Sabtu, 30 November 2013

Solitude



SOLITUDE

ialah pejam demi pejam tiap kekalahan sebentar-sebentar
menginginkan sesuatu dari kegelapan.namun waktu tak dapat
dibalik kembali.ia tidak lagi dikenali karena penglihatan
telah silau oleh perubahan tiba-tiba dunia.tahun-tahun
bergerak meninggalkan orang-orang di dalam mata ini
seperti kamu enggan mengingatkan kembali apa itu masa depan
yang sesungguhnya cuma bisa digambar oleh tuhan

pejalan larut malam itu meninggalkan semuanya
ia ingin tuli setuli-tulinya supaya tiap kalimat tajam
mengiris gendang telinga bisa ia artikan sebagai tidak ada
ia ingin tiap kalimat tajam yang mengiris di gendang suara
menjadi tidak ada sebab segalanya terlalu meminggirkannya
dan menjelma nonsens.ia mau semua kata-kata tentang
kehidupan penuh kebohongan itu menguap karena
tak mendengarnya.ia mengambang bagai hujan sebelum
dijatuhkan nasib.dan dunia menelan semua terlalu cepat

barangkali bahasa hanya mengungkapkan segala kesahnya
dan meninggalkan semua masalah tentang rotasi yang berjalan
membuatnya tua dari hari ke hari.ia ingin berlari dari kesibukan
yang tidak ada apa-apa selain menjadi nyata.yang menjadi apa-apa
adalah nyata meski tidak ada.tetapi ia bukan kata-kata yang
menakwilkan maksudnya,ia sendiri alpa di mana meletakkan
ini-itu sebab ia pingin cepat-cepat bingkas.masuk. walau harus
terus menerus berpura-pura gembira

Jumat, 08 November 2013

Tidak Ada yang Mesti Diucapkan



beku.hujan itu mengiris udara,pecah di tanah
tidak ada yang mesti diucapkan.lidahku kelu
menghadapi banyak pertanyaan masygul ketika
pecahan demi pecahan gerimis memberat dingin
senin.aku mengantuk dan ingin tidur melupakan
semuanya.melalaikan segala-galanya

suara-suara datang tapi kuhiraukan.aku lelah
dengan semua pertanyaan pura-pura mencoba
membikin bahagia.lampu-lampu berdengung
di ekor kunang-kunang melewati mataku
dan aku melupakan segalanya,bermain-main
selama-lamanya pada terang yang beredupan

tapi banyak waktu yang menemukan kita
aku bosan berhadapan denganmu.lelah dan
ingin segera bingkas dari waktu ke waktu
hingga kamu hilang tanpa pamit,aku akan senang
sebab tidak ada yang mesti diucapkan

2013

Kebahagiaan


Ia hidup dengan banyak kegembiraan sampai-sampai kesenangan itu dicabuti dari dirinya dari waktu ke waktu. Ia tanyakan pada Tuhan di mana semua kebahagiaan yang selama ini ia miliki yang berangsur-angsur hilang dan meninggalkan kesedihan mendalam. Ia bayangkan dirinya menjadi Florentino Ariza --dalam novel cinta karangan Gabriel Garcia Marquez-- yang selalu menunggu cintanya kembali  hingga waktu menghantamnya dengan penuaan dan begitu banyak kepedihan. Ia selalu menikmati malam hari dengan kesendirian. Awalnya kesepian itu begitu menyiksa dan sangat menggelisahkan namun lambat laun ia jadi terbiasa dan merasakan bahwa suasana itu merupakan berkah yang diberikan Tuhan sebagai pengganti semua kesenangan yang telah direnggut darinya. Di jalan pulang setelah bekerja dengan seluruh pikiran dan fisiknya, ia menghayati pohon-pohon hijau yang masih tertanam di pinggir-pinggir jalan, orang-orang yang menaiki sepeda unta, pasar kaki lima di depan pabrik-pabrik dan dingin angin bulan oktober yang sangat ia rindukan dari tahun ke tahun.
Ia sangat sendirian. Di kesehariannya, cuma menghapal kenangan demi kenangan yang pernah dilalui bersama orang-orang terkasih.  Keramaian membuatnya pusing dan memutuskan baginya menutup semua kebisingan itu dengan diam sambil mendengarkan gempita yang selalu hadir di tengah-tengah kehidupannya. Ia sendirian menyisir malam demi malam berharap menemukan cahaya kegembiraan dari bulan,bintang dan kunang-kunang yang berkeliaran.
Musim yang cepat berganti menyisakan sedikit kesenangan yang masih saja baginya merupakan kesedihan tanpa dasar apapun. Ia ingat orang-orang yang dulu mencintainya dan kini tidak pernah lagi mengenalnya. Ia tidak ingin dunia mengetahuinya lagi setelah keadaannya menjadi terpuruk. Ia menutup semua dari siapapun yang akan mendekatinya ia lalu menjauh. Ia tidak begitu senang dengan ramainya situasi yang ada jika ia sedang di sana,ia menyukai kesendirian sebab kesepian itulah satu-satunya teman yang paling setia. 
source : centennialshorts.blogspot.com

Mereka akan berbincang lama sambil meminum kopi hangat dan menyaksikan rinai hujan melesat di jendela dan pohon-pohon berkibaran ditarik angin yang melebur di hujan jadi badai. Ia putar lagu-lagu ironi dan melankolinya kembali pada semua yang pernah diingatnya. Ia terkenang kencan pertama pada suatu sabtu sore yang penuh dengan berkah dari jalan raya lampu-lampu di sudut-sudut kota dan ia berpelukan lama dengan kekasihnya,ia teringat,sehabis menonton drama di sebuah gedung kesenian dan sepasang kekasih itu pergi ke sebuah ujung yang sangat jauh dan melupakan dunia untuk sejenak saling membisikan kata-kata puitis lalu hanyut dalam ekstase kesenangan ragawi. Ia terkenang,seperti Kolonel Aureliano Buendia saat diajak ayahnya menonton es milik orang gipsi(dalam novel kesunyian Gabriel Garcia Marquez)dari kota ke desa yang hidup tanpa dikenal dunia itu,ia dan kakeknya pergi ke pasar membeli ikan hias dan menampungnya di sebuah baskom tempat biasa keluarga itu mencuci baju. Meski ia sudah tua,kenangan masa kecilnya muncul ketika ia melihat bungkus korek api dengan gambar sketsa suasana satu jalan di eropa;apel-apel yang didagangkan dan seorang bocah yang tersenyum sambil melangkah ringan. Ia ingat akan mimpi-mimpinya yang dulu pernah membuatnya terobsesi dan menjadi sangat yakin akan terwujudnya itu.
Jika tidak sedang hujan,setelah istirahat sebentar di rumahnya yang kecil,ia akan mengayuh sepedanya setelah bekerja di pabrik yang pengap dan hidup tua sebatang kara dengan kesepian dan bertumpuk-tumpuk buku. Ia akan memandang lama-lama sebuah etalase toko yang memajang sebuah gaun indah yang dulu pernah dijanjikannya pada seseorang yang sangat ia cintai. Ia sungguh menyesal melalui tahun-tahun yang lalu tanpa kegembiraan apapun. Ia seolah-olah merupakan mayat hidup tanpa rasa dan makna. Ia cuma tidur,bekerja,membacai buku-buku lapuk yang mulai menguning karena jamur dan selalu seperti itu dari hari ke hari. Ia kadang-kadang menghiba kepada Tuhan, bagaimana menemukan kebahagiaan yang dulu pernah dipunyainya kembali. Ia kadang mengutuk sendiri nasibnya, rindu semua kebersamaan dengan orang-orang yang telah meninggalkannya. Seperti pagi dengan kemilau matahari yang mulai merangkak menaiki bukit bumi,atau seperti kematian sinar itu dalam senja yang mulai dikuburkan malam untuk hidup lagi di fajarkala—ia kadang merasa bahwa yang benar-benar bahagia itu adalah kesepian ini yang sedang ia rasakan. Tetapi ia juga merasa bahwa kesepian ini dari waktu ke waktu akan menikamnya dari belakang dan menjadikannya bangkai tanpa siapapun untuk menguburnya.
Mencari-cari,seperti biasanya. Barangkali Tuhan menyimpan kebahagiaan itu untuk diendapkan dan dihamburkan,tepat sebelum ia mengena ajal dan meninggal. Ia merasa sudah sangat rapuh dan sangat lelah. Kebahagiaan apa yang sebetulnya ada atau kini telah dirasakannya. Di hatinya,ia cuma merasakan kesedihan yang mendalam dari waktu ke waktu. Di rumahnya yang kecil kadang hantu-hantu dari masa silam sebuah peradaban sebelum abadnya hidup ini,mengunjunginya dan mereka akan bercakap-cakap untuk sekian lama dengan meminum kopi,seperti halnya sepi yang menahun. Ia akhirnya paham,di usia yang telah uzur dan begitu sunyi itu,ia temukan kebahagiaan dalam kesepian-kesendiriannya ketika ia telah mulai berhenti mencari,jauh ke seluk beluk hatinya,kebahagiaan itu. Tuhan sudah memberikan kebahagiaan yang lebih matang itu,semenjak kesenangan-kesenangannya diambil satu per satu yaitu kesendirian dan kesepian yang selama ini menemaninya hingga ia siap menjadi bangkai kapan saja.

(Bagus Burham)

Kamis, 07 November 2013

Sedikit tentang Eksistensialisme Sartre



Di Perancis kita akan menemukan dua sosok eksistensialis besar yang sama-sama mempunyai banyak penggemar maupun pengikut dari seluruh dunia.Mereka adalah Jean Paul Sartre dan Albert Camus(meski ia lebih condong ke absurdisme). Meski pasangan Sartre,Simone de Beauvoir juga seorang eksistensialis,tetapi ia lebih dipahami sebagai seorang feminis yang mencuat lewat pemikiran dan karya-karyanya. Jean Paul Sartre yang coba kita bahas di sini,walaupun saya masih seorang penyuka filsafat yang awam dikenal sebagai seorang atheis yang memiliki pemikiran eksistensial.Sartre lahir di Paris pada tahun 1905. Sewaktu kecil ia memiliki perawakan yang lemah dan menjadi bahan cemooh kawan-kawannya. Tetapi Sartre mencuat sebagai seorang pemikir besar setelah mendapatkan ajaran fenomenologi dari Husserl. Dari situ ialah yang menjadi pengibar eksistensialis atheis yang merupakan turunan dari pemikir sebelumnya seperti Nietzsche dan Heidegger.
Sartre dan Simone de Beauvoir 
Dalam eksistensialis atheis, Sartre berpandangan bahwa manusia itu terjadi begitu saja. Dan tujuan hidup manusia adalah mengada. Manusia berpegangan pada sesuatu atau keyakinan dalam mencapai sebuah tujuan dan lazimnya pada Tuhanlah manusia itu bergelantungan, namun seorang pengikut eksistensialis atheis menganggap Tuhan itu tidak ada. Ia cuma proyeksi dari sebentuk imaji yang diyakini, yang bagi mereka,oleh kaum yang menganggap Tuhan itu ada. Bagi eksistensialis atheis, jika Tuhan itu ada lantas apa buktinya?
Sartre menyatakan bahwa eksistensi ada sebelum esensi yang berarti manusia tidak memiliki apa pun ketika dilahirkan, dan sepanjang hidupnya manusia adalah hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya. Yang terkenal dari Sartre dan sering dikutip banyak dalam berbagai penelitian adalah kata-kata tentang eksistensialisme itu,bahwa manusia dikutuk untuk bebas(human condemned to be free).Sebagai contoh yang telah dituliskan sartre dalam bukunya Eksistensialisme dan Humanisme,saya akan mengadaptasi sebuah contoh mengenai kebebasan manusia dalam memilih sesuatu yang berhubungan dengan dialektika pemikiran seseorang ketika ia harus memilih satu di antara pilihan yang menentukan nasib atau garis hidup pada waktu itu.
Semisal ketika seorang petani muda memilih ikut dalam panji-panji revolusi dan memenangkan sebentuk ideologi ataukah tetap merawat ladangnya dan menghasilkan uang baginya dan keluarga di sisinya,ia akan memilih sebelum mempertanyakan pada seseorang ataupun pada hatinya.Itulah kehendak.Ia barangkali memilih ikut dalam revolusi atau masih tinggal di pedesaan. Dan itu merupakan pilihannya sendiri dan sejak sebermula merupakan pilihan yang telah ia tentukan demi dirinya sendiri sebagai seorang manusia.Jikapun ia tetap berladang,revolusi pun pasti masih tetap akan berlangsung dan menggulingkan rezim sebelumnya. Atau jika ia memilih ikut hingar bingar revolusi,setelah menangpun ia tetap harus berladang.Sebab keputusan dan tanggung jawab ada pada dirinya sendiri,dan pada saat memilih inilah yang disebut kebebasan. Orang lain tidak bisa memaksakan kehendak seseorang dalam hal apapun karena pilihan itu tadi telah dipilih orang  itu sebagai sebuah pilihan terbaik.

Rabu, 06 November 2013

Kajar



:a

barisan cemara bersidekap sekian abad
kami datang,menunaikan keinginan mesra
piknik anak-anak yang beranjak dewasa
meninggalkan kota mencari tempat terbuka
yang bagi mereka,adalah rumah pulang kedua
pada hari-hari sibuk dan menjengkelkan

“di kajar,kita temukan wangi jagung terbakar”

kamu ingin foto di samping sepeda sama si kuncung;
patung bocah yang tersenyum membawa ranting
dari gunung.kamu menggapai tangan-tangan
yang sudah kita kenali sebagai kehidupan bersahabat
dari dahan-dahan pohon meneteskan embun
meski matahari telah melipat fajar

“di kajar,kita amini reuni bagi kasih bertumbuh”

berjalan di punggung pohon-pohon
angin melepas kerinduannya,ke tubuh kita
seraya desir pucuk-pucuk daun,bergoyang lembut
aku memejam sebentar.mengapung di keluasan

di kampung dingin itu,tikar bambu yang kita lembarkan
serta kebahagiaan luas.sepanjang kecil bukit demi bukit
langit biru menyertai langkahku.setelah kelok cakrawala
beruban dan menua jadi senja minggu yang khidmat
menerobos binar-binar matamu,suara waktu menyeru:

“kajar adalah kita,cintaku!”

2013