Jumat, 22 Maret 2013

KARAM


telah patah masa jayaku
di mana berpuluh bunga
yang mengitari lembut,
kerontang dalam segala aroma
beratus manuskrip yang sia-sia
dan cuma aku dan sesemu
engkau yang tak pernah bertemu
di mana berpuluh kumbang
mendengung ajak senggama

tak pernah diterpa angin yang goyang
seperti warna-warni yang hias
pada langit bila hujan pulang
di teluk segala teluk
bertemu turunkan jangkarmu
bawalah ratusan bangkai camar
sebagai kesia-siaan
yang berbulu anyir,berdarah putih

bunga-bunga,kumbang-kumbang
segala mambang di udara
meracik kata-kata tapi sia-sia
seperti kapal-kapal berlabuh
dan tak ada sesiapa yang menunggu
yang membawa saputangan waktu
dan airmata kasih yang lalu
tak dijumpai lagi
di tempat kita biasa bertemu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar