Rabu, 29 Mei 2013

Terjemahan (bebas) Sajak Federico Garcia Lorca

Nyanyian Pohon Jeruk Gersang

Penebang.
Tebas bayangan dariku.
Bebaskan aku dari siksa
menyaksikan diriku tanpa buah.

Mengapa aku terlahir di antara cermin?
Terik yang berpendar mengukungku
malam yang menyalinku
dalam gemintangnya.

Aku ingin hidup tanpa melihat tubuhku.
Dan biarlah aku bermimpi 
semut dan bunga duri
adalah daun dan kicauku.


Sonet Keluh Manis
 
jangan biarkan aku kehilangan pesona
oleh lekukmu-seperti mata,ataupun tanda
gigil mawar dari nafasmu
bertinggal di pipiku semalam.


aku takut mengawali,di pantai yang ini,
batang ranting,dan yang paling aku kecewa
adalah tak punya bunga,serbuk pun lempung
untuk geliat patah arangku.


Jikalau kau adalah harta terpendamku,
Jikalau kau salibku,peredam ngiluku,
Jikalau aku anjing,dan kau tuan sunyiku,


jangan biarkan aku kehilangan apa yang kuraih,
dan menghias cabang-cabang sungaimu
dengan daun musim gugur yang terasing.  



Bocah Bisu


Bocah kecil tengah mencari suaranya.
(Raja jangkrik yang menyekapnya)
Dalam tetes air
bocah itu mencari suaranya.

Aku tak ingin itu untuk bercakap;
Aku akan buat melingkar
agar ia dapat mengenakan keheninganku
di jari kelingkingnya.

Di antara tetes air
Bocah kecil sedang mencari suaranya.

(Suara yang tertawan,hilang.
Tersemat pada baju-baju para jangkrik.)

 

2 komentar:

  1. bagus, sudah aku baca 2 sajak Federico Lorca terjemahanmu. barangkali aku tidak bisa benar-benar membuat sebuah koreksi pengalih bahasaan tanpa teks asli bahasa inggrisnya (itupun aku rasa teks yang sudah hancur karena Lorca juga penyair dengan bahasa tulis bukan bahasa inggris) dengan keterbatasan itu juga, aku cuma bisa melakukan pembacaan pada sajak ini dengan kacamata tekstual yang aku terima, sebagai sajak bahasa indonesia. sajak ini masih terkesan pecah Gus. misal, dibawah larik penebang, aku merasakan, kata tebas mempunyai potensi menjadi kata "tebaslah", jika melihat larik ketiganya. mesti ada keberanian untuk merombak "grammar", ketika menyalin dari bahasa inggris ke indonesia, mengambil resiko mengganti--menambahi--mengurangi kata-kata yang perlu dan tidak diperlukan untuk membangkitkan "sense" dari sajak. karena hematku, sajak yang kita alih bahasakan sudah menjadi sajak "pribumi", kita tidak boleh merasa asing ketika menikmatinya. (dan aku merasa masih "asing ketika berhadapan dengan sajak terjemahanmu),


    aku ambil contoh lagi pada sajak yang kedua, Sonet Keluh manis (dari judulnya saja saya merasa asing--Gus, dan inisalah satu keputusanku, untuk tidak mengalih bahasakan Judul, selain bermaksud agar teman-teman bisa menelusuri judul sajak misal ingin membuat koreksi dari mesin pencari Google,

    larik pertama dan kedua , coba cermati, baca, dan luruhkan ke dalam intuitif penyairmu, "

    jangan biarkan aku kehilangan pesona
    oleh lekuk tubuhmu, dst dst


    Frase yang menurutku jadi hancur karena kamu masih mentah dalam mengganti kata per kata dari bahasa inggris ke bahasa indonesia. resapkanlah dulu, toh menerjemahkan bahasa asing sudah jadi rumusnya adalah melakukan "de(re)kontruksi bahasa" ?

    itu dulu Gus, yang jelas, aku salut kepada upayamu. Menerjemahkan selain diartika merusak juga aku artikan upaya membuka diri kita untuk mau dimasuki karya sastra dari mana saja. dan itu jarang diilakukan. kamu sudah berada di jalur yang jarang dan langka itu. Selamat. tabikku.

    BalasHapus
  2. Mas Arif Fitra,memang keren...saya memang masih terlalu mentah.Mungkin renovasi sajak-sajak Lorca ini harus saya lakukan.Dan semua kritik mas Arif memang benar.Ada kalanya saya juga gamang menerjemahkan lorca,namun saya ingin saja menerjemahkannya.Ya,terima kasih mas Arif sudah membuka mata saya yang selama ini buta dan begitu mentah mendedah segalanya.

    Salam saya,semoga saya bisa terus berlajar dari terjemahan-terjemahan mas Arif!

    BalasHapus