TOPENG SEBUAH KOTA
malam
jalan-jalan hitam melampukan debu yang berkeling dibias cahaya. aku menemukan
kaleng-kaleng waktu dicampak jarum jam menjauh oleh seorang pesepi yang terpekur
memandang aspal. sempoyongan kubawa suara kakiku melewati toko-toko yang
memajang manekin kesepian di etalasenya. kota di malam hari tersiram gerimis
tak henti, menyerbuki lenguh para pemintal keringat dari balik kegelapan
sudut-sudut tak terlihat. wajah-wajah dengan bibir merah rona dan sebatang
rokok yang sulit kulupakan,juga gerombolan lelaki berpayudara yang menawarkan
duburnya untuk mencekik menara-menara pisa para lelaki dahaga. kapal-kapal
pecah di dermaga menurunkan bawaannya. dan satu per satu ada yang lekas pulang
seperti airmata atau dingin yang membuatmu meninggikan kerah jaket. lidah laut
yang menjulang-julang menjilam bangkai camar sekarat di pusarannya. terhisap!
terhisaplah! pantai marina betul-betul senyap dengan desakan fajar yang menyilaukan.
‘dulu…dulu sekali,pernah ada yang menguntal ombak di segara ini,dengan janji
manis di tanjung;di pertemuan segala yang jadi berujung’. luka-luka yang
menggantikan bangunan-bangunan londo,menggarit
mataku yang nanar,tiap kali aku mengunjungi mimpi yang diusap air lautnya.
‘sesekali rob datang membawa bau amis dan
menggenangi got dan tikus-tikus mungkin berenangan dengan ikan badut atau
membangkai biar lebih menggarami air asin itu dengan belatung busuk’. maka aku
berkata penuh-penuh pada orang tua yang menggerus garam di pagi
buta,bahwa,kristal-kristal empuk yang ia bawa dipanggang matahari langit
biru,bakal betah jadi nafas gurih penyambung lidah suara-suara yang kerap putus
atau malah membisu jika bertemu gadis yang mereka cinta. sebab mereka tahu, seorang penyair bisa sangat gampang jatuh
hati pada perempuan,seperti sebatang lilin yang luntur dan meleleh karena api1. adakah engkau membuat tempat seriuh pelabuhan dalam hatimu, untuk
dilabuhi dan dipenuhinya burung-burung camar;burung-burung yang adam: memekik
lapar mengintai ikan-ikan di kelopak mata anggun itu? --pertanyaanku terbentur
pada bopeng rembulan yang terus kupandang jika aku bertemu dengan ruas jalan
menuju marina penuh truk dan orang-orang bercakap mengenai keadaan laut
kegumpalan kabut. lalu di bawah kabut perjalanan laut, gundukan batu-batu angin
menindihku, menyekap udara nafas-nafas panjangku. ‘kelasi…kelasi…rempah yang
dibawa menuju pergolakan samudra dan capai di tanahmu yang penuh tulip itu,tak
pernah kami rasai sebelumnya benar-benar. sebab jatuh cinta mungkin sebumbu
berharganya; jahe,kunyit,asam jawa,lada atau seaduh pecut orang-orangmu pada
kami yang membangun jalan dari anyer hingga panarukan’.
dan
melalui laut,semua ribut itu disampaikan kepada senja yang belum kunjung turun
sebelum warna langit berubah jingga. engkau pernah bertanya,’mengapa laut
menggembirai pasir-pasir lidah pantainya yang terus saja usang dengan ludah
amisnya,seperti kau mengolesi badanmu dengan buih sabun jika ingin mandi?’.cahaya
berenang di muka riak gelombang,tersedak-sedak di tepian moncong kapal yang
menerjang gelombang dengan kecepatan penuh,itulah mengapa cahaya dari matahari
seperti pecah-pecah dan menyayat-nyayat kulit laut yang tak bisa tembus dan
berdarah. tadinya,obor-obor malam yang berawal dari kedua mataku ketika melihat
seluas kesingupan,terus-menerus menembusi kelam. kau telah dipanggil oleh
sebuah sesuatu yang tak bernama tak bernyawa.
dihisaplah
kamu,jauh-jauh luruh-luruh dengan perahu dan seorang tukang. bukan mati,namun
meninggalkan rumah yang bertempat di balik dadaku. terus saja berjalan,aku
membayangkan gereja tua itu membunyikan lonceng yang telah tiada,aku menjalar
melewati kota yang telah berganti rupa di siang hari. kota dengan derum kendaraan dan keloneng becak yang
lewat menggulirkan waktu2
yang merintih kala melahirkan sunyi-sunyi ketika malam mengajariku bermain
petak umpet di sudut-sudut lautnya yang kasar. entah mengapa, aku ingin
bersembunyi saja lagi,seperti bocah yang dulu kukenal dalam diri,jadi rahasia.
di mana orang-orang akan mencariku, dan jaman terus berputar menelurkan
tahun-tahun berlalu. sampai mereka tak tahu,kalau aku telah jadi tua;setua
marba.
2013
----
1 : Frischa,Mazmur Musim Sunyi –Sulaiman Djaya
2 : Sepanjang Braga,Tulisan pada Tembok—Acep Zamzam Noor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar