Bunga Dinding
Aku mungkin tidak akan
menikah.Usiaku telah melampaui umur produktif seorang laki-laki yang telah
matang untuk naik ke altar menjemput kekasihnya dan menyematkan cincin di jari
manisnya. Ya,seharian aku terus menunggu kekasihku datang. Ia yang telah lama pergi
meninggalkannku dalam kesunyian yang benar-benar hampa.Kesepian yang sangat
sendiri karena akulah orang yang paling sepi di kota ini. Semua Adam telah
diberi pasangan oleh Tuhan;para Hawa yang sungguh jelita.Aku terus menanti
kekasihku kembali dari sebuah jarak yang begitu jauh. Sangat jauh dan hanya
menyisakan sapu tangan perpisahan yang selalu kubawa untuk kuingat
potongan-potongan kenangan dengannya.Rambutku telah memutih semua,mataku tak
mampu memandang keajaiban-keajaiban kehidupan dari jarak jauh,tubuhku kian
kalah dengan keadaan yang telah berganti dari tahun ke tahun. Akulah orang yang
masih terus menunggu meski sebuah tongkat kayu gaharu telah jadi temanku
melangkahkan kaki yang semakin renta ini.
Aku masih jelas teringat,di sebuah
acara pesta dansa malam perpisahan masa sekolah, akulah orang paling sendiri
dengan setelan jas kumal dan duduk di sebuah sudut tanpa siapapun yang
menemani. Aku memandang mereka yang meliukkan badannya melangkahkan kaki-kakinya
dan menebar senyuman ke lawan dansanya masing-masing;sungguh bahagia. Di pesta
itu lagu Gary Barlow yang aku dengar sungguh menyita perasaan semua orang yang
terlelap dalam melodinya. Kekalahan demi kekalahan selalu kuterima,ejekan
karena aku anak seorang maling yang dibui dan tak kembali dengan ibu seorang
penjahit tua yang selalu dihina,aku terima. Aku tak akan menghadiahkan bumi
ini,dunia ini,orang-orang ini—semua kesedihanku. Aku mengurungnya,mendekapnya
hingga aku bertemu ia,seorang gadis yang duduk sendirian di salah satu sudut
tanpa teman dansa. Mata kami sesaat saling memandang—tanpa kata-kata,kuajak ia
berdansa. Ia mempunyai senyum terindah di dunia.Saat ia memamerkan senyuman,pipinya
akan tertarik dan menyekung,itulah ketika aku mulai menggetarkan jantung
semakin cepat. Kami seperti sepasang angsa yang mabuk di telaga yang disinari
bulan purnama. Tak ada kata-kata di lantai dansa,cukup senyuman yang saling
balas-membalas. Tak cukup genggaman tangan mewakili rasa kami waktu itu. Semuanya
sangat berkesan sehingga hari-hari kami lewati berdua. Belajar di universitas
yang sama dan selalu bersama dalam segala suasana. Ia mencintaiku dan aku
sungguh mencintainya. Kami tak dapat dipisahkan meski ada saja rintangan yang
mencoba untuk memisahkan kami. Sebuah keputusan harus diambil,di sebuah
percakapan yang selalu membawa cinta dalam kesempatannya,ia mulai berbicara
tentang masa depan dan memutuskan untuk bekerja di sebuah kota diluar pulau. Di
stasiun kereta api kami akhirnya saling melepas semua perpisahan. Air mata
adalah kata-kata bisu yang begitu jujur mengungkapkan perasaan kami kala itu.
Tak ada kata-kata terakhir hanya sebuah ciuman panjang dan selamat tinggal berbekal sapu tangan yang
dilemparkan ke udara dan selanjutnya kutangkap. Dan sampailah aku kini di
sebuah taman perjanjian yang mengatakan bahwa kekasihku akan datang suatu saat
di sini.
***
Matahari selalu mengawasi
gerak-gerakku.Musim demi musim aku setia bertahan duduk di kursi panjang
berwarna hijau muda yang terletak di sebelah pohon akasia besar yang
menggugurkan daun-daunnya ketika angin begitu kencang bertiup. Tahun demi tahun
selalu kunanti sesosok yang mungkin kukenali atau tidak mungkin kukenali lagi. Nanti
kami akan berbicara dengan sebuah bahasa yang pernah diajarkan oleh cinta dan
kami akan mengenali masing-masing dari kami. Aku telah begitu tua,berbagai
zaman telah kulampai dan aku tetap saja hidup. Kusemprotkan minyak wangi yang
selalu sama dari aku remaja hingga saat ini ketika usia telah menjadi setua
bangunan-bangunan di sekitar taman ini. Kusisir rambutku dengan menyibakknya di
bagian kiri dan selalu kuminyaki dengan minyak rambut kesukaanku agar selalu
kaku dan terlihat elegan. Dengan jas hitam yang selalu sama aku akan menanti. Menunggu
kekasihku yang tak kunjung kembali-kembali.
Aku ingat sepotong kenangan,kala itu
hujan begitu lebat dan kami sangat senang dengannya. Kapal kertas yang kami
mainkan membawa mimpi-mimpi kami. Aku masih hapal kata-kata yang ia ucapkan
sewaktu kapal itu berlayar melintasi selokan sekolah.
“Kapal itu akan menempuh rintangannya
yang begitu dahsyat. Gelombang dan hujaman hujan-hujan raksasa akan menerjang
dan memporandakan tubuh ringkihnya. Lambung kapalnya akan terburai seperti usus
ayam. Palkanya akan patah diterjang jarum hujan raksasa. Dan para kelasi akan
meluncur ke luar kapal untuk mati. Namun kita adalah nahkoda kapal itu yang
memilih untuk bertahan meski segalanya telah hancur. Sambil terus berlayar
hingga gelombang terakhir menghisap kita jauh ke kedalaman arus yang ganas.”
Dan aku selalu senang bila kekasihku
berkata tentang masa depan kami. Aku akan berlayar bila bertemu dengannya,meski
dengan si tukang perahu,menyusuri dunia bawah….
Daun-daun gugur selalu menyedihkan. Mereka
yang telah kerontang tua sama sepertiku akan begitu dilupakan dan tak lagi
dibutuhkan. Dunia terus bergerak dan aku semakin renta dan tak kuasa lagi
melakukan apapun.Musim-musim berlalu tetapi aku tetap menunggu kekasihku di
kursi panjang ini. Aku saksikan api cinta membara tiap kali para anak-anak muda
bercumbu di taman ini,aku melihat diriku yang dulu pernah muda pada setiap anak
remaja yang begitu gagah dan selalu membahagiakan pasangannya. Seperti sayap
burung-burung merpati yang kadang menemani sepiku di taman ini. Dengan
segenggam remah roti lalu kutebar di sampingku,para merpati akan datang dan
menguluk salam kepadaku. Aku sungguh ingin bertemu meski Tuhan hanya menyisakan
satu hela nafas lagi buat diriku. Kekasihku,di mana ia berada?! Hari semakin
menua menjadi bulan menjelma tahun menjelma windu dan dewasa jadi dasawarsa,aku
tak menjumpai sosok gadis yang dulu kukenal sekali yang dulu kunanti sekali
kedatangannya dari jam-jam sekolah yang membosankan yang selalu membawa
mimpi-mimpinya tentang masa depan. Oh,aku yang begitu tua tak lagi mampu menjamah
apapun karena waktu yang terus menggerus tubuhku. Cuaca yang tak pernah
kupedulikan selalu menerobos hari-hariku menunggu kekasih yang tak kunjung
datang. Ingatanku semakin keropos,aku tak mampu membayangkan lagi wajah mudanya
meski telah sejelas-jelasnya disampaikan oleh mimpi tidurku. Segalanya begitu
semu,begitu rabun sangat tidak jelas. Orang-orang semakin heran memandangku,aku
sangat tua dan renta tulangku terlihat dan kulit-kulit yang membungkusnya tidak
mampu lagi menahannya agar tidak begitu terlihat.Aku menjelma pinokio si boneka
kayu.Begitu tuanya aku.Cermin-cerminpun telah menolakku,riak sungai begitu
sengit menghabiskan bayangan wajahku.Usiaku telah menjadi
seabad.Gadisku,gadisku—kekasihku yang lama tak pernah datang,di mana engkau
sekarang. Aku akan tetap menunggu meski Tuhan akhirnya mencabut nyawaku.
***
Orang-orang
menabur bunga di tidurku,mengapa? Kenapa sebuah kasur yang empuk diganti dengan
papan kayu.Inikah mimpiku? Atau inilah kematian itu? Aku berjalan menyusuri
kota dan tak ada satupun orang yang mampu mendengarku berteriak
sekencang-kencangnya.Aku mencoba memukuli wajah-wajah para begundal yang
berkerumun di gang sempit,tetapi tak ada yang merasa kesakitan.Aku menuju taman
penantianku.Aku duduk dan angin tak lagi kurasakan meski daun-daun kulihat
berguguran.Sungai kini tenang tapi tak kulihat wajahku yang dulu. Tak pernah
ada.Inikah kematian yang sebenarnya?
Aku duduk kesepian karena kematian
telah bersarang di dalamku.Akulah roh yang bergentayang menunggu sebuah janji
ditepati.Janji yang aku dan kekasihku buat dengan bahasa cinta yang kali ini
aku semakin lupa kata-katanya. Benarkah itu dia? Gadisku yang duduk sendiri di
sebuah kursi panjang di depanku ini.Dengan rambut memutih dan badan yang
bungkuk dan membawa tongkat rapuh sama sepertiku.Kini ia harus menanti
waktu,agar kami dapat bersatu.Akan aku temani.Jemputlah aku,jemputlah aku
kekasihku!
Kudus,April
2013
epaper dapat dilihat di sini : http://digital.kendarinews.com/index2.php?edisi=03_agustus_2013
epaper dapat dilihat di sini : http://digital.kendarinews.com/index2.php?edisi=03_agustus_2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar