aku ingin menyimpanmu
dalam sebuah pigura
yang tertutup hitam kabut
atau mendung yang tiba-tiba
sebab ketakutanku
seperti barisan udang-udang
bersembunyi di balik batu
jika riak sungai terlalu gema
adalah kesepian yang akrab
bercakap kala pagi terbangun
dan rombongan burung gereja
menggigil menyisiri bulunya
selepas hujan menyapa lembut
kecemasanku,sebab kehilangan
adalah kesedihan yang teramat
dan telah kurelakan lapang-lapang
kau bebani aku
seperti si pendosa sisiphus
maka dengan ini,semoga
melupakanmu dalam tempo
yang sesingkat-singkatnya
2013
Sabtu, 29 Juni 2013
Rabu, 26 Juni 2013
Sajak Amatir
Serenada 2
kamu sering lupa,di mana pernah meletakkan
puluhan kedip matamu dari daun-daun gugur
lembar-lembar buku yang kuberikan
sebagai bantal pengisi waktu tidurmu
dan buku sajak tentang cinta,
tak pernah kau rasai benar-benar
kamu sering,bahkan entah kali keberapa
mengencani angin yang asing yang cuma
terus-menerus menyiksa daun,tirai
membelahi bulu-bulu angsa yang ganih
sebab angin itu kesepian-kesepianmu
yang asyik bermain-main dengan mulut kami
mendengungkan partitur,yang mungkin
dari salzburg atau belfast
kamu sering membungkusnya dan meninggalkan
lama-lama di dalam koper untuk kamu tukar
dengan kebahagiaan-kebahagiaan percuma
meski yang engkau lipat itu
kau rasai,cuma secuil kecil hati:milikku
Serenada
entah kapan aku menemukan cahaya bulan
bintang-bintang nampak meski langit mendung
lolong anjing yang lapar menggarit telinga
atau kemunculan percintaan beberapa tokoh
romeo-juliet,sampek-engtay,mendut-pronocitro
melepaskan jerit-jerit keagungan kasih
yang rindu satu sama lain walau terpendam
dalam--
menelusuri garis malam burung-burung sunyi
bersahut di lindap pohon,daun-daun kapuk
gugur,angin selatan berkibar menggeseki
dan entah kapan aku menemui lagi rembulan
bintang-bintang tampak di dalam kelam
kesepian membakar dalam hidup yang merdeka
sepisau tajam karena mata aku luka digariti
digurati beberapa potongan-potongan
wajahmu yang selalu menertawakanku
untuk setiap kebodohan yang kubelah
dalam tajam tumpul kata-kataku
entah kapan,kapan datang waktu
yang benar-benar menggusurmu
seperti ingsut pasir sebab angin
dan mengubur bangkai camar
di tepi pantai
bintang-bintang nampak meski langit mendung
lolong anjing yang lapar menggarit telinga
atau kemunculan percintaan beberapa tokoh
romeo-juliet,sampek-engtay,mendut-pronocitro
melepaskan jerit-jerit keagungan kasih
yang rindu satu sama lain walau terpendam
dalam--
menelusuri garis malam burung-burung sunyi
bersahut di lindap pohon,daun-daun kapuk
gugur,angin selatan berkibar menggeseki
dan entah kapan aku menemui lagi rembulan
bintang-bintang tampak di dalam kelam
kesepian membakar dalam hidup yang merdeka
sepisau tajam karena mata aku luka digariti
digurati beberapa potongan-potongan
wajahmu yang selalu menertawakanku
untuk setiap kebodohan yang kubelah
dalam tajam tumpul kata-kataku
entah kapan,kapan datang waktu
yang benar-benar menggusurmu
seperti ingsut pasir sebab angin
dan mengubur bangkai camar
di tepi pantai
Rabu, 05 Juni 2013
Topeng
TOPENG SEBUAH KOTA
malam
jalan-jalan hitam melampukan debu yang berkeling dibias cahaya. aku menemukan
kaleng-kaleng waktu dicampak jarum jam menjauh oleh seorang pesepi yang terpekur
memandang aspal. sempoyongan kubawa suara kakiku melewati toko-toko yang
memajang manekin kesepian di etalasenya. kota di malam hari tersiram gerimis
tak henti, menyerbuki lenguh para pemintal keringat dari balik kegelapan
sudut-sudut tak terlihat. wajah-wajah dengan bibir merah rona dan sebatang
rokok yang sulit kulupakan,juga gerombolan lelaki berpayudara yang menawarkan
duburnya untuk mencekik menara-menara pisa para lelaki dahaga. kapal-kapal
pecah di dermaga menurunkan bawaannya. dan satu per satu ada yang lekas pulang
seperti airmata atau dingin yang membuatmu meninggikan kerah jaket. lidah laut
yang menjulang-julang menjilam bangkai camar sekarat di pusarannya. terhisap!
terhisaplah! pantai marina betul-betul senyap dengan desakan fajar yang menyilaukan.
‘dulu…dulu sekali,pernah ada yang menguntal ombak di segara ini,dengan janji
manis di tanjung;di pertemuan segala yang jadi berujung’. luka-luka yang
menggantikan bangunan-bangunan londo,menggarit
mataku yang nanar,tiap kali aku mengunjungi mimpi yang diusap air lautnya.
‘sesekali rob datang membawa bau amis dan
menggenangi got dan tikus-tikus mungkin berenangan dengan ikan badut atau
membangkai biar lebih menggarami air asin itu dengan belatung busuk’. maka aku
berkata penuh-penuh pada orang tua yang menggerus garam di pagi
buta,bahwa,kristal-kristal empuk yang ia bawa dipanggang matahari langit
biru,bakal betah jadi nafas gurih penyambung lidah suara-suara yang kerap putus
atau malah membisu jika bertemu gadis yang mereka cinta. sebab mereka tahu, seorang penyair bisa sangat gampang jatuh
hati pada perempuan,seperti sebatang lilin yang luntur dan meleleh karena api1. adakah engkau membuat tempat seriuh pelabuhan dalam hatimu, untuk
dilabuhi dan dipenuhinya burung-burung camar;burung-burung yang adam: memekik
lapar mengintai ikan-ikan di kelopak mata anggun itu? --pertanyaanku terbentur
pada bopeng rembulan yang terus kupandang jika aku bertemu dengan ruas jalan
menuju marina penuh truk dan orang-orang bercakap mengenai keadaan laut
kegumpalan kabut. lalu di bawah kabut perjalanan laut, gundukan batu-batu angin
menindihku, menyekap udara nafas-nafas panjangku. ‘kelasi…kelasi…rempah yang
dibawa menuju pergolakan samudra dan capai di tanahmu yang penuh tulip itu,tak
pernah kami rasai sebelumnya benar-benar. sebab jatuh cinta mungkin sebumbu
berharganya; jahe,kunyit,asam jawa,lada atau seaduh pecut orang-orangmu pada
kami yang membangun jalan dari anyer hingga panarukan’.
dan
melalui laut,semua ribut itu disampaikan kepada senja yang belum kunjung turun
sebelum warna langit berubah jingga. engkau pernah bertanya,’mengapa laut
menggembirai pasir-pasir lidah pantainya yang terus saja usang dengan ludah
amisnya,seperti kau mengolesi badanmu dengan buih sabun jika ingin mandi?’.cahaya
berenang di muka riak gelombang,tersedak-sedak di tepian moncong kapal yang
menerjang gelombang dengan kecepatan penuh,itulah mengapa cahaya dari matahari
seperti pecah-pecah dan menyayat-nyayat kulit laut yang tak bisa tembus dan
berdarah. tadinya,obor-obor malam yang berawal dari kedua mataku ketika melihat
seluas kesingupan,terus-menerus menembusi kelam. kau telah dipanggil oleh
sebuah sesuatu yang tak bernama tak bernyawa.
dihisaplah
kamu,jauh-jauh luruh-luruh dengan perahu dan seorang tukang. bukan mati,namun
meninggalkan rumah yang bertempat di balik dadaku. terus saja berjalan,aku
membayangkan gereja tua itu membunyikan lonceng yang telah tiada,aku menjalar
melewati kota yang telah berganti rupa di siang hari. kota dengan derum kendaraan dan keloneng becak yang
lewat menggulirkan waktu2
yang merintih kala melahirkan sunyi-sunyi ketika malam mengajariku bermain
petak umpet di sudut-sudut lautnya yang kasar. entah mengapa, aku ingin
bersembunyi saja lagi,seperti bocah yang dulu kukenal dalam diri,jadi rahasia.
di mana orang-orang akan mencariku, dan jaman terus berputar menelurkan
tahun-tahun berlalu. sampai mereka tak tahu,kalau aku telah jadi tua;setua
marba.
2013
----
1 : Frischa,Mazmur Musim Sunyi –Sulaiman Djaya
2 : Sepanjang Braga,Tulisan pada Tembok—Acep Zamzam Noor
Fantom
Selembar Foto
di sanalah
bibirku sujud begitu runtuh
semacam
ajakan,menarik tanganku
kuat-kuat,belenggu
paling nikmat
melepaskan
kecemasan jantung
yang
berdegup kencang tiap kali
aku berada
di dekatmu
hari-hariku
kaujadikan begitu riuh
di
situ,tepat kedua lebat alismu
ada warna
langit yang tinggal
setelah
tanggal dari waktu malam
tapi
bintang-bintang itu,kekasih
tetap kedua
sorot matamu
dalam hujan
cahaya penuh kecintaan
ijinkan
harum rambutmu tinggal lama
di sebuah
ingatan tentang piknik
yang
sekali-kali direncanakan tapi batal
karena cuaca
jadi pemarah dan cemburu
sebab hari
sabtu atau minggu selalu sibuk
mengatur
keluarga yang ingin membenarkan
kebahagiaan
di rumah-rumah ayah-ibu
aku ingin
mengajakmu di taman hijau itu
tepat dengan
bangku kosong yang memanggil
kita bisa
membicarakan tentang buku
yang mungkin
tak pernah kau suka;
atau rencana
bepergian ke tempat nyaman
yang selalu
kau suka
jendela
menangkap wajahmu,di gambar
dengan
senyum dan rambut panjang
padahal
engkau tak ada,tapi selalu ada.
2013
Selasa, 04 Juni 2013
Akuarium
![]() |
| gambar diambil dari :dreamaquarium.com |
Akuarium
kusaksikan
ikan-ikan mulai sangsi satu sama lain
sebab sinar
neon biru bertumpu di atas kepala mereka,
selalu
membisik-menghasut kepada sesamanya
agar salah
satu terpancing angin darat dan sekarat
aku ingin
memancing,di sebuah minggu yang perdu
ikan-ikan
yang lagi dengki jadi peliharaanku,kulepas
setelah
mereka dimakan oleh yang lain.ikan-ikan
berjalan-jalan
memenuhi mall dan supermarket
membeli
manusia-manusia yang dulu meracuni tempatnya;
ingin mereka
seperti itu,namun tuhan punya kehendak lain
di dalam
kehidupan yang begitu palsu,terperangkap
ikan-ikan
meski berwarna-warni,namun memudar
ketika
tahu,jarak begitu sempit untuk dilalui
tak ada
pemandangan lain,hanya sebuah karang merah
kerikil-kerikil
kecil berwarna yang luntur tergerus musim air
kusaksikan
manusia seperti ikan-ikan dalam kotak kaca
yang begitu
kikuk,sesekali menghisap udara ke atas
membacai
berbagai tanda tetapi tetap saja tak tahu zaman
bergerak
meninggalkan mereka;yang begitu debu di dunia.
2013
Langganan:
Komentar (Atom)
