Kamis, 28 Maret 2013

DI BELAKANGMU



ia memanggilmu,menyebut ketiga kali namamu
jika engkau membalikkan wajah,bawalah aku
beserta ingatan tentang jalan kaki dan daun jatuh
pandanglah,kalian senang berdekapan terlalu sering

di belakangmu aku selalu menatap punggung jauhmu
membawa ribuan beban,sesekali terbanting ke tanah
jangan lagi kau pungut seperti beling gelas yang pecah
aku tergesa menjumputnya,kumasukkan dalam diri

bibir memanggilmu tanpa suara-suara yang hingar
udara tak sampai.pintu hatiku telah lama rusak
ketika kunci itu mesti engkau bawa jauh-jauh
di belakang punggungmu,kau masukkan ke tas





Jumat, 22 Maret 2013

KARAM


telah patah masa jayaku
di mana berpuluh bunga
yang mengitari lembut,
kerontang dalam segala aroma
beratus manuskrip yang sia-sia
dan cuma aku dan sesemu
engkau yang tak pernah bertemu
di mana berpuluh kumbang
mendengung ajak senggama

tak pernah diterpa angin yang goyang
seperti warna-warni yang hias
pada langit bila hujan pulang
di teluk segala teluk
bertemu turunkan jangkarmu
bawalah ratusan bangkai camar
sebagai kesia-siaan
yang berbulu anyir,berdarah putih

bunga-bunga,kumbang-kumbang
segala mambang di udara
meracik kata-kata tapi sia-sia
seperti kapal-kapal berlabuh
dan tak ada sesiapa yang menunggu
yang membawa saputangan waktu
dan airmata kasih yang lalu
tak dijumpai lagi
di tempat kita biasa bertemu

Kangen

engkau semu dari sebuah ingatan
kerap hujan melukis tanda lewat suara
dan tak berkata apapun,cukup tanda
yang dapat bersuara

aku akan menemukanmu segera
di sebuah pulau yang begitu kecil
tempat bersandar para pelaut lelah
angin yang menuntunku

dengan segala masa lalu
kanak-kanak menggapai semua waktu
biarkan mereka tetap tumbuh
dan menjalar penuh dalam tarian hujan
sebagai kita yang terlampau jarak

Selasa, 19 Maret 2013

Pagi Khidmat

datanglah padaku,membawa sekeranjang musim semi
yang dipenuhi jatuhan daun dan bunga-bunga kecil
kita akan menemukan garis-garis awan yang tersenyum
kerap menyunggingkannya pada wajah kita,setelah gorden
terbuka dan cahaya masuk melalui celah-celah tak tertutup.

tangan-tangan bergoyang daun-dahan cemara lambaimu,
hiruplah setenang-tenangnya,meracik waktu lewat rencana
yang membikinmu berpikir hidup --mau apa hari ini--
bersapalah mata kita dengan mata yang begitu jauh di atas.

sebelum sinar itu menggapai atap-atap tak bercahaya,dan
menyalami sebuah suasana,maka kulepaskan kejemuanku
kepada langkah-langah untuk memeriksa,menengok rahasia:
tentang bola-bola embun yang datang tanpa undangan.




WS Rendra

SRETENSKI BOULEVARD

Di sepanjang Sretenski Boulevard
kuseret langkahku
dan kebosananku.

Di bawah naungan pepohonan rindang
di sepanjang jalan bersih dengan bunga-bungaan
kucekik kebosananku
dalam langkah-langkah yang lamban.

Di Sretenski Boulevard
di bangku panjang
di antara pasangan berciuman
dan orang tua membaca buku
kuhenyakkan tubuhku yang lesu
kuhenyakkan kebosananku.

Maka
sambil diseling memandang
pasangan yang lewat bergandengan
dan ibu mendorong bayi dalam kereta
kupandang pula di depanku
kelesuanku dan kejemuanku.

Terang bukan soal kesepian
di tengah berpuluh teman
dan wanita untuk berkencan.
Masing-masing orang punya perkelahian.
Masing-masing waktu punya perkelahian.

Dan kadang-kadang kita ingin sepi serta sendiri.
Kerna,wahai,setanku yang satu
bernama kebosanan!

Di sepanjang Sretenski Boulevard
di sepanjang Sretenski Boulevard
di tempat yang khusus untuk ini
kuseret langkahku
dan kebosananku.
Lalu kulindas
di bawah sepatu.

Senin, 18 Maret 2013

Sajak Stephane Mallarme


Makam Edgar Allan Poe

Seperti keabadiaan pada akhir yang menjelma dalam Dirinya,
Penyair membumbung dengan dua-pedang bermata telanjang,
Abadnya terkejut sebab diabaikan
Kejayaan mati dalam suara asing!

Mereka,serupa sampah dari Hydra,menguping para malaikat
Sekali menghibah akal yang lebih murni kepada kata dari para puak,
Lantang memaklumatkan ramuan sihir,merasuk
Oleh sejumlah bir legam pasang,dan kehinaan.

Barangkali imajinasi kita dapat menatah ujud relief
Dari perseteruan minyak dan awan,O kesedihan,
Dengan beranda makam Poe yang menyilaukan,

Biarlah granitmu yang akhirnya menandai tapal batas selamanya,
Rebah pelan sebongkah di sini oleh sebagian kelam poranda,
Untuk gulita melayang dari Hujatan menyerpih melewati masa depan.

Kamis, 14 Maret 2013

Yang Mendenting Larut Malam



ketika bach bermain,
magdalena terbawa alunan
seperti sebuah gesekan angin
pada lembut sepuh serafin

menarilah,wahai orang-orang
tanpa mimpi,malam yang dalam
larut mengungkai bintang binarnya

menyentuh nada pertama,
suara-suara tak terkenal
menyapa malam
menyapa kita