Selasa, 18 September 2012

Menembak Pengganggu


dari penjelasan yang berputar putar,hanya akan kutemui di dalamnya dua layangan sedang dimainkan seorang anak yang selalu berlari ketika menerbangkannya.rumput yang digetarkan puputan,takkan kalah kepada layangan yang digerakkan tangan.begitu pula kaki yang digerak oleh pikiran selalu di depan segenap bayangan.aku hanya melewati hari hari,tanpa tahu ada secuil duri dalam rumah yang kucinta ini.di duri itu,berpinaklah kutu kutu yang menyebar ke dinding dinding sehingga menimbulkan gemeretak retak.mereka berkoloni,saling membagi peleton dan salah satu menjabat sebagai danton.menumbuhkan ulat ulat yang kasat mata,menjalari perasaan yang berspekulasi tentang sebuah bunga harapan yang di harapkan berujud cantik pada musim yang pas,namun semua terlambat.segala spekulasi keinginan dan angan angan,terbantah mulut manis ulat ulat astral yang menggelinjang menelusup ke rongga hati yang paling palung.seketika duka merana merintih tertatih tatih menjalari katup mata.dan rasa kecewa,selalu dan selalu muncul disaat belaka

aku ungkapkan kepada apel apel yang telah busuk dipasar,supaya mereka jangan berbaur dengan apel apel segar yang dipajang di depan sebuah toko buah yang megah.etalase etalase memuat beraneka macam taart.salah satunya,sebenarnya haram jika kau makan:rasa black forest.aku telah lama lupa,bagaimana cara menjaga agar air air yang tersimpan di dalam mata tak membah secara tiba tiba.sekarang air itu mengalir ke mataku menanarkan seonggok pilu yang kulihat di punggung ayahku yang makin tipis terbebani kehidupan morgana ini.sungguhlah aku hanya akan melukis wajahku dengan muka senyum lengkung bawah dan dua airmata menetes berwarna biru,sama seperti badut badut yang kutakuti dahulu.hanya nubuat nubuat dan wahyu yang akan menyirat ubun ubun yang terpilih.yang Maha mungkin telah memberiku semua,namun rasa tak berterima kasih terus melingkar di hati serupa tahi melingkar di usus setiap malam menjelang.busuk dan kufur.maka salahkah aku bila terus meminta dan meminta kepada Ia? sesungguhnya aku hanyalah beban kecil di jentik sidik-nya.kini aku berharap,wajah ayah kembali berseri serupa sinar mentari yang menjulang dari timur

udara yang tersisa di rumahku yang terasnya setiap waktu dijatuhi buah belimbing matang,kini tersisa sedikit.ayah,ibu,kakak dan adik mesti berbagi denganku.sebab banyak ulat ulat yang gemar melahap oksigen kami sehingga hanya bersisa sehela saja.semoga saja pestisida yang kami pesan akan segera datang,atau mungkin kami tertipu? karena telah kami berikan kemurahan pada sales pestisida itu;emas dan harapan.

13 September,2012





Tidak ada komentar:

Posting Komentar