Jumat, 21 September 2012

Nausea


oleh:Bagus Burham

Aku mencintainya.Sangat mencintainya.Setiap ujung dari atas hingga bawah tubuhnya,aku mengenalnya.Aku sangat mencintainya sampai apapun akan kulakukan demi dia kecuali mati.Dia menyuruhku mengambil bunga yang hanya mekar di musim salju dan cuma tumbuh di puncak himalaya,akan kulakukan.Dia menitahkan diriku untuk menyelami samudra terdalam untuk menemukan harta seorang karun,akan kulakukan.Setiap nafasku hanya menyebut dirinya dan melupakan Tuhan.Aku mabuk Dia.Aku sungguh mencintainya.Entah kenapa.Semua,segalanya ada pada dirinya.Yang aku rasa aneh,mengapa aku mampu mencintai orang seperti dia? Orang yang dikatakan oleh orang lain,tak begitu cantik wajahnya.Aku tak tahu.Yang jelas aku sangat mencintainya.Sampai semua kulakukan demi dirinya.Awal mula kami bertemu adalah setahun yang lalu.Ketika itu aku masih sebagai pegawai magang di perusahaan tempatku bekerja sekarang.Aku,secara tak sengaja menemukan dirinya diantara ratusan pelamar yang tengah menanti interview dari beberapa atasan perusahaan tempatku itu.Ia duduk disebelahku persis.Kupandangi seluruh seluk-beluk tubuhnya tanpa terkecuali.Kukulum dulu liurku yang telah mengendap di kerongkongan menanti aku berkata sesuatu.Lalu kuutarakan niatku untuk meminta nomor telponnya.Kami berbicara lama dan ketika ia dipanggil,aku pun juga dipanggil sebab wawancara kerja itu yang di wawancarai adalah dua orang sekaligus.
                Kami sukses dalam wawancara itu.Kami menjawab semua pertanyaan tanpa ragu.Mengiyakan semua penawaran tanpa sangsi.Dan yang aku lupakan dari perkenalan itu adalah namanya.Aku baru sadar setelah aku berada di bus yang mengantarku pulang.Tetapi aku telah mendapatkan nomornya.Nomor seseorang yang aku sukai.Malam harinya,kutelpon nomor tersebut.Dan sebuah suara merdu menyahut,’’Halo,siapa,ya?!’’ Aku gugup.Terbata sejenak.Kukulum liurku.Kujawab dengan pelan-pelan,’’Ini orang yang meminta nomormu tadi!’’ Setelah itu,cuma ada suara terputus dan perbincangan itu selesai.
Aku akhirnya dipanggil perusahaan tempatku melamar.Aku bertemu dengannya.Ya,dia! Setelah beberapa hari aku tak lagi berani mencoba menghubunginya,sekarang dia ada di depan mataku.Sedang diberi arahan seorang atasan.Aku mendekat.Melangkahkan kakiku lamat-lamat.Setelah ia selesai di beri arahan aku menyapanya,’’Hai…!’’ Dia tersenyum.Diapun membalas dan mengatakan maaf atas tertutupnya panggilan itu ketika kami bicara kemarin.Aku lega.Ia tak menghindariku.Kesempatanku untuk menjerat hatinya semakin terbuka.
                Malam minggu.Malam anak muda.Malamnya kami.Kuberanikan diriku menghubungi dia.Dan…tersambung! Aku harus bilang apa? Aku gugup.Gagap.Kuberanikan diriku.Kuajak ia jalan-jalan melihati kota di malam hari.Dia tanpa basa-basi,langsung menerimanya! Aku beruntung! Hoki!Tanpa lambat,aku bergegas pergi.Kami janjian di alun-alun kota.Dengan tanda,bajuku berwarna merah dan bajunya berwarna biru.Kutemukan dia.Saatnya aku berkencan!
                Lagi-lagi,kuberanikan diriku memegang tangannya.Dan dia menanggapi.Aku senang.Di bawah temaram lelampu yang dipasang di setiap sudut pusat keramaian kota ini.Kami semakin mendekat dan menjalin sebuah kisah.Kami mengunjungi sebuah taman yang penuh orang mabuk.Tengah mengadukan bibir mereka satu sama lain.Kami menonton film di bioskop dan juga ada saja sejoli yang bersembunyi dari mata penjaga dan mengambil kesempatan untuk menyinggungkan bibir-bibir mereka.Kami masih malu mengakuinya.Hasratku memuncak! Aku panas! Aku ingin melakukan apa yang aku lihat! Tetapi dia selalu mendinginkan hasrat jalang ini dengan senyum renyahnya.
                Perkenalan kami semakin akrab.Aku telah mengetahui namanya.Nama yang sederhana dan tetap teringat hingga mimpi menjemput;Ani.Ia kini telah menjadi pacarku.Lima minggu aku melakukan pendekatan,tanpa ragu kunyatakan perasaan cintaku.Meski sebenarnya cinta itu apa,aku tak tahu.Aku menyayangi tubuh dan senyumnya.Aku tak tahu lagi.Aku telah membuta.Dibutakan.Aku dicekoki minuman berat darinya.Dia dan dia! Ani yang ingin kunikmati!

***
Hubungan ini telah melewati setahun.Kami telah sama-sama tahu bagaimana cara menyenangkan satu sama lain.Kami telah memuaskan diri masing-masing selama ini.Kami tak terpisahkan.Kami telah menjadi sepasang merpati yang selalu dan selalu beringingan untuk menuju sebuah tujuan.Segalanya telah kuketahui.Kunikmati! Kini tak ada lagi selain rasa ingin meminangnya.Tapi sebuah rasa itu masih menimbulkan tanya,’Apa kau yakin?’ selalu itu dan pertanyaan itu yang menimpaku setiap malam dan tidur akan menjelang.Aku tak mampu menentukan perasaanku sendiri.’Inikah? Apa hanya kepuasan yang kucari? Aku mencintainya,sungguhkah? Dulu dihatiku,aku sangat mencintainya,apa kini aku tak mencintainya.Aku biadab? Aku siapa? Aku?’Semua pertanyaan itu menganggu pikiranku sementara kami masih menjalin hubungan yang selalu menghadirkan suasana intim.Aku mencintainya apa tidak? Atau aku alpa,sebab tak ada lagi yang menjadi kepuasan menambal dahaga ini? Aku memburu nafsu? Ah,aku semakin tak tahu…

***

Perasaan sangsi ini selalu timbul setelah kami berciuman atau meluapkan hasrat dengan cara- cara tertentu.Kadang aku melupakan pertanyaan itu dan meniatkan betul ingin meminangnya,namun tiba-tiba muncul lagi pertanyaan-pertanyaan busuk itu di pikiranku.Untuk itulah aku beberapa hari ini tak menghubungi Ani lagi.Aku hanya berjalan sendiri.Seperti orang kalut dan bingung.Kusegarkan diri melewati malam yang dingin.Melihati beberapa jentik bintang yang bercahaya di langit atau sekadar duduk di tepi jalan dan mendengarkan anak-anak kecil menyanyi dan memesan beberapa lagu dari mereka.Aku tak tahu lagi.
Ketika suatu hari aku berjalan-jalan sendiri,kutemukan seorang gadis tengah tercampak sendiri di tepi jalan dan duduk memandangi orang yang lalu lalang di jalan.Kupandangi gadis itu.Ada rasa yang memantik di tubuhku.Rasa ini,sama seperti rasa ketika aku melihat Ani untuk pertama kalinya.Akupun tanpa pikir panjang,mengajaknya berkenalan.Ia Ina.Yang kukenal sebagai gadis yang bekerja di toko bunga dekat dengan taman yang dulu aku dan Ani pertama kali berkencan.Ia riang sama seperti Ani.Ia juga murah senyum sama seperti Ani.Semua kelakuannya sama seperti Ani.Ia langsung mengajakku bicara apa adanya seperti kami telah kenal lama,padahal baru saja kutanyakan nomor telpon dan namanya.Ina.Ia membuatku jatuh cinta lagi.’Lalu Ani? Bagaimana dengannya? Apa aku keterlaluan? Apa aku telah gila? Marwah wanita kupermainkan sesuka hatiku? Aku hidung belang?! Aku mempunyai libido yang menggeriap menggila?!’ Aku tak tahu.Pertanyaan dalam benakku hanya aku yang mengetahui kebenarannya.Aku mencintai kedua wanita itu.Aku takkan melepas mereka.
Ina dan aku menjadi sepasang manusia yang dimabuk cinta.Kadang,tanpa sepengetahuan Ani,aku menyambangi tempatnya bekerja dan membeli sebuket bunga dan langsung memberikan kepadanya.Tempat favorit kami berkencan adalah taman yang dulu aku dan Ani pernah datangi.Kencan pertama bagi kami.Kami telah mabuk.Sama seperti dahulu aku dan Ani berkencan.Aku dan Ina menggila dan menyisakan desahan di balik kelamnya malam.Ani tak mengetahui hal ini.Dia tak mengetahui apapun tentang hubunganku dengan Ina.Aku sangat mencintai mereka berdua.Tapi akhir-akhir ini aku semakin mencintai Ina.Aku sungguh beruntung.
Aku piawai membagi waktu antara berkencan dengan Ani ataukah Ina.Setiap pasanganku kuberi waktu kencan satu hari.Ani hari minggu dan Ina hari sabtu.Niat untuk meminang Ani telah lenyap dari lubukku.Aku terlalu mencintai Ina.Sampai-sampai semua gajiku bulan kemarin kuberikan padanya untuk membeli semua parfum dan obat kecantikan agar dia semakin jelita.Aku sangat mencintainya dan kami selalu berciuman jika bertemu dan berkencan di taman penuh orang mabuk itu.Ani yang sangat kasihan.Tapi aku tak mampu melepas dia.Aku tak ingin melepas salah satu dari mereka.Aku menginginkan keduanya.’Aku serakah? Siapa yang serakah? Nafsuku atau aku? Ah,tak apa…’ Pertanyaan selalu memburu jawaban.Aku telah memacari mereka selama ini.Ani telah kukencani selama dua tahun dan Ina selama satu tahun.Nyatanya tak ada yang bermasalah dan aku pandai menyembunyikan salah satu diantara mereka jika yang salah satu sedang berkencan denganku.

***
Kencan kami berjalan begitu dan begitu saja.Luapan-luapan tertumpah di sebuah kekelaman dan menghasilkan gurat dan desahan.Berkutat seputar pelampiasan.Tak ada yang lebih,hanya rayuan-rayuan yang kulontarkan dari mulutku menuju hati Ani maupun Ina.Cuma janji-janji palsu yang kukarang dan kami angankan.Aku tak tahu kapan ini akan berakhir.Semua semakin berkurang.Rasa suka,cinta.Semua rasa.Aku tak tahu lagi harus bagaimana.Segalanya menjadi kebiasaan yang biasa-biasa saja.’Apakah aku tak lagi mencintai mereka,Ani dan Ina?’ Aku tak tahu.Aku bisa jadi gila!
Akupun melupakan mereka sejenak.Mengajak beberapa teman kantorku untuk makan-makan dan merayakan salah satu dari teman kami yang telah melepas masa lajangnya.Teman-temanku membawa pasangannya masing-masing,kecuali aku yang hanya sendiri.Seorang kekasih salah satu temanku,bernama Mega sangat membuatku terpesona.Sungguh cantik! Apa ini yang ketiga kalinya? Aku tak tahu.Tangannya sangat halus.Sehalus sutra.Kami berbincang masalah kantor dan berbagai masalah seputar pekerjaan.Kerap kupandangi wajah cerah Mega.Sesekali aku mengamati bentuk tubuhnya.Aku telah gila! Digilakan wanita! Aku tak tahan! Akhirnya aku keluar dari restoran itu sejenak dan duduk-duduk sendiri di emperan restoran itu sambil kunyalakan dan kuhisap sebatang rokok.’Ah,aku terlalu menggilai wanita.Aku selalu ingin memiliki semua wanita yang telah mempesona dan membuatku takjub.’
Telah banyak yang kuambil dari mereka.Bahkan semuanya.Aku tak mengerti kenapa mereka mau kuperlakukan begitu.Apa karena rayuanku yang mematikan? Ah,aku memang dari remaja selalu bercita-cita menjadi seorang pujangga.Sungguh kenikmatan-kenikmatan yang mereka berikan telah menjadi sarapan berkencan kami.Aku telah tak menginginkan apapun lagi.Aku telah sadar.Keterlaluannya diriku.Harga seorang wanita jatuh ditanganku.Semakin hari aku semakin lenyau.Bosan.Malas.Semua ini,aku ingin menghindar,keluar.Aku ingin kabur dari kehidupanku ini dan membangun kehidupan baru di sebuah berantah dan jauh dari semua ini.Semua terlalu mudah kudapatkan.Aku merasa bosan.Tak lagi senang dengan Ani ataupun Ina.Aku jijik.Bergidik.Mataku berkunang.Kepalaku serasa ingin pecah.Aku ingin mengembalikan semuanya.Aku tak lagi berselera.Semuanya membasi.’Aku mesti bagaimana? Aku harus kabur.Tapi kemana? Aku biadab! Aku?’ Hanya dan hanya Mega yang kuingat-ingat dan terus kuingat.’Oh,Mega,jangan sampai kau mau memberikan nomor telponmu padaku jika kita bertemu lagi suatu saat!’ [*]

September 18-2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar