butir-butir
tasbih di larut malam
dan
pecah tangis
menangkap
sama hujan yang gerimis
terbaulah
itu darah amis!
menjalar
dari kedua matanya
tangis
merah yang tak kuasa
sebab
anaknya yang lupa
rumah
dan ibunya.
tertenunglah
ia
dalam
menjumlah butiran doa
nunggununggu
anaknya
yang
telah lama
dalam
pengembaraan jati diri
matanya
telah kerontang
tiada
lagi geliat menantang
kehidupan
di pelupuk mata
kian
hari semakin hilang
terserap
tangis menanti anak lanang
dari
matanya tangis kering
berkucur
darah anyir
tubuh bungkuk
ringkih garing
tenang
di atas sajadah
berjam-jam
menggigir
fajar
kembali
tunaikan ibadah.
adalah
menantilah ia
ketika
anak satu-satunya
yang
dikasihi dan disayangnya
bertalu-talu
tahun belum pulang jua
sekampung
menengok keadaan gontainya
fisiknya
menua
usia
memakan rambutnya
serumpun
putih menyeluruh kepala
kabar
dari anaknya tiada didengardengarnya
sebatang
kara
menempuh
usia
tangisi
anaknya
belum
pulangpulang jua
hingga
suatu perdzikiran
meminta
tuhan
lalu
terdengarlah dari dada dan pintunya
suara
baret di daun pintu
orang
hitam masuk tanpa permisi
menggelayutkan
sabit kepadanya
maka
tertelungkuplah
ia diatas sajadah dan doa.
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar