Kamis, 07 November 2013

Sedikit tentang Eksistensialisme Sartre



Di Perancis kita akan menemukan dua sosok eksistensialis besar yang sama-sama mempunyai banyak penggemar maupun pengikut dari seluruh dunia.Mereka adalah Jean Paul Sartre dan Albert Camus(meski ia lebih condong ke absurdisme). Meski pasangan Sartre,Simone de Beauvoir juga seorang eksistensialis,tetapi ia lebih dipahami sebagai seorang feminis yang mencuat lewat pemikiran dan karya-karyanya. Jean Paul Sartre yang coba kita bahas di sini,walaupun saya masih seorang penyuka filsafat yang awam dikenal sebagai seorang atheis yang memiliki pemikiran eksistensial.Sartre lahir di Paris pada tahun 1905. Sewaktu kecil ia memiliki perawakan yang lemah dan menjadi bahan cemooh kawan-kawannya. Tetapi Sartre mencuat sebagai seorang pemikir besar setelah mendapatkan ajaran fenomenologi dari Husserl. Dari situ ialah yang menjadi pengibar eksistensialis atheis yang merupakan turunan dari pemikir sebelumnya seperti Nietzsche dan Heidegger.
Sartre dan Simone de Beauvoir 
Dalam eksistensialis atheis, Sartre berpandangan bahwa manusia itu terjadi begitu saja. Dan tujuan hidup manusia adalah mengada. Manusia berpegangan pada sesuatu atau keyakinan dalam mencapai sebuah tujuan dan lazimnya pada Tuhanlah manusia itu bergelantungan, namun seorang pengikut eksistensialis atheis menganggap Tuhan itu tidak ada. Ia cuma proyeksi dari sebentuk imaji yang diyakini, yang bagi mereka,oleh kaum yang menganggap Tuhan itu ada. Bagi eksistensialis atheis, jika Tuhan itu ada lantas apa buktinya?
Sartre menyatakan bahwa eksistensi ada sebelum esensi yang berarti manusia tidak memiliki apa pun ketika dilahirkan, dan sepanjang hidupnya manusia adalah hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya. Yang terkenal dari Sartre dan sering dikutip banyak dalam berbagai penelitian adalah kata-kata tentang eksistensialisme itu,bahwa manusia dikutuk untuk bebas(human condemned to be free).Sebagai contoh yang telah dituliskan sartre dalam bukunya Eksistensialisme dan Humanisme,saya akan mengadaptasi sebuah contoh mengenai kebebasan manusia dalam memilih sesuatu yang berhubungan dengan dialektika pemikiran seseorang ketika ia harus memilih satu di antara pilihan yang menentukan nasib atau garis hidup pada waktu itu.
Semisal ketika seorang petani muda memilih ikut dalam panji-panji revolusi dan memenangkan sebentuk ideologi ataukah tetap merawat ladangnya dan menghasilkan uang baginya dan keluarga di sisinya,ia akan memilih sebelum mempertanyakan pada seseorang ataupun pada hatinya.Itulah kehendak.Ia barangkali memilih ikut dalam revolusi atau masih tinggal di pedesaan. Dan itu merupakan pilihannya sendiri dan sejak sebermula merupakan pilihan yang telah ia tentukan demi dirinya sendiri sebagai seorang manusia.Jikapun ia tetap berladang,revolusi pun pasti masih tetap akan berlangsung dan menggulingkan rezim sebelumnya. Atau jika ia memilih ikut hingar bingar revolusi,setelah menangpun ia tetap harus berladang.Sebab keputusan dan tanggung jawab ada pada dirinya sendiri,dan pada saat memilih inilah yang disebut kebebasan. Orang lain tidak bisa memaksakan kehendak seseorang dalam hal apapun karena pilihan itu tadi telah dipilih orang  itu sebagai sebuah pilihan terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar