DATA BUKU:
Judul :
Bersiap Menjadi Dongeng
Penulis :
Mukti Sutarman Espe
Penerbit :
Pustaka KPK
Cetakan :
I,April 2013
Tebal :
xv + 168 halaman
ISBN :
979-8513-09-6
Persajakan
32 Tahun Seorang Guru Bahasa Indonesia
Berbicara
tentang peta kepenyairan Kudus,wawasan saya masih sempit dan hanya mengetahui
tahun masa orde baru hingga orde sekarang;reformasi.Kudus di masa tahun 90-an
hingga awal milenium,di bidang persajakan nasional,terdapat beberapa nama yang
membuat tempat ini harum,meski beberapa dari mereka bukan warga asli kota
Kudus. Di antaranya kita mengenal nama Jumari HS,Thomas Budi Santoso,Yudhi
MS,dan Mukti Sutarman Espe.Sajak-sajak mereka muncul di lembar media nasional
seperti Republika,Kompas dan Jawa Pos.Kemudian setelah masa mereka yang tergabung dalam
KPK(Keluarga Penulis Kudus) muncul nama seperti Asa Jatmiko yang lebih
berkonsentrasi dalam teater dan musik namun masih tetap bersajak.Di sini saya
akan berusaha menggali sajak-sajak penyair(yang bukan asli dari Kudus tapi
akhirnya menetap dan menjadi bagian dari perkembangan kesusastraan Kudus)
bernama Mukti Sutarman Espe yang mungkin belum begitu meledak namanya dibanding
dengan Jumari HS yang terkenal sebagai penyair buruh.
Saya mengenalnya
karena dia merupakan seorang guru SMP di sekolah saya dahulu (walau sebetulnya
saya belum mengenal kepenyairannya sampai sewaktu ketika saya mendapati
sajaknya terpampang di sebuah situs internet empat tahun yag lalu) yang hingga
buku ini diterbitkan,merupakan satu-satunya buku puisi tunggalnya selama lebih
dari 32 tahun proses kepenyairannya.Jika bukan karena dorongan dan semangat
dari kawan-kawan sejawatnya semisal cerpenis Kudus,Jimat Kalimasada,mungkin
buku ini tidak pernah direalisasikan oleh penulisnya. Sebuah keberuntungan bagi
perkembangan kesusastraan Kudus terutama puisi agar buku ini dapat dicatat
sebagai tonggak bagi lahirnya buku-buku puisi tunggal penyair Kudus yang lain
yang harus berani menerbitkan buku tunggalnya.Sajak-sajak Mukti Sutarman juga
terangkum dalam antologi bersama, Hijau
Kelon dan Puisi tahun 2002.Disamping mengajar dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia,proses kreatifnya tidak pernah berhenti.Dia bukan penyair musiman
yang hanya bila diperlukan untuk antologi bersama,atau cuma untuk membaca sajak
di gedung-gedung kebudayaan,tetapi proses itu terus bergulir dan bergulat di
dalam dirinya dan menelurkan sajak-sajak yang sederhana namun mempunyai
kekuatan yang mengena dan sarat makna.Sedikit ambiguitas dalam tubuh teks—yang
merupakan ciri umum sajak-sajak penyair Kudus—tidak menjadi kelemahan
sajak-sajaknya,justru karena pola persajakannya yang berima dan sederhana malah
mempunyai ketukan yang mengena di hati pembacanya yang menikmati karya-karya
Mukti dengan sungguh-sungguh.Triyanto Triwikromo menyebut, kepenyairan Mukti
yang telah mengarungi syariat dan hakikat puisi sehingga karyanya cenderung
sederhana tapi sublim.
Menyairlah!
Hari
itu saya menulis di sebuah pesan singkat bahwa saya meminta dirinya sebagai
pemateri komunitas yang baru saja teman-teman saya dirikan yaitu komunitas Jenang.Namun lama tidak dibalas pesan
singkat saya,akhirnya beliau memberitahu kepada saya bahwa bulan itu ia sedang
menjadi juri sebuah lomba puisi di Solo dan setelah kami bercakap-cakap panjang
lebar dan mengemukakan identitas saya yang sebenarnya pada beliau,kemudian ia
mengundang saya pada peluncuran antologi tunggal buku ini.
Acara
itu berlangsung sangat meriah penuh dengan gempita sebuah peluncuran buku yang
diramaikan oleh para undangan yang merupakan teman-teman Mukti Sutarman yang
mayoritas berasal dari Semarang seperti Handry TM,Bambang Sadono,Gunoto Saparie
dan dari Pati,pemimpin orkes puisi Sampak
Gusuran,Anis Sholeh Baasyin.Ada pula band sastra Kisanak dan seni monolog
serta pantomim dari berbagai komunitas di Kudus.Acara itu ditutup dengan doa
bersama dan ‘pak’ Mukti akhirnya mengenali sosok saya.Ia memberi semangat dan
tahu bahwa beberapa sajak saya pernah termuat di lembar media lokal beberapa
waktu lalu.”Jadi teruslah berkarya.”Begitulah.
Sajak
32 Tahun
Mukti
akhirnya dikenal sebagai budayawan pada beberapa kesempatan karena menyoroti
perihal kebudayaan yang pasang surut dan bertempur melawan budaya asing di kota
Kudus.Ia lebih dikenal sebagai budayawan di lembar-lembar media lokal.Setelah
saya mengetahui sebuah video pembacaan sajaknya di You Tube,sewaktu SMA.dan saat itu saya mulai mengenalnya sebagai
penyair yang kini beralih jadi budayawan meski proses kreatifnya tidak pernah
mandeg hingga kini.Alhasil terbitlah buku puisi tunggalnya yang pertama ini.Bersiap Menjadi Dongeng lebih
mengutarakan unsur-unsur humanisme,mitos dan romantisme dalam larik-larik di
berbagai sajaknya.Pesan-pesan yang terkandung di dalam beberapa sajak seperti
menandakan maut yang bergelantungan ingin menjemput,mungkin dirinya yang kini
telah berusia lanjut.Ia tahu akan itu,atau mungkin judul ini diguratkan dengan
maksud bahwa dia telah siap menjadi sebuah nama yang akhirnya diceritakan
anak-anaknya kepada cucu-cucunya.Yang pasti sajak-sajak yang terangkum di
dalamnya yang berjumlah 160 sajak lebih,ditulisnya dari awal kepenyairannya
sewaktu muda hingga sekarang ketika beranjak akan pensiun dari dinasnya di sebuah
sekolah SMP.Beberapa sajak seperti Telanjang
di Kosong,Kehilangan Hutan,dan Demi
Kata seperti mempunyai simbol sendiri dari maksud kehilangan yang bergerak
dan telah ia ketahui. Kehilangan yang pada akhirnya didera semua manusia dan
cuma dengan puisi ia akhirnya akan berhenti/lepas melerai/…menimbulkan pesan
yang ingin ia ajukan kepada khalayak bahwa tugasnya telah mencapai klimaks.
Kini
saatnya tugas itu diestafetkan kepada penyair-penyair muda Kudus seperti
Sholichudin Al-Gholany,Arif Rahman Hakim,M.Kholillurohman,dan Arafat AHC
(penyair dua kota;Kudus-Demak).Penyair-penyair muda akan melanjutkan.Meski
semakin suburnya komunitas sastra di kota Kudus yang mulai bermunculan,tidak
dapat dipungkiri lagi, awal dari berkembangnya kesusastraan Kudus adalah berkat
dari Mukti Sutarman yang berasal dari Semarang dan melahirkan komunitas pertama
yaitu KPK bersama teman-teman penyair dan pengarang sekota Kudus hingga
bermunculan penyair-penyair baru yang siap meneruskan usaha kreatif dalam
rangka eksistensi kesusastraan Kudus yang terkenal dengan rokok kretek dan berbagai
kuliner khasnya.
Bagus Burham,pemuja puisi.Bergiat di
komunitas Jenang,Kudus.
Beberapa sajak Mukti Sutarman Espe
MEMASUKI BERMACAM MAWAR
sebuah luar
-asing dan mengasyikkan-
menarikku dari kesetiaan dunia
kamar
di suatu mabuk
lalu kumasuki pukau mawar
bermacam pada taman
pada bianglala
begitulah,
maka sesegala pun membuka
menipiskan makna dinding
langit sebatas langit-langit
maka menghitamlah kamar
ruang paling terjaga
tak sesekali bercela
sebuah luar
-asing dan mengasyikkan-
membawaku ke sebenarnya hidup
penuh
berupa-rupa
berwarna-warna
2000
BATAS
dari batak kota
kuketuk pintu
bilik dalam hati
siapa menguncinya?
“jarak,”katamu
kujelang kejauhan
menghitung rindu
o,berbilang-bilang
dari batas kota
kupanggil nama-nama
catatan dalam agenda
siapa menghapusnya?
“kisah,”katamu
kubaca jangka hidup
pada kisar mata dadu
1984
NUBUAT PEREMPUAN
kuharap diakulah yang menebar bau tubuh
di kamar ini
ketika rumah terasa menjauh
sepi lelaki memiuh
ketika birahi menggeligi
mencabik lelaki
di sendiri
perempuan
siapa tak mau merengkhumu
sejak cinta itu terkisahkan
dikau berakar di igaku
sejak nubuat itu diturunkan
dikau lauk di segala nasiku
kemarilah
aku ingin bercakap tentang sajak pertama
sebelum ular di taman menyemburkan
bisanya
sebelum kita bercinta dengan derita
perempuan
datanglah ke kesendirianku
sebab tanpa dikau
harum mawar menghambar
bahkan terbakar
di semua sudut kamar
2009
TELANJANG DI KOSONG
duduk di kosong lengang
ada yang mengajakku telanjang
memasuki gembur lumpur
celah lurah dan lembah
diam bebatu
bahkan diam takjub kalbu
sesaat jemari menyintuh putri malu
semata hening semata wening
semesta serupa lautan kaca
luas dan bening
aku berkaca
tiada rupa
yang tampak hanya bias cahaya
putih-hitam cuma
dan aku menggendongnya
duduk di kosong
ada yang mengajakku telanjang
mencari diri sejati
yang lama hilang
2012-2013