Jumat, 16 Mei 2014

Laut Melati

dimuat pula di : Radar Surabaya, 24 November 2013
Lagi-lagi bau bunga melati yang semerbak memenuhi ruang kamarku. Kejadian ini telah berlangsung lebih dari dua bulan. Pada malam hari,menjelang fajar,maka baunya akan lebih kuat. Beberapa orang di kampung telah mencium bau melati ini,namun yang lain beranggapan bahwa kami yang mengatakan tentang bauan yang berasal dari laut,cuma sekadar ilusi dari sebuah kesadaran yang kurang baik. Ketika orang-orang yang mulai mencium melati dari laut meninggal dengan tiba-tiba,aku semakin yakin bahwa inilah sebuah tanda kematian. Orang-orang di desaku masih meyakini berbagai takhayul yang muncul tiba-tiba dan selalu menegaskan sebagai tanda-tanda yang kurang beruntung pada tanah kami. Tetapi bahwa gerombol atavisme semacam ini sudah berlangsung secara menahun,adalah sebagai usaha kami untuk melindungkan diri dari berbagai kesialan yang menimpa seperti salah seorang telah terhanyut ke laut pada saat ia sedang menangkap ikan,atau mereka-mereka yang ditemukan tak sadarkan diri di tepi pantai tanpa jukungnya;dibawa ombak kembali ke desa tanpa apapun.

Istriku yang sangat sulit mempercayai segala hal yang berhubungan dengan kegaiban takkan pernah meyakini apapun yang kuceritakan mengenai hal tersebut sebelum ia bisa menyaksikan hal itu dengan mata kepalanya sendiri. Yang ia yakini hanya cerita-cerita Edgar Allan Poe,tentu saja yang paling mengena dihatinya;tentang seorang istri yang dibunuh suaminya dan disemen di dinding dengan seekor kucing yang mengeong kepada para polisi hingga membuat si suami tertangkap. Meski kami hidup di area desa yang berstatus sebagai desa nelayan,namun kemakmuran desa membuat kami seperti masyarakat modern dengan indikasi borju seperti menyenangi buku-buku sastra,mencintai setengah mati makanan-makanan cepat saji di kota,lebih memilih mempunyai rumah mewah dengan pekarangan sempit daripada sawah hijau ataupun segala gaya hidup orang kota. Hanya saja,itu tadi,kami masih sangat percaya dengan takhayul yang membentuk berbagai macam pandangan hidup.

“Kau mencium lagi bau melati dari laut?” tanya Istriku. Tanpa menoleh kepadanya,aku hanya mengangguk dari tempat dudukku sambil membaca sebelum tidur.

“Tetapi mengapa selalu tak pernah aku mencium bau bunga itu. Mungkin bau itu adalah keberuntungan segelintir orang yang akan merasakan sebuah berkah yang berlimpah!”

“Bukan,Ina,”sergahku padanya yang mulai menggelayutkan kedua tangannya di pundakku,“ini adalah tanda bahwa kematian akan menghampiri dan membelit leherku!”

“Kenapa kau berpikiran buruk seperti itu,Ron?”

“Kau lihat apa yang terjadi dengan Pak Tua Yakub tetangga kita? Ia mati setelah berkali-kali mencium bau melati itu.”

“Mungkin itu bukan dari bau melati laut,tetapi karena usianya. Kau tahu,ia sudah kepala sembilan. Melebihi keabadiaan yang dapat diterima seseorang di jaman sekarang ini.”

Akupun diam,dengan lembut melepas kedua tangan istriku,menyudahi kegiatan membaca kemudian beranjak ke ranjang dan menarik setengah selimut kami untuk tidur.

***
Bau melati dari laut yang terus mendesah lewat debur ombaknya tak surut sedetikpun menghujam pedesaan kami. Bahkan lebih banyak orang yang mulai mencium bau itu,tetapi setelah dirasa sedemikian jauh,hanya para lelaki yang mencium bau itu dan itupun terbatas oleh sebuah spesifikasi gaib yang lebih mengkhususkan pada orang-orang tua atau muda dengan rambut yang telah beruban. Dan kepalaku adalah sarang uban sejak remaja di usia yang kedua puluh tiga karena selalu memikirkan nasib kekayaan orang tua yang harus dijaga dari tangan para saudara yang ceroboh dan suka menghamburkannya. Pertanda ini aku ketahui setelah mengunjungi kedai minum dan berbincang dengan para sahabat dari berbagai kalangan. Di kedai ini sebagian besar warga desa akan menghibur dirinya setiap hari setiap malam di sini dengan minum-minum atau permainan catur yang sering mempertaruhkan hasil tangkapan ikan mereka selama beberapa minggu berlayar.

Sambil bermain poker,berlima kami duduk dengan sesekali meneguk minuman yang rasanya sangat nikmat. Orang Tua Bertongkat memulai permainan dengan melempar tiga sekop lalu menanyakan bau melati kepada kami. “Hei kalian orang-orang bau,apakah kalian juga merasakan bau melati dari laut?” Menimpali kartu-kartu mereka dengan Jack sekop aku memulai dengan kartu empat hati. “Ya,aku merasakan bau wanginya Orang Tua.” Lalu Orang Tua Bertongkat menanyai semua hal tersebut pada mereka yang ikut dalam permainan poker.

“Bagaimana dengan kalian?”

Arnold mulai memantik sebatang sigaret dan berkata pelan dengan sebuah kejengkelan dari kekalahannya yang pertama,”Akupun begitu.”

“Aku juga”,serentak dua orang lainnya juga mengiyakan hal tersebut. Orang Tua Bertongkat tersenyum kepada kami,kemudian kami terheran-heran kepada senyuman itu. Iapun membuka topinya dan memperlihatkan rambutnya yang perak karena penuaan. “Kalian tahu,apa yang sama dari kita?” Kami terdiam sejenak dan mengalihkan fokus kepada figur Orang Tua Bertongkat tersebut.

“Kita sama-sama berambut putih sebagai identitas seorang tua;tanda kematian yang selalu semakin dekat. Dan itulah mengapa kita dan orang-orang seperti kita saja yang bisa mencium bau melati dari laut.”

“Apa benar itu Orang Tua?”Arnold ragu akan kata-kata darinya.

“Hei,kau,coba saja kau tanyakan pada mereka yang berda di kedai ini.”

Dengan berdiri di tengah-tengah kerumunan,Arnold berteriak lantang mempertanyakan kepada seluruh orang yang sedang minum di kedai, siapakah yang juga mencium bau melati dari laut untuk tunjuk jari. Dan memang benar. Beberapa orang tunjuk jari. Mereka yang renta dan yang masih terlihat muda seperti kami namun dengan rambut beruban adalah orang-orang yang mencium bau melati. Setelah malam permainan poker dengan kemenangan yang menggembirakan untukku, setelah itu pula kami tak pernah melihat Orang Tua Bertongkat berada di kedai ataupun di jalan-jalan desa kami.

***
“Mungkin ribuan melati terbenam di laut, dibawa oleh orang-orang mati yang terhanyut dari berbagai aliran sungai,kali dan memuara di sekitar laut tempat kita ini.” Tiba-tiba istriku menyela perbincangan sengitku dengan Arnold di ruang tamu rumah kami.

“Bukan begitu Madam,ini barangkali adalah sebuah pertanda ganjil dari Neptunus yang menginginkan sesembahan baginya.”

“Kau malah lebih tak masuk akal lagi. Sejak kapan kita mengenal Neptunus? Bukankah kita hanya mengenal Tuhan. Itu cuma mitologi yang diciptakan orang dengan janggut yang lebat seperti kambing.” Akupun membantahnya.

“Yah,aku cuma bilang barangkali.”

“Sudahlah,minuman kalian sudah hampir dingin.Minumlah dengan rasa nikmat dan jangan usik lagi tentang bau ilusif yang kalian rasakan itu. Ini semua cuma karangan kolektif dari rasa haus kalian akan takhayul.” Istrikupun menghilang dibalik pintu dengan menyisakan kata yang menusuk hati kami.

Memang ada benarnya. Apakah ini hanya karena otak kami yang telah lama hancur karena sudah sangat terlalu banyak meminum minuman dengan kadar alkohol yang tinggi dan sangat kuat dari kedai minum langganan kami,atau memang ini benar adanya -bahwa laut memang menebarkan aroma bunga melati sampai sekarang-lebih dari setengah tahun. Orang-orang yang menciumnya semakin berkurang karena mereka meninggal tapi juga makin bertambah,dengan satu identitas rambut beruban yang telah disimpulkan oleh Orang Tua Bertongkat yang menghilang secara misterius.

Berbulan-bulan bau melati menempel di hidung kami. Para lelaki selalu menjaga kegusaran mereka sebab kehilangan-kehilangan terus menimpa teman-teman kami ke tempat peristirahatan terakhir dan itu berarti tinggal kami yang akan dijemput maut. Mereka yang sangat penasaran dengan bau itu,mulai melakukan sebuah ekspedisi ke kedalaman laut dan yang hanya mereka temukan hanyalah puing-puing kapal sisa peperangan atau karang-karang indah dengan kehidupan ikan-ikan yang menakjubkan. Tak ada apapun tentang yang berkaitan dengan bau tersebut.

***

Tahun-tahun mulai berganti hingga satu demi satu dari kami meninggal. Kedai minum semakin sunyi tanpa riuh orang-orang dari masa ke masa. Tapi yang aneh,Orang Tua Bertongkat kembali lagi setelah beberapa tahun menghilang secara misterius dan mengajak aku serta beberapa orang untuk bermain kartu bersama lagi seperti dulu.

“Kalian tidak perlu mencari asal bau tersebut,sebab bau itu mungkin akan berhenti jika ruh-ruh melati yang ditebar beberapa abad yang lalu kembali pada tangan si penebar itu.”

Kami mendengar dengan seksama dan kali ini tanpa menyanggahnya sedikitpun. “Dan orang yang telah melampaui waktu telah aku temukan dari perjalananku selama bertahun-tahun dan orang itu akan membebaskan desa kalian dengan tangan duka yang menebar melatinya ke laut kalian beberapa ratus tahun sebelum desa kalian menjadi sebuah desa.”

Orang Tua Bertongkat meminta sebotol bir dan kembali pada permainan kartu selama beberapa jam hingga kami tertidur di kedai lelap dan sangat lelap. Orang-orang yang membangunkan kami di sebuah pagi yang cerah, berkata bahwa kami telah tidur selama beberapa minggu dan orang-orang mencoba membangunkan kami dengan berbagai cara namun tidak pernah bisa dan akhirnya kamipun terbangun dengan wajah penuh brewok dan janggut seperti kambing. Seketika itu,kami tak lagi mencium bau melati dari laut. Kami menyisir berbagai tempat untuk mencari keberadaan Orang Tua Bertongkat tetapi ia tak ditemukan.  Menghilang dengan kemisteriusannya.

“Mungkin Orang Tua Bertongkatlah orang dari masa lalu yang hidup abadi.” Suatu pagi aku berbincang pada istriku mengenai kisah nyata yang baru beberapa bulan lalu aku alami ini.

“Tapi bukankah keabadiaan di jaman ini hanya mungkin dirasakan manusia paling lama sampai usia tujuh puluh.Itupun Pak Tua Yakub beruntung karena ia adalah lelaki baik dan penggembira hingga akhirnya Tuhan memberinya usia lebih dari sembilan puluh dan meninggal dalam damai.”

“Ina,yang kuceritakan ini memang benar! Orang Tua Bertongkat akhirnya melepas kutukan kami; para pencium bau melati dari laut.”

“Ah,aku masih belum percaya,sebelum kulihat itu dengan mata kepalaku sendiri.” ***

Kudus,September 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar