Jumat, 08 November 2013

Kebahagiaan


Ia hidup dengan banyak kegembiraan sampai-sampai kesenangan itu dicabuti dari dirinya dari waktu ke waktu. Ia tanyakan pada Tuhan di mana semua kebahagiaan yang selama ini ia miliki yang berangsur-angsur hilang dan meninggalkan kesedihan mendalam. Ia bayangkan dirinya menjadi Florentino Ariza --dalam novel cinta karangan Gabriel Garcia Marquez-- yang selalu menunggu cintanya kembali  hingga waktu menghantamnya dengan penuaan dan begitu banyak kepedihan. Ia selalu menikmati malam hari dengan kesendirian. Awalnya kesepian itu begitu menyiksa dan sangat menggelisahkan namun lambat laun ia jadi terbiasa dan merasakan bahwa suasana itu merupakan berkah yang diberikan Tuhan sebagai pengganti semua kesenangan yang telah direnggut darinya. Di jalan pulang setelah bekerja dengan seluruh pikiran dan fisiknya, ia menghayati pohon-pohon hijau yang masih tertanam di pinggir-pinggir jalan, orang-orang yang menaiki sepeda unta, pasar kaki lima di depan pabrik-pabrik dan dingin angin bulan oktober yang sangat ia rindukan dari tahun ke tahun.
Ia sangat sendirian. Di kesehariannya, cuma menghapal kenangan demi kenangan yang pernah dilalui bersama orang-orang terkasih.  Keramaian membuatnya pusing dan memutuskan baginya menutup semua kebisingan itu dengan diam sambil mendengarkan gempita yang selalu hadir di tengah-tengah kehidupannya. Ia sendirian menyisir malam demi malam berharap menemukan cahaya kegembiraan dari bulan,bintang dan kunang-kunang yang berkeliaran.
Musim yang cepat berganti menyisakan sedikit kesenangan yang masih saja baginya merupakan kesedihan tanpa dasar apapun. Ia ingat orang-orang yang dulu mencintainya dan kini tidak pernah lagi mengenalnya. Ia tidak ingin dunia mengetahuinya lagi setelah keadaannya menjadi terpuruk. Ia menutup semua dari siapapun yang akan mendekatinya ia lalu menjauh. Ia tidak begitu senang dengan ramainya situasi yang ada jika ia sedang di sana,ia menyukai kesendirian sebab kesepian itulah satu-satunya teman yang paling setia. 
source : centennialshorts.blogspot.com

Mereka akan berbincang lama sambil meminum kopi hangat dan menyaksikan rinai hujan melesat di jendela dan pohon-pohon berkibaran ditarik angin yang melebur di hujan jadi badai. Ia putar lagu-lagu ironi dan melankolinya kembali pada semua yang pernah diingatnya. Ia terkenang kencan pertama pada suatu sabtu sore yang penuh dengan berkah dari jalan raya lampu-lampu di sudut-sudut kota dan ia berpelukan lama dengan kekasihnya,ia teringat,sehabis menonton drama di sebuah gedung kesenian dan sepasang kekasih itu pergi ke sebuah ujung yang sangat jauh dan melupakan dunia untuk sejenak saling membisikan kata-kata puitis lalu hanyut dalam ekstase kesenangan ragawi. Ia terkenang,seperti Kolonel Aureliano Buendia saat diajak ayahnya menonton es milik orang gipsi(dalam novel kesunyian Gabriel Garcia Marquez)dari kota ke desa yang hidup tanpa dikenal dunia itu,ia dan kakeknya pergi ke pasar membeli ikan hias dan menampungnya di sebuah baskom tempat biasa keluarga itu mencuci baju. Meski ia sudah tua,kenangan masa kecilnya muncul ketika ia melihat bungkus korek api dengan gambar sketsa suasana satu jalan di eropa;apel-apel yang didagangkan dan seorang bocah yang tersenyum sambil melangkah ringan. Ia ingat akan mimpi-mimpinya yang dulu pernah membuatnya terobsesi dan menjadi sangat yakin akan terwujudnya itu.
Jika tidak sedang hujan,setelah istirahat sebentar di rumahnya yang kecil,ia akan mengayuh sepedanya setelah bekerja di pabrik yang pengap dan hidup tua sebatang kara dengan kesepian dan bertumpuk-tumpuk buku. Ia akan memandang lama-lama sebuah etalase toko yang memajang sebuah gaun indah yang dulu pernah dijanjikannya pada seseorang yang sangat ia cintai. Ia sungguh menyesal melalui tahun-tahun yang lalu tanpa kegembiraan apapun. Ia seolah-olah merupakan mayat hidup tanpa rasa dan makna. Ia cuma tidur,bekerja,membacai buku-buku lapuk yang mulai menguning karena jamur dan selalu seperti itu dari hari ke hari. Ia kadang-kadang menghiba kepada Tuhan, bagaimana menemukan kebahagiaan yang dulu pernah dipunyainya kembali. Ia kadang mengutuk sendiri nasibnya, rindu semua kebersamaan dengan orang-orang yang telah meninggalkannya. Seperti pagi dengan kemilau matahari yang mulai merangkak menaiki bukit bumi,atau seperti kematian sinar itu dalam senja yang mulai dikuburkan malam untuk hidup lagi di fajarkala—ia kadang merasa bahwa yang benar-benar bahagia itu adalah kesepian ini yang sedang ia rasakan. Tetapi ia juga merasa bahwa kesepian ini dari waktu ke waktu akan menikamnya dari belakang dan menjadikannya bangkai tanpa siapapun untuk menguburnya.
Mencari-cari,seperti biasanya. Barangkali Tuhan menyimpan kebahagiaan itu untuk diendapkan dan dihamburkan,tepat sebelum ia mengena ajal dan meninggal. Ia merasa sudah sangat rapuh dan sangat lelah. Kebahagiaan apa yang sebetulnya ada atau kini telah dirasakannya. Di hatinya,ia cuma merasakan kesedihan yang mendalam dari waktu ke waktu. Di rumahnya yang kecil kadang hantu-hantu dari masa silam sebuah peradaban sebelum abadnya hidup ini,mengunjunginya dan mereka akan bercakap-cakap untuk sekian lama dengan meminum kopi,seperti halnya sepi yang menahun. Ia akhirnya paham,di usia yang telah uzur dan begitu sunyi itu,ia temukan kebahagiaan dalam kesepian-kesendiriannya ketika ia telah mulai berhenti mencari,jauh ke seluk beluk hatinya,kebahagiaan itu. Tuhan sudah memberikan kebahagiaan yang lebih matang itu,semenjak kesenangan-kesenangannya diambil satu per satu yaitu kesendirian dan kesepian yang selama ini menemaninya hingga ia siap menjadi bangkai kapan saja.

(Bagus Burham)

3 komentar: