Sabtu, 04 Mei 2013

Pistol


Pistol

anak-anak main kelereng,main jungkat-jungkit,main lempung di tegalan
lihat! lihatlah! anak-anak menangkap layang putus di tengah lapangan
angin menyebar berserbukan di mana-mana.coba saja kita kembali lagi
kanak,mungkin kamu akan berlari tanpa mengenakan apapun dan
menjebur ke sungai.mungkin kita tidur di atas rumput dengan gatal
menyenangkan atau anak-anak adalah busur panah yang ditembak

kemana-mana,yang ditancapkan ke lidah langit,mengoyak garba nusuk
usus kancil yang mencuri.jangan biarkan mereka menangkap terus
bayangannya yang telanjang.kini kulihat mereka memainkan ketelanjangan
itu tanpa keluguan,menyemplung lingkaran tontonan orang-orang dewasa
seperti kita.hush! jangan misuh! anak-anak bermain terompet-terompetan,
dulu—kini anak-anak main terompet yang dibawa sejak lahir.jangan paksa

mereka memegang buku karena di waktu yang ini,sebuah papan yang
menampilkan mainan instan,menjebak mata mereka minus berkali-kali.
anak-anak bisa jadi dewasa, seperti kita dalam tempo yang sesingkat-singkatnya
kamu ingat tokoh yang diciptakan carlo collodi,berkata bohong untuk
memanjangkan hidungnya.sewaktu-waktu itu hidung berguna jika ia dipenjara;
mengambil kunci di balik terali besi.ingatkah kamu putri salju yang putih

bagai keluguanmu dulu.ah,jangan kencing di balik pohon mangga pak itu!
nanti kita dimarahi.jangan main di sungai,nanti kita gatal-gatal.jangan memanjat
pohon tinggi-tinggi,jatuhnya aduh seperti hancurnya mimpi.jangan melakukan
apa yang tidak disukai orang tua,nanti orang tua akan jadi seperti kita:

1.
anak-anak yang terlantar di tepi garis meja;mengukur lebarnya karena soal
matematika.soal ekonomi dihadapan pigura presiden dan wakilnya di kelas
yang belum pernah didudukinya.

2.
tersenyum.snap kamera mengincar senyumnya,bahkan sebuah menara yang keras
kaku dan merah--anak-anak diincar.celeguk…celeguk! “robot gedek datang!...robot
gedek datang!...ro-…”setelahnya tiada lagi suara.bagaimana kamu membayangkan
yang begitu itu.apalagi anak-anak,yang masih putih bagai kertas baru.ah,sungguh
di mana kita berinjak,di sini semakin irasional saja. anak-anak menjadi kerbau
yang lenguhnya tak didengar hanya berhadiah seribu rupiah atau permen karet
aduh,aduh…jangan paksa kami jadi robot seperti orang-orang itu,tuhan!

3.
ke mana harus kami mengaduh.menggenjreng gitar dan atau menengadahkan tangan
mata kami menatapmu seperti seekor kucing lapar di keset rumah yang mengeong terus
bukankah kamu-kamu yang melahirkan kami yang kamu-kamu buang-buang itu?
di kardus,di plastik kresek,di depan pintu rumah seseorang bernama x;tercampak sendiri
ibu,ibu,harusnya kau jadi ibu sebelum aku terlanjur kau buang dan tak mengenalimu

ingus amisku tak pernah kau usap sekalipun.tahi yang bau itu tak pernah kau bersihkan
seperti klise lama yang belum kukenal,tapi segera setelah akhirnya kubaca:
‘ayahku langit,ibuku bumi.terlahir di jalanan dan aku menjelma orang pinggiran’

siapakah yang mesti kucari dulu? ayah adalah siapa,ibu itu siapa? tak ada yang bisa disapa
orang-orang larut dalam topengnya masing-masing.memamerkan jalan hidup penipu
di kantor gedung menjulang berdasi,di rumah-rumah sakit dengan kemenangan orang kaya
dan kami gelandangan mesti tahan banting menghadapi penyakit yang ditebar orang kaya
dari limbah-limbah busuk mereka yang menyerupai bacin cuih ludah!

4.
jangan campuri harum jagung yang kami bakar di lubang-lubang pengap gang!
kau mesti risi melihat kami tak pernah mandi,karena air telah kau hisap
seperti hidung gajah yang meminum galon-galon air di sungai-sungai
membagikan darha-darah kekeringan bagi kancil-kancil klepto seperti kami

bukankah kami adalah bidak jadah yang akan dikorbankan kelak,di altar persembahan
kepada dewa pembangunan? ya,senyum tipu itu membekas di hati dan pikiran kami
semacam intelektual yang menyerang dari belakang,berkata tentang iman yang awalnya
adalah pergulatan keringat dengan onani di kamar mandi yang pengap.kami meniru
kami adalah anak-anak yang kau lontarkan dengan jemparing itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar