Jumat, 28 Februari 2014

ORANG ASING MEMASUKI KEPALA KITA

-catatan selepas baca


Membaca lagi karya masterpiece begawan pencetus absurditas,membuat kepala saya terasa baru,seperti memasuki kota Oran yang digambarkan dengan seluruh kebiasaan bercinta selekas angin di tempat-tempat gelap atau bersantai di pantai yang mengarah ke laut lepas.Kepala saya serasa jadi burung dan mengendap-endap untuk bertahan di pohon tandus yang barangkali hanya sedikit yang masih tersisa pada alur cerita epidemi sampar yang ditulis secara jenius oleh Camus. Mungkin kita sama,yang paling kita suka adalah adegan seorang tua--yang berada di balkon sebelah tempat inap Jean Tarrou--yang memiliki kebiasaan meludahi kucing-kucing di jalan dari atas tempat tinggalnya dengan umpan sobekan-sobekan kertas yang dimetaforkan dalam ceritanya sebagai hujan kupu-kupu,dan si tua akan menembak setiap kucing dengan air liurnya. Atau klimaks cerita tentang Cottard yang menggila dan menembaki apapun di sekitar rumahanya,yang tak menginginkan epidemi berakhir. Dan yang membuat kita semakin kagum adalah cita-cita Tarrou menjadi santo tanpa Tuhan dan menemukan kedamaian atau kemanusiaan Dokter Rieux yang sangat tanpa pamrih demi manusia itu sendiri. Kita dapat menemukan hal unik yang diceritakan Camus pada bagian cara menghitung waktu seorang tua miskin yang hidup di tepi kota dan menggunakan dua panci untuk memulai waktu dengan kacang-kacangnya.

Kelebihan Camus dibanding penulis lain pada masa itu di Perancis adalah ia memulai awal baru penulisan dengan tokoh-tokoh orang biasa dengan novel perdananya l'Etranger yang diterjemahkan menjadi 'Orang Asing'. Bila sastra perancis sebelum generasinya memakai tokoh-tokoh orang borjuis(misal pada novel Madam Bovary) lalu pada generasinya,tokoh-tokoh jelata yang sederhana mulai muncul dengan cerita-cerita menyenangkan. Meskipun adegan Meursault menembak orang Arab dengan sengaja dan tanpa rasa bersalah dikritisi oleh Edward Said sebagai simptom kolonial,namun kepopulerannya tidak bisa lumer sampai sekarang. 

Aljazair adalah cerminan Perancis,negara kedua Camus,yang begitu panik dan mendekat pada iman meski tidak sepenuhnya berhasrat. Dalam novel 'Sampar' khotbah-khotbah menggebu Pastur Paneloux hanya awalanya saja diikuti orang-orang Oran dan lambat laun surut jamaah yang mendengar khotbahnya. Pastur Paneloux yang menangis di depan Dokter Rieux karena dokter tidak meyakini Tuhan akhirnya meninggal oleh sampar. Dan kisah paling menggugah yang ada dalam novel tersebut adalah kehadiran pahlawan yang bukan pahlawan seperti yang kita gambarkan. Ia adalah Joseph Grand seorang pegawai pemerintahan dengan gaji kecil dan hidup yang ditinggal oleh istrinya karena kemiskinan. Kehebatan Camus adalah bagaimana ia menceritakan orang yang berproses tengah membuat karangan bertahun-tahun namun hanya menghasilkan satu kalimat tentang bulan Mei,seorang gadis dan kudanya. Dikisahkan Joseph Grand hampir mati karena sampar,dan menandai akhirnya cerita,Joseph Grand sembuh dan vaksin Dokter Castel si tua berhasil.

Camus memang tidak bisa dibaca sekali dua kali. Ia mesti didaras lebih dan mencintai karangannya jika ingin memasuki rimba pikirannya yang penuh kedamaian. Camus yang kita gambarkan adalah orang tabah yang teguh mempertahankan prinsipnya sekalipun ditentang temannya sendiri;Sartre. Camus adalah orang pinggiran dan terlahir sebagai pencetus antara keberpihakan baik dan buruk.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar