Pistol
anak-anak
main kelereng,main jungkat-jungkit,main lempung di tegalan
lihat!
lihatlah! anak-anak menangkap layang putus di tengah lapangan
angin
menyebar berserbukan di mana-mana.coba saja kita kembali lagi
kanak,mungkin
kamu akan berlari tanpa mengenakan apapun dan
menjebur
ke sungai.mungkin kita tidur di atas rumput dengan gatal
menyenangkan
atau anak-anak adalah busur panah yang ditembak
kemana-mana,yang
ditancapkan ke lidah langit,mengoyak garba nusuk
usus
kancil yang mencuri.jangan biarkan mereka menangkap terus
bayangannya
yang telanjang.kini kulihat mereka memainkan ketelanjangan
itu
tanpa keluguan,menyemplung lingkaran tontonan orang-orang dewasa
seperti
kita.hush! jangan misuh! anak-anak bermain terompet-terompetan,
dulu—kini
anak-anak main terompet yang dibawa sejak lahir.jangan paksa
mereka
memegang buku karena di waktu yang ini,sebuah papan yang
menampilkan
mainan instan,menjebak mata mereka minus berkali-kali.
anak-anak
bisa jadi dewasa, seperti kita dalam tempo yang sesingkat-singkatnya
kamu
ingat tokoh yang diciptakan carlo collodi,berkata bohong untuk
memanjangkan
hidungnya.sewaktu-waktu itu hidung berguna jika ia dipenjara;
mengambil
kunci di balik terali besi.ingatkah kamu putri salju yang putih
bagai
keluguanmu dulu.ah,jangan kencing di balik pohon mangga pak itu!
nanti
kita dimarahi.jangan main di sungai,nanti kita gatal-gatal.jangan memanjat
pohon
tinggi-tinggi,jatuhnya aduh seperti hancurnya mimpi.jangan melakukan
apa
yang tidak disukai orang tua,nanti orang tua akan jadi seperti kita:
1.
anak-anak
yang terlantar di tepi garis meja;mengukur lebarnya karena soal
matematika.soal
ekonomi dihadapan pigura presiden dan wakilnya di kelas
yang
belum pernah didudukinya.
2.
tersenyum.snap kamera mengincar senyumnya,bahkan
sebuah menara yang keras
kaku
dan merah--anak-anak diincar.celeguk…celeguk! “robot gedek datang!...robot
gedek
datang!...ro-…”setelahnya tiada lagi suara.bagaimana kamu membayangkan
yang
begitu itu.apalagi anak-anak,yang masih putih bagai kertas baru.ah,sungguh
di
mana kita berinjak,di sini semakin irasional saja. anak-anak menjadi kerbau
yang
lenguhnya tak didengar hanya berhadiah seribu rupiah atau permen karet
aduh,aduh…jangan
paksa kami jadi robot seperti orang-orang itu,tuhan!
3.
ke
mana harus kami mengaduh.menggenjreng gitar dan atau menengadahkan tangan
mata
kami menatapmu seperti seekor kucing lapar di keset rumah yang mengeong terus
bukankah
kamu-kamu yang melahirkan kami yang kamu-kamu buang-buang itu?
di
kardus,di plastik kresek,di depan pintu rumah seseorang bernama x;tercampak
sendiri
ibu,ibu,harusnya
kau jadi ibu sebelum aku terlanjur kau buang dan tak mengenalimu
ingus
amisku tak pernah kau usap sekalipun.tahi yang bau itu tak pernah kau bersihkan
seperti
klise lama yang belum kukenal,tapi segera setelah akhirnya kubaca:
‘ayahku
langit,ibuku bumi.terlahir di jalanan dan aku menjelma orang pinggiran’
siapakah
yang mesti kucari dulu? ayah adalah siapa,ibu itu siapa? tak ada yang bisa
disapa
orang-orang
larut dalam topengnya masing-masing.memamerkan jalan hidup penipu
di
kantor gedung menjulang berdasi,di rumah-rumah sakit dengan kemenangan orang
kaya
dan
kami gelandangan mesti tahan banting menghadapi penyakit yang ditebar orang
kaya
dari
limbah-limbah busuk mereka yang menyerupai bacin cuih ludah!
4.
jangan
campuri harum jagung yang kami bakar di lubang-lubang pengap gang!
kau
mesti risi melihat kami tak pernah mandi,karena air telah kau hisap
seperti
hidung gajah yang meminum galon-galon air di sungai-sungai
membagikan
darha-darah kekeringan bagi kancil-kancil klepto seperti kami
bukankah
kami adalah bidak jadah yang akan dikorbankan kelak,di altar persembahan
kepada
dewa pembangunan? ya,senyum tipu itu membekas di hati dan pikiran kami
semacam
intelektual yang menyerang dari belakang,berkata tentang iman yang awalnya
adalah
pergulatan keringat dengan onani di kamar mandi yang pengap.kami meniru
kami
adalah anak-anak yang kau lontarkan dengan jemparing itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar