kelak kamu temukan sesumbang panggilan
kepadamu di ujung jauh merambati udara
menebangi daun-daun menuju telingamu.
entah,sayup-sayup atau jelas,kamu dengar
seperti dentang lonceng pada subuh.aku
berjalan menuju telingamu,membisikkan
kata-kata yang menggelikan,gemetar
sedang rembulan ingin menutup tubuhnya
yang telanjang karena terlalu cerlang.
ketulian merajut nada-nada
dan kita selalu mendengarnya:
kotak dengan patung sepasang pedansa.
kamu akan melukis bunga kuning warna.
matahari telah datang dan seonggok telinga,
terhempas ke lantai.sebab kesepian sudah menjaram
sungguhpun jika kata-kata punya lawannya
namun,ia yang sendiri mesti membebat lubang
darah yang mengalir dari penangkap suara.
dari tanganmu,apabila cahaya tengah sesumbar
semburat dari mata suar,seperti matahari-matahari
kecil yang berpinak,menggelantung pada jemari.
dan kaki-kaki nasab bilqis itu,menjuntai
memancarkan aroma adam yang baru pertama
menemukan hawa dari patahan rusuknya:
orgas! orgas!
kuda-kuda manchuria berlari di rumbing rambutmu
mereka selalu memboneka sebagai penebar wangi
ranum dirimu meski tanpa kata-kata.
tiap kali kesusahan memunculkan dirinya padamu
aku teringat maria yang bersusah menggapai kurma
setelah melahirkan seorang nabi.
dan panggilan-panggilan itu:
“leny…leny…”
adalah sekadar suara tersisih lidah
seseorang dengan hidup
terasing dan dangkal
bagai manusia jahiliyah
:aku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar