Saya tampilkan beberapa penyair dari keseluruhan penyair yang termaktub karyanya dalam antologi ini.
1.Jumari HS
Penyair kelahiran Kudus,24 November 1965 ini aktif di KPK.Puisi dan cerpennya dimuat di Jawa Pos,Republika,Suara Pembaruan,Suara Merdeka,Pikiran Rakyat,Lampung Post,Majalah Sabili,Kedaulatan Rakyat,dll.Selain itu puisinya masuk dalam berbagai antologi bersama.Ia menjabat sebagai ketua komite Dewan Kesenian Kudus.Buku puisinya Tembang Tembakau(KPK,2012).Ia juga merupakan redaksi jurnal Boemipoetra.
Dongeng Menjelang Tidur
Bagi Via,Andika,Yuniar
"Ketika hujan deras jadilah kalian sungai,anak-anakku,"kataku padanya.Sebab air yang menggenang akan mengalir dan menciptakan kehidupan lain.Lalu,hijau daun-daun tak terusik, begitu pun ketenangan hati dan jiwa.
Anakku,bumi ini telah ditiduri bermiliar mahluk dan kita adalah bagian dari mereka.Jika kalian bermimpi bertemu tongkat musa jadilah kalian ularnya,jika kalian bermimpi kuda yang lapar jadilah kalian rumputnya,
jika kalian bertemu penyair jadilah puisinya!
Anakku,menjelang tidur ini aku menatap diri kalian,aku seperti menatap diri sendiri sebab darahku yang telah mengalir ke dalam diri kalian sebuah cinta kasih yang takkan lepas selamanya.
Yakinlah anakku,di dalam tidur kalian,aku senantiasa berjaga dalam bertapa pada genangan darah cintaku sendiri dan ingin lebih memahami bahwa di antara kita satu pohon yang berbunga dan berharap berbuah cahaya!
Kudus,2003
Semut dalam Ombak
Biarlah angin mengatakan,diriku ringan
Biarlah samudra mengatakan,diriku kecil
Biarlah langit mengatakan,diriku rendah
Aku memang bukan apa-apa,merayap dalam waktu
Dalam diam,dalam yang paling dalam
Ranting-ranting atau dinding-dinding.Itulah rumah
Yang aku bangun di laut jiwa,mengasuh ombak penuh gairah
Dalam pelayaran cinta ke keheningan
Sementara,di sekitarku jarang yang peduli padaku
Mereka acuh,kadang mencerca
bahkan mau membunuhku
Tapi,aku tak pernah mati.Merayap tanpa suara,
tanpa kata-kata
Sebab puisi adalah darahku
Biarlah tanah ini ranjangku
Biarlah debu ini selimut hangatku
Biarlah perasaanku sendiri menjadi mimpi-mimpi
Sekali lagi aku bukanlah apa-apa
Merayap dan terus merayap memburu manis hidup!
Kudus,2003
Guru SLTP 3 Kudus ini adalah salah seorang pendiri KPK(Keluarga Penulis Kudus).Puisi dan cerpennya tersebar di berbagai antologi.Media massa yang memuat karyanya antara lain Suara Pembaruan,Kompas,Suara Merdeka,Suara Karya dan Republika.Ia lahir di Semarang,6 Maret 1956
Kontemplasi Ruang Terbuka
Melangkah di antara bebatu kali waktu
Panjang jalan jajakan anyir luka aroma bunga
Dan kau dan aku bebas memilihnya
Tetapi sesungguhnya tiada ada ruang benar
Benar terbuka bagi setiap kehadiran siapa pun
Sejarah yang pernah kita baca itu
Selalu berulangpada peristiwa yang sama
Datang lalu kembara lalu kembali:pulang!
Tak sesekali ada keliaran di ruang ini
Selain sejumlah pertanyaan nakal tak berarti
Dari pemabuk atau pencari sejati
Yang kadang menyangsikan kesaksian para nabi
Dari sebuah hutan asing sangat jauh
Pernah terdengar sekelebat kabar samar
Tuhan telah mati! tuhan telah mati!
Tetapi kita tetap bersetia pada isyarat awal
Ialah cuma yang tak berawal dan tak berakhir
Kudus,2002
Merindu Sawah
*teringat dewi sri
Kurindukan kuning padi bernas
hamparan sawah luas
lumbung,masa kanak yang banglas
Di mana engkau?
sentong pamujan tak lagi berkemenyan
tirai tersingkap
huma dan pematang memaku bayang
dan kepak bangau kaki panjang,
desis ular berkulit belang,
katak yang suka nyanyi malam hari
pun kawanan pipit yang takut bebunyian
menghilang bersamamu ke sebalik awan
Kurindukan dewi sri
di genangan air semaian hijau benih padi
bila tiba waktu tandur
paorama perempuan tertabur
beribu puisi,gemulai tarian hayati
Tetapi,di manakah engkau?
wahai kesuburan dan kesabaran
dongeng purbawi
tentang rasa ikhlas menerima
dan rasa tulus memberi
2003
Karu Pos Dua Musim
Dua lebar kartu pos--entah siapa pengirimnya--
Mengabarkan kepadamu musim bunga dan salju
Pukau panorama indah negeri maghribi
Dan seperti sediakala kau gegas membuka aras
Menulis puisi tentang rindu dendam manusia
Remaja dunia ketiga
Kau membayangkan bunga-bunga mekar kuntum
Sepanjang jalan dan gang-gang negerimu
Dan berpasang kekasih masyuk saling cium
Siang hari di setiap bangku taman plesiran
Kau membayangkan butir salju pun berluruhan
Menghiasi wilayah sawang kotamu
Dan beribu atap rumah sebagai berkapas
Terseka angin dingin yang melintas kekas
Dua buah kartu pos musim bunga dan salju
Mengirimmu mimpi bercinta di cakrawala jauh
Padahal ini sebuah pagi tengah bulan juli
Dari kebun belakang rumah kembang pauh
Mulai menegaskan kedatangan kemarau
Benua tropik yang terik
"Kirimi pula tidurku musim gugur dan semi," katamu
Diam-diam menyesali bumi tempat lahir
Tanah air yang semakin robek dan mendebu
Kudus,2002
3.Thomas Budi Santoso
Direktur produksi perusahaan rokok terbesar di Kudus ini lahir di Pati,19 November 1944.Puisinya pernah dimuat di Wawasan,Republika,Suara Pembaruan,dll.Selain itu,puisinya juga masuk pada antologi Sajak Kudus.
Nyanyian Sepasang Daun Waru
Dua manusia
Berpelukan di alam semesta
Dalam kubangan air mata
Hatinya pecah bersulang darah
Putih tak seperti darah
Karena derita habiskan warnanya
Merah semerbak bau mawar
Karena durinya terpasang sepanjang perjalanan
Manusia kenal dua ribu warna
Jagat raya pnya berapa
Baginya cuma ada warna buta
Dan cinta menghidupkan misterinya
Sacinko,begitu bisiknya
Kocinsa,itulah sandinya
Jarum jam tak bergoyang lagi
Terindih asa yang jatuh
Dari pusat jantungnya
Konyasa,rintihnya
Sanyako,hiburnya
Jarum waktu yang congkak
Tak mau mengalah
Ikut menikam dari depan
Sanyako,desahnya
Konyasa,ratapnya
Ingin aku punya kuasa
Dan kutuntut waktu
Berjalan bersama bayanganku
Menuju timur sebelum tengah hari
Ingin aku punya kuasa
Mengembalikan hari-hariku yang hilang
Sacinko,sacinko
Kocinsa,kocinsa
Gaungnya tembus dua belas kisaran
Membawa sisa bau bunga rumput
Hari senja,matahari menjadi bulan
Sanyako,sanyako
Konyasa,konyasa
Gemanya sahdu kandas ditelan ceruk bumi
Aku menangis melihatnya
Aku mendengar tenggelam di dalamnya
9 September 2000
Bendera
Kukibarkan bendera
Bagaikan awan tak berair
Mati
Tak ada lambaiannya
Merahnya tak bernapas
Putihnya bisu
Membujur tergulung
Tak ada denyutnya
Deru genderang
Letup senjata
Gairah corong pidato,dan
Hembusan suara masa
Tak menghidupinya
Di tanah kalibata
Ada bendera melambai
Pucat
Darahnya habis
Susunya kering
Ditinggalkan bundanya
14 Februari 2004
4.Yudhi MS
Ketua KPK(Keluarga Penulis Kudus) periode pertama(1991-1994) ini lahir di Kudus pada 17 Juni 1954.Dalam kepengurusan KPK berikutnya pernah menjadi ketua bidang litbang,pembantu umum,dan kini sekretaris.Pernah juga selama 18 tahun (1983-2001) menjadi pengasuh acara sastra di sebuah radio swasta di Kudus.Karyanya berupa puisi,cerpen dan geguritan(puisi Jawa) yang pernah dimuat di sejumlah antologi bersama dan media massa pusat dan daerah.
Pak Yudhi ini saya ketahui telah menyumbang banyak buku sastra yang penting di Perpusda Kudus.Buku teori Keusastraan garapan Rene Wellek dan Austin Warren,Puisi Dunia terjemahan M.Taslim Ali,buku-buku puisi Sitor Situmorang dan masih banyak lagi yang telah ia sumbangankan kepada Perpustakaan Daerah di kota saya ini sebagai sebuah pemberian yang berarti bagi mereka segelintir masyarakat Kudus yang sangat suka membaca karya sastra baik fiksi maupun puisi.Buku-buku di rak yang tak pernah terbuka oleh para anak muda kota ini.Sungguh sangat disayangkan,mengingat buku-buku itu berisi petualangan imaji yang menyenangkan bagi pembaca.
Di Antara Desah dan Derak Kujemput Sebuah Sajak
Tertepislah gelisah di antara desah ombak
Tertiris dari tilam dan tirai
Layaknya kapal melepas sinyal
Ketika rindu diayun gelombang
Terjerat-terlesak pada suci kelopak
Terpelantinglah beban di antara derak cinta
Membentur tingkap dan dinding
Seperti roda menyentuh landasan pada
Pesawat landing
Ketika keindahan mengemas orkestra
Ketulusan tak lagi sembunyi di balik kata
Di antara desah dan derak
Kujemput sebuah sajak
Betapa nimat kurasa berdesak-dekat
Pada-Nya
Kudus,2000
Kwatrin Daun Terbakar
Ketika daun terbakar luka pun perih pada merih
Hangus hutan basah menjelma padang safsah
Kau gantung pada kepulan asap:sesal dan sedih
Hidup mesti pandai memilah: api,ombak,bukit,lembah
Kudus,2000
