Jumat, 13 Juli 2012

Mbok Suminah


butir-butir tasbih di larut malam
dan pecah tangis
menangkap sama hujan yang gerimis
terbaulah itu darah amis!
menjalar dari kedua matanya
tangis merah yang tak kuasa
sebab anaknya yang lupa
rumah dan ibunya.

tertenunglah ia
dalam menjumlah butiran doa
nunggununggu anaknya
yang telah lama
dalam pengembaraan jati diri

matanya telah kerontang
tiada lagi geliat menantang
kehidupan di pelupuk mata
kian hari semakin hilang
terserap tangis menanti anak lanang

dari matanya tangis kering
berkucur darah anyir
tubuh bungkuk ringkih garing
tenang di atas sajadah
berjam-jam menggigir
fajar
kembali tunaikan ibadah.

adalah menantilah ia
ketika anak satu-satunya
yang dikasihi dan disayangnya
bertalu-talu tahun belum pulang jua

sekampung menengok keadaan gontainya
fisiknya menua
usia memakan rambutnya
serumpun putih menyeluruh kepala
kabar dari anaknya tiada didengardengarnya

sebatang kara
menempuh usia
tangisi anaknya
belum pulangpulang jua

hingga suatu perdzikiran
meminta tuhan
lalu terdengarlah dari dada dan pintunya
suara baret di daun pintu
orang hitam masuk tanpa permisi
menggelayutkan sabit kepadanya
maka
tertelungkuplah ia diatas sajadah dan doa.

2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar