“Berlatihlah
sampai melampaui batas diri kemampuanmu”
--Dina Rahmatika
Akan kubiarkan kenangan dari
kartu-kartu:
sekop,batu bata dan dua joker
yang tak pernah berguna
untuk menguburku dalam pasir
waktu
Dua tanganku menggenggam airmata
tapi milik siapa,aku tak tahu
atau itukah,bahwa tangis
sebenarnya dibawa hanya
sebagai luapan yang berlebih
Seperti cahaya ramah yang
memasuki ruangan kelas
dan fisika yang selalu
membingungkan
Maka kalian telah menyaksikanku
begitu keropos dari waktu ke
waktu
karena tiap tanggal kelopak mawar
akan ada yang lenyap atau pudar
Susunlah warna-warni persegi
rubik itu
hingga tak ada yang harus
ditinggalkan
tak ada yang ditanggalkan
persis almanak-almanak yang
menanti ujian
Dan tiap gugur dedaunan atau
mekar bunga pagi sembilan,
merasuki bel-bel yang merdu
menggenta,
kutemukan pak guru mengajar
matematika
lalu kita tergagap dan begitu
dosa
sebab selalu takut maju ke depan
wajahnya
Dua burung gereja di atap pohon
cemara kerdil
selalu melagukan kesusahan kita
mengingat rumus-rumus kimia
**
Barangkali cuma aku yang sekadar
mengingat-ingat
kejadian di mana cinta sangat menyakitkan
sepenggal raut wajahmu yang
berada di pojok
selalu aku amini sebagai berkah
dan kesejahteraan yang
kupanjatkan pada tuhan
Betapa terlenanya kita menelurkan
kesudahan-kesudahan
yang bagimu,mungkin,tak berarti
apapun
tapi selalu menimbulkan kesan
mendalam
karena siapapun ia yang menaungi
tubuhmu dengan payung kasih
adalah kebahagiaan tanpa
benar-benar aku yakini
Salju matamu yang meleleh tiap
kali tertampar angin Maret
menjelang taruhan akhir dari
bergantang-gantang ilmu
yang kita terima,adalah gita yang
aku maksudkan sama,-
kepada yang esa
Di sebuah perahu kertas yang
kulipat dengan hati-hati,
aku berharap tiap kali air hujan
yang menyinggahi lambungnya
akan mengantarkan perahu ke muara
cita-cita
meski hujan sangat ganas di
bulan-bulan romantis
**
Akan kubiarkan kenangan
menelususri jalan akhirnya
entah terbuang ke muara lupa atau
mengendap di telaga ingat
biar,tiap penggal yang menyusunnya
menjadi lagu
yang hanya aku yang
dapat menyanyikannya
sajak yang panjang membutuhkan perasaan dan niat yang teguh, Gus.
BalasHapuscatatan: endapkan lebih dalam lagi ketika ingin memilih metafora. aku rasa kau gagal ketika memilih metafora -muara lupa- dan -telaga ingat-, ini akan tertangkap sebagai tempelan yang dipaksakan. sayang sekali bukan, jika personasifikasi-personasifikasi yang sudah hidup dan berjalan mesti lumpuh oleh metafora
, takzimku
Terima kasih Mas Arif,maklum amatir...memang yang terakhir mungkin agak dipaksakan dan terkesan merusak,saya akan memperbaikinya dan mencari-cari apa yang lebih tepat sebagai pungkasan sajak ini,terima kasih mas Arif sudi mengkritik saya,sangat berkesan dan membuat semangat,salam hormat...
BalasHapus