jari-jari dunia membawamu luruh
dengan apa kamu mesti kembali?
seusai jejak cuma yang membekas
dan ingatan menyimpan penuh
aku telah lama lupa mengunjungi
padang,di mana kuda-kuda lepas
berlari jauh,suara-suara membahana
menjangkau luasannya yang hijau
sebuah benteng penuh penjaga
aku tahu,engkau ada di menaranya
menjatuhkan sapu tangan tolong
orang-orang itu telah lama menelanmu
mereka mengunyah jantung merahmu
mengapa engkau tetap mendekapnya
mengapa kamu masih saja berdua
akulah penyamun di setiap senyumanmu
bahwa derita adalah mantra yang tepat
untuk kebahagiaan seorang perawan
aku masih ingat sebuah situasi:
angin tiada absen menghantar senyummu
dan aku,terdiam untuk bersembunyi
memandangnya,menghentikkan detik
setelah engkau tak ada,hanya angin
yang bermusik menjatuhkan daun tua
setiap jejak masih beradu kenangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar