Kamis, 27 Februari 2014

SEBUAH PASAR BERUPACARA DI TENGAH GERIMIS



gerimis mengundang wortel untuk berteduh
di bawah kaki-kaki.kubis di antar dari desa
dan bis berteriak kencang memarkir rodanya
seruan-seruan tukang becak menawarkan pulang
aku ingin betah di sini,menjadi patung bagi hujan
dengan menatap seluruh pekerjaan sayur-mayur

aku takut ibu tidak akan kembali lagi
karena berbagai sayur dan buah murah yang dijajakan
lalu bulankupun hilang kembali.dan aku menjadi-
jadi sendiri lagi.barisan kata-kata yang akan kurajut
kemudian hari,menumpuk di pikiran sibuk begini
beserta keramaian pasar kita,adalah riuh bunyi
dari kota yang telah bangun

menjelajahi seisi daerahmu,mataku disadarkan
bahwa yang membentuk jiwa kota-kota
adalah langkah-langkah pedagang menyerukan
bahan-bahan yang menghidupi perut kita;
kita berbahagia dalam kecukupan mereka

menghantar sawi-sawi dan wangi seledri
ke haribaan kami,ibu bahagia aku bisa bangun pagi
seperti kemarin-kemarin yang tidak ada lagi
orang-orang berlari memanggul keringatnya
untuk ditumpahkan dalam marak yang ditebar
di kakinya,kepada kita yang ingin membeli
--sebuah gerimis mengkhidmati seluruhnya--

2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar