Sabtu, 31 Desember 2011

Puisi Tahun Baru

-kepada 1 Januari 2012

langit kota kami begitu merintih
mendekap anakanaknya dalam bui awan
angin menyaput dedaunan
hujan tiba setitiktitik.

kepada 31 desember 2011
serupa kau dengan kelamnya sunyi jalanan
yang menyapu isak tangisan pedagang jagung bakar
seperti kau dengan kejamnya menghunjam hujan dingin
dan pedagang es tungtung kewalahan
dengan mukanya yang memelas kembali dari itu jalan
menuju ini jalan:berulang dan ulang
ku melihat seorang tua dengan blangkon kresek meminta sepuntung rokok pada pemuda
ku menyaksikanya meminta sepeser rupiah buat makanya
sama seperti 31 desember 2010.

berpijaran warna api di langit kota
hujan sudah reda,jalan lagi gempita
tentang segala pedih dan kerasnya hidup kulihat dan kucerna
alangkah begitu bahagia hidupku dengan papa dan mama.

begitu juga kau teman,kau serupa sayap yang melambungkanku
membuatku berpuisi akan cinta,kepedihan dan wanita.

tiup terompetmu

Minggu, 25 Desember 2011

Sajak Peristiwa Remaja

Jika kulihat langit yang senja,seperti sorga yang merubah rupa
jingga terjurai membentang warna
yang renta yang telah tua
kini bekerja dengan peluh sakitnya
yang muda yang remaja
berpestapora dengan ketelanjangan sosial budaya
kami purba akan aksara kerja
kami alpa akan jalan menuju masjid
kami tertawa melihat bocah serampangan menariknarik kami meminta uang:dan kami melemparkan koin kepadanya
tanpa tahu kami,arti 100 rupiah baginya
kadang kami membinasakan uang di ranahranah yang lembab
kami gengsi dengan yang terjatuh yang terlena
kami tidak memungutnya lagi,padahal bagi orangtua kami,uang itu serupa mataair:memberi makan,dan buat kami jajan
apa yang salah lembarlembar kertas lamaran berserakan tanpa lowongan
ada yang sebelum ujian :yang hamil duluan
kami terlalu pongah untuk mengartikan pengorbanan
kau,aku dan dia selalu menggedorgedorkan kata berbagi,namun tak sekalipun kita memberi pada pengemis yang duduk di pintu keluar pom bensin,dengan tergopohnya dan buntung kakinya.
bayangan menarik kami pada lubang hitam dan terjerembab bokep dan narkoba
apa yang salah dari negeri ini,dimulai dari elit sampai kita kaum remaja semua menyukai lenggok wanita telanjang yang direkam
apa jadinya?
kita telah kotor,berdusta dan sebuah fana
segalanya,berpasti pada satu titik:perubahan
langit yang tadinya mendung mau mencerah lagi sebab burungburung takmau lagi kelaparan

Akhir 2011,masih mendera keedanan diri

Sabtu, 03 Desember 2011

Pada Sebuah Gambar

Kota itu berdiam tentram
diam menunggu melambailambai bagiku
langkahnya terantuk gunung
dan laut di sekitar
:sedang,beribu merpati turun dari langit
menyapa turis dengan kepaknya
singgah bagi pembawa jagung di tanganya
bertengger di lengan pemberi remahremah roti.

kupejamkan sebentar bolabola mata
kukhayalkan kota yang indah disana
bulevarbulevar dan bangunan
cahaya lembayung yang tenang
angin lembut syahdu
menyaput kening dan mata.

kusambut kekasihku
bunga Itali
gadis Itali
kaca mata hitam
rambut tergerai, panjang
bungabunga tersia di potpot rumah
pagi yang indah penuh penduduk ramah.

November 2011

Rabu, 09 November 2011

Insomnia

berharap aku mampu memuncaki pagi
selongsong minuman menemani
membawa malam ke akar sepi
jangkrik bersiur sahabat sejati
dendangnya hening raya
jalan kini sunyi
aspal tidak lagi bertuan
berpegang mati tiangtiang
mata tidak akan pejam

ingin sekali mataku tersejukan fajar
kabut menyusut melihat pagi
mau sekali membawa diri
meneguk embun di kala pagi

malam
tidur tanpa pejam
bangun tanpa tidur

pagi yang menostalgia puisi
pagi yang kurindu

mimpi lekaslah horor
tampar alam bawah sadarku
kembalikan pagi berhargaku

november 2011

Bahasa Kesuraman

Langkahku mundur
jalanku semakin ngawur
mabuk sebotol keras
gila sedemitdemit pelosok kota
bangkaibangkai berjalan akanku
sandal tua sepatu beludru
menendang hantam lambung
kepalmengepal tangan meninju
anyir darah peluh berciprat dari pelipisku
burungburung mematuki kulit ini
gontai makin aku gontai
jejak patah tertembak bedil
bersarang peluru paku
sedang kelewang menghadap menyayat dagingku!
arghh panas!
berlari,berlari!
hingga pagi memuntahkan tahi
belangbelang badan ini tergrogoti mimpi
biar mati


November 2011

Rabu, 02 November 2011

Memendam Kata

ketika angin menguakan kabut
ditebar debu begitu menderu
bujurbujur kesepian di lingkarkan
lagulagu kepedihan di kumandangkan
kursikursi tua rapuh,jarijari hancur
berdiam merdeka belum tahu apa
atau mungkin alpa pada tempatnya

puisi bukan sekedar biasa
dilahirkan bagi semesta raya
bukan berlian bukan mulia pualam
namun puisi dari altar suci penciptaan
pena lebih berat dari karungkarung gandum
yang dibawa kuli dengan tergopohnya
penyair bisa gila terusik kata
dan mati memendam  kata

pucuk padi merunduk jadi
merakaatkan berkah bagi bumi
sejak angin bertaut lagi
pohonpohon bergerak kata tergerak pena
berubah puisi

Maskumambang( English Version )

Terjemahan oleh Stephanie Crabtree dengan bantuan dari Nick Williams

Dawn slowly penetrates the fog
Bintaro flowers fall in the library yard
On the edge of the pool, near a clump of taro
I sit on a stone shedding my tears

My grandchildren,
What kind of age
What kind of civilization
Will we pass down to you

My soul sings the song of Maskumambang
We are an arrogant generation
Biting off more than we can chew

We are not capable of making plans to face the future
Because we do not have the knowledge to read the bookkeeping of the past
And we cannot read the bookkeeping of today
Therefore the plans of the future are merely speculation, desire, and delusion

My grandchildren,
Our country is devastated by the wave of this age of insanity
Our virtuous ideals are pummeled by rocks
Lethargic on the lap of stones
But with a great effort I survive
Embracing healthy reason and the soul's voice
Despite being cast into the gutter of this age

Our nation today
Is like dice trapped in a box of debt
Shaken by nations with superior power

We are not able to oppose it
All this occurs in the name of development
Which mimics the order of development in the colonial era
The order of the state and the order of law
Also mimics the order of colonialism
Causing the people and the law to exist without sovereignty
Only the government and the political parties are legitimately sovereign

O gutter of civilization,
O dignity of a country now tattered,
Tumultuous country, fragile nation
Power and violence run rampant
The market is burnt, villages burnt,
Vagrants' huts demolished
Without any changes
All in the name of the superstition of development

Restaurants burnt, shops burnt, churches burnt
In the name of blazing religious zeal
If religion becomes a political emblem

Then religion will certainly erode
Because politics does not have a head,
Nor ears, nor a heart
Politics only knows win or lose,
Allies and enemies,
Shallow civilization

Although the life of a nation needs politics,
Politics must not interfere with the independence of faith and reason
In humankind's good fortune
Nonetheless, man's good fortune
In fairness live together in the world
We must guard the benefits of natural law
The lawful benefits of the community
And the good fortune of healthy reason

The sun creeps up from the eastern horizon
After passing the wall of trees
The gracious air greets my body
Spreading the scent of onions cooking in the kitchen
A pair of copulating beetles buzzes by

WS Rendra

Maskumambang

Kabut fajar menyusup dengan perlahan
bunga Bintaro berguguran di halaman perpustakaan
di tepi kolam, di dekat rumpun keladi
aku duduk diatas batu melelehkan airmata

Cucu-cucuku
zaman macam apa,
peradaban macam apa
yang akan kami wariskan kepada kalian.

Jiwaku menyanyikan lagu maskumambang
kami adalah angkatan pongah
besar pasak dari tiang.

kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan,
karena kami tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu
dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini
maka rencana masa depan hanyalah spekulasi, keinginan, dan angan-angan

Cucu-cucuku
negara terlanda gelombang zaman edan
cita-cita kebajikan terhempas batu
lesu dipangku batu
tetapi aku keras bertahan
mendekap akal sehat dan suara jiwa
biarpun tercampak diselokan zaman

Bangsa kita kini
seperti dadu terperangkap dalam kaleng hutang
yang dikocok-kocok oleh bangsa adi kuasa
tanpa kita bisa melawannya
semuanya ini terjadi atas nama pembangunan
yang mencontoh tatanan pembangunan di jaman penjajahan
Tatanan kenegaraan dan tatanan hukum
juga mencontoh tatanan penjajahan
menyebabkan rakyat dan hukum hadir tanpa kedaulatan
Yang sah berdaulat hanya pemerintah dan partai politik

o comberan peradaban,
o martabat bangsa yang kini compang-camping
negara gaduh, bangsa rapuh
Kekuasaan kekerasan meraja lela
Pasar dibakar, kampung dibakar,
gubuk-gubuk gelandangan dibongkar
tanpa ada gantinya
semua atas nama tahayul pembangunan.

restoran dibakar, toko dibakar, gereja dibakar,
atas nama semangat agama yang berkobar
Apabila agama menjadi lencana politik
maka erosi agama pasti terjadi
karena politik tidak punya kepala,
tidak punya telinga, tidak punya hati,
politik hanya mengenal kalah dan menang
kawan dan lawan,
peradaban yang dangkal

Meskipun hidup berbangsa perlu politik,
tetapi politik
tidak boleh menjamah kemerdekaan iman dan akal
didalam daulat manusia
namun daulat manusia
dalam kewajaran hidup bersama di dunia
harus menjaga daulat hukum alam,
daulat hukum masyarakat
dan daulat hukum akal sehat

Matahari yang merayap naik dari ufuk timur
telah melampaui pohon dinding
udara yang ramah menyapa tubuhku
menyebarkan bau bawang yang digoreng di dapur
berdengung sepasang kumbang yang bersenggama

Kamis, 27 Oktober 2011

Sumpah

sembilanbelas oktober
daun basah terkejutkan embun berkah
sinar surga dibawa mentari menuju pagi
bunga mekar menebar benih yang tersampaikan
sepasang kumbang sedang bersenggama
dijadikanya itu kelopak kamarnya

wajah pertama pagi berupa kapas
rapuh akan kedatangan langit kabut
sejuta pena mengambang di awan
wajah pertama pagi sebentuk tulisan

sembilanbelas oktober
menjelma gadis belia yang belum sirna sampai
karena darah belum kaku terkulai
sebab genggam penuh hati yang lalai

bagus182's photostream

IMG_1638IMG_1637IMG_1635IMG_1634IMG_1633IMG_1632
IMG_1631IMG_1629IMG_1628IMG_1627IMG_1626IMG_1613
IMG_1611IMG_1608IMG_1603IMG_1597IMG_1584IMG_1583
IMG_1581IMG_1573

oke.com

Rabu, 26 Oktober 2011

Rhapsody

Rhapsody Simpang Tujuh

angin menumbuk langitlangit jeda
kota biru malam yang tua
diterangi bintang tiupan sangkakala patera
lampu pijar mengerjab cerita
desing lalulalang mobilmobil
orangperorang kerasukan tawa
orangperorang kebangkitan cinta
diubahnya tali jadilah kasih
belajar membaca hati
murni dalam sekali

simpangku tujuh
lalu lalang itu
bagaikan aku
tanpa tuju

masjid matikan lampunya
belum ada pada nyala
lampu kota o lampu kota
dicerahkanya beribu jiwa
berkumpul pada tempat istimewa
simpangku tujuh

aku memandang bulanku
mengatup lisong diantara bibirbibir pahit
mengepulkan asap kereta kecil
langitku,kotaku
berlalu itu debu
susuri jejak jalan
yang terbasuh angin kerinduan
:kenangan

simpang tujuhku
desir angin malamu bagiku
mendesah mesra bagai perawan menggoda
simpang tujuhku
rasa gagalku
dibutakan rindu

Kudus,Oktober 2011



Sabtu, 22 Oktober 2011

Kredoku

Biarkan aku membayangkanya Tuhan,impianku yang pupus,dan biarkan angin-angin yang menyaput mataku dijalan membutakanku,untuk harapan cita-cita khayalan yang telah hancur,kini aku hanya mampu merengkuh begitu banyak senja untuk kujadikan penerangku disaat hantu malam muncul memberiku bertumpuk tumpuk kekalahan.Berat kupikul;malu,terkucilkan,sedih,nestapa,derita dan tiada adalah jiwa-jiwaku sekarang.

Jumat, 21 Oktober 2011

Seorang Pemimpi

Jalan Seorang Pecundang

Sepotong awan berjalan mengiringi hati
Teranglah padang rumput dan bergemetar ia dalam mati
 Sambil merasakan angin menumbuk mukanya
Rengkah pula hatinya karena mimpinya
Hancur dan beterbangan layaknya debu
Sinarnya tak secerah dulu
Ketika awan awan dua-dua burung mampu dibuatnya tertawa
Ketika cendawan bisa dijadikanya bunga-bunga
Dan disaat gadis-gadis mampu dibuatnya jadi manja untuk cinta
Tapi kini kuyu matanya dalam kepatahan asa
Hanya menunggu menanti sepanjang senja
Senja yang begitu sepia.
Senja yang memancarkan cahaya tangga surga
Kuda-kuda tembaga dalam iringan bergerak ke langit
Dia terdiam masih menanti dan mencari kebangkitan.

Dua sungai kecil diantaranya
Mengalir beriringan beriak airnya
Dengan dua kepalan tanganya
Dia pukul angin untuk menghela
Rasa sakit karena kekalahan akan cita

Sepotong bunga jatuh di kepala
Dia ingat tentang gadis dengan rekah bunga angsoka
Begitu luas dan anggunya
Dia menantinya dalam patah asa
Dia kalah.

Sepotong bunga dan sepotong awan kini bersamanya
Mencari kebangkitan menemukanya
Dia beku,dia pilu
Di padang hijau ini pun cemara-cemara memanggilnya
Bergesekan satu sama lain
Suara kepak terdengar pelan
Patah telah sayapnya kini,
para malaikat tak bisa kembali ke surga
untuk memberi doanya kenyataan
untuk memberi doanya berkah
dia sudah kalah.
Yang ada hanya malaikat tanpa sayap
Memberitanya kekalahan dan nestapa
Doanya bukan doa orang saleh
Dia,telah kalah
Maka setelah bertemu malaikat
Dia berjalan menuju cemara yang saling bergesekan
Ditemuinya para peri untuk membantu mencari kebangkitan
Senjakala berubah dari sepia jadi hitam
Bulan terbuka menuju terjaga
Kebangkitan belum ditemuinya
Peri-peri nakal menghina dia
Dia kembali ke jalan angin
Merubah diri menjadi debu
Sekarang,dia mati

Oktober 2011
              

SMA


Kenangan SMA

Matahari kala itu begitu ceria
Memancar kehangatan dan kebahagiaan
Burung dua-dua berpasangan mendaki cemara
Bunga menari tertiup angin
Kami duduk di kelas penuh tawa
Beberapa ada yang mengendap di hati
Gadis-gadis penuhi hatiku,dan
Membuat berbagai lagu
Mata mereka memancarkan semangat berjuta
Cinta membumbung di awan
Kenangan.kembali pada mereka
Melecut api unggun masa muda
Mengukir cerita bersama
Kenangan.masa lalu yang terekam
Genggaman tangan,tangisan kepergian
Perbincangan dengan kawan
Tentang gadis idaman
Kekalahan,kemenangan
Ketidakpastian,kemustahilan
Mencapai cinta untuk melupakan pada akhirnya

Ketika kelas kosong suara
Menunduk untuk berdoa
Memimpi masa depan cerah juga nyata

Sinar cakrawala menanti
Fajar berulang hari
Terbuka lembar baru menanti
Kami menanti menuju pagi
Berkumpul kembali pada satu hari

Satu persatu kami habiskan lisong
Asap bertemu asap dan lenyap
Diatas bukit kecil berbicara cinta
Mata kami menatap satu arah
Langit dan kembara awanya
Mereka melalui kami
Beberapa besar,sedikit yang kecil
Bergerak lamban menuju belahan
Lain waktu dan takkan singgah
Melewati segala isi bumi
Berjalan tanpa henti
Berkembara menyusuri mimpi
Kami,tertidur diatas rerumputan
Imajinasi dinosaurus,kuda berjalan di awan
Melompat jingkrak dan lalu hilang
Angin menerbangkan kami
Kami terbangun dan sadar ,jam selalu berputar
Senja ranum,kami pulang                                                            Oktober 2011

Laut














aku akan selalu merinduka,membenci dan mencintai laut.mendesah mesra lewat deburan ombaknya dan bertemu kerasnya karang kehidupan.Berpadu pada satu waktu;aku kalah laut,aku pergi-

Rabu, 19 Oktober 2011

Surat-Surat Untuk O.E.T


Semesta Puisi Bagimu
Surat Bagi O.E.T

Pagi bukan biasa
cerah suka tertawa
dipancarkanya energi
pada seluruh kota menghangat
berpendar disegala pasti
perpisahan datang melambat.

adalah engkau merekah
mekar mawar itu merah
dan adalah itu engkau berucap
‘aku berdebar’
wajahmu adalah jelita
cerah bagai ini kota
sekarang kau genggam tanganku
sebab perang kini diajukan.
pagi bukan biasa
sore sebelum itu senja
hujan jumat khidmat kepada kota
ceritakanlah aku ,penghibur raga
dari mata aku menerima
dunia menghasutku untuk segera terpana.
jaring cinta sungguh lekat
tanpa sadar aku cinta yang sudah tercinta
adalah engkau pemilik kotak bahagia.

Ketika dua burung putih bermain
diatas pohon hijau cemara
maka engkau akan melihat
mereka bercericit dan saling menggigit.
kepakan mereka kecil adalah mereka
mahir bermain drama romansa.
dan adalah nyanyian merdu mereka
yang sedang engkau perdengarkan berhari
pada segala gundah dan suka.
kelas segera terngiang itu suara
dan binar surya merangkak langit utama
hangat ilmu tuah kita yang pertama.


Engkau bunga kuning pukul sembilan
merekah kuncupnya dijam indahnya
sebaranya bagai padang kecil menghampar.
Perpisahan nantinya sedia berkata
bulanbulan mendatang sendiri
menempuh lagulagu masa
menahan bayonet kembara yang membaretkan
hati bila tiada doa dan pengalaman.
Engkau segera melangkah kemana?
adalah doaku ketika senja sebagian menutup kota
disaat kau tersenyum ramah pada bunga
dan sewaktu engkau memegang itu punggung nestapa
yang terbebani ketakutan pikiran tua.
walau engkau menjentik satu jari,bagai itu memeluk satu hati.
Ku rekam agar selalu terkenang
melati dengan seribu senyum bunga angsoka
putih jiwa seputih taman surga
dunia pada senyumu yang berkembang ronanya
engkau angin sepoi pada rundungan gurun
engkau hujan segar pada tanah tandus
engkau,roh yang berpendar di hati kunangkunang.

Sekarang baru benar senja
kemuning temaram singgah di ufuk barat
engkau lagukan sebuah surga
pada waktu aku mengingat jumat.
Kepadanya
-O.E.T 
kepadanya,
tiada kata untuk mengganti parasnya.
tiada bunga untuk tersanding denganya.
melati putih dengan senyum angsoka.
kelopak mawar yang bermekaran.
bertambah merah mengapi pada darah.
mengobarkan suka padanya.
— hanya sedikit aku melihatnya.

dan ketika engkau melihat wajahnya,
waktu berjalan kurakura.
angin menepi disela.
dan hati teraduk terpana.
bintang kelas yang sedikit manja.

kupu putih yang menebar pesona.
sayapnya mengkilap dwiwarna.
Sayang sudah ada yang punya.

berdiri disekitarnya.
dan memandang wajahnya begitu lama.
itu saja.

melati oh melati.
sedari dulu aku mencintai.
Bintang kelas yang jelita.
nyala unggunku sempat membara.
Surat Bagi O.E.T II
Kupersembahkan Padamu,O.E.T
Kadang hujan menyulap langit berpelangikan warna
hujan menyegarkan dunia
dan langit tertawa lewat pancaran senja
diubahnya warna jingga menyala
berhulu pada sebuah kata romansa
engkau gadis tersayang
disaat pagi menyelesaikan wujudnya
dalam bentuk embun dan ratapan langit putih pada dunia
Engkau gadis manis saat terkembang senyum bahagia
burung semua bernyanyi bagimu
berkicau riang melihat indahmu.
Engkau bunga terharum sepanjang pagi
karena melati masih menguncup tersihir malaikat rizki
Engkau adalah bidadari dunia
karena disurga telah Tuhan turunkan satu
 padaku disaat semua masih berdoa: kau.
Engkau sebelum pagi dan fajar tiba
doamu segera terlaksana
karena hatimu tak pernah ada dengki dan jahat
engkau gadis terbaik diantara lainya.
Bukan masih mengais berahi diremang lampu jalanjalan kota.
Engkau malam bermekaran bintang terang
lalu bulan mengerling padamu
dipancarkanya cahaya suci untukmu
dan lagu romansa merdu.


Sore juga berkata menawan
pada wajahmu tersemburat cahaya sejahtera
kuda – kuda subur di tanah surga
akan segera engkau naiki
dan kita menuju seribu awan penuh permainan
Senyum bahagia hidup sentosa
burung kecil pada menghampirimu
menyuruhmu melagukan suatu lagu
hari minggu.
sebarkan pada mereka engkau pujaan hati,sebuah lagu haru
sedang angin terus menyalamiku pada kenangan
dan sorot lampu redup disepanjang jalan.
Engkau langitku dan bungaku
Pelangi hujanku dan engkau,
Imaji di mimpi gerak kaki yang  terlalui hari
Ragamu dinda,menembus hati dan jiwa
Sebentar lagi melangkah membumbung
Jauh,dan pergi tualang bersama burung.

Surat Lain Untukmu
Ku berlari memegang tanganmu
disebuah sore yang megah
Di tengah sebuah padang berbunga
Seketika sewaktu berpapas muka,
matamu terindah diantara semua
Dan antara dahi dan alis menawan
kuimpikan dalam bentuk seribu bintang.
Masuklah wahai sayang.lilin dan sajak bunga padamu.
Di lembahku,keterpurukan hanya seonggok absurditas
Karangan bungabunga gembira
menyertai langkahmu menuju satu panggung bertakhta angin surga
Yang berhembus disegala jiwa memainkan rasa cinta
Berlarilah cinta.
Hingga bayangan merasa lelah
Hingga angin dan laut berpadu mendesah
Mesra dalam pelukan karang keras
Dan engkau mulai rebah
Dalam sebuah tidur menunggu cerah
pada sebuah gita dari pencari cinta.

Sajak Bunga Bagimu
Bermekaran disegala pagi
Tuhan ciptakan satu yang terindah
yang turun dari surga bersama melati
yang sedianya tergenggam hakiki
pada semerah hati
milik pujangga yang sepi
dan layu mati adalah pemberita dari derita
pada melati di sebuah bunga;engkau
bila sedih pandanglah melati
tangis dan sakit berupa imaji
bagi ia,melati
karna kau juga bunga surga
lebih dari indahnya kelopak angsoka
dan megah lebih dari teratai

Sepi Darimu
Sepi bertangkai duri
Lebih gelap dari ironi
Dan kejam lebih tragedi
Dari sepi aku membelai mimpi
Terus menerus sampai pagi dan bayangan membuntuti
langkahku karena sepi
adalah kabut pekat membunuh malam
adalah angin kejam memporanda pepohonan
adalah laut bergelombang menerjang kapal
karam musnah dilautan
Terbujur terdiam tanpa bantuan
mendekati kehilangan pada sebuah keriuhan
Sepi itu khayalan
berpuncak pada segala kenangan
Sepi itu luka
menganga penuh nanah tak diperdulikan
Sepi itu racun
sesak nafas dan panas di dada
Sepi itu kau
gadis terindah yang ditelan malam.

Lama Tiada Jumpa
Pertemuan menyisakan kerinduan
disembunyikanya perasaan di dalam kenangan
diseluk beluk hati yang paling
dan paling menakjubkan tersimpan jauh
dan jauh di dalam
kata hanya angin yang sesekali segar
hati hanya tempat mengadu keinginan
digabungkanya bagai seutas tali harapan
akan pertemuan yang didamba
segenap begitu aku rasa
pada angin kata dan rintihan bunga
sehingga senja enggan pulang padaNya
menanti kataku sebagai angin baginya

Begitu juga kau
walau tiada hati merasa
bagiku sebuah bahagia
melihatmu bersama senyum pesona
pada alunan sebuah gita
di sore pertama
matahari senja
menjelang gelap bintang
engkau semoga bahagia
aku ingin dipertemukan
pada kau yang tiada menaruh kata
pada hati dan senjaku yang fana

Meditasi Hijau
-pada sebuah  bukit kecil
Berhembus hingga ingin aku terpejam
menghanyutkan dalam igau memanggil
tenggelam mata dalam kantuk
dan lisong menantiku diujung bibir
asap mengepul membayangkanmu
 dan angin berlalu

Sebuah Perasaan
Lembah itu padam
belum habis namun terang
sesekali cahaya semu temaram
jalan berliku dan lalu hilang
Pada waktunya mata takkan terpejam
menanti siapa bakal datang
Jiwa kerusuhan,bagai ia angin tanpa suara
menanti di ujung jalan
jika bukan engkau
adalah itu kemilau khayalan

Kepada Mereka
Karena mereka bertiga
Lebih mirip cahaya yang menyala
Melati pada hati,doa pada tasbihnya dan bir diujung bibir
Ketika hijau daun menggugurkan warnanya
Saat itulah burung semua mati
Baginya tempat pulang adalah kupu-kupu
Sayap warna biru
Terbang begitu anggun
Mereka akan hilang
Bersama gelap malam

Semua telah mati
Burung dan pohon di hatiku
Yang kemarin bermain di taman:burungku
Tertembak peluru
Pohon kenanganku mati tiada air kehidupan
Karena mereka bertiga lebih mirip cahaya menyala
Mata cerah,rona wajah salju,bibir penggoda
Yang pulang dan membunuh hatiku