dimuat pula di : Radar Surabaya, 24 November 2013
Lagi-lagi
bau bunga melati yang semerbak memenuhi ruang kamarku. Kejadian ini
telah berlangsung lebih dari dua bulan. Pada malam hari,menjelang
fajar,maka baunya akan lebih kuat. Beberapa orang di kampung telah
mencium bau melati ini,namun yang lain beranggapan bahwa kami yang
mengatakan tentang bauan yang berasal dari laut,cuma sekadar ilusi dari
sebuah kesadaran yang kurang baik. Ketika orang-orang yang mulai mencium
melati dari laut meninggal dengan tiba-tiba,aku semakin yakin bahwa
inilah sebuah tanda kematian. Orang-orang di desaku masih meyakini
berbagai takhayul yang muncul tiba-tiba dan selalu menegaskan sebagai
tanda-tanda yang kurang beruntung pada tanah kami. Tetapi bahwa gerombol
atavisme semacam ini sudah berlangsung secara menahun,adalah sebagai
usaha kami untuk melindungkan diri dari berbagai kesialan yang menimpa
seperti salah seorang telah terhanyut ke laut pada saat ia sedang
menangkap ikan,atau mereka-mereka yang ditemukan tak sadarkan diri di
tepi pantai tanpa jukungnya;dibawa ombak kembali ke desa tanpa apapun.
Istriku
yang sangat sulit mempercayai segala hal yang berhubungan dengan
kegaiban takkan pernah meyakini apapun yang kuceritakan mengenai hal
tersebut sebelum ia bisa menyaksikan hal itu dengan mata kepalanya
sendiri. Yang ia yakini hanya cerita-cerita Edgar Allan Poe,tentu saja
yang paling mengena dihatinya;tentang seorang istri yang dibunuh
suaminya dan disemen di dinding dengan seekor kucing yang mengeong
kepada para polisi hingga membuat si suami tertangkap. Meski kami hidup
di area desa yang berstatus sebagai desa nelayan,namun kemakmuran desa
membuat kami seperti masyarakat modern dengan indikasi borju seperti
menyenangi buku-buku sastra,mencintai setengah mati makanan-makanan
cepat saji di kota,lebih memilih mempunyai rumah mewah dengan pekarangan
sempit daripada sawah hijau ataupun segala gaya hidup orang kota. Hanya
saja,itu tadi,kami masih sangat percaya dengan takhayul yang membentuk
berbagai macam pandangan hidup.
“Kau
mencium lagi bau melati dari laut?” tanya Istriku. Tanpa menoleh
kepadanya,aku hanya mengangguk dari tempat dudukku sambil membaca
sebelum tidur.
“Tetapi
mengapa selalu tak pernah aku mencium bau bunga itu. Mungkin bau itu
adalah keberuntungan segelintir orang yang akan merasakan sebuah berkah
yang berlimpah!”
“Bukan,Ina,”sergahku
padanya yang mulai menggelayutkan kedua tangannya di pundakku,“ini
adalah tanda bahwa kematian akan menghampiri dan membelit leherku!”
“Kenapa kau berpikiran buruk seperti itu,Ron?”
“Kau lihat apa yang terjadi dengan Pak Tua Yakub tetangga kita? Ia mati setelah berkali-kali mencium bau melati itu.”
“Mungkin
itu bukan dari bau melati laut,tetapi karena usianya. Kau tahu,ia sudah
kepala sembilan. Melebihi keabadiaan yang dapat diterima seseorang di
jaman sekarang ini.”
Akupun
diam,dengan lembut melepas kedua tangan istriku,menyudahi kegiatan
membaca kemudian beranjak ke ranjang dan menarik setengah selimut kami
untuk tidur.
***
Bau
melati dari laut yang terus mendesah lewat debur ombaknya tak surut
sedetikpun menghujam pedesaan kami. Bahkan lebih banyak orang yang mulai
mencium bau itu,tetapi setelah dirasa sedemikian jauh,hanya para lelaki
yang mencium bau itu dan itupun terbatas oleh sebuah spesifikasi gaib
yang lebih mengkhususkan pada orang-orang tua atau muda dengan rambut
yang telah beruban. Dan kepalaku adalah sarang uban sejak remaja di usia
yang kedua puluh tiga karena selalu memikirkan nasib kekayaan orang tua
yang harus dijaga dari tangan para saudara yang ceroboh dan suka
menghamburkannya. Pertanda ini aku ketahui setelah mengunjungi kedai
minum dan berbincang dengan para sahabat dari berbagai kalangan. Di
kedai ini sebagian besar warga desa akan menghibur dirinya setiap hari
setiap malam di sini dengan minum-minum atau permainan catur yang sering
mempertaruhkan hasil tangkapan ikan mereka selama beberapa minggu
berlayar.
Sambil
bermain poker,berlima kami duduk dengan sesekali meneguk minuman yang
rasanya sangat nikmat. Orang Tua Bertongkat memulai permainan dengan
melempar tiga sekop lalu menanyakan bau melati kepada kami. “Hei kalian
orang-orang bau,apakah kalian juga merasakan bau melati dari laut?”
Menimpali kartu-kartu mereka dengan Jack sekop aku memulai dengan
kartu empat hati. “Ya,aku merasakan bau wanginya Orang Tua.” Lalu Orang
Tua Bertongkat menanyai semua hal tersebut pada mereka yang ikut dalam
permainan poker.
“Bagaimana dengan kalian?”
Arnold
mulai memantik sebatang sigaret dan berkata pelan dengan sebuah
kejengkelan dari kekalahannya yang pertama,”Akupun begitu.”
“Aku
juga”,serentak dua orang lainnya juga mengiyakan hal tersebut. Orang
Tua Bertongkat tersenyum kepada kami,kemudian kami terheran-heran kepada
senyuman itu. Iapun membuka topinya dan memperlihatkan rambutnya yang
perak karena penuaan. “Kalian tahu,apa yang sama dari kita?” Kami
terdiam sejenak dan mengalihkan fokus kepada figur Orang Tua Bertongkat
tersebut.
“Kita
sama-sama berambut putih sebagai identitas seorang tua;tanda kematian
yang selalu semakin dekat. Dan itulah mengapa kita dan orang-orang
seperti kita saja yang bisa mencium bau melati dari laut.”
“Apa benar itu Orang Tua?”Arnold ragu akan kata-kata darinya.
“Hei,kau,coba saja kau tanyakan pada mereka yang berda di kedai ini.”
Dengan
berdiri di tengah-tengah kerumunan,Arnold berteriak lantang
mempertanyakan kepada seluruh orang yang sedang minum di kedai, siapakah
yang juga mencium bau melati dari laut untuk tunjuk jari. Dan memang
benar. Beberapa orang tunjuk jari. Mereka yang renta dan yang masih
terlihat muda seperti kami namun dengan rambut beruban adalah
orang-orang yang mencium bau melati. Setelah malam permainan poker
dengan kemenangan yang menggembirakan untukku, setelah itu pula kami tak
pernah melihat Orang Tua Bertongkat berada di kedai ataupun di
jalan-jalan desa kami.
***
“Mungkin
ribuan melati terbenam di laut, dibawa oleh orang-orang mati yang
terhanyut dari berbagai aliran sungai,kali dan memuara di sekitar laut
tempat kita ini.” Tiba-tiba istriku menyela perbincangan sengitku dengan
Arnold di ruang tamu rumah kami.
“Bukan begitu Madam,ini barangkali adalah sebuah pertanda ganjil dari Neptunus yang menginginkan sesembahan baginya.”
“Kau
malah lebih tak masuk akal lagi. Sejak kapan kita mengenal Neptunus?
Bukankah kita hanya mengenal Tuhan. Itu cuma mitologi yang diciptakan
orang dengan janggut yang lebat seperti kambing.” Akupun membantahnya.
“Yah,aku cuma bilang barangkali.”
“Sudahlah,minuman
kalian sudah hampir dingin.Minumlah dengan rasa nikmat dan jangan usik
lagi tentang bau ilusif yang kalian rasakan itu. Ini semua cuma karangan
kolektif dari rasa haus kalian akan takhayul.” Istrikupun menghilang
dibalik pintu dengan menyisakan kata yang menusuk hati kami.
Memang
ada benarnya. Apakah ini hanya karena otak kami yang telah lama hancur
karena sudah sangat terlalu banyak meminum minuman dengan kadar alkohol
yang tinggi dan sangat kuat dari kedai minum langganan kami,atau memang
ini benar adanya -bahwa laut memang menebarkan aroma bunga melati sampai
sekarang-lebih dari setengah tahun. Orang-orang yang menciumnya semakin
berkurang karena mereka meninggal tapi juga makin bertambah,dengan satu
identitas rambut beruban yang telah disimpulkan oleh Orang Tua
Bertongkat yang menghilang secara misterius.
Berbulan-bulan
bau melati menempel di hidung kami. Para lelaki selalu menjaga
kegusaran mereka sebab kehilangan-kehilangan terus menimpa teman-teman
kami ke tempat peristirahatan terakhir dan itu berarti tinggal kami yang
akan dijemput maut. Mereka yang sangat penasaran dengan bau itu,mulai
melakukan sebuah ekspedisi ke kedalaman laut dan yang hanya mereka
temukan hanyalah puing-puing kapal sisa peperangan atau karang-karang
indah dengan kehidupan ikan-ikan yang menakjubkan. Tak ada apapun
tentang yang berkaitan dengan bau tersebut.
***
Tahun-tahun
mulai berganti hingga satu demi satu dari kami meninggal. Kedai minum
semakin sunyi tanpa riuh orang-orang dari masa ke masa. Tapi yang
aneh,Orang Tua Bertongkat kembali lagi setelah beberapa tahun menghilang
secara misterius dan mengajak aku serta beberapa orang untuk bermain
kartu bersama lagi seperti dulu.
“Kalian
tidak perlu mencari asal bau tersebut,sebab bau itu mungkin akan
berhenti jika ruh-ruh melati yang ditebar beberapa abad yang lalu
kembali pada tangan si penebar itu.”
Kami
mendengar dengan seksama dan kali ini tanpa menyanggahnya sedikitpun.
“Dan orang yang telah melampaui waktu telah aku temukan dari
perjalananku selama bertahun-tahun dan orang itu akan membebaskan desa
kalian dengan tangan duka yang menebar melatinya ke laut kalian beberapa
ratus tahun sebelum desa kalian menjadi sebuah desa.”
Orang
Tua Bertongkat meminta sebotol bir dan kembali pada permainan kartu
selama beberapa jam hingga kami tertidur di kedai lelap dan sangat
lelap. Orang-orang yang membangunkan kami di sebuah pagi yang cerah,
berkata bahwa kami telah tidur selama beberapa minggu dan orang-orang
mencoba membangunkan kami dengan berbagai cara namun tidak pernah bisa
dan akhirnya kamipun terbangun dengan wajah penuh brewok dan janggut
seperti kambing. Seketika itu,kami tak lagi mencium bau melati dari
laut. Kami menyisir berbagai tempat untuk mencari keberadaan Orang Tua
Bertongkat tetapi ia tak ditemukan. Menghilang dengan kemisteriusannya.
“Mungkin
Orang Tua Bertongkatlah orang dari masa lalu yang hidup abadi.” Suatu
pagi aku berbincang pada istriku mengenai kisah nyata yang baru beberapa
bulan lalu aku alami ini.
“Tapi
bukankah keabadiaan di jaman ini hanya mungkin dirasakan manusia paling
lama sampai usia tujuh puluh.Itupun Pak Tua Yakub beruntung karena ia
adalah lelaki baik dan penggembira hingga akhirnya Tuhan memberinya usia
lebih dari sembilan puluh dan meninggal dalam damai.”
“Ina,yang kuceritakan ini memang benar! Orang Tua Bertongkat akhirnya melepas kutukan kami; para pencium bau melati dari laut.”
“Ah,aku masih belum percaya,sebelum kulihat itu dengan mata kepalaku sendiri.” ***
Kudus,September 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar