oleh:Bagus Burham
Aku
mencintainya.Sangat mencintainya.Setiap ujung dari atas hingga bawah
tubuhnya,aku mengenalnya.Aku sangat mencintainya sampai apapun akan kulakukan
demi dia kecuali mati.Dia menyuruhku mengambil bunga yang hanya mekar di musim
salju dan cuma tumbuh di puncak himalaya,akan kulakukan.Dia menitahkan diriku
untuk menyelami samudra terdalam untuk menemukan harta seorang karun,akan
kulakukan.Setiap nafasku hanya menyebut dirinya dan melupakan Tuhan.Aku mabuk
Dia.Aku sungguh mencintainya.Entah kenapa.Semua,segalanya ada pada dirinya.Yang
aku rasa aneh,mengapa aku mampu mencintai orang seperti dia? Orang yang
dikatakan oleh orang lain,tak begitu cantik wajahnya.Aku tak tahu.Yang jelas
aku sangat mencintainya.Sampai semua kulakukan demi dirinya.Awal mula kami
bertemu adalah setahun yang lalu.Ketika itu aku masih sebagai pegawai magang di
perusahaan tempatku bekerja sekarang.Aku,secara tak sengaja menemukan dirinya
diantara ratusan pelamar yang tengah menanti interview dari beberapa atasan
perusahaan tempatku itu.Ia duduk disebelahku persis.Kupandangi seluruh
seluk-beluk tubuhnya tanpa terkecuali.Kukulum dulu liurku yang telah mengendap
di kerongkongan menanti aku berkata sesuatu.Lalu kuutarakan niatku untuk
meminta nomor telponnya.Kami berbicara lama dan ketika ia dipanggil,aku pun
juga dipanggil sebab wawancara kerja itu yang di wawancarai adalah dua orang
sekaligus.
Kami sukses dalam wawancara itu.Kami menjawab semua
pertanyaan tanpa ragu.Mengiyakan semua penawaran tanpa sangsi.Dan yang aku
lupakan dari perkenalan itu adalah namanya.Aku baru sadar setelah aku berada di
bus yang mengantarku pulang.Tetapi aku telah mendapatkan nomornya.Nomor
seseorang yang aku sukai.Malam harinya,kutelpon nomor tersebut.Dan sebuah suara
merdu menyahut,’’Halo,siapa,ya?!’’ Aku gugup.Terbata sejenak.Kukulum
liurku.Kujawab dengan pelan-pelan,’’Ini orang yang meminta nomormu tadi!’’ Setelah
itu,cuma ada suara terputus dan perbincangan itu selesai.
Aku
akhirnya dipanggil perusahaan tempatku melamar.Aku bertemu dengannya.Ya,dia!
Setelah beberapa hari aku tak lagi berani mencoba menghubunginya,sekarang dia
ada di depan mataku.Sedang diberi arahan seorang atasan.Aku
mendekat.Melangkahkan kakiku lamat-lamat.Setelah ia selesai di beri arahan aku
menyapanya,’’Hai…!’’ Dia tersenyum.Diapun membalas dan mengatakan maaf atas
tertutupnya panggilan itu ketika kami bicara kemarin.Aku lega.Ia tak
menghindariku.Kesempatanku untuk menjerat hatinya semakin terbuka.
Malam minggu.Malam anak muda.Malamnya
kami.Kuberanikan diriku menghubungi dia.Dan…tersambung! Aku harus bilang apa?
Aku gugup.Gagap.Kuberanikan diriku.Kuajak ia jalan-jalan melihati kota di malam
hari.Dia tanpa basa-basi,langsung menerimanya! Aku beruntung! Hoki!Tanpa
lambat,aku bergegas pergi.Kami janjian di alun-alun kota.Dengan tanda,bajuku
berwarna merah dan bajunya berwarna biru.Kutemukan dia.Saatnya aku berkencan!
Lagi-lagi,kuberanikan diriku memegang tangannya.Dan
dia menanggapi.Aku senang.Di bawah temaram lelampu yang dipasang di setiap
sudut pusat keramaian kota ini.Kami semakin mendekat dan menjalin sebuah
kisah.Kami mengunjungi sebuah taman yang penuh orang mabuk.Tengah mengadukan
bibir mereka satu sama lain.Kami menonton film di bioskop dan juga ada saja
sejoli yang bersembunyi dari mata penjaga dan mengambil kesempatan untuk
menyinggungkan bibir-bibir mereka.Kami masih malu mengakuinya.Hasratku
memuncak! Aku panas! Aku ingin melakukan apa yang aku lihat! Tetapi dia selalu
mendinginkan hasrat jalang ini dengan senyum renyahnya.
Perkenalan kami semakin akrab.Aku telah mengetahui
namanya.Nama yang sederhana dan tetap teringat hingga mimpi menjemput;Ani.Ia
kini telah menjadi pacarku.Lima minggu aku melakukan pendekatan,tanpa ragu
kunyatakan perasaan cintaku.Meski sebenarnya cinta itu apa,aku tak tahu.Aku
menyayangi tubuh dan senyumnya.Aku tak tahu lagi.Aku telah membuta.Dibutakan.Aku
dicekoki minuman berat darinya.Dia dan dia! Ani yang ingin kunikmati!
***
Hubungan
ini telah melewati setahun.Kami telah sama-sama tahu bagaimana cara
menyenangkan satu sama lain.Kami telah memuaskan diri masing-masing selama
ini.Kami tak terpisahkan.Kami telah menjadi sepasang merpati yang selalu dan
selalu beringingan untuk menuju sebuah tujuan.Segalanya telah
kuketahui.Kunikmati! Kini tak ada lagi selain rasa ingin meminangnya.Tapi sebuah
rasa itu masih menimbulkan tanya,’Apa kau yakin?’ selalu itu dan pertanyaan itu
yang menimpaku setiap malam dan tidur akan menjelang.Aku tak mampu menentukan
perasaanku sendiri.’Inikah? Apa hanya kepuasan yang kucari? Aku
mencintainya,sungguhkah? Dulu dihatiku,aku sangat mencintainya,apa kini aku tak
mencintainya.Aku biadab? Aku siapa? Aku?’Semua pertanyaan itu menganggu
pikiranku sementara kami masih menjalin hubungan yang selalu menghadirkan
suasana intim.Aku mencintainya apa tidak? Atau aku alpa,sebab tak ada lagi yang
menjadi kepuasan menambal dahaga ini? Aku memburu nafsu? Ah,aku semakin tak
tahu…
***
Perasaan
sangsi ini selalu timbul setelah kami berciuman atau meluapkan hasrat dengan
cara- cara tertentu.Kadang aku melupakan pertanyaan itu dan meniatkan betul
ingin meminangnya,namun tiba-tiba muncul lagi pertanyaan-pertanyaan busuk itu
di pikiranku.Untuk itulah aku beberapa hari ini tak menghubungi Ani lagi.Aku
hanya berjalan sendiri.Seperti orang kalut dan bingung.Kusegarkan diri melewati
malam yang dingin.Melihati beberapa jentik bintang yang bercahaya di langit
atau sekadar duduk di tepi jalan dan mendengarkan anak-anak kecil menyanyi dan
memesan beberapa lagu dari mereka.Aku tak tahu lagi.
Ketika
suatu hari aku berjalan-jalan sendiri,kutemukan seorang gadis tengah tercampak sendiri
di tepi jalan dan duduk memandangi orang yang lalu lalang di jalan.Kupandangi
gadis itu.Ada rasa yang memantik di tubuhku.Rasa ini,sama seperti rasa ketika
aku melihat Ani untuk pertama kalinya.Akupun tanpa pikir panjang,mengajaknya
berkenalan.Ia Ina.Yang kukenal sebagai gadis yang bekerja di toko bunga dekat
dengan taman yang dulu aku dan Ani pertama kali berkencan.Ia riang sama seperti
Ani.Ia juga murah senyum sama seperti Ani.Semua kelakuannya sama seperti Ani.Ia
langsung mengajakku bicara apa adanya seperti kami telah kenal lama,padahal
baru saja kutanyakan nomor telpon dan namanya.Ina.Ia membuatku jatuh cinta
lagi.’Lalu Ani? Bagaimana dengannya? Apa aku keterlaluan? Apa aku telah gila?
Marwah wanita kupermainkan sesuka hatiku? Aku hidung belang?! Aku mempunyai
libido yang menggeriap menggila?!’ Aku tak tahu.Pertanyaan dalam benakku hanya
aku yang mengetahui kebenarannya.Aku mencintai kedua wanita itu.Aku takkan
melepas mereka.
Ina dan aku
menjadi sepasang manusia yang dimabuk cinta.Kadang,tanpa sepengetahuan Ani,aku
menyambangi tempatnya bekerja dan membeli sebuket bunga dan langsung memberikan
kepadanya.Tempat favorit kami berkencan adalah taman yang dulu aku dan Ani pernah
datangi.Kencan pertama bagi kami.Kami telah mabuk.Sama seperti dahulu aku dan
Ani berkencan.Aku dan Ina menggila dan menyisakan desahan di balik kelamnya
malam.Ani tak mengetahui hal ini.Dia tak mengetahui apapun tentang hubunganku
dengan Ina.Aku sangat mencintai mereka berdua.Tapi akhir-akhir ini aku semakin
mencintai Ina.Aku sungguh beruntung.
Aku piawai
membagi waktu antara berkencan dengan Ani ataukah Ina.Setiap pasanganku kuberi
waktu kencan satu hari.Ani hari minggu dan Ina hari sabtu.Niat untuk meminang
Ani telah lenyap dari lubukku.Aku terlalu mencintai Ina.Sampai-sampai semua
gajiku bulan kemarin kuberikan padanya untuk membeli semua parfum dan obat
kecantikan agar dia semakin jelita.Aku sangat mencintainya dan kami selalu
berciuman jika bertemu dan berkencan di taman penuh orang mabuk itu.Ani yang
sangat kasihan.Tapi aku tak mampu melepas dia.Aku tak ingin melepas salah satu
dari mereka.Aku menginginkan keduanya.’Aku serakah? Siapa yang serakah? Nafsuku
atau aku? Ah,tak apa…’ Pertanyaan selalu memburu jawaban.Aku telah memacari
mereka selama ini.Ani telah kukencani selama dua tahun dan Ina selama satu
tahun.Nyatanya tak ada yang bermasalah dan aku pandai menyembunyikan salah satu
diantara mereka jika yang salah satu sedang berkencan denganku.
***
Kencan kami
berjalan begitu dan begitu saja.Luapan-luapan tertumpah di sebuah kekelaman dan
menghasilkan gurat dan desahan.Berkutat seputar pelampiasan.Tak ada yang
lebih,hanya rayuan-rayuan yang kulontarkan dari mulutku menuju hati Ani maupun
Ina.Cuma janji-janji palsu yang kukarang dan kami angankan.Aku tak tahu kapan
ini akan berakhir.Semua semakin berkurang.Rasa suka,cinta.Semua rasa.Aku tak
tahu lagi harus bagaimana.Segalanya menjadi kebiasaan yang biasa-biasa
saja.’Apakah aku tak lagi mencintai mereka,Ani dan Ina?’ Aku tak tahu.Aku bisa
jadi gila!
Akupun
melupakan mereka sejenak.Mengajak beberapa teman kantorku untuk makan-makan dan
merayakan salah satu dari teman kami yang telah melepas masa
lajangnya.Teman-temanku membawa pasangannya masing-masing,kecuali aku yang
hanya sendiri.Seorang kekasih salah satu temanku,bernama Mega sangat membuatku terpesona.Sungguh
cantik! Apa ini yang ketiga kalinya? Aku tak tahu.Tangannya sangat halus.Sehalus
sutra.Kami berbincang masalah kantor dan berbagai masalah seputar
pekerjaan.Kerap kupandangi wajah cerah Mega.Sesekali aku mengamati bentuk
tubuhnya.Aku telah gila! Digilakan wanita! Aku tak tahan! Akhirnya aku keluar
dari restoran itu sejenak dan duduk-duduk sendiri di emperan restoran itu
sambil kunyalakan dan kuhisap sebatang rokok.’Ah,aku terlalu menggilai
wanita.Aku selalu ingin memiliki semua wanita yang telah mempesona dan
membuatku takjub.’
Telah
banyak yang kuambil dari mereka.Bahkan semuanya.Aku tak mengerti kenapa mereka
mau kuperlakukan begitu.Apa karena rayuanku yang mematikan? Ah,aku memang dari
remaja selalu bercita-cita menjadi seorang pujangga.Sungguh
kenikmatan-kenikmatan yang mereka berikan telah menjadi sarapan berkencan
kami.Aku telah tak menginginkan apapun lagi.Aku telah sadar.Keterlaluannya
diriku.Harga seorang wanita jatuh ditanganku.Semakin hari aku semakin
lenyau.Bosan.Malas.Semua ini,aku ingin menghindar,keluar.Aku ingin kabur dari
kehidupanku ini dan membangun kehidupan baru di sebuah berantah dan jauh dari
semua ini.Semua terlalu mudah kudapatkan.Aku merasa bosan.Tak lagi senang
dengan Ani ataupun Ina.Aku jijik.Bergidik.Mataku berkunang.Kepalaku serasa
ingin pecah.Aku ingin mengembalikan semuanya.Aku tak lagi berselera.Semuanya
membasi.’Aku mesti bagaimana? Aku harus kabur.Tapi kemana? Aku biadab! Aku?’ Hanya
dan hanya Mega yang kuingat-ingat dan terus kuingat.’Oh,Mega,jangan sampai kau
mau memberikan nomor telponmu padaku jika kita bertemu lagi suatu saat!’ [*]
September
18-2012