Ia hidup
dengan banyak kegembiraan sampai-sampai kesenangan itu dicabuti dari dirinya
dari waktu ke waktu. Ia tanyakan pada Tuhan di mana semua kebahagiaan yang
selama ini ia miliki yang berangsur-angsur hilang dan meninggalkan kesedihan
mendalam. Ia bayangkan dirinya menjadi Florentino Ariza --dalam novel cinta
karangan Gabriel Garcia Marquez-- yang selalu menunggu cintanya kembali hingga waktu menghantamnya dengan penuaan dan
begitu banyak kepedihan. Ia selalu menikmati malam hari dengan kesendirian. Awalnya
kesepian itu begitu menyiksa dan sangat menggelisahkan namun lambat laun ia
jadi terbiasa dan merasakan bahwa suasana itu merupakan berkah yang diberikan
Tuhan sebagai pengganti semua kesenangan yang telah direnggut darinya. Di jalan
pulang setelah bekerja dengan seluruh pikiran dan fisiknya, ia menghayati
pohon-pohon hijau yang masih tertanam di pinggir-pinggir jalan, orang-orang
yang menaiki sepeda unta, pasar kaki lima di depan pabrik-pabrik dan dingin
angin bulan oktober yang sangat ia rindukan dari tahun ke tahun.
Ia sangat
sendirian. Di kesehariannya, cuma menghapal kenangan demi kenangan yang pernah
dilalui bersama orang-orang terkasih. Keramaian membuatnya pusing dan memutuskan
baginya menutup semua kebisingan itu dengan diam sambil mendengarkan gempita
yang selalu hadir di tengah-tengah kehidupannya. Ia sendirian menyisir malam
demi malam berharap menemukan cahaya kegembiraan dari bulan,bintang dan
kunang-kunang yang berkeliaran.
Musim yang
cepat berganti menyisakan sedikit kesenangan yang masih saja baginya merupakan
kesedihan tanpa dasar apapun. Ia ingat orang-orang yang dulu mencintainya dan
kini tidak pernah lagi mengenalnya. Ia tidak ingin dunia mengetahuinya lagi
setelah keadaannya menjadi terpuruk. Ia menutup semua dari siapapun yang akan
mendekatinya ia lalu menjauh. Ia tidak begitu senang dengan ramainya situasi
yang ada jika ia sedang di sana,ia menyukai kesendirian sebab kesepian itulah
satu-satunya teman yang paling setia.
Mereka akan berbincang lama sambil meminum kopi hangat dan menyaksikan rinai hujan melesat di jendela dan pohon-pohon berkibaran ditarik angin yang melebur di hujan jadi badai. Ia putar lagu-lagu ironi dan melankolinya kembali pada semua yang pernah diingatnya. Ia terkenang kencan pertama pada suatu sabtu sore yang penuh dengan berkah dari jalan raya lampu-lampu di sudut-sudut kota dan ia berpelukan lama dengan kekasihnya,ia teringat,sehabis menonton drama di sebuah gedung kesenian dan sepasang kekasih itu pergi ke sebuah ujung yang sangat jauh dan melupakan dunia untuk sejenak saling membisikan kata-kata puitis lalu hanyut dalam ekstase kesenangan ragawi. Ia terkenang,seperti Kolonel Aureliano Buendia saat diajak ayahnya menonton es milik orang gipsi(dalam novel kesunyian Gabriel Garcia Marquez)dari kota ke desa yang hidup tanpa dikenal dunia itu,ia dan kakeknya pergi ke pasar membeli ikan hias dan menampungnya di sebuah baskom tempat biasa keluarga itu mencuci baju. Meski ia sudah tua,kenangan masa kecilnya muncul ketika ia melihat bungkus korek api dengan gambar sketsa suasana satu jalan di eropa;apel-apel yang didagangkan dan seorang bocah yang tersenyum sambil melangkah ringan. Ia ingat akan mimpi-mimpinya yang dulu pernah membuatnya terobsesi dan menjadi sangat yakin akan terwujudnya itu.
![]() |
| source : centennialshorts.blogspot.com |
Mereka akan berbincang lama sambil meminum kopi hangat dan menyaksikan rinai hujan melesat di jendela dan pohon-pohon berkibaran ditarik angin yang melebur di hujan jadi badai. Ia putar lagu-lagu ironi dan melankolinya kembali pada semua yang pernah diingatnya. Ia terkenang kencan pertama pada suatu sabtu sore yang penuh dengan berkah dari jalan raya lampu-lampu di sudut-sudut kota dan ia berpelukan lama dengan kekasihnya,ia teringat,sehabis menonton drama di sebuah gedung kesenian dan sepasang kekasih itu pergi ke sebuah ujung yang sangat jauh dan melupakan dunia untuk sejenak saling membisikan kata-kata puitis lalu hanyut dalam ekstase kesenangan ragawi. Ia terkenang,seperti Kolonel Aureliano Buendia saat diajak ayahnya menonton es milik orang gipsi(dalam novel kesunyian Gabriel Garcia Marquez)dari kota ke desa yang hidup tanpa dikenal dunia itu,ia dan kakeknya pergi ke pasar membeli ikan hias dan menampungnya di sebuah baskom tempat biasa keluarga itu mencuci baju. Meski ia sudah tua,kenangan masa kecilnya muncul ketika ia melihat bungkus korek api dengan gambar sketsa suasana satu jalan di eropa;apel-apel yang didagangkan dan seorang bocah yang tersenyum sambil melangkah ringan. Ia ingat akan mimpi-mimpinya yang dulu pernah membuatnya terobsesi dan menjadi sangat yakin akan terwujudnya itu.
Jika tidak
sedang hujan,setelah istirahat sebentar di rumahnya yang kecil,ia akan mengayuh
sepedanya setelah bekerja di pabrik yang pengap dan hidup tua sebatang kara
dengan kesepian dan bertumpuk-tumpuk buku. Ia akan memandang lama-lama sebuah
etalase toko yang memajang sebuah gaun indah yang dulu pernah dijanjikannya
pada seseorang yang sangat ia cintai. Ia sungguh menyesal melalui tahun-tahun
yang lalu tanpa kegembiraan apapun. Ia seolah-olah merupakan mayat hidup tanpa
rasa dan makna. Ia cuma tidur,bekerja,membacai buku-buku lapuk yang mulai
menguning karena jamur dan selalu seperti itu dari hari ke hari. Ia
kadang-kadang menghiba kepada Tuhan, bagaimana menemukan kebahagiaan yang dulu
pernah dipunyainya kembali. Ia kadang mengutuk sendiri nasibnya, rindu semua
kebersamaan dengan orang-orang yang telah meninggalkannya. Seperti pagi dengan
kemilau matahari yang mulai merangkak menaiki bukit bumi,atau seperti kematian
sinar itu dalam senja yang mulai dikuburkan malam untuk hidup lagi di fajarkala—ia
kadang merasa bahwa yang benar-benar bahagia itu adalah kesepian ini yang
sedang ia rasakan. Tetapi ia juga merasa bahwa kesepian ini dari waktu ke waktu
akan menikamnya dari belakang dan menjadikannya bangkai tanpa siapapun untuk
menguburnya.
Mencari-cari,seperti
biasanya. Barangkali Tuhan menyimpan kebahagiaan itu untuk diendapkan dan
dihamburkan,tepat sebelum ia mengena ajal dan meninggal. Ia merasa sudah sangat
rapuh dan sangat lelah. Kebahagiaan apa yang sebetulnya ada atau kini telah
dirasakannya. Di hatinya,ia cuma merasakan kesedihan yang mendalam dari waktu
ke waktu. Di rumahnya yang kecil kadang hantu-hantu dari masa silam sebuah
peradaban sebelum abadnya hidup ini,mengunjunginya dan mereka akan
bercakap-cakap untuk sekian lama dengan meminum kopi,seperti halnya sepi yang
menahun. Ia akhirnya paham,di usia yang telah uzur dan begitu sunyi itu,ia
temukan kebahagiaan dalam kesepian-kesendiriannya ketika ia telah mulai
berhenti mencari,jauh ke seluk beluk hatinya,kebahagiaan itu. Tuhan sudah
memberikan kebahagiaan yang lebih matang itu,semenjak kesenangan-kesenangannya
diambil satu per satu yaitu kesendirian dan kesepian yang selama ini
menemaninya hingga ia siap menjadi bangkai kapan saja.
(Bagus Burham)

siip pak :D
BalasHapusyang lebih seru lagii pak...
BalasHapusPertemuan berikutnya,teman-teman,hehe
BalasHapus