Menulis Sajak
Jelek
aku akan mulai dengan membuka buku
berlembar kata kata yang mengikat diri
menyatu
seperti senggama kupu-kupu di hampar udara,--
lalu tujuh kurcaci melompat tiba tiba ke
depan buku—
“ini sonet yang kau cari,--kau curi untuk
kekasihmu!”
“inikah elegi yang kau beli,--menampung
airmata perpisahan?—cengeng!”
“nah,ini hymne untukmu,--penyair busuk yang
tak laku laku”
“wow…,pasti ini,inikah sebuah kutu,kenapa
mesti ada di buku?”
“kutu dan buku memang menyatu,baunya
meninggalkan sejarah dan nota,--
siapa siapa saja yang telah membukanya untuk
menyisir rambut kata-nya.”
“kutu buku? itu
kan penyair bodoh ini? dia sering meniru bunga
sebagai bentuk pipi ranum gadis jelita.”
“nyanyikan pula
requiem kepada batu batu yang mati di tepi kali,--
mereka akan
menjelma pesaksi,
yang menyaksikan
ketololanmu bermain main puisi.”
merah,kuning,hijau,biru,jingga,hitam,ungu,--kurcaci
busuk mematahkan bacaanku.
sekali
kali,kalian baca bacalah buku dan tempelkan kutu.
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar