Jalan Seorang Pecundang
Sepotong awan berjalan mengiringi hati
Teranglah padang rumput dan bergemetar ia dalam mati
Sambil merasakan angin menumbuk mukanya
Rengkah pula hatinya karena mimpinya
Hancur dan beterbangan layaknya debu
Sinarnya tak secerah dulu
Ketika awan awan dua-dua burung mampu dibuatnya tertawa
Ketika cendawan bisa dijadikanya bunga-bunga
Dan disaat gadis-gadis mampu dibuatnya jadi manja untuk cinta
Tapi kini kuyu matanya dalam kepatahan asa
Hanya menunggu menanti sepanjang senja
Senja yang begitu sepia.
Senja yang memancarkan cahaya tangga surga
Kuda-kuda tembaga dalam iringan bergerak ke langit
Dia terdiam masih menanti dan mencari kebangkitan.
Dua sungai kecil diantaranya
Mengalir beriringan beriak airnya
Dengan dua kepalan tanganya
Dia pukul angin untuk menghela
Rasa sakit karena kekalahan akan cita
Sepotong bunga jatuh di kepala
Dia ingat tentang gadis dengan rekah bunga angsoka
Begitu luas dan anggunya
Dia menantinya dalam patah asa
Dia kalah.
Sepotong bunga dan sepotong awan kini bersamanya
Mencari kebangkitan menemukanya
Dia beku,dia pilu
Di padang hijau ini pun cemara-cemara memanggilnya
Bergesekan satu sama lain
Suara kepak terdengar pelan
Patah telah sayapnya kini,
para malaikat tak bisa kembali ke surga
untuk memberi doanya kenyataan
untuk memberi doanya berkah
dia sudah kalah.
Yang ada hanya malaikat tanpa sayap
Memberitanya kekalahan dan nestapa
Doanya bukan doa orang saleh
Dia,telah kalah
Maka setelah bertemu malaikat
Dia berjalan menuju cemara yang saling bergesekan
Ditemuinya para peri untuk membantu mencari kebangkitan
Senjakala berubah dari sepia jadi hitam
Bulan terbuka menuju terjaga
Kebangkitan belum ditemuinya
Peri-peri nakal menghina dia
Dia kembali ke jalan angin
Merubah diri menjadi debu
Sekarang,dia mati
Oktober 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar