Jumat, 30 Mei 2014

PAK TUA dan CICAK-CICAK DI DINDING

dimuat pula di: Radar Surabaya,6 Juli 2014


“Dancuk!” seru Pak Warsito sambil merasa keparat tak bisa meludahi kepala seekor cicak di dekat jam dinding. Ruangan yang berfungsi sebagai kamar tidur itu jelas tidak menyerupai tempat tidur yang layak bagi orang lanjut usia sepertinya. Buku-buku mengelilingi sebuah tikar seperti ritual dengan Pak Warsito berada di tengah-tengahnya. Ia akan memposisikan buku-buku itu seperti begitu meski harus merobohkan salah satu sisinya jika ada keperluan di luar kamar tidur istimewanya. Ia akan menata sambil menyerambulkan kata-kata ajaib seperti “asu” dan “dancuk”. Buku-buku yang sudah dikumpulkannya dari usia remaja sampai sekarang merupakan penggenapan cita-cita luhurnya kelak jika tanda-tanda kematian telah datang padanya : membakar semua buku tersebut.

Cita-cita itu sudah diangan-angankan Pak Warsito mulai ketika ia mengkoleksi buku pertama sampai buku kesekian. Sebab ia merasa bahwa buku-buku tidak pernah dibaca. Buku-buku di perpustakaan kotanya tidak ada yang menyentuh untuk membacanya. Daripada terlantar tidak ada yang mengurus lebih baik ia bakar dan mereka semua akan dirawat di sorga kelak dengan Pak Warsito sebagai penjaga dan pembacanya.

  Cerita tentang Pak Warsito yang lebih khas lagi adalah kesenangannya meludahi cicak-cicak di dinding. Dengan tembakan air liur yang seperti pelor dilontarkan dari pistol,ia mampu menjatuhkan musuh-musuh di dinding itu. Rumah penuh bekas ludahannya di dinding-dinding,dan para warga hanya memaklumi hal tersebut sebagai tanda bahwa usia tua berdampak pada kondisi kejiwaan. “Suara cicak dan jam dinding selalu sama dan seperti mengejekku. Cicak dapat kubunuh,namun waktu tak bisa kubunuh—ia abadi.” Pak Warsito selalu menjawab segala pertanyaan tentang mengapa ia meludahi cicak-cicak di dinding dengan jawaban tersebut.

Sebenarnya seorang istri pernah dipunyai Pak Warsito namun sudah dua puluh lima tahun ia pergi tak tentu rimbanya. Tanpa kabar apapun,tanpa kejelasan apapun,ia pergi begitu saja. “Seseorang yang sudah mati di dalam hatiku.”
 
  Sebatang kara hidup Pak Warsito hanya dihabiskan dengan membaca buku dan naik sepeda onthel mencari buku bekas di pasar-pasar loak. Selain sebagai petani dengan sepetak tanah berukuran dua puluh lima meter persegi saja yang entah karena apa selalu subur dan penuh dengan berbagai macam tumbuhan sayur. Pak Warsito dengan tubuh kurus dan kulit lentur yang sudah ditanggalkan kegagahan prianya,merasa bahwa tanah yang dimilikinya sudah dianugrahi karena ia seseorang yang rajin mencari ilmu dengan membaca. “Seperti kecambah yang selalu tumbuh subur,ilmupun memiliki khasiatnya pada lingkungan sekitar.”

***

Tembakan-tembakan ludah mulai dilancarkan Pak Warsito di dinding rumahnya. Malam hari setelah lirih suara adzan isya’ menggema. Dari doa yang dipanjatkan dan terkabulkan : segerombol cicak menempel dinding. Pak Warsito menembak dengan kecepatan luar biasa yang terlontar dari mulut ompongnya. Mulut yang sudah kendur karena kehilangan banyak gigi tetapi tetap semangat menghadapi cicak-cicak di dinding. Satu,dua dan tiga cicak terjatuh dan menggelepar dalam ramuan bacin air liur Pak Warsito. Kegembiraan yang dirayakan dengan tarian di atas mayat-mayatnya.

Jika sudah letih menembaki cicak-cicak di dinding,maka Pak Warsito akan rebah di kamarnya,mengejap-kejapkan matanya tanpa pernah bisa tidur karena insomnia akut yang telah ia derita selama tiga puluh tahun membuatnya selalu merindukan mimpi.

Tapi hal aneh dari insomnia itu adalah bahwa ketika fajar sudah mulai nampak di langit,Pak Warsito seperti mendapat kekuatan baru meski tidak tidur. Keletihan sebagaimana orang yang memiliki penyakit itu tidak pernah ia rasakan walaupun sudah tidak tidur selama tiga puluh tahun lebih. Matanya seakan diperbarui dari hari ke hari padahal aktifitas membacanya membutuhkan fokus lebih dan melelahkan mata. Ajaibnya ia hanya membaringkan tubuh dua-tiga jam dan bangun tanpa keletihan yang membekas.

Ia selalu merasa bahwa semua cicak bersembunyi di belakang jam dinding dan memainkan sebuah koor yang menggodam telinganya dengan suara detak-detik sepanjang malam. Tapi berkali-kali ia ungkai bagian belakang jam dinding,tak juga ditemukan. Cicak-cicak seperti ditabur oleh seseorang dan tiba-tiba menempel di dinding. Serambul cicak akan ada begitu saja jika malam sudah menampak dan Pak Warsito merasa bahwa waktu adalah cicak itu sendiri yang terus berkembang biak agar kesenangan membunuhinya dapat terlampiaskan sebagai perasaan tak sanggup menaklukkan waktu itu sendiri.

***

Hari ini anehnya tak satupun cicak muncul di dinding seperti biasanya. Pak Warsito telah menunggu-nunggu hingga berjam-jam dari pagi sampai larut malam dan merasa kecewa. “Barangkali waktu telah menariknya dariku agar ia sendiri yang perlu melawanku,” pikir Pak Warsito. Cicak-cicak di dinding tiba-tiba menjadi sesuatu yang ia rindukan semalam itu lebih dari mimpi. Ia merasa sangat cemas;mondar-mandir mengamati dinding-dinding sampai fajar datang. Merasa ditipu ia putar balik jam dinding lebih cepat dua belas jam. Dengan begini malam akan lebih cepat datang. Memang benar,tiba-tiba langit seperti sudah pekat hitam meski waktu sebenarnya adalah tengah hari. Dan ajaib,cicak-cicak datang lagi untuk ditembaki peluru-peluru ludah Pak Warsito.

Semenjak jam di dindingnya diputar lebih,malam selalu datang awal dan berlangsung sangat lama yaitu mulai dari jam dua belas siang sampai fajar menggantikan. Orang-orang merasa ini akibat daripada pemanasan global yang diakibatkan oleh asap industri-industri kapital padahal ini adalah perbuatan waktu yang terkurung dalam jam dinding di kamar tidur Pak Warsito. Aksi menembak cicak-cicak di dinding tak surut dengan fenomena alam ini,bahkan tambah menggila dan makin jitu. Dalam satu kali percobaan menembak,langsung saja satu cicak terjatuh dan mampus. Bahkan kini Pak Warsito memiliki kehebatan memecah satu peluru ludah menjadi dua bagian yang mengenai dua sasaran. Entah karena keberpihakan udara di sekitar rumahnya atau magis apa. Sepersekian detik setelah air liur dilontarkan dari mulutnya,tiba-tiba saja memecah menjadi dua bagian yang langsung mengena sasaran. Tak pelak ratusan jiwa cicak-cicak di dinding melayang dalam sebuah adegan berdarah oleh koboi tua yang sudah mendapati tanda kematian pada dirinya yaitu ketangkasannya yang makin menjajam.

Sesuai dengan ikrarnya,ribuan buku kesayangan itu dibakar menjadi abu. Hatinya sudah tidak terbebani lagi dan kedamaian telah datang sebagai persiapan menghadapi kematian. Waktu yang menjemputnya akhirnya datang saat cicak-cicak yang menempel di dinding-dinding sudah tidak ada lagi. Ia baringkan tubuhnya di tikar tempat ia biasa merebah…dan memejam. Ia akhirnya dapat tidur. Tidur untuk selama-lamanya.

***

Hujan turun sudah delapan minggu di kota itu. Orang-orang hanya bisa mengumpat, berserapah sebab tak ada yang bisa dikerjakan untuk kehidupan mereka. Mereka mulai mencari-cari kesibukan dengan menadah air hujan untuk dibuang kembali atau membasuh rumah-rumah dengan air hujan meski hujan sudah membasahi rumah-rumah mereka. Orang-orang menganggur dan seseorang memiliki ide brilian yang diikuti orang-orang di kota itu,untuk meneruskan pekerjaan Pak Warsito yang dulu telah mereka lupakan: menembak cicak-cicak di dinding.

Orang-orang mulai berlatih mengatur kecepatan air liur mereka. Mengatur ketepatan dan ketersampaian ludah mereka pada dinding bagian atas. Mereka langsung menembaki cicak-cicak di dinding. Ratusan kali menembak hanya dua atau tiga cicak yang kena. Tak sehebat Pak Warsito yang mampu melakukan dengan ketepatan luar biasa. Orang-orang menembaki cicak-cicak di dinding dengan kegagalan yang diikuti sebuah serapah “dancuk”.Jika orang-orang menembak dalam waktu yang bersamaan maka akan terdengar sebuah koor pendek yang memanjang keras-keras dengan lirik “dancuk….” yang penuh amarah.



Mlati Lor,Jalan Pramuka No.45

Senin, 19 Mei 2014

Rejenu



REJENU

memasuki gapura tubuh kita.ini pengembaraan
ke tinggi-tinggi dalam dingin air terjun membasuh
membasuh kalbumu.sandzali,sandzali yang dirindukan
haturkanlah padanya doa-doa dan kedinginan senantiasa

menjemput hikmat lantunan ayat. pada gerbang waktu
seseorang ada di sini menyebar agama tuhan
pada pintu yang terbuka,kita merasakan air tiga rasa
berdecak kepada suara udara di rimbun pohon

langkah,nafasku berat menampung dingin
siapakah meletakkan batu pertama di tubuh gapura
piring-piring dengan tulisan jawa dan gambar bunga
yang tak lari dari usia,dari kertak jaman-jaman

doa engkau tempuhkan
pada makam tua di linimasa
mengalun panjang
mengalun ke jauh yang tinggi

aku merasa barisan teduh daun pakis,menjalar
menutupi apa-apa yang bertumpuk pada anak tangga:
jejak kaki dari masa lalu-masa kini
pada waktu yang tak lekang.pada keheningan

2014


Jumat, 16 Mei 2014

Laut Melati

dimuat pula di : Radar Surabaya, 24 November 2013
Lagi-lagi bau bunga melati yang semerbak memenuhi ruang kamarku. Kejadian ini telah berlangsung lebih dari dua bulan. Pada malam hari,menjelang fajar,maka baunya akan lebih kuat. Beberapa orang di kampung telah mencium bau melati ini,namun yang lain beranggapan bahwa kami yang mengatakan tentang bauan yang berasal dari laut,cuma sekadar ilusi dari sebuah kesadaran yang kurang baik. Ketika orang-orang yang mulai mencium melati dari laut meninggal dengan tiba-tiba,aku semakin yakin bahwa inilah sebuah tanda kematian. Orang-orang di desaku masih meyakini berbagai takhayul yang muncul tiba-tiba dan selalu menegaskan sebagai tanda-tanda yang kurang beruntung pada tanah kami. Tetapi bahwa gerombol atavisme semacam ini sudah berlangsung secara menahun,adalah sebagai usaha kami untuk melindungkan diri dari berbagai kesialan yang menimpa seperti salah seorang telah terhanyut ke laut pada saat ia sedang menangkap ikan,atau mereka-mereka yang ditemukan tak sadarkan diri di tepi pantai tanpa jukungnya;dibawa ombak kembali ke desa tanpa apapun.

Istriku yang sangat sulit mempercayai segala hal yang berhubungan dengan kegaiban takkan pernah meyakini apapun yang kuceritakan mengenai hal tersebut sebelum ia bisa menyaksikan hal itu dengan mata kepalanya sendiri. Yang ia yakini hanya cerita-cerita Edgar Allan Poe,tentu saja yang paling mengena dihatinya;tentang seorang istri yang dibunuh suaminya dan disemen di dinding dengan seekor kucing yang mengeong kepada para polisi hingga membuat si suami tertangkap. Meski kami hidup di area desa yang berstatus sebagai desa nelayan,namun kemakmuran desa membuat kami seperti masyarakat modern dengan indikasi borju seperti menyenangi buku-buku sastra,mencintai setengah mati makanan-makanan cepat saji di kota,lebih memilih mempunyai rumah mewah dengan pekarangan sempit daripada sawah hijau ataupun segala gaya hidup orang kota. Hanya saja,itu tadi,kami masih sangat percaya dengan takhayul yang membentuk berbagai macam pandangan hidup.

“Kau mencium lagi bau melati dari laut?” tanya Istriku. Tanpa menoleh kepadanya,aku hanya mengangguk dari tempat dudukku sambil membaca sebelum tidur.

“Tetapi mengapa selalu tak pernah aku mencium bau bunga itu. Mungkin bau itu adalah keberuntungan segelintir orang yang akan merasakan sebuah berkah yang berlimpah!”

“Bukan,Ina,”sergahku padanya yang mulai menggelayutkan kedua tangannya di pundakku,“ini adalah tanda bahwa kematian akan menghampiri dan membelit leherku!”

“Kenapa kau berpikiran buruk seperti itu,Ron?”

“Kau lihat apa yang terjadi dengan Pak Tua Yakub tetangga kita? Ia mati setelah berkali-kali mencium bau melati itu.”

“Mungkin itu bukan dari bau melati laut,tetapi karena usianya. Kau tahu,ia sudah kepala sembilan. Melebihi keabadiaan yang dapat diterima seseorang di jaman sekarang ini.”

Akupun diam,dengan lembut melepas kedua tangan istriku,menyudahi kegiatan membaca kemudian beranjak ke ranjang dan menarik setengah selimut kami untuk tidur.

***
Bau melati dari laut yang terus mendesah lewat debur ombaknya tak surut sedetikpun menghujam pedesaan kami. Bahkan lebih banyak orang yang mulai mencium bau itu,tetapi setelah dirasa sedemikian jauh,hanya para lelaki yang mencium bau itu dan itupun terbatas oleh sebuah spesifikasi gaib yang lebih mengkhususkan pada orang-orang tua atau muda dengan rambut yang telah beruban. Dan kepalaku adalah sarang uban sejak remaja di usia yang kedua puluh tiga karena selalu memikirkan nasib kekayaan orang tua yang harus dijaga dari tangan para saudara yang ceroboh dan suka menghamburkannya. Pertanda ini aku ketahui setelah mengunjungi kedai minum dan berbincang dengan para sahabat dari berbagai kalangan. Di kedai ini sebagian besar warga desa akan menghibur dirinya setiap hari setiap malam di sini dengan minum-minum atau permainan catur yang sering mempertaruhkan hasil tangkapan ikan mereka selama beberapa minggu berlayar.

Sambil bermain poker,berlima kami duduk dengan sesekali meneguk minuman yang rasanya sangat nikmat. Orang Tua Bertongkat memulai permainan dengan melempar tiga sekop lalu menanyakan bau melati kepada kami. “Hei kalian orang-orang bau,apakah kalian juga merasakan bau melati dari laut?” Menimpali kartu-kartu mereka dengan Jack sekop aku memulai dengan kartu empat hati. “Ya,aku merasakan bau wanginya Orang Tua.” Lalu Orang Tua Bertongkat menanyai semua hal tersebut pada mereka yang ikut dalam permainan poker.

“Bagaimana dengan kalian?”

Arnold mulai memantik sebatang sigaret dan berkata pelan dengan sebuah kejengkelan dari kekalahannya yang pertama,”Akupun begitu.”

“Aku juga”,serentak dua orang lainnya juga mengiyakan hal tersebut. Orang Tua Bertongkat tersenyum kepada kami,kemudian kami terheran-heran kepada senyuman itu. Iapun membuka topinya dan memperlihatkan rambutnya yang perak karena penuaan. “Kalian tahu,apa yang sama dari kita?” Kami terdiam sejenak dan mengalihkan fokus kepada figur Orang Tua Bertongkat tersebut.

“Kita sama-sama berambut putih sebagai identitas seorang tua;tanda kematian yang selalu semakin dekat. Dan itulah mengapa kita dan orang-orang seperti kita saja yang bisa mencium bau melati dari laut.”

“Apa benar itu Orang Tua?”Arnold ragu akan kata-kata darinya.

“Hei,kau,coba saja kau tanyakan pada mereka yang berda di kedai ini.”

Dengan berdiri di tengah-tengah kerumunan,Arnold berteriak lantang mempertanyakan kepada seluruh orang yang sedang minum di kedai, siapakah yang juga mencium bau melati dari laut untuk tunjuk jari. Dan memang benar. Beberapa orang tunjuk jari. Mereka yang renta dan yang masih terlihat muda seperti kami namun dengan rambut beruban adalah orang-orang yang mencium bau melati. Setelah malam permainan poker dengan kemenangan yang menggembirakan untukku, setelah itu pula kami tak pernah melihat Orang Tua Bertongkat berada di kedai ataupun di jalan-jalan desa kami.

***
“Mungkin ribuan melati terbenam di laut, dibawa oleh orang-orang mati yang terhanyut dari berbagai aliran sungai,kali dan memuara di sekitar laut tempat kita ini.” Tiba-tiba istriku menyela perbincangan sengitku dengan Arnold di ruang tamu rumah kami.

“Bukan begitu Madam,ini barangkali adalah sebuah pertanda ganjil dari Neptunus yang menginginkan sesembahan baginya.”

“Kau malah lebih tak masuk akal lagi. Sejak kapan kita mengenal Neptunus? Bukankah kita hanya mengenal Tuhan. Itu cuma mitologi yang diciptakan orang dengan janggut yang lebat seperti kambing.” Akupun membantahnya.

“Yah,aku cuma bilang barangkali.”

“Sudahlah,minuman kalian sudah hampir dingin.Minumlah dengan rasa nikmat dan jangan usik lagi tentang bau ilusif yang kalian rasakan itu. Ini semua cuma karangan kolektif dari rasa haus kalian akan takhayul.” Istrikupun menghilang dibalik pintu dengan menyisakan kata yang menusuk hati kami.

Memang ada benarnya. Apakah ini hanya karena otak kami yang telah lama hancur karena sudah sangat terlalu banyak meminum minuman dengan kadar alkohol yang tinggi dan sangat kuat dari kedai minum langganan kami,atau memang ini benar adanya -bahwa laut memang menebarkan aroma bunga melati sampai sekarang-lebih dari setengah tahun. Orang-orang yang menciumnya semakin berkurang karena mereka meninggal tapi juga makin bertambah,dengan satu identitas rambut beruban yang telah disimpulkan oleh Orang Tua Bertongkat yang menghilang secara misterius.

Berbulan-bulan bau melati menempel di hidung kami. Para lelaki selalu menjaga kegusaran mereka sebab kehilangan-kehilangan terus menimpa teman-teman kami ke tempat peristirahatan terakhir dan itu berarti tinggal kami yang akan dijemput maut. Mereka yang sangat penasaran dengan bau itu,mulai melakukan sebuah ekspedisi ke kedalaman laut dan yang hanya mereka temukan hanyalah puing-puing kapal sisa peperangan atau karang-karang indah dengan kehidupan ikan-ikan yang menakjubkan. Tak ada apapun tentang yang berkaitan dengan bau tersebut.

***

Tahun-tahun mulai berganti hingga satu demi satu dari kami meninggal. Kedai minum semakin sunyi tanpa riuh orang-orang dari masa ke masa. Tapi yang aneh,Orang Tua Bertongkat kembali lagi setelah beberapa tahun menghilang secara misterius dan mengajak aku serta beberapa orang untuk bermain kartu bersama lagi seperti dulu.

“Kalian tidak perlu mencari asal bau tersebut,sebab bau itu mungkin akan berhenti jika ruh-ruh melati yang ditebar beberapa abad yang lalu kembali pada tangan si penebar itu.”

Kami mendengar dengan seksama dan kali ini tanpa menyanggahnya sedikitpun. “Dan orang yang telah melampaui waktu telah aku temukan dari perjalananku selama bertahun-tahun dan orang itu akan membebaskan desa kalian dengan tangan duka yang menebar melatinya ke laut kalian beberapa ratus tahun sebelum desa kalian menjadi sebuah desa.”

Orang Tua Bertongkat meminta sebotol bir dan kembali pada permainan kartu selama beberapa jam hingga kami tertidur di kedai lelap dan sangat lelap. Orang-orang yang membangunkan kami di sebuah pagi yang cerah, berkata bahwa kami telah tidur selama beberapa minggu dan orang-orang mencoba membangunkan kami dengan berbagai cara namun tidak pernah bisa dan akhirnya kamipun terbangun dengan wajah penuh brewok dan janggut seperti kambing. Seketika itu,kami tak lagi mencium bau melati dari laut. Kami menyisir berbagai tempat untuk mencari keberadaan Orang Tua Bertongkat tetapi ia tak ditemukan.  Menghilang dengan kemisteriusannya.

“Mungkin Orang Tua Bertongkatlah orang dari masa lalu yang hidup abadi.” Suatu pagi aku berbincang pada istriku mengenai kisah nyata yang baru beberapa bulan lalu aku alami ini.

“Tapi bukankah keabadiaan di jaman ini hanya mungkin dirasakan manusia paling lama sampai usia tujuh puluh.Itupun Pak Tua Yakub beruntung karena ia adalah lelaki baik dan penggembira hingga akhirnya Tuhan memberinya usia lebih dari sembilan puluh dan meninggal dalam damai.”

“Ina,yang kuceritakan ini memang benar! Orang Tua Bertongkat akhirnya melepas kutukan kami; para pencium bau melati dari laut.”

“Ah,aku masih belum percaya,sebelum kulihat itu dengan mata kepalaku sendiri.” ***

Kudus,September 2013.

Selasa, 06 Mei 2014

Sepenggal Akasia



aku ranting akasia terpelanting ke tubuh sucimu.yang berisi adalah kosong sementara kekosongan selalu berisi.aku mengunyah kulit udara dan serkah ke pangkuanmu semut-semut merayap padakau dari lebar tanganku menjembatani diriku-dirimu oleh semut-semut.barangkali kematian sejengkal tanah yang menidurkan tubuhku,adalah benih tumbuh tersurat ke dalam aku yang memecut keperkasaan menjamah sekian udara dari nasib bulan-bulan.

langit biru masih bermimpi kemarau panjang,melecut tubuhku garing oleh terpaan matari.engkau doa-doa melayang yang jatuh di bawah pohon,menemukan secercah keyakinan
melarung mangkuk ke sungai dan bersumpah ini benar adanya.aku bukanlah bodh gaya tetapi setiap pohon adalah keberkahan yang ditujukan pada tubuhmu untuk istirah

meyakinkan bahwa kehidupan dan kematian secepat rontok daun-daun dan tumbuhnya pohon baru.

2014

Senin, 05 Mei 2014

10:24 , Tak Ada Anjing Kolera

bercabang-cabang aku menghirup lampu kelasmu.kali-kali panjang di udara siang menyengat bagai antup yang engkau benci.kita adalah osmosis saling bertukar pada tinggi-rendah;kecil-besar;keras-lunak.mencoba mengerti keadaan lapar begini.

aku menelan nafasmu tersangkut dalam trakea padahal paru-paru yang hampa ingin menusukkan ruangnya pada oksigenmu.sementara udara suplementer keluar satu liter.aku tak bisa menyusupmulebih dalam.kembang kempis dadaku tertusuk sewindu.

mungkin kita susunan atmosfir yang keluar dari langit tak sudi menampung-terapung.aku mengembung mengunyah sepuluh jarimu.waktu kau hampir tunjuk bintang-bintang di lukisan van gogh.kemudian kita melolong oleh penyakit tak bermusabab.berkali-kali.

hingga kelaparan menyaruk tahinya sendiri.



Jumat, 02 Mei 2014

FRAGMEN


neraka di dalam mataku,mata iguana kering
pasir menghisap tubuh tegakku dan matahari
akhirnya sombong memuntahkan panas,
adalah sorga yang dipenuhi api prasangka
malaikat-malaikat.sedikit cinta dan garam cambuk
sebotol air mineral akan jadi kolam renang
dalam kekeringan yang melandaku

seorang resi tua,yang pernah kau lihat
membawa poci retak ke jalan-jalan sunyi
adalah orang buta pengamen di panggungmu
sekali waktu,dua –tiga sajak terlampaui
dan orang-orang menyebutnya doa
tapi,yang menjerit di kedalaman hatinya
adalah perempuan

burham berlayar ke bulan bersama armstrong
kecurangannya diketahui,hingga berabad-abad
ketika ia mati diludahi bocah-bocah pemancing bulan
yang meledak dalam pesta cahaya
adalah perempuan


FRAGMEN

engkaulah iguana kering yang mencakar tangan santo
ketika ia ingin minum segelas bir di bar catarino
sebuah cerita,tiga belas cermin,tiga ekor iguana
dan segelas bir menjamak jadi arogan supir bus
yang menghantarku ke perjalanan di panggung sajak
sewujud anak kemarin sastra.rumah-rumah kusam
tanpa jendela,tanpa lantai keramik,hanya tanah
tempat kau meludah dan dulu waktu kecil
bermain bersama teman-temanmu dengan botol vodka
kini,setelah kau jadi tersangka,botol vodkamu berjamur
seperti gelas gipsi satu abad yang ditempati gigi palsu

seorang santo tanpa tuhan berjalan dan mencatat cerita di oran
aku iguana dari kekeringanmu menetaskan lidah panjang
tanpa awal cerita namun purnama menerbangkanku
dengan karpet aladin dan mantra gaib seorang jin

akulah kematian,malaikat kematianmu!