di foto itu
sehabis matamu mengirim kenangan memendulum
detaknya,tersayatlah panjang kulit apel marun
yang berserbuk sebagai udara dari gerai rambutmu
menyalami benang-benang hujan yang terus turun
dikabarkan sepotong fragmen tentang dua mata
yang mengintip di ujung paling semenjana
nun,kita mengira-ngira,kapan dapat kembali bertemu
yang aku berjalan tanpa kaki-kaki langkah,tergopoh
untuk mendaki lereng-lereng,menemui wajahmu
redup yang kudengar lembut bulunya saling mengatup
aku adalah perenang pulau Jawa yang dipenuhi lumpur
pabrik skandal politisi yang merindukan kursi nomor satu;
selalu sekarat meminta-minta hati yang belum mengenalnya
dan bertemu sehisap sajak burung merak
yang begitu tungku tanpa api kalau
sudah terlanjur kangen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar