Jumat, 25 Januari 2013

Blues (2)



Jimi Hendrix ngejam pada malam minggu
Robert Johnson memantik sigaret
ketika ia mulai senandung pertama kali
si rambut pirang berseru girang:
“Piet Hitam mulai bernyanyi!”

Dimana gitar yang disembunyikan waktu?
seuntai senar lepas dari pucuk sunyi
mengembalikan kenangan masa lalu
ketika aku belum mengenalmu
atau engkau belum mengenalku
kita masih sama sama terdekam
di sesuatu yang mirip debu
lalu keluar melihat cahaya pertama
setelah sembilan bulan berlama
di liang kasih sana

2013


Kamis, 24 Januari 2013

Mencoba Romantis



Serenada Pertama

januari mengalun masuk hingga
tanggal pudar dan kasar
kerikil beringsut di ban-ban yang menjerit,
warna warna berpesta di langit suci.

hujan tertatih
keheningan berpenyamun waktu
merombak gelombang angin
yang menyerak pucuk dedaun

kusaksikan pagi
matahari menaik puncak tinggi
halimun susut
kicau merdu burung melenyut tubuh angka  
jarum gerimis turun
bersembunyi dibalik pohonan

angin dingin mengusap wajah kota
rimba penuh embun
kerjap lampu jalan
deru mobil bergulat dengan ketepatan
kumasih menyimpan bau rambut sampo
wangi tubuhmu mandi sabun

alunan januari
wajahmu membayang mungil,yu
pertama mengucap cinta
yang tadinya masih berahasia dalam arca
dan tatahan di ulu hatiku

pecah,seperti tiga tumpuk piring yang jatuh
menguar bagai langut lembut
bensin siang hari

kita kanak kanak yang renyah
membuat senyum dan permainan
jadi lebih berdebar debam.

cinta itulah bebunga
yang bersemi dalam taman hatimu
cinta itulah ikan ikan
bertingkah kecipak pada kolam hatiku
cinta itulah bola bekel dan kulit kerang
yang pernah kita mainkan dulu

aku ingat kau memilin rambutmu
menjelma sejuta syaraf pada mataku
menerobos kulit kanakmu
semua terbaca dalam detak lonceng kecil di jantungku

kemana engkau,yu?
tahun demi tahun tak melibatkanmu
memudar,lesap tinggal sisa pepasir
yang menyarang di hatiku
membentuk lingkaran merah
yang mengasmakan detak rindu

2013

Gelombang Hitam



Seribu gelombang mengacak acak angin disekitar
Jemari kapal kadang kuterjunkan dari puncaknya
Sepasang jepet rama rama berhinggapan di sana
Aroma wangi setiap pagi,muncul
dalam pisahan demi pisahan gelombang
Ditiup begitu dingin oleh angin sejuk pertama

Ombaknya yang pekat
terdiam bila aku dan angin tak memainkannya
Kami tak begitu mahir untuk berkata kata
cuma getar gerakan melambai
Sehitam ajakan yang nyiur di lipatan lipatannya

Seribu gelombang membentur mata
Menyibak malis pekat fajar berkabut
Ketika aku menggerainya dengan cinta
Engkaupun menguncir rapat itu rambut

2013

Karya-karya Sitor Situmorang

Paris 1977

(chanson kecil)

Akankah aku ikut latah?
berkata:Paris sudah berubah!
20 tahun kemudian,aku kini
                                  kembali tiba
di peron itu juga,hanya
                            kau tak ada.


Dari Karya Rimbaud

Bintang kejora tempatku nginap
Milikku pribadi,bintang-bintang sepi
                             melintas di langit.
Lalu terduduk di pinggir jalan kudengar
malam September,tetes demi tetes
menyuling embun pagi.


Urat Bona Pasogit     

sebatang beringin,tempat leluhur
di bayangnya bermusyawarah hal hidup
dan hal baka
sebuah mata air dari batu karang
sumber pelepah dahaga 7 keturunan
kali 7 keturunan,aku pun lahir
sebuah rumah asal disebut parsantian
perlambang jagat tiga tingkat
bumi atas bumi tengah bumi bawah
dari halamannya sejemput tanah keramat
kutiup nafas
bakal alas jasad bakaku tegak
di atas segala bumi leluhur
Ompu Raja Bunbunan
pengawal adat lembaga di tanah Urat


(Sajak-sajak diatas diambil dari buku Angin Danau 1982)

Alunan Januari



Paragraf itu tak ingin kita lupakan sebagai cahaya
meski mata semakin memejam untuk berjeda dari
kesibukan menatapi apa apa yang berada di luarnya.
Di luar jendela: bau udara yang dingin bergelontoran
pada gigir pohon pohon penghijauan yang ringkih.

Kubuka lembar malam yang larut dengan bunyi alarm
memekakkan telinga.Bunyi yang bersahut sambung
dengan kaki kucing yang di tempel pada pagar rumah.
Aku masih ingin membaca sebuah kisah.Tentang asal
hujan yang selalu runtuh di punggung januari.

Di tubuhnya yang kian sunyi di tinggal orang orang
yang lebih memilih memandang hujan dari jendela
daripada keluar menerabasnya.Kenikmatan hujan adalah
untuk dipersaksikan para manusia yang patah cinta.
Mereka akan mengamsalkan rimis sebagai pecahan hatinya.

Malam legam,semayup suara burung kicau berkali kali
selonjor kakiku meluruskan ingatan tentang dahulu:tempat
kita menguburkan kaki di dalam pepasir ganih pantai sepi.
Dimana hanya berpuluh tiang bambu penuh bendera kibar
seperti rambutmu yang wangi di bawa angin laut.

Dan lewat kisah yang sebetulnya di tulis mimpi ini,
kucoba mengaitkannya dengan gerak ombak yang kita ingat
sebagai gejolak di balik dada.

2013

Sinar Pagi Menempel di Kening Wajahmu



sinar pagi menempel di kening wajahmu
dua burung dari sarang bertengger di pagar
      cahaya bundar ufuk timur menyambut waktu
            membuka mata yang menerobos wajahmu
                  di langit,langit meski tak ada yang di sapa
masih menyisa debam jantung meninggalkan namamu

suara sepi terganti nyawa-nyawa yang membicarakan usia
lengang jalan terisi langkah langkah mesin dan manusia
menjurai gorden yang ditabrak angin sejuk
mendekat detik detik, menyatu waktu yang rujuk

pohon-pohon memanggil sebuah asma yang tak kita mengerti
tegak berlambai ke atas langit,memuja satu yang esa
kita masih terdekap dalam empuknya keadaan
kita tak ingin cepat keluar,menghambur lalu pergi
sebab di wajahmu,kusaksikan segalanya seperti itu lagi

2013