Rabu, 02 Januari 2013

Kepada



Empat Kaki Antara Enam Kaki
:nisa

dengan angin berguncang kala itu,rambut kerudungmu mengambang
o dewi yang mabuk ruapan asap bunga dari pembakaran daundahan kerontang,
kudekat-- jempol kita,bertaut untuk membakar jagung di balik rindang pohonan
bercakap tentang masa kecil yang pernah kita lalui,membawa mimpi pada benang yang menerbangkan layangan.menangkap belut licin yang menggeliat di kaki.menyamar sebagai orang tua kita dalam, adegan adegan penuh canda.menggelantungkan surat ungkapan rahasia dari hati kecil tentang cinta.
daun yang ditebas oleh kedip mata terkena gangguan debu itu,menjadi aku.ia mungkin diam,namun mengamati wajahmu yang berubah setelah lima tahun tak menemu.
oh,aku,-yang sunyi di lubuk paling sini.diantara keenam kaki,mungkin cuma jempolku yang terus saja mendekat padamu,menerkam jempol kakimu yang lentik dengan hiasan cat warna ungu serupa langit yang menyimpan gairah dari lautan yang menguap di tubuhnya.maka calipso yang bisu,muncul dari balik kukumu,mencapit ulu hatiku dengan tangan kepitingnya.
kau terlalu berlebih,seperti baru disapih oleh keringat pertama rahim ibu,bibirmu yang suci itu masih merah dan belum siapapun adam yang mampu mengatupkan hatinya-hatimu.perkenankan aku,-
menangkap remah sisa nafasmu yang kaubuang meski dioksida.mengambil serpih airmata yang terlontar;asam laut rembih yang membeku.menangkup rambut yang terputus,kujadikan diadem yang kuurap dengan wangi melati musim semi.kunobatkan pada kening yang ku kecup terlebih dahulu.
sebab diri engkau adalah puzel yang di pasangkan agar berirama dalam mata.

2012-2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar