Kura-kura di Langit
Kakek bercerita
bahwa hari ini kala ia sedang memandang langit luas di lapangan yang letaknya
tak jauh dari rumah kami,ada sepasang kura-kura raksasa yang melongok
menunjukkan tubuhnya yang terbuat dari awan dan berarak menuju matahari
terbenam. Alangkah nyamannya suasana itu,katanya sambil mendongak langit dan
mengacungkan jemarinya. Kakek berusia lebih dari delapan puluhan. Badannya
kurus sehingga tulang-tulangnya seperti ingin menyembul dari lapisan kulitnya
yang terlihat tipis. Matanya seakan ingin lepas karena terkesan membelalak.
Rambutnya tipis dan semuanya putih keperak-perakkan.Selalu ia ingin berjalan sendiri
menuju lapangan meski aku telah selesai bekerja dan ingin memapahnya ke
lapangan,namun ia tidak ingin siapapun mengikutinya. Ibu selalu membiarkan
tingkah Kakek yang seperti itu. Katanya, biarlah ia bertingkah sesukanya karena
ia sudah begitu tua dan ingin menikmati hari-harinya.
Kakek telah lama
hidup tanpa pasangannya, sekitar tujuh tahun yang lalu Nenek meninggalkannya
karena penyakit kanker yang menggerogoti seluruh tubuhnya. Kala itu tak ada
airmata yang menetes dari pipi-pipi kering Kakek; suasana hatinya begitu datar.
Ia lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah tidak seperti orang lanjut
usia pada umumnya. Ia berjalan-jalan dan sangat suka sekali mengunjungi
lapangan terbuka yang penuh bocah-bocah bermain sepak bola dan layangan di sore
hari sembari merasakan angin segar yang menghempasnya sekali-kali. Kakek
bercerita pada anak-anakku bahwa dulu semasa penjajahan ia juga ikut memerangi
para orang asing ke luar dari tanah air. Begitulah apa yang dikatakan
Johan,anakku. Dan akupun sekonyong-konyong mengiyakan apa yang dikatakan
buyutnya itu memang benar.
Kura-kura itu
berbentuk setengah kabur.Namun masih terlihat benar bahwa itu memang
kura-kura,sepasang kura-kura.Itulah yang Kakek ceritakan padaku mengenai
pertemuannya dengan sepasang kura-kura hari ini ketika kami duduk-duduk di
balkon loteng rumah kami. Dengan sesekali menghisap tembakau dari pipa gading
gajah kesayangannya,ia meneruskan cerita tersebut. “Benar sekali,Mar. Kura-kura
itu seperti ingin diikuti langkahku. Seterusnya akupun mengikutinya berarak
menuju senja matahari, tetapi setelah mencapai senja yang bersembunyi di
belakang gawang lapangan, sepasang kura-kura tersebut musnah dan seperti
ditelan warna jingga matahari terbenam tadi.”
“Lalu apa Kakek
terus mengikuti kehilangan kura-kura Kakek itu?” tanyaku seakan penasaran.
“Ah,tidak. Besok
juga kami akan bertemu lagi. Mereka akan datang menjelang senja tiba. Dan aku
ingin mengajak Johan untuk menyaksikan sepasang kura-kura tersebut,”kata Kakek
yakin.
Hari
selanjutnya,Kakek mengajak cicitnya itu menuju lapangan. Dengan sebuah sepeda
yang selalu dibawa Johan kemanapun,anakku mengendarainya sementara di
belakangnya Kakek berjalan lamban. Aku berteriak supaya mereka berdua jangan
pulang terlalu malam dan keduanya menganggukkan kepalanya.
Malamnya,di
kamar tidurnya sebelum aku menidurkannya, Johan bercerita bahwa Kakek seperti
seorang yang tolol. Mereka menunggu sepasang kura-kura muncul di langit
senja—yang menurut Kakek sudah waktunya—tetapi sepasang kura-kura yang ia
nantikan tidak kunjung datang hingga menjelang petang. Dengan perasaan sedikit
sedih ia menggamit setang sepeda Johan dan menuntun Johan kembali ke
rumah.”Buyut seperti orang tolol,kami menunggu binatang kesayangannya itu
tetapi tak muncul juga dari langit,menyebalkan.”
Kali ini Kakek
tidak mengajak Johan lagi untuk menanti sepasang kura-kura di langit lapangan
hari ini. Ia ingin sendiri saja. Dengan berjalan dan membawa sebotol minuman
air mineral, ia menuju lapangan yang masih terasa cuacanya yang panas. Lagi-lagi,tuturnya,setelah
lama ia menunggu,kura-kura yang ia nanti-nanti tidak juga muncul dari langit
jembar lapangan tersebut. Kakek dengan menyesal pulang ke rumah tanpa membawa
hasil.
****
Musim hujan pun
datang. Hari-hari hujan menyelimuti seluruh kota dan jadi basah. Jalanan begitu
licin dan hawa dingin menusuki tulang jika ke luar rumah. Kakek selama beberapa
minggu tidak lagi mengunjungi lapangan. Ia berdiam diri di rumah dan selalu
duduk di dekat jendela untuk menyaksikan hujan yang terus mengguyur kota. Dari
jendela ia saksikan daun-daun berjatuhan tak sanggup menahan curah hujan yang
begitu lebat dan dingin menyerang tubuhnya. Ia terkena selesma beberapa saat. Kamipun
berobat ke dokter. Dengan sebungkus kapsul yang mesti ia makan sehari tiga
kali(Kakek benci dengan obat) akhirnya ingus yang melewer karena dinginnya
cuaca,sembuh seketika. Kakek,di musim hujan lebih suka berdiam diri dan jarang
bahkan tidak pernah ke luar rumah untuk mengunjungi lapangan lagi. Suatu hari
ia mulai bercerita lagi tentang pengalaman masa perangnya kepada
cicit-cicitnya. “Tahukah kalian, dulu ketika tahun-tahun sulit bangsa ini, orang
terus diperas untuk menanam kopi, membangun jalan dan tanpa upah menimbulkan
kelelahan hingga mereka mati. Tetapi sekarang, orang-orang yang dulunya berjasa
telah dilupakan bangsa tak tahu terima kasih ini. Para penguasa tidak pernah
lagi merawat dan mengayomi kami.Sungguh ironi nasib orang-orang yang
membebaskan bangsa ini. Jadi, ketika kalian nanti dewasa dan jadi pemimpin,
jangan lupakan nasib orang-orang seperti kami, mengerti?” Lalu serempak mereka
menjawab,”Mengertiii…!” Dan senyum mengembang Kakek karena berhasil menasihati
cicit-cicitnya pun terasa dalam diriku.
Aku lantas jadi
teringat kisahnya yang ia ceritakan padaku sewaktu aku masih kanak, tentang
teman-temannya yang ditangkapi karena partai yang menaungi organisasi
kebudayaan yang dirintis olehnya dan teman-temannya adalah sebuah partai kiri
dalam masa peralihan kekuasaan seorang penguasa keji yang memimpin negara ini.
Mereka kecuali kakek,dikirm ke sebuah pulau terpencil dan dipenjara selama
berpuluh-puluh tahun. Kakek waktu itu adalah seorang penyair yang menganggap
dirinya bukan penyair katanya: “Aku bukan penyair,bukan karena aku pencipta
sajak yang baik,lantas aku jadi penyair.” Dan dengan caranya yang ajaib Kakek berhasil
lolos dari penjeratan yang dilakukan oleh satuan pengaman negara kala itu dan
Kakek kemudian beserta seluruh keluarga pergi pindah ke luar negeri yang
lagi-lagi dengan ajaibnya tidak pernah terkena jadi target ‘pembersihan’ meski
sasaran telah dilekatkan pada dirinya. Hal yang membuatnya jadi benci dengan
bangsa ini dan tak lagi menulis sajak semenjak ia tahu berita mengenai salah
seorang temannya yang diberi hadiah mesin tik oleh pengarang Perancis
terkenal;Sartre namun mesin tik itu dimonopoli oleh para penjaga tahanan dan
tak pernah sampai kepada tangan temannya,sejak itu akhirnya ia mengutuk-ngutuk
bangsa ini dan tidak ingin menulis sajak lagi.
Cerita yang
akhirnya sangat tak bisa kulupakan tentang penderitaan teman-teman dan dirinya
menghadapi bangsa yang dibebaskannya dengan perjuangan yang teramat sangat
namun tidak membela mereka dan justru ingin menghancurkannnya. Untung program
hitam itu telah dihilangkan karena bertentangan dengan hak asasi manusia dan
statusnya telah dicopot sebagai pelarian dan bebas menjadi manusia merdeka
mesti berkali-kali ia berserapah dan mengutuk bangsanya ini. Hanya ia
diwajibkan lapor seminggu sekali di kantor kepolisian setempat selama beberapa
tahun yang lalu dan sekarang ia benar-benar bebas seutuhnya.
Kakek beberapa
kali tidak lagi menceritakan riwayatnya dan lebih suka berdiam dan memandangi
hujan setelah ia mewanti-wanti para cicitnya. Hujan sungguh deras dan rasa
ingin kembali menuju lapangan agar menemui sepasang kura-kura tak lagi
terbendung setelah lama ia tidak lagi mengunjunginya tetapi aku mencegahnya.Aku
khawatir dengan keadaannya setelah dia terserang selesma dan beralasan bahwa
mendung tidak memperlihatkan awan-awan cerah termasuk para kura-kura
itu.Kakekpun menurut pada omonganku.
***
Aku tidak pernah
melihat Kakek begitu bergariah sekali setelah kami lama tinggal di Amsterdam
yang begitu megah dan kembali ke sini; ke tanah air kami. Hujan yang tidak
pernah bertandang lagi membuat cuaca akhir-akhir ini sangat cerah. Dengan
langkah tergesa-gesa,ia keluar dari rumah dan bergegas menuju ke suatu tempat
yang sudah aku tahu dan aku mempersilahkan ia, berubahlah wajahnya begitu cerah
dan senang. Ia menggamit tangan Johan dan Malena anakku yang paling kecil untuk
pergi bersamanya,akupun membolehkan mereka dan berkata agar mereka hati-hati di
jalan.
“Benar Ayah,ada
sepasang kura-kura yang melintas di langit lapangan dan Kami bertiga begitu
takjub,apalagi Buyut. Ia terus melompat-lompat dan menunjuk-nunjuk kura-kura
kesayangannya itu!” Wajah Johan terlihat berseri ia menggeret-geret celanaku
dan menuding-nuding wajah Kakek yang baru sampai sambil menggendong Malena di
punggungnya. Kakek benar-benar sangat senang terlihat dari mimik mukanya. Kusuguhi
mereka bertiga jus Apel kesukaan Malena yang langsung cepat menenggaknya hingga
berceceran airnya di bibir bawahnya dan dengan cekatan istriku datang untuk mengelap
bibirnya.
“Bagaimana hari kalian tadi, kalian senang pergi dengan Buyut ke
lapangan? “ tanya Istriku sembari menciumi pipi mereka.
“Kami sungguh
senang Ibu. Kau tahu kura-kura itu nyata kupikir Buyut tolol…”
“Husy…!” Akupun
menghentikan perkataan Johan dengan segera. Kakek hanya tersenyum senang
melihat kami mengobrol di teras rumah. Selang beberapa saat Ibupun datang dan
menyuruh anak-anak mandi. Tinggal orang-orang dewasa memandangi suasana petang
di hamparan halaman rumah.
“Beberapa tahun
di sini tidak begitu baik,benar bukan?” tiba-tiba Ibuku bertanya kepada seluruh
orang yang berada di teras.
Kakek yang
menjawabnya lebih dahulu,”Benar. Tetapi negara ini tidak begitu buruk selama
masih ada kura-kura di langit lapangan itu.”
Kami bertiga
yang mendengar perkataan Kakek tersenyum dengan pernyataan yang ia lontarkan.
Sebelumnya ia adalah satu-satunya keluarga kami yang begitu ngotot mengutuk
negara ini. Kini ia memaafkan negara ini. Memaafkan seluruh kebejatannya pada
dirinya dan teman-temannya. Ia telah memaafkannya….
***
Tak terasa
setahun sudah kami lewatkan. Kakek dan cicit-cicitnya terus mengunjungi
lapangan dan kadang-kadang mereka menjumpai sepasang kura-kura yang telah
menjadi kesayangan mereka bertiga bukan Kakek saja. Suatu hari, Ibu menyetel
televisi dan sebuah berita membuat Kakek marah dan mengutuk kembali negara ini.
Diberitakan segerombolan oknum penjaga kedaulatan rakyat;para serdadu yang
seharusnya melindungi rakyat tanah air ini, masuk menerobos sebuah hotel prodeo
dan menembaki secara bertubi-tubi empat orang tahanan yang mendekam di bui.
Dengan membabi buta dan anehnya, negara ini memaafkan tindakan oknum bangsat
itu,seperti mereka memaafkan kebiadaban para penguasa atas tragedi 98’ yang
menghilangkan nyawa-nyawa para aktivis. “Bangsaaat…!” seraya Kakek berkata dan
mengacungkan tangannya. “Negara bejat,tak tahu keadilan,buta,busuk,pemimpinya
busuk-busuk seperti anjing,biadab,jiancuk!” Istriku menutupi telinga anak-anak
dengan kedua tangannya. Aku mencoba menenangkan Kakek. Iapun akhirnya tenang
dan terdiam kembali. Kami semua maklum atas ucapan-ucapannya dan sewajarnya
tindakannya kami benarkan. Negara ini sudah terlanjur busuk.
Setelah berita
itu muncul dan terdengar Kakek, ia kembali malas menjalani hidupnya. Ia tidak
ingin diajak anak-anak untuk menemui sepasang kura-kura di langit lapangan
lagi. Ia tak lagi bergairah. Hingga suatu hari Kakek mengajak para cicitnya
menuju lapangan. Akan tetapi mereka menyesal dan pulang untuk mengadu padaku
bahwa kura-kura itu tidak datang mengunjungi langit lapangan. Hari demi hari
berlalu dan Kakek selalu mengunjungi lapangan dengan membawa hasil yang nihil
akan keberadaan para kura-kura kesayangannya. Akhirnya dengan putus asa ia
ganti mengajakku pada suatu hari ke lapangan. Tak disangka,senja yang begitu
oranye menebarkan warnanya di langit dan memang benar apa yang mereka katakan
tentang sepasang kura-kura itu.
Sungguh indah.
Kami memandangnya lama sekali,sungguh lama dan ia tak hilang begitu saja
seperti hari-hari kemarin bahkan hingga petang menjelang dan bintang
nampak,sepasang kura-kura itu seperti tak ingin berpaling meninggalkan kami.
Kami mendongak ke langit sambil tiduran di atas rerumputan. Keheningan yang
menyisakan kami berdua.Hanya aku dan Kakek yang tertidur sementara aku terbius
keindahan sepasang kura-kura itu. Kakek tertidur lama dan tak bangun-bangun,aku
terus saja takjub hingga malam berganti fajar…dan Kakek tidak pernah bangun.
***
Mlati Lor,13
April 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar