(katakanlah
waktu,bahwa keabadiaan diperuntukkan
hanya bagi
mereka yang kekal)
setiap
doa,kupandang angkasa dari jendela
buku-buku
terbenam mati.seperti harapan
membisu
debu dan pecah tiba-tiba
kutenggelamkan
diriku pada kebenaran tak ada
dari
apapun,doa-doa hanya umpama
melulu
dibantingkan mulut tanpa niat
sahabatku
yang mulia,sampai kapan lagi
kita mesti
menunda begini.dan bertemu
yang
sesungguhnya: ajal tak bisa ditipu
oleh
kita,yang rapi menyimpan kata-kata
kematian
demi kematian cuma biasa-biasa
dengan
selingan basa-basi kalimat terakhir
bagi dunia
yang akan ditinggal;bagi orang yang dikenal
seperti
mimpi dibangunkan kenyataan,
keruntuhannya
adalah sisa-sisa yang tetap ada
sebagai
doa,memandang angkasa dari jendela
bersama
terbenam dan matinya kisah-kisahmu
bisu
tercampak di sudut.aku ucapkan padakau:
‘barangkali
kita,sahabatku yang mulia,
hanyalah pendar debu yang tak ada di sini
meski tampak di mata lainnya’
2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar