ia memanggilmu,menyebut ketiga kali namamu
jika engkau membalikkan wajah,bawalah aku
beserta ingatan tentang jalan kaki dan daun jatuh
pandanglah,kalian senang berdekapan terlalu sering
di belakangmu aku selalu menatap punggung jauhmu
membawa ribuan beban,sesekali terbanting ke tanah
jangan lagi kau pungut seperti beling gelas yang pecah
aku tergesa menjumputnya,kumasukkan dalam diri
bibir memanggilmu tanpa suara-suara yang hingar
udara tak sampai.pintu hatiku telah lama rusak
ketika kunci itu mesti engkau bawa jauh-jauh
di belakang punggungmu,kau masukkan ke tas