Jumat, 28 Februari 2014

MENIPU DIRI




(katakanlah waktu,bahwa keabadiaan diperuntukkan
hanya bagi mereka yang kekal)

setiap doa,kupandang angkasa dari jendela
buku-buku terbenam mati.seperti harapan
membisu debu dan pecah tiba-tiba
kutenggelamkan diriku pada kebenaran tak ada
dari apapun,doa-doa hanya umpama
melulu dibantingkan mulut tanpa niat

sahabatku yang mulia,sampai kapan lagi
kita mesti menunda begini.dan bertemu
yang sesungguhnya: ajal tak bisa ditipu
oleh kita,yang rapi menyimpan kata-kata

kematian demi kematian cuma biasa-biasa
dengan selingan basa-basi kalimat terakhir
bagi dunia yang akan ditinggal;bagi orang yang dikenal
seperti mimpi dibangunkan kenyataan,
keruntuhannya adalah sisa-sisa yang tetap ada

sebagai doa,memandang angkasa dari jendela
bersama terbenam dan matinya kisah-kisahmu
bisu tercampak di sudut.aku ucapkan padakau:
‘barangkali kita,sahabatku yang mulia,
  hanyalah pendar debu yang tak ada di sini
  meski tampak di mata lainnya’

2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar