Senin, 08 Juli 2013

Rhapsodi


“Berlatihlah sampai melampaui batas diri kemampuanmu”
--Dina Rahmatika

Akan kubiarkan kenangan dari kartu-kartu:
sekop,batu bata dan dua joker yang tak pernah berguna
untuk menguburku dalam pasir waktu

Dua tanganku menggenggam airmata
tapi milik siapa,aku tak tahu
atau itukah,bahwa tangis sebenarnya dibawa hanya
sebagai luapan yang berlebih

Seperti cahaya ramah yang memasuki ruangan kelas
dan fisika yang selalu membingungkan

Maka kalian telah menyaksikanku
begitu keropos dari waktu ke waktu
karena tiap tanggal kelopak mawar
akan ada yang lenyap atau pudar

Susunlah warna-warni persegi rubik itu
hingga tak ada yang harus ditinggalkan
tak ada yang ditanggalkan
persis almanak-almanak yang menanti ujian

Dan tiap gugur dedaunan atau mekar bunga pagi sembilan,
merasuki bel-bel yang merdu menggenta,
kutemukan pak guru mengajar matematika
lalu kita tergagap dan begitu dosa
sebab selalu takut maju ke depan wajahnya

Dua burung gereja di atap pohon cemara kerdil
selalu melagukan kesusahan kita
mengingat rumus-rumus kimia

**

Barangkali cuma aku yang sekadar mengingat-ingat
kejadian di mana cinta sangat menyakitkan
sepenggal raut wajahmu yang berada di pojok
selalu aku amini sebagai berkah
dan kesejahteraan yang kupanjatkan pada tuhan

Betapa terlenanya kita menelurkan kesudahan-kesudahan
yang bagimu,mungkin,tak berarti apapun
tapi selalu menimbulkan kesan mendalam
karena siapapun ia yang menaungi tubuhmu dengan payung kasih
adalah kebahagiaan tanpa benar-benar aku yakini

Salju matamu yang meleleh tiap kali tertampar angin Maret
menjelang taruhan akhir dari bergantang-gantang ilmu
yang kita terima,adalah gita yang aku maksudkan sama,-
kepada yang esa

Di sebuah perahu kertas yang kulipat dengan hati-hati,
aku berharap tiap kali air hujan yang menyinggahi lambungnya
akan mengantarkan perahu ke muara cita-cita
meski hujan sangat ganas di bulan-bulan romantis

**
Akan kubiarkan kenangan menelususri jalan akhirnya
entah terbuang ke muara lupa atau mengendap di telaga ingat
biar,tiap penggal yang menyusunnya menjadi lagu
yang hanya aku yang dapat menyanyikannya

2 komentar:

  1. sajak yang panjang membutuhkan perasaan dan niat yang teguh, Gus.

    catatan: endapkan lebih dalam lagi ketika ingin memilih metafora. aku rasa kau gagal ketika memilih metafora -muara lupa- dan -telaga ingat-, ini akan tertangkap sebagai tempelan yang dipaksakan. sayang sekali bukan, jika personasifikasi-personasifikasi yang sudah hidup dan berjalan mesti lumpuh oleh metafora

    , takzimku

    BalasHapus
  2. Terima kasih Mas Arif,maklum amatir...memang yang terakhir mungkin agak dipaksakan dan terkesan merusak,saya akan memperbaikinya dan mencari-cari apa yang lebih tepat sebagai pungkasan sajak ini,terima kasih mas Arif sudi mengkritik saya,sangat berkesan dan membuat semangat,salam hormat...

    BalasHapus