Empat Kaki Antara Enam Kaki
:nisa
dengan
angin berguncang kala itu,rambut kerudungmu mengambang
o
dewi yang mabuk ruapan asap bunga dari pembakaran daundahan kerontang,
kudekat--
jempol kita,bertaut untuk membakar jagung di balik rindang pohonan
bercakap
tentang masa kecil yang pernah kita lalui,membawa mimpi pada benang yang
menerbangkan layangan.menangkap belut licin yang menggeliat di kaki.menyamar
sebagai orang tua kita dalam, adegan adegan penuh canda.menggelantungkan surat
ungkapan rahasia dari hati kecil tentang cinta.
daun
yang ditebas oleh kedip mata terkena gangguan debu itu,menjadi aku.ia mungkin
diam,namun mengamati wajahmu yang berubah setelah lima tahun tak menemu.
oh,aku,-yang
sunyi di lubuk paling sini.diantara keenam kaki,mungkin cuma jempolku yang
terus saja mendekat padamu,menerkam jempol kakimu yang lentik dengan hiasan cat
warna ungu serupa langit yang menyimpan gairah dari lautan yang menguap di
tubuhnya.maka calipso yang bisu,muncul dari balik kukumu,mencapit ulu hatiku
dengan tangan kepitingnya.
kau
terlalu berlebih,seperti baru disapih oleh keringat pertama rahim ibu,bibirmu
yang suci itu masih merah dan belum siapapun adam yang mampu mengatupkan
hatinya-hatimu.perkenankan aku,-
menangkap
remah sisa nafasmu yang kaubuang meski dioksida.mengambil serpih airmata yang
terlontar;asam laut rembih yang membeku.menangkup rambut yang
terputus,kujadikan diadem yang kuurap dengan wangi melati musim semi.kunobatkan
pada kening yang ku kecup terlebih dahulu.
sebab
diri engkau adalah puzel yang di pasangkan agar berirama dalam mata.
2012-2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar