Selasa, 20 November 2012

Esai



Puisi,Hanya Kata-kata Bumi
oleh:Bagus Burham*
Puisi bukan sesuatu yang sabil.Mereka datang di pikir para penyair dengan kata-kata yang hanya dirangkai namun memiliki semantik arti.Puisi bukan dogma,ia abu-abu tak memilih kemana.Puisi yang telus hanya mencerahkan dan membayang saja.Dalam hal ini puisi hanya rapalan dari seorang dukun kepada para pendengar setianya.Entah puisi itu didengar ataupun tidak,puisi itu abadi atau tidak,puisi bukanlah wahyu.Ia hanya kata-kata yang menggelinjang menelusup ke urat nadi.Skeptisisasi ini mendasar pada sifat Ketuhanan,bahwasanya puisi hanya alat menyampaikan sesuatu seputar dunia.Sesuatu fana.Jika puisi itu merupakan puisi religi,maka puisi hanya menguatkan kata-kata dalam berkeyakinan.Jika itu puisi seputar cinta,maka berkutatlah cinta pada tubuhnya.Tak ada yang berarti hanya estetika dan kepopuleran penyair yang bernyanyi.Bagaimana kita menyikapi puisi?Ya,sebagai pendengar maupun penggubah,hendaknya jangan begitu larut terhadap puisi.Sesekali puisi boleh menyentuh nadi,tapi masih ada yang lebih sabil ketimbang bentuk puisi.Kehidupan yang akan datang,akan ditentukan dari cara kita hidup di bumi.Puisi pula.Puisi hanya fana.Kata-kata puitis telah lahir di kitab-kitab yang selama ini kita imani.Jadi,puisi hanya sebagai mainan saja.Mainan kita untuk mempercantik dunia agar lebih berarti dengan hidup di kerubungi kata-kata,namun pula jangan lupa dengan kitab yang kita yakini kebenarannya.Puisi hanya alat,permainan,kotak-kotak untuk menyimpan kata-kata yang tak ada di dalam kitab.
Puisi yang Harus Terus Di Ingat
Kita mungkin terkesan-kagum dengan sajak macam Wasteland- T.S. Eliot,Endymion-John Keats atau Nyanyian Angsa WS Rendra yang sampai kini belum mampu ditandingi penyair Indonesia manapun.Namun sebagai penggubah ataupun pendengar setia perpuisian Indonesia,kita tak perlu mengingat sajak-sajak rumit itu.Mungkin hanya berlalu.Setelah kita baca dan ambil kata-katanya seperti prinsip T.S.Eliot, "Immature poets imitate; mature poets steal".Penyair kecil meniru,penyair besar mencuri.Dalam hal ini kematangan penyair dalam menggubah sajak.Ada sebuah puisi yang mesti terus diingat yaitu doa.Ya,dengan doa,yang terus digubah oleh bibir kita.Dalam berbagai bahasa di semesta ini.Doalah yang pada akhirnya bersemi di kehidupan yang kelak nanti.Hidup hanya bagai seminya bunga sakura,yang gugur setelah seminggu tinggal di ranting-ranting pohonnya;cepat.Puisi terbaik bagi kita.Doa adalah puisi mujarab untuk segala rintangan hidup di dunia.Ya,seperti Mahmud Darwis.Puisi-puisinya berisi untaian perdamaian,doa dan kesedihan akan peperangan.Mahmud Darwis hidup secara nomaden.Darwis adalah penduduk Palestina yang menjadi orang eksilan dan hidup terus berpindah-pindah. Dengan pengaruh di kalangan politik ,ia pernah memimpin lembaga penting di PLO,dan akhirnya Ia melepas dan meninggalkan kegiatan politiknya setelah kecewa dan selalu dikecewakan. Termasuk pula ketika Yaser Arafat, Simon Peres, dan Israel Yitzhak Rabin bersama mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1994. Ia percaya bahwa sastra pun bisa jadi jalan perjuangan. Ia menjadi pemimpin Al-Karmel, majalah sastra dan budaya Palestina. Ia percaya dan sabar menunggu perdamaian yang ia yakini akan datang di Palestina, tapi lama pula ia juga sempat putus asa pada puisi."Dulu saya pikir puisi dapat mengubah segalanya, dapat mengubah sejarah dan dapat memanusiakan manusia. Saya kira ilusi demikian sangat penting untuk mendorong penyair agar terlibat dan percaya, tapi sekarang saya yakin puisi hanya bisa mengubah penyairnya," katanya. Darwis meninggal pada 9 Agustus 2008, setelah operasi jantung di Memorial Hermann Hospital Houston, Texas. Setelah sebelumnya, dua kali dia menjalani operasi yang sama. Perdana Menteri Palestina Mahmud Abbas menyatakan negeri itu berduka tiga hari.Puisi-puisi Mahmud Darwis pernah pula diusulkan oleh Menteri Pendidikan Yossi Sarid(Menteri Israel)pada tahun 2000 lalu yang mengusulkan agar sajak-sajak penyair Mahmud Darwis dimasukkan kurikulum untuk dibaca dan dipelajari murid-murid sekolah di negeri Yahudi itu,kepada Perdana Menteri Israel tahun itu yaitu,Perdana Menteri Ehud Barak.Namun usulan itu ditolak olehnya. "Masyarakat awam belum siap dengan sajak-sajak itu," kata Ehud Barak.Puisi-puisi Mahmud Darwis dapat merindingkan Perdana Menteri Israel kala itu.Dalam hal ini puisi-puisinya penuh dengan perjuangan,perdamaian.Bukan hanya perang dan perang.Puisi-puisi ini akan terus diingat dan Mahmud si perokok berat itu,pada akhirnya akan abadi namanya sebagai pujangga perdamaian dari Palestina.Walau pada akhirnya segala puisi yang pernah digubah di bumi ini,akan musnah di kiamat nanti.Hanya satu:doa.
Mendoakan Puisi
                Mari kita mendoakan perpuisian kita.Jangan hanya diisi oleh eksistensi para penyairnya saja.Jangan hanya diisi oleh kecengengan para penyairnya saja.Sesekali penyair boleh eksis,boleh menangis.Namun kadar tangisan itu,kadar eksistensi itu,mesti di takar.Dipersedikit atau dizakatkan pada penyair lain yang baru mulai menapak di dunia kesusastraan kita.Penyair mesti ingat,pada akhirnya mereka akan kembali kepada tanah.Bergelimpang dan tenggelam menjadi tanah.Puisi mesti mempertimbangkan unsur-unsur ketuhanan,perdamaian,kemanusiaan bukan hanya bermain seputar cinta dan eksistensi yang begitu terlalu.Kita lupakan cara yang lama.Mari tunjukkan cara baru.Eksistensi memang perlu,agar kita dikenang di dunia ini.Tapi eksistensi kepada Yang Esa,adalah merupakan kewajiban-pengabdian.Perdamaian perlu kita jaga.Tak ada yang mesti mendominasi satu kaum terhadap kaum yang lain.Sama seperti urgensi sastra kita saat ini! Yang hanya di dominasi muka-muka lawas saja! Yang saat ini sedang krisis para kritikus sastra!
                                                                                                                                *)Penyair,tinggal di Kudus-Jawa Tengah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar