Selasa, 26 Februari 2013

Sajak-sajak Penyair Kudus

Sajak-sajak ini saya ambil dari buku puisi "Masih Ada Menara" yang terbit tahun 2004 oleh penerbit Logung Pustaka,Sleman Yogyakarta

Saya tampilkan beberapa penyair dari keseluruhan penyair yang termaktub karyanya dalam antologi ini.

1.Jumari HS

Penyair kelahiran Kudus,24 November 1965 ini aktif di KPK.Puisi dan cerpennya dimuat di Jawa Pos,Republika,Suara Pembaruan,Suara Merdeka,Pikiran Rakyat,Lampung Post,Majalah Sabili,Kedaulatan Rakyat,dll.Selain itu puisinya masuk dalam berbagai antologi bersama.Ia menjabat sebagai ketua komite Dewan Kesenian Kudus.Buku puisinya Tembang Tembakau(KPK,2012).Ia juga merupakan redaksi jurnal Boemipoetra.

Dongeng Menjelang Tidur
                             
                         Bagi Via,Andika,Yuniar

"Ketika hujan deras jadilah kalian sungai,anak-anakku,"kataku padanya.Sebab air yang menggenang akan mengalir dan menciptakan kehidupan lain.Lalu,hijau daun-daun tak terusik, begitu pun ketenangan hati dan jiwa.

Anakku,bumi ini telah ditiduri bermiliar mahluk dan kita adalah bagian dari mereka.Jika kalian bermimpi bertemu tongkat musa jadilah kalian ularnya,jika kalian bermimpi kuda yang lapar jadilah kalian rumputnya,
jika kalian bertemu penyair jadilah puisinya!
Anakku,menjelang tidur ini aku menatap diri kalian,aku seperti menatap diri sendiri sebab darahku yang telah mengalir ke dalam diri kalian sebuah cinta kasih yang takkan lepas selamanya.
Yakinlah anakku,di dalam tidur kalian,aku senantiasa berjaga dalam bertapa pada genangan darah cintaku sendiri dan ingin lebih memahami bahwa di antara kita satu pohon yang berbunga dan berharap berbuah cahaya!

Kudus,2003 

Semut dalam Ombak

Biarlah angin mengatakan,diriku ringan
Biarlah samudra mengatakan,diriku kecil
Biarlah langit mengatakan,diriku rendah
Aku memang bukan apa-apa,merayap dalam waktu
Dalam diam,dalam yang paling dalam

Ranting-ranting atau dinding-dinding.Itulah rumah
Yang aku bangun di laut jiwa,mengasuh ombak penuh gairah
Dalam pelayaran cinta ke keheningan

Sementara,di sekitarku jarang yang peduli padaku
Mereka acuh,kadang mencerca
bahkan mau membunuhku
Tapi,aku tak pernah mati.Merayap tanpa suara,
tanpa kata-kata
Sebab puisi adalah darahku

Biarlah tanah ini ranjangku
Biarlah debu ini selimut hangatku
Biarlah perasaanku sendiri menjadi mimpi-mimpi
Sekali lagi aku bukanlah apa-apa
Merayap dan terus merayap memburu manis hidup!

Kudus,2003


2.Mukti Sutarman Espe(Guru SMP saya)

Guru SLTP 3 Kudus ini adalah salah seorang pendiri KPK(Keluarga Penulis Kudus).Puisi dan cerpennya tersebar di berbagai antologi.Media massa yang memuat karyanya antara lain Suara Pembaruan,Kompas,Suara Merdeka,Suara Karya dan Republika.Ia lahir di Semarang,6 Maret 1956

Kontemplasi Ruang Terbuka

Melangkah di antara bebatu kali waktu
Panjang jalan jajakan anyir luka aroma bunga
Dan kau dan aku bebas memilihnya

Tetapi sesungguhnya tiada ada ruang benar
Benar terbuka bagi setiap kehadiran siapa pun
Sejarah yang pernah kita baca itu
Selalu berulangpada peristiwa yang sama
Datang lalu kembara lalu kembali:pulang!

Tak sesekali ada keliaran di ruang ini
Selain sejumlah pertanyaan nakal tak berarti
Dari pemabuk atau pencari sejati 
Yang kadang menyangsikan kesaksian para nabi

Dari sebuah hutan asing sangat jauh
Pernah terdengar sekelebat kabar samar
Tuhan telah mati! tuhan telah mati!
Tetapi kita tetap bersetia pada isyarat awal
Ialah cuma yang tak berawal dan tak berakhir

Kudus,2002

Merindu Sawah

                         *teringat dewi sri

Kurindukan kuning padi bernas
hamparan sawah luas
lumbung,masa kanak yang banglas

Di mana engkau?
sentong pamujan tak lagi berkemenyan
tirai tersingkap
huma dan pematang memaku bayang

dan kepak bangau kaki panjang,
desis ular berkulit belang,
katak yang suka nyanyi malam hari
pun kawanan pipit yang takut bebunyian
menghilang bersamamu ke sebalik awan

Kurindukan dewi sri
di genangan air semaian hijau benih padi
bila tiba waktu tandur
paorama perempuan tertabur
beribu puisi,gemulai tarian hayati

Tetapi,di manakah engkau?
wahai kesuburan dan kesabaran
dongeng purbawi
tentang rasa ikhlas menerima
dan rasa tulus memberi

2003

Karu Pos Dua Musim

Dua lebar kartu pos--entah siapa pengirimnya--

Mengabarkan kepadamu musim bunga dan salju
Pukau panorama indah negeri maghribi

Dan seperti sediakala kau gegas membuka aras
Menulis puisi tentang rindu dendam manusia
Remaja dunia ketiga

Kau membayangkan bunga-bunga mekar kuntum
Sepanjang jalan dan gang-gang negerimu
Dan berpasang kekasih masyuk saling cium
Siang hari di setiap bangku taman plesiran

Kau membayangkan butir salju pun berluruhan
Menghiasi wilayah sawang kotamu
Dan beribu atap rumah sebagai berkapas 
Terseka angin dingin yang melintas kekas

Dua buah kartu pos musim bunga dan salju
Mengirimmu mimpi bercinta di cakrawala jauh
Padahal ini sebuah pagi tengah bulan juli
Dari kebun belakang rumah kembang pauh
Mulai menegaskan kedatangan kemarau
Benua tropik yang terik

"Kirimi pula tidurku musim gugur dan semi," katamu
Diam-diam menyesali bumi tempat lahir
Tanah air yang semakin robek dan mendebu

Kudus,2002


3.Thomas Budi Santoso

Direktur produksi perusahaan rokok terbesar di Kudus ini lahir di Pati,19 November 1944.Puisinya pernah dimuat di Wawasan,Republika,Suara Pembaruan,dll.Selain itu,puisinya juga masuk pada antologi Sajak Kudus.

Nyanyian Sepasang Daun Waru

Dua manusia 
Berpelukan di alam semesta
Dalam kubangan air mata

Hatinya pecah bersulang darah
Putih tak seperti darah
Karena derita habiskan warnanya
Merah semerbak bau mawar
Karena durinya terpasang sepanjang perjalanan

Manusia kenal dua ribu warna
Jagat raya pnya berapa
Baginya cuma ada warna buta
Dan cinta menghidupkan misterinya
Sacinko,begitu bisiknya
Kocinsa,itulah sandinya

Jarum jam tak bergoyang lagi
Terindih asa yang jatuh
Dari pusat jantungnya
Konyasa,rintihnya
Sanyako,hiburnya

Jarum waktu yang congkak
Tak mau mengalah
Ikut menikam dari depan
Sanyako,desahnya
Konyasa,ratapnya

Ingin aku punya kuasa
Dan kutuntut waktu
Berjalan bersama bayanganku
Menuju timur sebelum tengah hari

Ingin aku punya kuasa
Mengembalikan hari-hariku yang hilang

Sacinko,sacinko
Kocinsa,kocinsa
Gaungnya tembus dua belas kisaran
Membawa sisa bau bunga rumput

Hari senja,matahari menjadi bulan
Sanyako,sanyako
Konyasa,konyasa
Gemanya sahdu kandas ditelan ceruk bumi

Aku menangis melihatnya
Aku mendengar tenggelam di dalamnya

9 September 2000

Bendera 

Kukibarkan bendera
Bagaikan awan tak berair
Mati
Tak ada lambaiannya

Merahnya tak bernapas
Putihnya bisu
Membujur tergulung
Tak ada denyutnya

Deru genderang
Letup senjata
Gairah corong pidato,dan 
Hembusan suara masa
Tak menghidupinya

Di tanah kalibata
Ada bendera melambai
Pucat
Darahnya habis
Susunya kering
Ditinggalkan bundanya

14 Februari 2004

 
 4.Yudhi MS

Ketua KPK(Keluarga Penulis Kudus) periode pertama(1991-1994) ini lahir di Kudus pada 17 Juni 1954.Dalam kepengurusan KPK berikutnya pernah menjadi ketua bidang litbang,pembantu umum,dan kini sekretaris.Pernah juga selama 18 tahun (1983-2001) menjadi pengasuh acara sastra di sebuah radio swasta di Kudus.Karyanya berupa puisi,cerpen dan geguritan(puisi Jawa) yang pernah dimuat di sejumlah antologi bersama dan media massa pusat dan daerah.

Pak Yudhi ini saya ketahui telah menyumbang banyak buku sastra yang penting di Perpusda Kudus.Buku teori Keusastraan garapan Rene Wellek dan Austin Warren,Puisi Dunia terjemahan M.Taslim Ali,buku-buku puisi Sitor Situmorang dan masih banyak lagi yang telah ia sumbangankan kepada Perpustakaan Daerah di kota saya ini sebagai sebuah pemberian yang berarti bagi mereka segelintir masyarakat Kudus yang sangat suka membaca karya sastra baik fiksi maupun puisi.Buku-buku di rak yang tak pernah terbuka oleh para anak muda kota ini.Sungguh sangat disayangkan,mengingat buku-buku itu berisi petualangan imaji yang menyenangkan bagi pembaca.

Di Antara Desah dan Derak Kujemput Sebuah Sajak 

Tertepislah gelisah di antara desah ombak
Tertiris dari tilam dan tirai
Layaknya kapal melepas sinyal
Ketika rindu diayun gelombang
Terjerat-terlesak pada suci kelopak

Terpelantinglah beban di antara derak cinta
Membentur tingkap dan dinding
Seperti roda menyentuh landasan pada
Pesawat landing
Ketika keindahan mengemas orkestra
Ketulusan tak lagi sembunyi di balik kata

Di antara desah dan derak
Kujemput sebuah sajak
Betapa nimat kurasa berdesak-dekat
Pada-Nya

Kudus,2000

Kwatrin Daun Terbakar

Ketika daun terbakar luka pun perih pada merih
Hangus hutan basah menjelma padang safsah
Kau gantung pada kepulan asap:sesal dan sedih
Hidup mesti pandai memilah: api,ombak,bukit,lembah

Kudus,2000






Senin, 25 Februari 2013

Night in The Bottle of Blues


kaukah itu,berdandan cantik untuk menikmati segelas kopi
menemukan dirimu kembali dalam alunan tempo menyentak
tenggelam dalam pesona jerit penyanyi blues

di etalase,manekin menyendiri,berdiri kesepian menghadap jalan
butir-butir hujan melampiaskan kesumatnya pada kaca toko-toko
berlompatan untuk menemukan dirimu pada sebuah kotak hadiah
dan bagaimana menemukan wajahmu,pada tanda setiap baju
yang menempelkan harga dan merek-mereknya

kafetaria berbincang masalah cinta.tawa meledak tiba-tiba
seorang gadis begitu ia ingin disebut,menggunjing ihwal
bagaimana mendapatkan lelaki dari kumpulan mahluk borju
yang duduk santai di seberangnya

kau dan aku,katamu,kita tak perlu mengajari mereka apa-apa
biar mereka berputar sendiri-sendiri.di atas tumpukan mayat
eksistensi yang keringatnya berlelehan.lepas kakimu pada dinginnya
lantai.ayo menari,katamu

2013

Kamis, 21 Februari 2013

Mengenang Kesedihan dalam Jazz



Mendengarkan Suara Terdalam
untuk jamie cullum dan saya

saya berbicara mengenai hati,bahwa:
bayang-bayang yang tertawa di balik wajah
di riak lembut sungai usia,tampak membosankan.
hari-hari diurai oleh panjang
jalan menaiki hilir,di mana cuma air dari mata
yang terus menerus mengalir.

kita bisa terpeleset di awal cerita:kisah ini,
tak pernaha saya menangkan.yah,dunia memang
terlalu indah,untuk dipegang seorang penyendiri.

pianomu mengalun.bach datang lalu menyeruput kopi.
lepas kemana sayap kami? saya tak begitu mengerti,
ketika kembali menghadapi bayang-bayang sendiri,
mengalir lembut,tanpa keramaian.tanpa perjalanan
tertawa di sudut-sudut tak berbentuk pada arus itu.

2013

Selasa, 19 Februari 2013

Terjemahan M.Taslim Ali

Beberapa sajak ini diterjemahkan oleh M.Taslim Ali (1961)

Lima Pelor
sajak Anatoli Sofronow

Pada musuh kulepas pelor pertama;
Pelor,kecap darahnya,
Agar Dnjepr-ku sayang dan bumi,inangku,
Berbalas dendamnya,setapak demi setapak

pelorku kedua,-dari bunda asalnya
pembalas siksa ia derita
Kembali aku nanti,ibu tak ada lagi
Rombongan bedebah telah pukul ia mati

;agi sebuah pelor-dari kakakku perempuan
Pembalas kekejaman berlaku  atasnya 
Mereka seret kakakku ke pinggir sungai Dnjepr
Mereka perkosa dengan kejamnya

Pembalas temanku,pelor keempat kulepas,
Ia berjuang di sampingku di Selatan.
O,tangan,tetaplah engkau! Melayanglah pelorku
Balaskan bagiku ajalnya dini saat.

Pelor terakhir penembak mati seorang;
Tepat bersarang di jantung sang fasis,
Pembalaskan tanah air yang kupunya dan jaga
Junjungan hari selama hidupku

Lima pelor kulepas,lalu cepat
Gagang pelor kembali kuisi
Pembuktikan pada musuh di medan perang
Betapa kekal setia-Rusiaku.


Seorang Bapak Rusia Kepada Bapak-bapak Jerman
sajak Pawel Antokolsky

Sekarang kita berdiri di lapang terbuka
Engkau tidak usah balik ke belakang atau menangis
Puteraku pemuda komunis,anakmu seorang fasis
Kesayanganku seorang laki-laki tulen,anakmu algojo
Dalam segala pertempuran,di tengah api berkobar tak putus
Dalm sedu-sedan seluruh manusia
Pemuda berteriak,seribu kali jatuh,seratus kali bangun
Memanggil anakmu bertanggung jawab atas kejahatannya.


Doa
sajak Juljan Tuwim

Tuhan,lepas lonceng mas berkleneng puas
Di dalam hati kami,lepas Polandia membuka
Hamparan di depan kaki kami yang lesu,
Seperti halilintar meretas udara.

Mari kita cuci kediaman bapa kita
Dari kekalahan,sedih dan dosa kita,
Kala mengemasi batu-batu yang pecah.
Biar miskin asal bersih itu rumah

Yang berdiri di pandan perkuburan
Dan pabila bangkit krmbali negeri
Kita,yang seakan bagai mayat terhantar.
Biar ia diperintah kaum yang jujur.

Oleh buruh.Biar rakyat dengan megah
Berdiri di tengah fajar kemerdekaan
Yang baru bersih: Limpahkan ke tangannya
hasil panen dari tetesan jerihnya.

Jangan biar uang berlipat ganda
Bagi mereka yang tidak mau berbagi,
Lempar si berkuasa dari tempat tingginya
Dan lepas si dina menerima warisan.

Beri kami kembali roti Polandia kami
Dan nikmat rasa anggur Polandia:
Apabila kami mati,kuburlah kami
Dalam peti dari pada kayu Polandia.

Dengan sedih dan duka mengabur pandangan,
Kamipun berlutut,di bumi berdoa
Agar mereka yang tinggal dan bertahan
Memaafkan mereka yang melarikan diri.
 
 

Sabtu, 16 Februari 2013

Mazmur Musim Sunyi




 DATA BUKU:

Judul      : Mazmur Musim Sunyi

 Penulis    : Sulaiman Djaya

 Penerbit  : Kubah Budaya

 Cetakan  : I,Januari 2013

 Tebal      : 105 halaman

 ISBN      : 978-602-19376-2-4



Kesunyian yang Membentuk Sajak

oleh:Bagus Burham



       Setiap musim selalu menanggalkan tandanya untuk tetap dinikmati oleh musim yang lain setelahnya.Itulah kesan saya pada buku puisi “Mazmur Musim Sunyi” gubahan Sulaiman Djaya. Di sini penyair menggarap peta jalan cerita hidup yang penuh dengan kesunyian.Sajak-sajak yang terangkum dalam buku ini menyoalkan seputar hidupnya yang di selubungi oleh cinta.Banyak sajak yang memperbincangkan masalah cinta yang disusun penuh dengan metafor-metafor yang seakan hidup dan mempunyai makna.Di sinilah kerja yang baik dari penyair itu.Berpuisi secara total hingga melahirkan sajak-sajak yang mempunyai album sendiri di hati pembacanya.

       Buku ini juga memiliki daya pikat pada setiap gaya bahasa yang ditampilkan.Personifikasi yang secara lembut mendaras di dalamnya dengan penggunaan tipografi kontemporer ataupun kotak rapi--yang kadang berada pada tubuh sajak-sajak naratifnya--serta-merta membawa kita terus mengulangi membaca sajak-sajak yang halus dan renyah untuk diambil kiasan-kiasan yang dimilikinya.Namun bukan berarti kita mencuri.Kita tidak sedang membicarakan ajaran TS Eliot di sini.Maksud saya kita akan disuguhi berbagai pilihan kata-kata untuk bagaimana menyusun sajak yang baik menggunakan paradoks,silogisme dan menyatukannya dengan realitas.Akan menimbulkan efek yang mengena dan terasa enak.Dikhususkan pada para peminat puisi yang ingin lebih menggeluti dunia perpuisian yang semakin bertambah ramai dengan munculnya buku sajak ini.

     Judul dalam buku ini memang sangat klop dengan isi di dalamnya.Banyak kata-kata yang bernyanyi yang berasal dari pikiran penulis,tergubah dengan sangat merdu.Ia juga hadir membawa nuansa romantik yang sudah lama namun terkesan baru jika digubah olehnya.Banyak sajak yang menyoal cinta namun cinta itu tak kelihatan secara gamblang pada sajak-sajak yang diruwatnya.Seperti Rubayyat Dua Mastnawi,Surat Cinta,Rubayyat Cinta,Kotak Cinta Bulan April,Menulis Sajak Romantis,dan masih banyak lagi sajak yang bernafaskan cinta.

    Sajak-sajak dalam buku ini tak memerlukan perundingan yang sangat panjang untuk memahaminya.Pembaca tak harus mempunyai kekayaan literatur yang melimpah untuk mengerti isi dalam sajak-sajak buku ini,sebab bahasa yang dipilinkan dalam sajak-sajak yang terangkum di buku ini adalah bahasa sehari-hari yang sederhana dan sangat menyenangkan bagi para peminat tema cinta,terutama puisi.



Usaha Menyambung para Pendahulu



      Seperti pengantar yang terangkum pada buku sajak ini yang ditulis oleh Sulaiman Djaya,ia hanya memungut kembali puing-puing keruntuhan,batu bata yang ia miliki dan ditumpuknya di atas sekian batu bata milik para penulis dan pemikir terdahulu.Dalam kecendekiaan yang di milikinya,ia meminjam pandangan ini dari Bataille dan Derrida.Bahwa apakah dengan menulis ia sebenarnya tengah mencari identitas,hanya waktu dan perjalanannya di dunia puisi yang akan menjawabnya.

    Puisi seperti halnya mesin foto kopi.Telah menyetak-melipat gandakan usaha-usaha untuk terus melanjutkan apa yang telah diperbuat oleh para pendahulu terhadap puisi.Meski usaha itu tak pernah diproklamirkan seorang penyair di dunia ini,namun bagi mereka yang berhasrat ingin mewarisi tekad itu,maka dengan meninggalkan tanda berupa tinta kerjanya,ia akan dikenang dan di kenal sebagai penyair,meski ia mengakui itu atau tidak pada dirinya.Inilah jalan puisi itu.Puisi yang bagi sebagian orang hanya angin lalu,diucapkan bila merasa patah hati,atau tengah iba dengan keadaan sekitar,semisal masalah sosial dan kemiskinan adalah seperti kulit kuaci yang terbuang semenjak isinya digigit mulut.Namun masyarakat penyair yang hidup dibawahnya sadar akan jalan yang mereka pilih.Demi tercapainya sebuah estetika yang terus harus dilanjutkan oleh generasi muda;generasi penerus.Maka puisi akan terus hidup dalam rutinitas dan kesehariaan hingga penyair terakhir telah tahu takdirnya di hari akhir.
    

         Bagus Burham,penikmat puisi.Bergiat di Komunitas Kopi,Kudus.

Dimuat di : Banten Raya,27 April 2013
Informasi dari Sulaiman Djaya