Sabtu, 11 Mei 2013

BATAK POS,4 MEI 2013



Kura-kura di Langit



Kakek bercerita bahwa hari ini kala ia sedang memandang langit luas di lapangan yang letaknya tak jauh dari rumah kami,ada sepasang kura-kura raksasa yang melongok menunjukkan tubuhnya yang terbuat dari awan dan berarak menuju matahari terbenam. Alangkah nyamannya suasana itu,katanya sambil mendongak langit dan mengacungkan jemarinya. Kakek berusia lebih dari delapan puluhan. Badannya kurus sehingga tulang-tulangnya seperti ingin menyembul dari lapisan kulitnya yang terlihat tipis. Matanya seakan ingin lepas karena terkesan membelalak. Rambutnya tipis dan semuanya putih keperak-perakkan.Selalu ia ingin berjalan sendiri menuju lapangan meski aku telah selesai bekerja dan ingin memapahnya ke lapangan,namun ia tidak ingin siapapun mengikutinya. Ibu selalu membiarkan tingkah Kakek yang seperti itu. Katanya, biarlah ia bertingkah sesukanya karena ia sudah begitu tua dan ingin menikmati hari-harinya.   


Kakek telah lama hidup tanpa pasangannya, sekitar tujuh tahun yang lalu Nenek meninggalkannya karena penyakit kanker yang menggerogoti seluruh tubuhnya. Kala itu tak ada airmata yang menetes dari pipi-pipi kering Kakek; suasana hatinya begitu datar. Ia lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah tidak seperti orang lanjut usia pada umumnya. Ia berjalan-jalan dan sangat suka sekali mengunjungi lapangan terbuka yang penuh bocah-bocah bermain sepak bola dan layangan di sore hari sembari merasakan angin segar yang menghempasnya sekali-kali. Kakek bercerita pada anak-anakku bahwa dulu semasa penjajahan ia juga ikut memerangi para orang asing ke luar dari tanah air. Begitulah apa yang dikatakan Johan,anakku. Dan akupun sekonyong-konyong mengiyakan apa yang dikatakan buyutnya itu memang benar.


Kura-kura itu berbentuk setengah kabur.Namun masih terlihat benar bahwa itu memang kura-kura,sepasang kura-kura.Itulah yang Kakek ceritakan padaku mengenai pertemuannya dengan sepasang kura-kura hari ini ketika kami duduk-duduk di balkon loteng rumah kami. Dengan sesekali menghisap tembakau dari pipa gading gajah kesayangannya,ia meneruskan cerita tersebut. “Benar sekali,Mar. Kura-kura itu seperti ingin diikuti langkahku. Seterusnya akupun mengikutinya berarak menuju senja matahari, tetapi setelah mencapai senja yang bersembunyi di belakang gawang lapangan, sepasang kura-kura tersebut musnah dan seperti ditelan warna jingga matahari terbenam tadi.” 


“Lalu apa Kakek terus mengikuti kehilangan kura-kura Kakek itu?” tanyaku seakan penasaran.


“Ah,tidak. Besok juga kami akan bertemu lagi. Mereka akan datang menjelang senja tiba. Dan aku ingin mengajak Johan untuk menyaksikan sepasang kura-kura tersebut,”kata Kakek yakin. 


Hari selanjutnya,Kakek mengajak cicitnya itu menuju lapangan. Dengan sebuah sepeda yang selalu dibawa Johan kemanapun,anakku mengendarainya sementara di belakangnya Kakek berjalan lamban. Aku berteriak supaya mereka berdua jangan pulang terlalu malam dan keduanya menganggukkan kepalanya.

Malamnya,di kamar tidurnya sebelum aku menidurkannya, Johan bercerita bahwa Kakek seperti seorang yang tolol. Mereka menunggu sepasang kura-kura muncul di langit senja—yang menurut Kakek sudah waktunya—tetapi sepasang kura-kura yang ia nantikan tidak kunjung datang hingga menjelang petang. Dengan perasaan sedikit sedih ia menggamit setang sepeda Johan dan menuntun Johan kembali ke rumah.”Buyut seperti orang tolol,kami menunggu binatang kesayangannya itu tetapi tak muncul juga dari langit,menyebalkan.”


Kali ini Kakek tidak mengajak Johan lagi untuk menanti sepasang kura-kura di langit lapangan hari ini. Ia ingin sendiri saja. Dengan berjalan dan membawa sebotol minuman air mineral, ia menuju lapangan yang masih terasa cuacanya yang panas. Lagi-lagi,tuturnya,setelah lama ia menunggu,kura-kura yang ia nanti-nanti tidak juga muncul dari langit jembar lapangan tersebut. Kakek dengan menyesal pulang ke rumah tanpa membawa hasil.



****

Musim hujan pun datang. Hari-hari hujan menyelimuti seluruh kota dan jadi basah. Jalanan begitu licin dan hawa dingin menusuki tulang jika ke luar rumah. Kakek selama beberapa minggu tidak lagi mengunjungi lapangan. Ia berdiam diri di rumah dan selalu duduk di dekat jendela untuk menyaksikan hujan yang terus mengguyur kota. Dari jendela ia saksikan daun-daun berjatuhan tak sanggup menahan curah hujan yang begitu lebat dan dingin menyerang tubuhnya. Ia terkena selesma beberapa saat. Kamipun berobat ke dokter. Dengan sebungkus kapsul yang mesti ia makan sehari tiga kali(Kakek benci dengan obat) akhirnya ingus yang melewer karena dinginnya cuaca,sembuh seketika. Kakek,di musim hujan lebih suka berdiam diri dan jarang bahkan tidak pernah ke luar rumah untuk mengunjungi lapangan lagi. Suatu hari ia mulai bercerita lagi tentang pengalaman masa perangnya kepada cicit-cicitnya. “Tahukah kalian, dulu ketika tahun-tahun sulit bangsa ini, orang terus diperas untuk menanam kopi, membangun jalan dan tanpa upah menimbulkan kelelahan hingga mereka mati. Tetapi sekarang, orang-orang yang dulunya berjasa telah dilupakan bangsa tak tahu terima kasih ini. Para penguasa tidak pernah lagi merawat dan mengayomi kami.Sungguh ironi nasib orang-orang yang membebaskan bangsa ini. Jadi, ketika kalian nanti dewasa dan jadi pemimpin, jangan lupakan nasib orang-orang seperti kami, mengerti?” Lalu serempak mereka menjawab,”Mengertiii…!” Dan senyum mengembang Kakek karena berhasil menasihati cicit-cicitnya pun terasa dalam diriku. 


Aku lantas jadi teringat kisahnya yang ia ceritakan padaku sewaktu aku masih kanak, tentang teman-temannya yang ditangkapi karena partai yang menaungi organisasi kebudayaan yang dirintis olehnya dan teman-temannya adalah sebuah partai kiri dalam masa peralihan kekuasaan seorang penguasa keji yang memimpin negara ini. Mereka kecuali kakek,dikirm ke sebuah pulau terpencil dan dipenjara selama berpuluh-puluh tahun. Kakek waktu itu adalah seorang penyair yang menganggap dirinya bukan penyair katanya: “Aku bukan penyair,bukan karena aku pencipta sajak yang baik,lantas aku jadi penyair.” Dan dengan caranya yang ajaib Kakek berhasil lolos dari penjeratan yang dilakukan oleh satuan pengaman negara kala itu dan Kakek kemudian beserta seluruh keluarga pergi pindah ke luar negeri yang lagi-lagi dengan ajaibnya tidak pernah terkena jadi target ‘pembersihan’ meski sasaran telah dilekatkan pada dirinya. Hal yang membuatnya jadi benci dengan bangsa ini dan tak lagi menulis sajak semenjak ia tahu berita mengenai salah seorang temannya yang diberi hadiah mesin tik oleh pengarang Perancis terkenal;Sartre namun mesin tik itu dimonopoli oleh para penjaga tahanan dan tak pernah sampai kepada tangan temannya,sejak itu akhirnya ia mengutuk-ngutuk bangsa ini dan tidak ingin menulis sajak lagi.


Cerita yang akhirnya sangat tak bisa kulupakan tentang penderitaan teman-teman dan dirinya menghadapi bangsa yang dibebaskannya dengan perjuangan yang teramat sangat namun tidak membela mereka dan justru ingin menghancurkannnya. Untung program hitam itu telah dihilangkan karena bertentangan dengan hak asasi manusia dan statusnya telah dicopot sebagai pelarian dan bebas menjadi manusia merdeka mesti berkali-kali ia berserapah dan mengutuk bangsanya ini. Hanya ia diwajibkan lapor seminggu sekali di kantor kepolisian setempat selama beberapa tahun yang lalu dan sekarang ia benar-benar bebas seutuhnya. 


Kakek beberapa kali tidak lagi menceritakan riwayatnya dan lebih suka berdiam dan memandangi hujan setelah ia mewanti-wanti para cicitnya. Hujan sungguh deras dan rasa ingin kembali menuju lapangan agar menemui sepasang kura-kura tak lagi terbendung setelah lama ia tidak lagi mengunjunginya tetapi aku mencegahnya.Aku khawatir dengan keadaannya setelah dia terserang selesma dan beralasan bahwa mendung tidak memperlihatkan awan-awan cerah termasuk para kura-kura itu.Kakekpun menurut pada omonganku.



***

Aku tidak pernah melihat Kakek begitu bergariah sekali setelah kami lama tinggal di Amsterdam yang begitu megah dan kembali ke sini; ke tanah air kami. Hujan yang tidak pernah bertandang lagi membuat cuaca akhir-akhir ini sangat cerah. Dengan langkah tergesa-gesa,ia keluar dari rumah dan bergegas menuju ke suatu tempat yang sudah aku tahu dan aku mempersilahkan ia, berubahlah wajahnya begitu cerah dan senang. Ia menggamit tangan Johan dan Malena anakku yang paling kecil untuk pergi bersamanya,akupun membolehkan mereka dan berkata agar mereka hati-hati di jalan.


“Benar Ayah,ada sepasang kura-kura yang melintas di langit lapangan dan Kami bertiga begitu takjub,apalagi Buyut. Ia terus melompat-lompat dan menunjuk-nunjuk kura-kura kesayangannya itu!” Wajah Johan terlihat berseri ia menggeret-geret celanaku dan menuding-nuding wajah Kakek yang baru sampai sambil menggendong Malena di punggungnya. Kakek benar-benar sangat senang terlihat dari mimik mukanya. Kusuguhi mereka bertiga jus Apel kesukaan Malena yang langsung cepat menenggaknya hingga berceceran airnya di bibir bawahnya dan dengan cekatan istriku datang untuk mengelap bibirnya. 

“Bagaimana hari kalian tadi, kalian senang pergi dengan Buyut ke lapangan? “ tanya Istriku sembari menciumi pipi mereka.


“Kami sungguh senang Ibu. Kau tahu kura-kura itu nyata kupikir Buyut tolol…”


“Husy…!” Akupun menghentikan perkataan Johan dengan segera. Kakek hanya tersenyum senang melihat kami mengobrol di teras rumah. Selang beberapa saat Ibupun datang dan menyuruh anak-anak mandi. Tinggal orang-orang dewasa memandangi suasana petang di hamparan halaman rumah.


“Beberapa tahun di sini tidak begitu baik,benar bukan?” tiba-tiba Ibuku bertanya kepada seluruh orang yang berada di teras.


Kakek yang menjawabnya lebih dahulu,”Benar. Tetapi negara ini tidak begitu buruk selama masih ada kura-kura di langit lapangan itu.”


Kami bertiga yang mendengar perkataan Kakek tersenyum dengan pernyataan yang ia lontarkan. Sebelumnya ia adalah satu-satunya keluarga kami yang begitu ngotot mengutuk negara ini. Kini ia memaafkan negara ini. Memaafkan seluruh kebejatannya pada dirinya dan teman-temannya. Ia telah memaafkannya….



***

Tak terasa setahun sudah kami lewatkan. Kakek dan cicit-cicitnya terus mengunjungi lapangan dan kadang-kadang mereka menjumpai sepasang kura-kura yang telah menjadi kesayangan mereka bertiga bukan Kakek saja. Suatu hari, Ibu menyetel televisi dan sebuah berita membuat Kakek marah dan mengutuk kembali negara ini. Diberitakan segerombolan oknum penjaga kedaulatan rakyat;para serdadu yang seharusnya melindungi rakyat tanah air ini, masuk menerobos sebuah hotel prodeo dan menembaki secara bertubi-tubi empat orang tahanan yang mendekam di bui. Dengan membabi buta dan anehnya, negara ini memaafkan tindakan oknum bangsat itu,seperti mereka memaafkan kebiadaban para penguasa atas tragedi 98’ yang menghilangkan nyawa-nyawa para aktivis. “Bangsaaat…!” seraya Kakek berkata dan mengacungkan tangannya. “Negara bejat,tak tahu keadilan,buta,busuk,pemimpinya busuk-busuk seperti anjing,biadab,jiancuk!” Istriku menutupi telinga anak-anak dengan kedua tangannya. Aku mencoba menenangkan Kakek. Iapun akhirnya tenang dan terdiam kembali. Kami semua maklum atas ucapan-ucapannya dan sewajarnya tindakannya kami benarkan. Negara ini sudah terlanjur busuk.


Setelah berita itu muncul dan terdengar Kakek, ia kembali malas menjalani hidupnya. Ia tidak ingin diajak anak-anak untuk menemui sepasang kura-kura di langit lapangan lagi. Ia tak lagi bergairah. Hingga suatu hari Kakek mengajak para cicitnya menuju lapangan. Akan tetapi mereka menyesal dan pulang untuk mengadu padaku bahwa kura-kura itu tidak datang mengunjungi langit lapangan. Hari demi hari berlalu dan Kakek selalu mengunjungi lapangan dengan membawa hasil yang nihil akan keberadaan para kura-kura kesayangannya. Akhirnya dengan putus asa ia ganti mengajakku pada suatu hari ke lapangan. Tak disangka,senja yang begitu oranye menebarkan warnanya di langit dan memang benar apa yang mereka katakan tentang sepasang kura-kura itu.


Sungguh indah. Kami memandangnya lama sekali,sungguh lama dan ia tak hilang begitu saja seperti hari-hari kemarin bahkan hingga petang menjelang dan bintang nampak,sepasang kura-kura itu seperti tak ingin berpaling meninggalkan kami. Kami mendongak ke langit sambil tiduran di atas rerumputan. Keheningan yang menyisakan kami berdua.Hanya aku dan Kakek yang tertidur sementara aku terbius keindahan sepasang kura-kura itu. Kakek tertidur lama dan tak bangun-bangun,aku terus saja takjub hingga malam berganti fajar…dan Kakek tidak pernah bangun. ***



Mlati Lor,13 April 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar