Labu Ajaib
oleh Bagus
Burham
Sekian
lama Pak Mawi menunggu di belakang pohon jambu tengah malam.Menyaksikan
beberapa unggas berlalu-lalang di kebun itu.Burung hantu memekik perlahan tanda
hari kian larut oleh waktu.Pak Mawi tak beranjak dari tempatnya semula
menunggu-nunggu.Benda keramat itu telah ia cari berbulan-bulan.Benda yang dapat
memberinya segala keinginan yang ia pinta.Mulai dari sawah yang subur dan
menghasilkan ketela yang gemuk ketika dipanen,dagangan es cendol Mak Nok
istrinya yang kian hari kian laris di emperan rumahnya,hingga makanan-makanan
nikmat yang tersaji dalam sekejap mata.Pak Mawi mencarinya terus.Aku telah
sekian lama bersabar di sini digigit nyamuk berkali-kali.Yah,aku memang yang
bersalah telah menghilangkannya suatu hari ketika kami pergi bersama mencangkul
di sawah Pak Mawi.Ketika itu kuletakkan benda itu di gubuk biasa kami berteduh
dan istirah dari kegiatan mencangkul yang menguras tenaga.Pak Mawi padahal
telah berpesan padaku jangan membawa benda itu kemana-mana,namun aku terlanjur
suka memegangnya. Seperti ada rayuan yang terus membisikiku.Labu itu seperti
payudara perawan yang ranum!
Tiba-tiba ketika kami menuju gubuk istirah Pak Mawi,kami terkejut labu
ajaib itu telah menghilang.Sebetulnya satu permintaanku telah dikabulkan labu
itu.Aku mampu berjalan lagi,setelah kurang lebih satu tahun lamanya kakiku
patah dan aku tak punya uang untuk berobat hanya mmapu pergi ke dukun pijat di
desa kami.Karena pekerjaanku yang dulu yaitu menyadap nira di poon-pohon
kelapa.Suatu ketika sepongkor nira telah berhasil kukumpulkan namun sewaktu
hendak turun dari pohon,kakiku tergelincir dan terjatuh dari ketinggian enam
meter.Kedua kakiku mendarat lurus dan menciptakan bunyi gemeretak yang
keras.Akupun cacat.Namun ketika dengan senang hatinya Pak Mawi memperlihatkan
labu itu,waktu itu aku tak percaya dengan bualannya.Tetapi aku terus didesaknya
untuk meminta permintaan apapun.Lantas aku ingin sembuh dan ajaib! Labu itu
menyembuhkan kakiku.Aku sudah dianggap oleh Pak Mawi sebagai anaknya
sendiri.Aku bekerja padanya.Ia memiliki sepetak sawah tak jauh dari
rumahnya,dan beberapa batang pohon kelapa untuk disadap niranya.
Sayang labu itu tak mampu memberi kami harta berupa benda-benda nyata
seperti emas dan uang.Labu itu hanya menanggapi permintaan kami akan kelancaran
tentang segala sesuatu.Pak Mawi tidak marah.Ia hanya sangat mengecewakan
perbuatanku ketika membawa labu itu ke sawah.Hingga saat itulah kami terus
mencarinya sampai menyingkap semua penjuru desa kami.
***
Pencarian pertama kami lakukan disekitar sawah Pak Mawi.Semak dan
rerumputan begitu juga batang-batang padi bekas panen kami ungkai,kami singkapi
semuanya.Segala lini kami buka,namun hasilnya nihil.Kami terus mencari hingga
sore bertandang.Tak ada hasil.Maka kami pulang dan segera kami disambut oleh
wajah Mak Nok yang masih berseri.
“Oh,kalian sudah pulang.Ayo masuk!”
Mak Nok kelihatan mencari sesuatu.Aku
tahu apa yang Mak Nok cari,tapi kami berdua tetap membisu dan pura-pura tak
menahu.
“Ngomong-ngomong,mana labu ajaib kita?”
tanya Mak Nok.
Dengan muka ketakutan,Pak Mawi
menceritakan ihwal labu itu.
“Be..begini.Tadi Sarkowi membawanya ke
sawah.Lantas…”
Mak Nok lalu tiba-tiba beralih
ekspresi.Mukanya penuh dengan amarah.
“Lantas bagaimana? Ceritakan padaku!”
“Be-beg-begini..,tadi Sarkowi membawanya
ke sawah,lalu…”
Sebelum Pak Mawi terus melanjutkan
perkataannya,akupun memotongnya,
“Aku menghilangkannya Mak,maafkan aku…”
Mak Nok lalu memukuli punggungku.Ia
kesal.Dan menyuruh kami terus mencari sampai labu ajaib itu ditemukan.
Pencarian kedua kami lakukan disekitar sawah Pak Mawi.Di seberang sawah
itu ada kebun milik Juragan tanah desa kami;Bandot.Kamipun diam-diam menelusup
kesana.Bermodal lampu teplok dan senter kecil aku dan Pak Mawi terus menerus
mencari.Apakah labu itu sudah tak betah dengan tuannya,Pak Mawi?
Tak ada yang dapat ditemukan di kebun itu.Sebetulnya awal mula Pak Mawi
bertemu dengan Labu itu adalah ketaksengajaan.Labu itu tiba-tiba berada di
sawah milik Pak Mawi di antara batang-batang ketela yang berdaun,labu itu
berputar-putar dan mendentumkan permukaannya pada tanah.Takjub,Pak Mawi lantas
membawanya kerumah diperlihatkannya pada Mak Nok dan padaku yang masih sakit
kala itu.Labu itu murub,menyala-nyala pada saat tiba dirumah.Dan mulai berbicara
layaknya kami.Ia mengatakan bahwa ia dapat mengabulkan permintaan-permintaan
kami kecuali harta.Kami awalnya bingung namun Pak Mawi pertama yang meminta
untuk pohon mangga miliknya di belakang rumah yang telah mandul sekian
tahun,mengambek untuk berbuah.Supaya lebat buahnya dan manis rasanya.Tak
dinyana secepat kilat buah-buah bermunculan dari ranting-ranting pohon itu.Dan
ketika kami mencicipi rasanya sungguh nikmat.Kemudian Mak Nok mencoba
permintaan untuk memenuhi lima pongkor di pojok ruang tamu dipenuhi oleh nira
kelapa.Itupun ketika kami periksa memang penuh oleh nira yang manis dan murni
tidak tercampur kotoran.Kemudian ketika giliranku akupun meminta kesembuhan
yang menjadi permintaan pertama dan terakhirku segera setelah labu ajaib itu
menghilang entah kemana sebab kesalahanku.
“Kita mesti cari kemana lagi?” tanya Pak
Mawi.
“Wah,Pak,kalau sudah mentok kayak
gini,kita mesti minta bantuan Mbah Darmo!”
“Ah,apa nanti ia tidak minta aneh-aneh
pada kita.Seperti ketika kau terjatuh dulu.Dia bilang bahwa ada segerombol gundul pecengis yang iseng
memelesetkanmu di pohon kelapa.Lantas ia meminta ayam goreng tiga ekor untuk
membantu menyembuhkanmu dari pengaruh gundul
pecengis itu.”Kata Pak Mawi meragukan ideku.
“Kan,ini usaha kita,Pak.Yang waktu itu
memang mungkin Mbah Darmo mau bercanda dengan kita.Mana ada gundul pecengis menggelayuti kakiku.Yang
ada mereka terjatuh dari pohon kelapa,menjelma kepala dan ketika kita ambil ia
meringis.Itu cara mereka menakuti kita
;manusia.Mbah Darmo mungkin kali ini bisa membantu.Dia orang pinter.Nyatanya ia tahu hal-ihwal yang menimpaku.Padahal kita sebelumnya tiada memberitahu warga desa tentang musibah itu.Kita coba saja,Pak!”kataku, mencoba meyakinkan Pak Mawi.
;manusia.Mbah Darmo mungkin kali ini bisa membantu.Dia orang pinter.Nyatanya ia tahu hal-ihwal yang menimpaku.Padahal kita sebelumnya tiada memberitahu warga desa tentang musibah itu.Kita coba saja,Pak!”kataku, mencoba meyakinkan Pak Mawi.
“Yowes,kalau kamu maunya begitu,Ayo kita
coba ke Mbah Darmo.”
***
Keesokan hari setelah pencarian sia-sia itu,kami berikhtiar mencari labu
ajaib itu dengan bantuan Mbah Darmo.Rumah Mbah Darmo tak terawat.Tiang-tiangnya
lapuk dimakan rayap. Keadaan sekitar rumahnya sepi.Terkesan mengerikan.Jalan
yang lengang hanya dilewati para nenek dan wanita-wanita paruh baya yang
mencari kayu bakar di seberang rumah Mbah Darmo yang merupakan hutan.Ketika
memasuki rumah Mbah Darmo kita mesti berteriak menyebut sebuah kata yaitu kata ‘Durjono’.Entah
apa arti kata itu.Tapi Pak Mawi berkata bahwa kata itu tak berarti.Itu mungkin
semacam mantra agar para lelembut,dhemit yang dipelihara Mbah Darmo di rumahnya
ini tak mengganggu tamu yang bertandang ke rumahnya.
“Durjono…!”
“Oh,kalian.Ada apa lagi,kan Sarkowi
sudah sembuh kakinya.”Cetus Mbah Darmo.
“Begini Mbah,kami kesini ini mau minta
pertolongan.”Kata Pak Mawi.
“Mau ditolong untuk apa? Ada syaratnya
lho,hahaha…”
“Kami akan penuhi syaratnya,Mbah.Tenang
saja!”kataku menghentak.
“Tapi berat lho.Malah ngeri ini!
Gimana,sanggup?”
Kami berdua terdiam.Aku menelan
ludah.Hingga terlontar kalimat dari mulut Mbah Darmo, “Hahaha…aku cumak
bercanda,kok.Syaratnya hanya tiga ekor ayam goreng untukku.Hehehe…”
Fiuh…nyaris saja kami mau pergi.Dan tak
ingin tahu apa syarat berat itu.Tapi perkataan Mbah Darmo tadi melegakan hati
kami.Kemudian Mbah Darmo melanjutkan percakapan,”Aku tahu apa yang ingin kalian
butuhkan padaku.Hehehe…benda itu hilang karena sudah capek dengan kalian.”
Kamipun mengangguk..Dan
terheran-heran.Aku memang benar.Mbah Darmo tahu apa yang terjadi disekitar desa
ini.Ia sakti.
Pak Mawipun berkata,”Iya,Mbah.Memang
betul benda itu yang kami cari-cari selama ini.”
“Sebenarnya benda itu bukan
hakmu,Mawi.Benda itu milik dukun Jambrong yang sakti mandraguna yang kini masih
bertapa di Gunung sana.Ia belum ingin mencari labu ajaib itu.Entah mungkin labu
itu telah kembali.”
Wajah Pak Mawi mendadak berubah.Ia
kecewa.Ternyata labu ajaib itu bertuan.
Kamipun pulang.Tanpa membawa hasil apapun.Pak Mawi mengadukan hal ini
kepada istrinya Mak Nok.Iapun pasrah dan menerima kenyataan itu.Kamipun masih
bersyukur bahwa aku,tetap saja sembuh dan sehat sehingga masih dapat membantu
Pak Mawi di sawah.Dan tanah Pak Mawi masih subur.Dagangan es cendol Mak Nok
juga masih laris seperti kemarin-kemarin.
Namun peristiwa aneh kutangkap dengan mataku.Ketika aku berjalan
melewati rumah Mbah Darmo dari kejauhan kulihat ia tengah tersenyum gembira
memegang sesuatu.Astaganaga,itu labu ajaib!
***
Kamipun berdiri dan menunggu di sini.Menunggu berjam-jam di belakang
pohon jambu tak jauh dari rumah Mbah Darmo.Aku dan Pak Mawi penasaran setelah
aku melaporkan padanya bahwa ternyata yang selama ini mengambil labu ajaib itu
adalah Mbah Darmo.Tubuhku bintul-bintul oleh serangan nyamuk ganas.Udara malam
yang dingin begitu menyayat tulang.Selempang sarung kumalku tak dapat menutupi
tubuhku dari dingin dan nyamuk.Pak Mawi terus saja berjaga dan awas.Hendak
memergoki Mbah Darmo mengambil labu ajaib itu.Namu ketika kami dengan
penasarannya mengendap-endap mengintip rumah Mbah Darmo,dari belakang badan
kami ada suara berseru,”Hei apa yang kalian lakukan di sini. Sebaiknya kalian
mesti pergi!”Kami membalik badan dan kami terkejut.Tubuh besar hitam dan
memiliki taring panjang beserta kuku-kuku yang panjang.
“Genderuwo….!!”
Kami berlari dan terus berlari.Menyusuri jalan menuju pulang dan tak
menengok ke belakang hingga sampai ke rumah dan mengunci rapat-rapat.Kami
berdua terengah-engah,ketakutan setengah mati.
Beberapa hari setelah itu.Kasak-kusuk yang beredar di desa kami adalah
bahwa Mbah Darmo hilang dibawa oleh mahluk mengerikan itu;Genderuwo.Ia dibawa
entah kemana.Tapi mungkin hanya kami yang tahu,bahwa sebenarnya setan itu
adalah Mbah Darmo sendiri yang meminta kepada labu ajaib untuk berubah menjelma
Genderuwo. ***
Kudus,Februari 2013
Bagus Burham,lahir di Kudus,31 Agustus
1992.Mahasiswa Universitas Muria Kudus FKIP PGSD.Hobi membaca buku dan
menulis.Dapat ditemui di :bagusburham166@gmail.com
Catatan: Gundul Pecengis(mitos Jawa): Hantu
berbentuk kepala yang berada pada buah-buah kelapa.Konon hantu ini menakuti
manusia dengan cara tersenyum(meringis) kepada siapa saja yang mengambil buah
kelapa yang jatuh dari pohon.
Genderuwo(mitos
Jawa):Hantu
dengan bentuk hitam besar,punya cakar dan taring yang panjang.Konon hantu ini
biasanya bertinggal di pohon-pohon rimbun seperti mangga,beringin dan
sebagainya.Terkadang(menurut penuturan orang-orang),hantu ini suka mengencingi
orang di bawahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar