Jumat, 28 Februari 2014

JOGLOSEMAR,FEBRUARI 2014



HUJAN BERI KAMI IKAN

langit maha menampung mendung.terjatuhmu
hujan,deras sepanjang waktu kini.anak-anak main di jalan
segenap desa banjir tak surut sebabmu,tak henti
menjelma cuaca lain—hinggap bersama pagi,sore
dan malam kami.setiap kautinggalkan,berilah kami ikan
yang pandai berenang dan mudah terkecoh jala tangan

agar berkah ini semakin lengkap,sambutlah doa kami
yang tiap subuh terjamah air dinginmu.ikan-ikan tak hanya
lautan diarunginya.berenangkanlah padanya arus
banjir di setiap lekuk desa.segala deras bersama jatuhmu
sampirkan pula ikan yang terjun seperti engkau,hujan


MENIPU DIRI




(katakanlah waktu,bahwa keabadiaan diperuntukkan
hanya bagi mereka yang kekal)

setiap doa,kupandang angkasa dari jendela
buku-buku terbenam mati.seperti harapan
membisu debu dan pecah tiba-tiba
kutenggelamkan diriku pada kebenaran tak ada
dari apapun,doa-doa hanya umpama
melulu dibantingkan mulut tanpa niat

sahabatku yang mulia,sampai kapan lagi
kita mesti menunda begini.dan bertemu
yang sesungguhnya: ajal tak bisa ditipu
oleh kita,yang rapi menyimpan kata-kata

kematian demi kematian cuma biasa-biasa
dengan selingan basa-basi kalimat terakhir
bagi dunia yang akan ditinggal;bagi orang yang dikenal
seperti mimpi dibangunkan kenyataan,
keruntuhannya adalah sisa-sisa yang tetap ada

sebagai doa,memandang angkasa dari jendela
bersama terbenam dan matinya kisah-kisahmu
bisu tercampak di sudut.aku ucapkan padakau:
‘barangkali kita,sahabatku yang mulia,
  hanyalah pendar debu yang tak ada di sini
  meski tampak di mata lainnya’

2014

ORANG ASING MEMASUKI KEPALA KITA

-catatan selepas baca


Membaca lagi karya masterpiece begawan pencetus absurditas,membuat kepala saya terasa baru,seperti memasuki kota Oran yang digambarkan dengan seluruh kebiasaan bercinta selekas angin di tempat-tempat gelap atau bersantai di pantai yang mengarah ke laut lepas.Kepala saya serasa jadi burung dan mengendap-endap untuk bertahan di pohon tandus yang barangkali hanya sedikit yang masih tersisa pada alur cerita epidemi sampar yang ditulis secara jenius oleh Camus. Mungkin kita sama,yang paling kita suka adalah adegan seorang tua--yang berada di balkon sebelah tempat inap Jean Tarrou--yang memiliki kebiasaan meludahi kucing-kucing di jalan dari atas tempat tinggalnya dengan umpan sobekan-sobekan kertas yang dimetaforkan dalam ceritanya sebagai hujan kupu-kupu,dan si tua akan menembak setiap kucing dengan air liurnya. Atau klimaks cerita tentang Cottard yang menggila dan menembaki apapun di sekitar rumahanya,yang tak menginginkan epidemi berakhir. Dan yang membuat kita semakin kagum adalah cita-cita Tarrou menjadi santo tanpa Tuhan dan menemukan kedamaian atau kemanusiaan Dokter Rieux yang sangat tanpa pamrih demi manusia itu sendiri. Kita dapat menemukan hal unik yang diceritakan Camus pada bagian cara menghitung waktu seorang tua miskin yang hidup di tepi kota dan menggunakan dua panci untuk memulai waktu dengan kacang-kacangnya.

Kelebihan Camus dibanding penulis lain pada masa itu di Perancis adalah ia memulai awal baru penulisan dengan tokoh-tokoh orang biasa dengan novel perdananya l'Etranger yang diterjemahkan menjadi 'Orang Asing'. Bila sastra perancis sebelum generasinya memakai tokoh-tokoh orang borjuis(misal pada novel Madam Bovary) lalu pada generasinya,tokoh-tokoh jelata yang sederhana mulai muncul dengan cerita-cerita menyenangkan. Meskipun adegan Meursault menembak orang Arab dengan sengaja dan tanpa rasa bersalah dikritisi oleh Edward Said sebagai simptom kolonial,namun kepopulerannya tidak bisa lumer sampai sekarang. 

Aljazair adalah cerminan Perancis,negara kedua Camus,yang begitu panik dan mendekat pada iman meski tidak sepenuhnya berhasrat. Dalam novel 'Sampar' khotbah-khotbah menggebu Pastur Paneloux hanya awalanya saja diikuti orang-orang Oran dan lambat laun surut jamaah yang mendengar khotbahnya. Pastur Paneloux yang menangis di depan Dokter Rieux karena dokter tidak meyakini Tuhan akhirnya meninggal oleh sampar. Dan kisah paling menggugah yang ada dalam novel tersebut adalah kehadiran pahlawan yang bukan pahlawan seperti yang kita gambarkan. Ia adalah Joseph Grand seorang pegawai pemerintahan dengan gaji kecil dan hidup yang ditinggal oleh istrinya karena kemiskinan. Kehebatan Camus adalah bagaimana ia menceritakan orang yang berproses tengah membuat karangan bertahun-tahun namun hanya menghasilkan satu kalimat tentang bulan Mei,seorang gadis dan kudanya. Dikisahkan Joseph Grand hampir mati karena sampar,dan menandai akhirnya cerita,Joseph Grand sembuh dan vaksin Dokter Castel si tua berhasil.

Camus memang tidak bisa dibaca sekali dua kali. Ia mesti didaras lebih dan mencintai karangannya jika ingin memasuki rimba pikirannya yang penuh kedamaian. Camus yang kita gambarkan adalah orang tabah yang teguh mempertahankan prinsipnya sekalipun ditentang temannya sendiri;Sartre. Camus adalah orang pinggiran dan terlahir sebagai pencetus antara keberpihakan baik dan buruk.


Kamis, 27 Februari 2014

SEBUAH PASAR BERUPACARA DI TENGAH GERIMIS



gerimis mengundang wortel untuk berteduh
di bawah kaki-kaki.kubis di antar dari desa
dan bis berteriak kencang memarkir rodanya
seruan-seruan tukang becak menawarkan pulang
aku ingin betah di sini,menjadi patung bagi hujan
dengan menatap seluruh pekerjaan sayur-mayur

aku takut ibu tidak akan kembali lagi
karena berbagai sayur dan buah murah yang dijajakan
lalu bulankupun hilang kembali.dan aku menjadi-
jadi sendiri lagi.barisan kata-kata yang akan kurajut
kemudian hari,menumpuk di pikiran sibuk begini
beserta keramaian pasar kita,adalah riuh bunyi
dari kota yang telah bangun

menjelajahi seisi daerahmu,mataku disadarkan
bahwa yang membentuk jiwa kota-kota
adalah langkah-langkah pedagang menyerukan
bahan-bahan yang menghidupi perut kita;
kita berbahagia dalam kecukupan mereka

menghantar sawi-sawi dan wangi seledri
ke haribaan kami,ibu bahagia aku bisa bangun pagi
seperti kemarin-kemarin yang tidak ada lagi
orang-orang berlari memanggul keringatnya
untuk ditumpahkan dalam marak yang ditebar
di kakinya,kepada kita yang ingin membeli
--sebuah gerimis mengkhidmati seluruhnya--

2014

MENATAP LANGIT TUA



ia terus mencari masa depan di langit yang itu
sehabis kemarin jatuh,coba ia bangkit pelahan
seperti yang dilakukan anak-anak burung
pertama mendarat di angin dan berkepak,
harapan-harapan tumbuh dari benak

ke mana pandangan jauh ini akan terus
putih menggantung dirinya.tahun-tahun
lepas dan lenyap dari hidup,ia mau berlama-lama
di sana.menelusuri tiap tanda.mungkin,
bila datang masanya,ada yang jatuh tiba-tiba
memenuhi ia.menjelma kebahagiaan sisa usia

“waktu mendekapku,aku tidak lagi berpercaya
apapun yang ia katakan.sesungguhnya semua
tak lebihdari sandiwara.tetap saja,aku digerus-
ditiadakan.meskiaku mencoba lupa akannya”

langit itu takkan membalas pandangannya
mahalebar dirinya menimbulkan hujan
menutupi apapun dari semua tatapan
langit itu buta,langit yang berpendar dari awal
sampai kita masih di sini,adalah buta
dan alasan-alasannya,tidak bisa kita terima

ia hanya satu dari semua pandangan pada langit