Di Perancis
kita akan menemukan dua sosok eksistensialis besar yang sama-sama mempunyai
banyak penggemar maupun pengikut dari seluruh dunia.Mereka adalah Jean Paul Sartre dan Albert
Camus(meski ia lebih condong ke absurdisme). Meski pasangan Sartre,Simone de
Beauvoir juga seorang eksistensialis,tetapi ia lebih dipahami sebagai seorang
feminis yang mencuat lewat pemikiran dan karya-karyanya. Jean Paul Sartre yang
coba kita bahas di sini,walaupun saya masih seorang penyuka filsafat yang awam
dikenal sebagai seorang atheis yang memiliki pemikiran eksistensial.Sartre
lahir di Paris pada tahun 1905. Sewaktu kecil ia memiliki perawakan yang lemah
dan menjadi bahan cemooh kawan-kawannya. Tetapi Sartre mencuat sebagai seorang
pemikir besar setelah mendapatkan ajaran fenomenologi dari Husserl. Dari situ
ialah yang menjadi pengibar eksistensialis atheis yang merupakan turunan dari
pemikir sebelumnya seperti Nietzsche dan Heidegger.
![]() | ||
| Sartre dan Simone de Beauvoir |
Dalam eksistensialis
atheis, Sartre berpandangan bahwa manusia itu terjadi begitu saja. Dan tujuan
hidup manusia adalah mengada. Manusia berpegangan pada sesuatu atau keyakinan
dalam mencapai sebuah tujuan dan lazimnya pada Tuhanlah manusia itu
bergelantungan, namun seorang pengikut eksistensialis atheis menganggap Tuhan itu tidak
ada. Ia cuma proyeksi dari sebentuk imaji yang diyakini, yang bagi mereka,oleh
kaum yang menganggap Tuhan itu ada. Bagi eksistensialis atheis, jika Tuhan itu
ada lantas apa buktinya?
Sartre
menyatakan bahwa eksistensi ada sebelum esensi yang berarti manusia tidak
memiliki apa pun ketika dilahirkan, dan sepanjang hidupnya manusia adalah hasil
kalkulasi dari komitmen-komitmennya. Yang terkenal dari Sartre dan sering
dikutip banyak dalam berbagai penelitian adalah kata-kata tentang
eksistensialisme itu,bahwa manusia dikutuk untuk bebas(human condemned to be free).Sebagai contoh yang telah dituliskan
sartre dalam bukunya Eksistensialisme dan Humanisme,saya akan mengadaptasi
sebuah contoh mengenai kebebasan manusia dalam memilih sesuatu yang berhubungan
dengan dialektika pemikiran seseorang ketika ia harus memilih satu di antara
pilihan yang menentukan nasib atau garis hidup pada waktu itu.
Semisal
ketika seorang petani muda memilih ikut dalam panji-panji revolusi dan memenangkan
sebentuk ideologi ataukah tetap merawat ladangnya dan menghasilkan uang baginya
dan keluarga di sisinya,ia akan memilih sebelum mempertanyakan pada seseorang
ataupun pada hatinya.Itulah kehendak.Ia barangkali memilih ikut dalam revolusi
atau masih tinggal di pedesaan. Dan itu merupakan pilihannya sendiri dan sejak
sebermula merupakan pilihan yang telah ia tentukan demi dirinya sendiri sebagai
seorang manusia.Jikapun ia tetap berladang,revolusi pun pasti masih tetap akan
berlangsung dan menggulingkan rezim sebelumnya. Atau jika ia memilih ikut
hingar bingar revolusi,setelah menangpun ia tetap harus berladang.Sebab
keputusan dan tanggung jawab ada pada dirinya sendiri,dan pada saat memilih
inilah yang disebut kebebasan. Orang lain tidak bisa memaksakan kehendak
seseorang dalam hal apapun karena pilihan itu tadi telah dipilih orang itu sebagai sebuah pilihan terbaik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar