Puisi,Hanya Kata-kata
Bumi
oleh:Bagus Burham*
Puisi bukan
sesuatu yang sabil.Mereka datang di pikir para penyair dengan kata-kata yang
hanya dirangkai namun memiliki semantik arti.Puisi bukan dogma,ia abu-abu tak
memilih kemana.Puisi yang telus hanya mencerahkan dan membayang saja.Dalam hal
ini puisi hanya rapalan dari seorang dukun kepada para pendengar setianya.Entah
puisi itu didengar ataupun tidak,puisi itu abadi atau tidak,puisi bukanlah
wahyu.Ia hanya kata-kata yang menggelinjang menelusup ke urat nadi.Skeptisisasi
ini mendasar pada sifat Ketuhanan,bahwasanya puisi hanya alat menyampaikan
sesuatu seputar dunia.Sesuatu fana.Jika puisi itu merupakan puisi religi,maka
puisi hanya menguatkan kata-kata dalam berkeyakinan.Jika itu puisi seputar
cinta,maka berkutatlah cinta pada tubuhnya.Tak ada yang berarti hanya estetika
dan kepopuleran penyair yang bernyanyi.Bagaimana kita menyikapi
puisi?Ya,sebagai pendengar maupun penggubah,hendaknya jangan begitu larut
terhadap puisi.Sesekali puisi boleh menyentuh nadi,tapi masih ada yang lebih
sabil ketimbang bentuk puisi.Kehidupan yang akan datang,akan ditentukan dari
cara kita hidup di bumi.Puisi pula.Puisi hanya fana.Kata-kata puitis telah
lahir di kitab-kitab yang selama ini kita imani.Jadi,puisi hanya sebagai mainan
saja.Mainan kita untuk mempercantik dunia agar lebih berarti dengan hidup di
kerubungi kata-kata,namun pula jangan lupa dengan kitab yang kita yakini
kebenarannya.Puisi hanya alat,permainan,kotak-kotak untuk menyimpan kata-kata
yang tak ada di dalam kitab.
Puisi yang Harus Terus Di Ingat
Kita mungkin
terkesan-kagum dengan sajak macam Wasteland-
T.S. Eliot,Endymion-John Keats atau Nyanyian Angsa WS Rendra yang sampai
kini belum mampu ditandingi penyair Indonesia manapun.Namun sebagai penggubah
ataupun pendengar setia perpuisian Indonesia,kita tak perlu mengingat
sajak-sajak rumit itu.Mungkin hanya berlalu.Setelah kita baca dan ambil
kata-katanya seperti prinsip T.S.Eliot, "Immature
poets imitate; mature poets steal".Penyair kecil meniru,penyair besar
mencuri.Dalam hal ini kematangan penyair dalam menggubah sajak.Ada sebuah puisi
yang mesti terus diingat yaitu doa.Ya,dengan doa,yang terus digubah oleh bibir
kita.Dalam berbagai bahasa di semesta ini.Doalah yang pada akhirnya bersemi di
kehidupan yang kelak nanti.Hidup hanya bagai seminya bunga sakura,yang gugur
setelah seminggu tinggal di ranting-ranting pohonnya;cepat.Puisi terbaik bagi
kita.Doa adalah puisi mujarab untuk segala rintangan hidup di dunia.Ya,seperti Mahmud
Darwis.Puisi-puisinya berisi untaian perdamaian,doa dan kesedihan akan
peperangan.Mahmud Darwis hidup secara nomaden.Darwis adalah penduduk Palestina
yang menjadi orang eksilan dan hidup terus berpindah-pindah. Dengan pengaruh di
kalangan politik ,ia pernah memimpin lembaga penting di PLO,dan akhirnya Ia
melepas dan meninggalkan kegiatan politiknya setelah kecewa dan selalu
dikecewakan. Termasuk pula ketika Yaser Arafat, Simon Peres, dan Israel Yitzhak
Rabin bersama mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1994. Ia percaya
bahwa sastra pun bisa jadi jalan perjuangan. Ia menjadi pemimpin Al-Karmel,
majalah sastra dan budaya Palestina. Ia percaya dan sabar menunggu perdamaian
yang ia yakini akan datang di Palestina, tapi lama pula ia juga sempat putus
asa pada puisi."Dulu saya pikir puisi dapat mengubah segalanya, dapat
mengubah sejarah dan dapat memanusiakan manusia. Saya kira ilusi demikian
sangat penting untuk mendorong penyair agar terlibat dan percaya, tapi sekarang
saya yakin puisi hanya bisa mengubah penyairnya," katanya. Darwis
meninggal pada 9 Agustus 2008, setelah operasi jantung di Memorial Hermann
Hospital Houston, Texas. Setelah sebelumnya, dua kali dia menjalani operasi
yang sama. Perdana Menteri Palestina Mahmud Abbas menyatakan negeri itu berduka
tiga hari.Puisi-puisi Mahmud Darwis pernah pula diusulkan oleh Menteri
Pendidikan Yossi Sarid(Menteri Israel)pada tahun 2000 lalu yang mengusulkan
agar sajak-sajak penyair Mahmud Darwis dimasukkan kurikulum untuk dibaca dan
dipelajari murid-murid sekolah di negeri Yahudi itu,kepada Perdana Menteri
Israel tahun itu yaitu,Perdana Menteri Ehud Barak.Namun usulan itu ditolak olehnya.
"Masyarakat awam belum siap dengan sajak-sajak itu," kata Ehud Barak.Puisi-puisi
Mahmud Darwis dapat merindingkan Perdana Menteri Israel kala itu.Dalam hal ini
puisi-puisinya penuh dengan perjuangan,perdamaian.Bukan hanya perang dan
perang.Puisi-puisi ini akan terus diingat dan Mahmud si perokok berat itu,pada
akhirnya akan abadi namanya sebagai pujangga perdamaian dari Palestina.Walau
pada akhirnya segala puisi yang pernah digubah di bumi ini,akan musnah di
kiamat nanti.Hanya satu:doa.
Mendoakan Puisi
Mari
kita mendoakan perpuisian kita.Jangan hanya diisi oleh eksistensi para
penyairnya saja.Jangan hanya diisi oleh kecengengan para penyairnya
saja.Sesekali penyair boleh eksis,boleh menangis.Namun kadar tangisan itu,kadar
eksistensi itu,mesti di takar.Dipersedikit atau dizakatkan pada penyair lain
yang baru mulai menapak di dunia kesusastraan kita.Penyair mesti ingat,pada
akhirnya mereka akan kembali kepada tanah.Bergelimpang dan tenggelam menjadi
tanah.Puisi mesti mempertimbangkan unsur-unsur ketuhanan,perdamaian,kemanusiaan
bukan hanya bermain seputar cinta dan eksistensi yang begitu terlalu.Kita
lupakan cara yang lama.Mari tunjukkan cara baru.Eksistensi memang perlu,agar
kita dikenang di dunia ini.Tapi eksistensi kepada Yang Esa,adalah merupakan
kewajiban-pengabdian.Perdamaian perlu kita jaga.Tak ada yang mesti mendominasi
satu kaum terhadap kaum yang lain.Sama seperti urgensi sastra kita saat ini!
Yang hanya di dominasi muka-muka lawas saja! Yang saat ini sedang krisis para
kritikus sastra!
*)Penyair,tinggal di Kudus-Jawa Tengah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar