Hujan Menjelang Tahun Baru
1.
banyak
amin bermain di tangan penekun doa,memeluk
tubuh
tuhan yang semakin menyayanginya(mungkin) sebab,
doa
doa selalu mempunyai jalan sendiri menuju tangga yang surga
dua
tiga,atau mungkin ratusan tawa bergumul di dalam resto;
terompet
bersenggama dengan udara yang tak sudi di perkosa:
suara
sumbang membikin hampa.ratusan pejalan memenuhi
semua
alun kota:hanya menyaksikan jet api mengangkasa
setelah
itu apa?—berlenting hanya jam jam yang kian mendekatkan
kita
pada akhir:kematian(mungkin) karena ialah sabit yang berkilau,
mengusap
usapkan dirinya di jantung lembutmu
bahkan
pohon tak ingin beringsut dari posisi semula,engkau rubuhkan ia
bunga
tak ingin menjatuh dari tangkainya,engkau petik dengan rasa tak mikir
bangkai
yang ingin selalu di letakkan di kuburnya:barangkali seperti kucing,
malah
engkau perbincangkan dalam kesalahan dan dosa masa hidupnya
bibir
yang engkau paling anggunkan,pada nantinya berubah keriput;
wajahmu
yang cantik(yang menurutmu) akan luntur di telan linimasa
wajah
wajah yang aku,semakin terkena sihir narsisus yang gila pada riak muka
2.
ratusan
pome meluncur dari botol yang segar,menyiram hausku
tak
ada airmata yang tersisa dari perjalanan menemui usia usia
cuma
senar menggetar milik gitar yang tak mampu kumainkan,
menjadi
pintu darurat menuju mimpi mimpi yang kian kusam di lapuk kebenaran
--di
hatiku,maka banyak bertumbuhan aduh yang menjelma pohon pinus:
akan
lancip dan runcing sebagai mata pensil yang hatinya terkucil
berapa
banyak tombak tombak yang lesap menerkam punggung paus
berapa
tanduk yang patah di cacah untuk menjadi pipa rokok dari cula putihmu,
tak
ada satupun manusia yang menjawab seutuhnya;kita hanya euforia dari
keadaan
keadaan tak menentu:hidup susah,negara bangkrut,tanpa gairah
aku
akan menghisap dari sinar senja yang hangat di lubuk sore,mencuci baju
dari
sisa debu hinggap tanpa permisi di jalan aspal siang hari
lalu
menutup buku lembaran usia duapuluh dengan tinta dari pohon jeruk
jeruk
asam yang mungkin melebihi tangisan garam di laut mati
3.
rintik
rintik kecil,menyala bagai sinar neon di jam duabelas nanti,
api
api yang mengangkat harapanmu di tahun yang baru,apakah sanggup?
jarum
runcing lembut hujanku,menerabas hati lumpuh,bahasa mata
terdampar
dalam kata:iya,mengamini segala amsal dari berbagai bentuk
adalah
sayup semu matamu yang tak lagi menyimpan ujudku yang serpih
sebab,engkaulah
merjan yang selalu bergemerincing dalam hati yang kering
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar