Paragraf
itu tak ingin kita lupakan sebagai cahaya
meski
mata semakin memejam untuk berjeda dari
kesibukan
menatapi apa apa yang berada di luarnya.
Di
luar jendela: bau udara yang dingin bergelontoran
pada
gigir pohon pohon penghijauan yang ringkih.
Kubuka
lembar malam yang larut dengan bunyi alarm
memekakkan
telinga.Bunyi yang bersahut sambung
dengan
kaki kucing yang di tempel pada pagar rumah.
Aku
masih ingin membaca sebuah kisah.Tentang asal
hujan
yang selalu runtuh di punggung januari.
Di
tubuhnya yang kian sunyi di tinggal orang orang
yang
lebih memilih memandang hujan dari jendela
daripada
keluar menerabasnya.Kenikmatan hujan adalah
untuk
dipersaksikan para manusia yang patah cinta.
Mereka
akan mengamsalkan rimis sebagai pecahan hatinya.
Malam
legam,semayup suara burung kicau berkali kali
selonjor
kakiku meluruskan ingatan tentang dahulu:tempat
kita
menguburkan kaki di dalam pepasir ganih pantai sepi.
Dimana
hanya berpuluh tiang bambu penuh bendera kibar
seperti
rambutmu yang wangi di bawa angin laut.
Dan
lewat kisah yang sebetulnya di tulis mimpi ini,
kucoba
mengaitkannya dengan gerak ombak yang kita ingat
sebagai
gejolak di balik dada.
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar