Rabu, 02 Januari 2013

Puisi Tahun Baru



Hujan Menjelang Tahun Baru

1.
banyak amin bermain di tangan penekun doa,memeluk
tubuh tuhan yang semakin menyayanginya(mungkin) sebab,
doa doa selalu mempunyai jalan sendiri menuju tangga yang surga
dua tiga,atau mungkin ratusan tawa bergumul di dalam resto;
terompet bersenggama dengan udara yang tak sudi di perkosa:
suara sumbang membikin hampa.ratusan pejalan memenuhi
semua alun kota:hanya menyaksikan jet api mengangkasa
setelah itu apa?—berlenting hanya jam jam yang kian mendekatkan
kita pada akhir:kematian(mungkin) karena ialah sabit yang berkilau,
mengusap usapkan dirinya di jantung lembutmu

bahkan pohon tak ingin beringsut dari posisi semula,engkau rubuhkan ia
bunga tak ingin menjatuh dari tangkainya,engkau petik dengan rasa tak mikir
bangkai yang ingin selalu di letakkan di kuburnya:barangkali seperti kucing,
malah engkau perbincangkan dalam kesalahan dan dosa masa hidupnya
bibir yang engkau paling anggunkan,pada nantinya berubah keriput;
wajahmu yang cantik(yang menurutmu) akan luntur di telan linimasa
wajah wajah yang aku,semakin terkena sihir narsisus yang gila pada riak muka

2.
ratusan pome meluncur dari botol yang segar,menyiram hausku
tak ada airmata yang tersisa dari perjalanan menemui usia usia
cuma senar menggetar milik gitar yang tak mampu kumainkan,
menjadi pintu darurat menuju mimpi mimpi yang kian kusam di lapuk kebenaran
--di hatiku,maka banyak bertumbuhan aduh yang menjelma pohon pinus:
akan lancip dan runcing sebagai mata pensil yang hatinya terkucil

berapa banyak tombak tombak yang lesap menerkam punggung paus
berapa tanduk yang patah di cacah untuk menjadi pipa rokok dari cula putihmu,
tak ada satupun manusia yang menjawab seutuhnya;kita hanya euforia dari
keadaan keadaan tak menentu:hidup susah,negara bangkrut,tanpa gairah

aku akan menghisap dari sinar senja yang hangat di lubuk sore,mencuci baju
dari sisa debu hinggap tanpa permisi di jalan aspal siang hari
lalu menutup buku lembaran usia duapuluh dengan tinta dari pohon jeruk
jeruk asam yang mungkin melebihi tangisan garam di laut mati

3.
rintik rintik kecil,menyala bagai sinar neon di jam duabelas nanti,
api api yang mengangkat harapanmu di tahun yang baru,apakah sanggup?
jarum runcing lembut hujanku,menerabas hati lumpuh,bahasa mata
terdampar dalam kata:iya,mengamini segala amsal dari berbagai bentuk
adalah sayup semu matamu yang tak lagi menyimpan ujudku yang serpih
sebab,engkaulah merjan yang selalu bergemerincing dalam hati yang kering

2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar