Rabu, 05 Juni 2013

Topeng



TOPENG SEBUAH KOTA

malam jalan-jalan hitam melampukan debu yang berkeling dibias cahaya. aku menemukan kaleng-kaleng waktu dicampak jarum jam menjauh oleh seorang pesepi yang terpekur memandang aspal. sempoyongan kubawa suara kakiku melewati toko-toko yang memajang manekin kesepian di etalasenya. kota di malam hari tersiram gerimis tak henti, menyerbuki lenguh para pemintal keringat dari balik kegelapan sudut-sudut tak terlihat. wajah-wajah dengan bibir merah rona dan sebatang rokok yang sulit kulupakan,juga gerombolan lelaki berpayudara yang menawarkan duburnya untuk mencekik menara-menara pisa para lelaki dahaga. kapal-kapal pecah di dermaga menurunkan bawaannya. dan satu per satu ada yang lekas pulang seperti airmata atau dingin yang membuatmu meninggikan kerah jaket. lidah laut yang menjulang-julang menjilam bangkai camar sekarat di pusarannya. terhisap! terhisaplah! pantai marina betul-betul senyap dengan desakan fajar yang menyilaukan. ‘dulu…dulu sekali,pernah ada yang menguntal ombak di segara ini,dengan janji manis di tanjung;di pertemuan segala yang jadi berujung’. luka-luka yang menggantikan bangunan-bangunan londo,menggarit mataku yang nanar,tiap kali aku mengunjungi mimpi yang diusap air lautnya.

 ‘sesekali rob datang membawa bau amis dan menggenangi got dan tikus-tikus mungkin berenangan dengan ikan badut atau membangkai biar lebih menggarami air asin itu dengan belatung busuk’. maka aku berkata penuh-penuh pada orang tua yang menggerus garam di pagi buta,bahwa,kristal-kristal empuk yang ia bawa dipanggang matahari langit biru,bakal betah jadi nafas gurih penyambung lidah suara-suara yang kerap putus atau malah membisu jika bertemu gadis yang mereka cinta. sebab mereka tahu, seorang penyair bisa sangat gampang jatuh hati pada perempuan,seperti sebatang lilin yang luntur dan meleleh karena api1. adakah engkau membuat tempat seriuh pelabuhan dalam hatimu, untuk dilabuhi dan dipenuhinya burung-burung camar;burung-burung yang adam: memekik lapar mengintai ikan-ikan di kelopak mata anggun itu? --pertanyaanku terbentur pada bopeng rembulan yang terus kupandang jika aku bertemu dengan ruas jalan menuju marina penuh truk dan orang-orang bercakap mengenai keadaan laut kegumpalan kabut. lalu di bawah kabut perjalanan laut, gundukan batu-batu angin menindihku, menyekap udara nafas-nafas panjangku. ‘kelasi…kelasi…rempah yang dibawa menuju pergolakan samudra dan capai di tanahmu yang penuh tulip itu,tak pernah kami rasai sebelumnya benar-benar. sebab jatuh cinta mungkin sebumbu berharganya; jahe,kunyit,asam jawa,lada atau seaduh pecut orang-orangmu pada kami yang membangun jalan dari anyer hingga panarukan’.

dan melalui laut,semua ribut itu disampaikan kepada senja yang belum kunjung turun sebelum warna langit berubah jingga. engkau pernah bertanya,’mengapa laut menggembirai pasir-pasir lidah pantainya yang terus saja usang dengan ludah amisnya,seperti kau mengolesi badanmu dengan buih sabun jika ingin mandi?’.cahaya berenang di muka riak gelombang,tersedak-sedak di tepian moncong kapal yang menerjang gelombang dengan kecepatan penuh,itulah mengapa cahaya dari matahari seperti pecah-pecah dan menyayat-nyayat kulit laut yang tak bisa tembus dan berdarah. tadinya,obor-obor malam yang berawal dari kedua mataku ketika melihat seluas kesingupan,terus-menerus menembusi kelam. kau telah dipanggil oleh sebuah sesuatu yang tak bernama tak bernyawa.

dihisaplah kamu,jauh-jauh luruh-luruh dengan perahu dan seorang tukang. bukan mati,namun meninggalkan rumah yang bertempat di balik dadaku. terus saja berjalan,aku membayangkan gereja tua itu membunyikan lonceng yang telah tiada,aku menjalar melewati kota yang telah berganti rupa di siang hari. kota dengan derum kendaraan dan keloneng becak yang lewat menggulirkan waktu2 yang merintih kala melahirkan sunyi-sunyi ketika malam mengajariku bermain petak umpet di sudut-sudut lautnya yang kasar. entah mengapa, aku ingin bersembunyi saja lagi,seperti bocah yang dulu kukenal dalam diri,jadi rahasia. di mana orang-orang akan mencariku, dan jaman terus berputar menelurkan tahun-tahun berlalu. sampai mereka tak tahu,kalau aku telah jadi tua;setua marba.

2013

----
1 : Frischa,Mazmur Musim Sunyi –Sulaiman Djaya
2 : Sepanjang Braga,Tulisan pada Tembok—Acep Zamzam Noor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar