduh dan istirah dari kegiatan mencangkul yang menguras tenaga.Pak Mawi padahal telah berpesan padaku jangan membawa benda itu kemana-mana,namun aku terlanjur suka memegangnya. Seperti ada rayuan yang terus membisikiku.Labu itu seperti payudara perawan yang ranum!
     
          Tiba-tiba ketika kami menuju gubuk istirah Pak Mawi,kami terkejut labu ajaib itu telah menghilang.Sebetulnya satu permintaanku telah dikabulkan labu itu.Aku mampu berjalan lagi,setelah kurang lebih satu tahun lamanya kakiku patah dan aku tak punya uang untuk berobat hanya mmapu pergi ke dukun pijat di desa kami.Karena pekerjaanku yang dulu yaitu menyadap nira di poon-pohon kelapa.Suatu ketika sepongkor nira telah berhasil kukumpulkan namun sewaktu hendak turun dari pohon,kakiku tergelincir dan terjatuh dari ketinggian enam meter.Kedua kakiku mendarat lurus dan menciptakan bunyi gemeretak yang keras.Akupun cacat.Namun ketika dengan senang hatinya Pak Mawi memperlihatkan labu itu,waktu itu aku tak percaya dengan bualannya.Tetapi aku terus didesaknya untuk meminta permintaan apapun.Lantas aku ingin sembuh dan ajaib! Labu itu menyembuhkan kakiku.Aku sudah dianggap oleh Pak Mawi sebagai anaknya sendiri.Aku bekerja padanya.Ia memiliki sepetak sawah tak jauh dari rumahnya,dan beberapa batang pohon kelapa untuk disadap niranya.
    
     Sayang labu itu tak mampu memberi kami harta berupa benda-benda nyata seperti emas dan uang.Labu itu hanya menanggapi permintaan kami akan kelancaran tentang segala sesuatu.Pak Mawi tidak marah.Ia hanya sangat mengecewakan perbuatanku ketika membawa labu itu ke sawah.Hingga saat itulah kami terus mencarinya sampai menyingkap semua penjuru desa kami.

***
    Pencarian pertama kami lakukan disekitar sawah Pak Mawi.Semak dan rerumputan begitu juga batang-batang padi bekas panen kami ungkai,kami singkapi semuanya.Segala lini kami buka,namun hasilnya nihil.Kami terus mencari hingga sore bertandang.Tak ada hasil.Maka kami pulang dan segera kami disambut oleh wajah Mak Nok yang masih berseri.

“Oh,kalian sudah pulang.Ayo masuk!”

Mak Nok kelihatan mencari sesuatu.Aku tahu apa yang Mak Nok cari,tapi kami berdua tetap membisu dan pura-pura tak menahu.

“Ngomong-ngomong,mana labu ajaib kita?” tanya Mak Nok.

Dengan muka ketakutan,Pak Mawi menceritakan ihwal labu itu.
“Be..begini.Tadi Sarkowi membawanya ke sawah.Lantas…”

Mak Nok lalu tiba-tiba beralih ekspresi.Mukanya penuh dengan amarah.
“Lantas bagaimana? Ceritakan padaku!”

“Be-beg-begini..,tadi Sarkowi membawanya ke sawah,lalu…”

Sebelum Pak Mawi terus melanjutkan perkataannya,akupun memotongnya,
“Aku menghilangkannya Mak,maafkan aku…”

Mak Nok lalu memukuli punggungku.Ia kesal.Dan menyuruh kami terus mencari sampai labu ajaib itu ditemukan.

    Pencarian kedua kami lakukan disekitar sawah Pak Mawi.Di seberang sawah itu ada kebun milik Juragan tanah desa kami;Bandot.Kamipun diam-diam menelusup kesana.Bermodal lampu teplok dan senter kecil aku dan Pak Mawi terus menerus mencari.Apakah labu itu sudah tak betah dengan tuannya,Pak Mawi?

    Tak ada yang dapat ditemukan di kebun itu.Sebetulnya awal mula Pak Mawi bertemu dengan Labu itu adalah ketaksengajaan.Labu itu tiba-tiba berada di sawah milik Pak Mawi di antara batang-batang ketela yang berdaun,labu itu berputar-putar dan mendentumkan permukaannya pada tanah.Takjub,Pak Mawi lantas membawanya kerumah diperlihatkannya pada Mak Nok dan padaku yang masih sakit kala itu.Labu itu murub,menyala-nyala pada saat tiba dirumah.Dan mulai berbicara layaknya kami.Ia mengatakan bahwa ia dapat mengabulkan permintaan-permintaan kami kecuali harta.Kami awalnya bingung namun Pak Mawi pertama yang meminta untuk pohon mangga miliknya di belakang rumah yang telah mandul sekian tahun,mengambek untuk berbuah.Supaya lebat buahnya dan manis rasanya.Tak dinyana secepat kilat buah-buah bermunculan dari ranting-ranting pohon itu.Dan ketika kami mencicipi rasanya sungguh nikmat.Kemudian Mak Nok mencoba permintaan untuk memenuhi lima pongkor di pojok ruang tamu dipenuhi oleh nira kelapa.Itupun ketika kami periksa memang penuh oleh nira yang manis dan murni tidak tercampur kotoran.Kemudian ketika giliranku akupun meminta kesembuhan yang menjadi permintaan pertama dan terakhirku segera setelah labu ajaib itu menghilang entah kemana sebab kesalahanku.

“Kita mesti cari kemana lagi?” tanya Pak Mawi.      

“Wah,Pak,kalau sudah mentok kayak gini,kita mesti minta bantuan Mbah Darmo!”

“Ah,apa nanti ia tidak minta aneh-aneh pada kita.Seperti ketika kau terjatuh dulu.Dia bilang bahwa ada segerombol gundul pecengis yang iseng memelesetkanmu di pohon kelapa.Lantas ia meminta ayam goreng tiga ekor untuk membantu menyembuhkanmu dari pengaruh gundul pecengis itu.”Kata Pak Mawi meragukan ideku.

“Kan,ini usaha kita,Pak.Yang waktu itu memang mungkin Mbah Darmo mau bercanda dengan kita.Mana ada gundul pecengis menggelayuti kakiku.Yang ada mereka terjatuh dari pohon kelapa,menjelma kepala dan ketika kita ambil ia meringis.Itu cara mereka menakuti kita
;manusia.Mbah Darmo mungkin kali ini bisa membantu.Dia orang pinter.Nyatanya ia tahu hal-ihwal yang menimpaku.Padahal kita sebelumnya tiada memberitahu warga desa tentang musibah itu.Kita coba saja,Pak!”kataku, mencoba meyakinkan Pak Mawi.

“Yowes,kalau kamu maunya begitu,Ayo kita coba ke Mbah Darmo.”

***
   Keesokan hari setelah pencarian sia-sia itu,kami berikhtiar mencari labu ajaib itu dengan bantuan Mbah Darmo.Rumah Mbah Darmo tak terawat.Tiang-tiangnya lapuk dimakan rayap. Keadaan sekitar rumahnya sepi.Terkesan mengerikan.Jalan yang lengang hanya dilewati para nenek dan wanita-wanita paruh baya yang mencari kayu bakar di seberang rumah Mbah Darmo yang merupakan hutan.Ketika memasuki rumah Mbah Darmo kita mesti berteriak menyebut sebuah kata yaitu kata ‘Durjono’.Entah apa arti kata itu.Tapi Pak Mawi berkata bahwa kata itu tak berarti.Itu mungkin semacam mantra agar para lelembut,dhemit yang dipelihara Mbah Darmo di rumahnya ini tak mengganggu tamu yang bertandang ke rumahnya.

“Durjono…!”

“Oh,kalian.Ada apa lagi,kan Sarkowi sudah sembuh kakinya.”Cetus Mbah Darmo.

“Begini Mbah,kami kesini ini mau minta pertolongan.”Kata Pak Mawi.

“Mau ditolong untuk apa? Ada syaratnya lho,hahaha…”

“Kami akan penuhi syaratnya,Mbah.Tenang saja!”kataku menghentak.

“Tapi berat lho.Malah ngeri ini! Gimana,sanggup?”

Kami berdua terdiam.Aku menelan ludah.Hingga terlontar kalimat dari mulut Mbah Darmo, “Hahaha…aku cumak bercanda,kok.Syaratnya hanya tiga ekor ayam goreng untukku.Hehehe…”

Fiuh…nyaris saja kami mau pergi.Dan tak ingin tahu apa syarat berat itu.Tapi perkataan Mbah Darmo tadi melegakan hati kami.Kemudian Mbah Darmo melanjutkan percakapan,”Aku tahu apa yang ingin kalian butuhkan padaku.Hehehe…benda itu hilang karena sudah capek dengan kalian.”

Kamipun mengangguk..Dan terheran-heran.Aku memang benar.Mbah Darmo tahu apa yang terjadi disekitar desa ini.Ia sakti.

Pak Mawipun berkata,”Iya,Mbah.Memang betul benda itu yang kami cari-cari selama ini.”

“Sebenarnya benda itu bukan hakmu,Mawi.Benda itu milik dukun Jambrong yang sakti mandraguna yang kini masih bertapa di Gunung sana.Ia belum ingin mencari labu ajaib itu.Entah mungkin labu itu telah kembali.”

Wajah Pak Mawi mendadak berubah.Ia kecewa.Ternyata labu ajaib itu bertuan.

    Kamipun pulang.Tanpa membawa hasil apapun.Pak Mawi mengadukan hal ini kepada istrinya Mak Nok.Iapun pasrah dan menerima kenyataan itu.Kamipun masih bersyukur bahwa aku,tetap saja sembuh dan sehat sehingga masih dapat membantu Pak Mawi di sawah.Dan tanah Pak Mawi masih subur.Dagangan es cendol Mak Nok juga masih laris seperti kemarin-kemarin.

    Namun peristiwa aneh kutangkap dengan mataku.Ketika aku berjalan melewati rumah Mbah Darmo dari kejauhan kulihat ia tengah tersenyum gembira memegang sesuatu.Astaganaga,itu labu ajaib!

***
      Kamipun berdiri dan menunggu di sini.Menunggu berjam-jam di belakang pohon jambu tak jauh dari rumah Mbah Darmo.Aku dan Pak Mawi penasaran setelah aku melaporkan padanya bahwa ternyata yang selama ini mengambil labu ajaib itu adalah Mbah Darmo.Tubuhku bintul-bintul oleh serangan nyamuk ganas.Udara malam yang dingin begitu menyayat tulang.Selempang sarung kumalku tak dapat menutupi tubuhku dari dingin dan nyamuk.Pak Mawi terus saja berjaga dan awas.Hendak memergoki Mbah Darmo mengambil labu ajaib itu.Namu ketika kami dengan penasarannya mengendap-endap mengintip rumah Mbah Darmo,dari belakang badan kami ada suara berseru,”Hei apa yang kalian lakukan di sini. Sebaiknya kalian mesti pergi!”Kami membalik badan dan kami terkejut.Tubuh besar hitam dan memiliki taring panjang beserta kuku-kuku yang panjang.

“Genderuwo….!!”

     Kami berlari dan terus berlari.Menyusuri jalan menuju pulang dan tak menengok ke belakang hingga sampai ke rumah dan mengunci rapat-rapat.Kami berdua terengah-engah,ketakutan setengah mati.

   Beberapa hari setelah itu.Kasak-kusuk yang beredar di desa kami adalah bahwa Mbah Darmo hilang dibawa oleh mahluk mengerikan itu;Genderuwo.Ia dibawa entah kemana.Tapi mungkin hanya kami yang tahu,bahwa sebenarnya setan itu adalah Mbah Darmo sendiri yang meminta kepada labu ajaib untuk berubah menjelma Genderuwo. ***

Kudus,Februari 2013

Bagus Burham,lahir di Kudus,31 Agustus 1992.Mahasiswa Universitas Muria Kudus FKIP PGSD.Hobi membaca buku dan menulis.Dapat ditemui di :bagusburham166@gmail.com




Catatan: Gundul Pecengis(mitos Jawa): Hantu berbentuk kepala yang berada pada buah-buah kelapa.Konon hantu ini menakuti manusia dengan cara tersenyum(meringis) kepada siapa saja yang mengambil buah kelapa yang jatuh dari pohon.

Genderuwo(mitos Jawa):Hantu dengan bentuk hitam besar,punya cakar dan taring yang panjang.Konon hantu ini biasanya bertinggal di pohon-pohon rimbun seperti mangga,beringin dan sebagainya.Terkadang(menurut penuturan orang-orang),hantu ini suka mengencingi orang di bawahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar