Senin, 26 November 2012

Menulis



Menulis Sajak Jelek

  aku akan mulai dengan membuka buku
  berlembar kata kata yang mengikat diri menyatu
  seperti senggama kupu-kupu di hampar udara,--
  lalu tujuh kurcaci melompat tiba tiba ke depan buku—

    “ini sonet yang kau cari,--kau curi untuk kekasihmu!”
    “inikah elegi yang kau beli,--menampung airmata perpisahan?—cengeng!”
   “nah,ini hymne untukmu,--penyair busuk yang tak laku laku”
   “wow…,pasti ini,inikah sebuah kutu,kenapa mesti ada di buku?”
   “kutu dan buku memang menyatu,baunya meninggalkan sejarah dan nota,--
  siapa siapa saja yang telah membukanya untuk menyisir rambut kata-nya.”
“kutu buku? itu kan penyair bodoh ini? dia sering meniru bunga
  sebagai bentuk pipi ranum gadis jelita.”
“nyanyikan pula requiem kepada batu batu yang mati di tepi kali,--
mereka akan menjelma pesaksi,
yang menyaksikan ketololanmu bermain main puisi.”

merah,kuning,hijau,biru,jingga,hitam,ungu,--kurcaci busuk mematahkan bacaanku.
sekali kali,kalian baca bacalah buku dan tempelkan kutu.

2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar