Senin, 26 November 2012

Menulis



Menulis Sajak Jelek

  aku akan mulai dengan membuka buku
  berlembar kata kata yang mengikat diri menyatu
  seperti senggama kupu-kupu di hampar udara,--
  lalu tujuh kurcaci melompat tiba tiba ke depan buku—

    “ini sonet yang kau cari,--kau curi untuk kekasihmu!”
    “inikah elegi yang kau beli,--menampung airmata perpisahan?—cengeng!”
   “nah,ini hymne untukmu,--penyair busuk yang tak laku laku”
   “wow…,pasti ini,inikah sebuah kutu,kenapa mesti ada di buku?”
   “kutu dan buku memang menyatu,baunya meninggalkan sejarah dan nota,--
  siapa siapa saja yang telah membukanya untuk menyisir rambut kata-nya.”
“kutu buku? itu kan penyair bodoh ini? dia sering meniru bunga
  sebagai bentuk pipi ranum gadis jelita.”
“nyanyikan pula requiem kepada batu batu yang mati di tepi kali,--
mereka akan menjelma pesaksi,
yang menyaksikan ketololanmu bermain main puisi.”

merah,kuning,hijau,biru,jingga,hitam,ungu,--kurcaci busuk mematahkan bacaanku.
sekali kali,kalian baca bacalah buku dan tempelkan kutu.

2012

Selasa, 20 November 2012

Apeiron



aku kucing bersembilan nyawa,
kubagi padamu di bawa kubur,
nubuat dan titah mengada-ada,
menjelma zombi yang bahagia
            satu lagi kubagi,--pada angsa
yang ditembak di puncak rembang senja.
            yang lain kutaruh di bululaci
            agar,sewaktu waktu,--setiba tiba,
            mobil,monoksida,racun,formalin
            --kutambal hilang nyawa,
dengan nyawa.
2012

Sajak Terjemahan



Jejak sajak Arthur Rimbaud bisa dilacak di dua penyair besar Perancis setelahnya yaitu Charles Baudilaire dan Stephane Mallarme.Pada usia muda dia telah menelurkan berbagai sajak hebat.Rimbaud mati pada usia 37 tahun karena tumor.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diterjemahkan oleh Bagus Burham
 
Setelah Genangan

Sesegera ide tentang banjir bandang telah memadam,
Seekor kelinci terhenti di semanggi dan bunga lonceng bergoyang
dan mengucapkan doa untuk pelangi,
melewati jaring laba-laba.

Oh! batu-batu mulia yang mulai bersembunyi,--
dan bebunga yang siap memandang sekeliling,
Di jalan utama yang kotor,kandang-kandang didirikan
Dan perahu yang mengangkut ke arah laut,
Tinggi berjenjang seperti jejak usang.

Darah mengalir pada Jenggot Biru,--
melalui rumah jagal hewan,dalam atraksi,
dimana jendela-jendela memalis oleh segel Tuhan
Darah dan susu mengalir.Bangunan beberang.

‘Mazagran’merokok di bar pelosok.
Dalam rumah kaca besar,masih menetes,
bocah tampak berkabung,
pada sebuah gambar ajaib.

Pintu digedor;dan sebuah desa persegi empat
bocah kecil melambaikan tangannya,
mengerti akan baling baling cuaca
dan ayam diatas menara di manapun,
di sebuah pancuran meledak.

Madam*** memasang piano di Alpen.
Misa dan persekutuan pertama sedang dirayakan
pada seratus ribu altar di sebuah katedral.
Kafilah-kafilah ditetapkan.Dan Hotel Megah telah dibangun
pada keruntuhan es dan dari malam kutub.

Selamanya rembulan mendengar serigala-serigala melolong
melintasi padang pasir timi,
dan syair pendek pada sepatu dari kayu yang menggeram di kebun.
Kemudian di violet dan hutan menanjak,
Eucharis berkata kepadaku ini adalah musim semi.

Menyembur,kolam,--Buih,bergulir di jembatan dan melintasi hutan;--
muntah hitam dan organ,pendar dan guntur,merangkak dan berguling;--
air dan terbit dukacita dan membah Genangan lagi.
Semenjak mereka merisau--
oh! batu-batu mulia beranjak dikuburkan dan bunga ditabur!--
itu tak tertahankan! dan sang Ratu,dan Penyihir yang memancarkan apinya
pada kuali tanah tidak akan memberitahu kita apa yang ia tahu,
dan apa yang tidak kita tahu.

Sajak-sajak Terjemahan



 
Adonis,penyair Suriah yang kini eksil dan bertempat tinggal di Prancis.Nominator Nobel Sastra tahun 2011,bersama Tomas Transtromer yang memenangkannya.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Diterjemahkan oleh Bagus Burham
Nuh Baru
1

Kami bepergian diatas Bahtera,dalam  lumpur dan hujan,
Dayung-dayung kami berjanji kepada Tuhan.
Kami tinggal—dan sisa Manusia mati.
Kami menjelajah diatas gelombang,menambat
Kehidupan kami untuk temali mayat-mayat yang mengisi langit.
Tapi antara Surga dan kami adalah membuka,
Sebuah jendela kapal untuk permohonan.

“Mengapa,Tuhan,apa engkau menyelamatkan kami sendiri
Di antara semua orang dan mahluk?
Dan dimana engkau memilih kami sekarang?
Untuk Tanahmu yang lain,untuk Rumah Pertama kami?
Kedalam sisa Kematian,kedalam piuhan Kehidupan?
Kami,pada arteri-arteri kami,mengalir ketakutan dari Matahari.
Kami patah arang akan Cahaya,
Kami putus asa,Tuhan,akan hari esok,
Yang memulai Hidup baru.

Jika saja kami bukanlah persemaian Kreasi,
Dari Bumi dan generasinya,
Jika saja kami memiliki Lempung atau Bara Api,
Atau sesuatu di antaranya,
Lalu kami tak semestinya melihat,
Dunia ini,Penguasanya,dan Nerakanya lebih dari dua kali.”

                                    2

Bila waktu kembali remaja,
dan air membenamkan wajah kehidupan,
dan bumi mengejang,dan bahwasannya tuhan
menghampiriku memohon,“Nuh selamatkan kehidupan!”
Aku tidak ingin menyibukkan diri dengan permintaannya.
Aku akan menjelajah dengan bahteraku,mencerabut
lempung dan kerikil dari mata kematian.
Aku akan membuka samudra raya mereka agar menjadi banjir.
dan berbisik di pembuluh darah mereka
bahwa kami telah kembali dari padang gurun
bahwa kami telah muncul dari gua
bahwa kami telah mengubah langit tahun
kami berlayar tanpa menyerah pada ketakutan kami—
kami tidak mengindahkan firman tuhan.
Pertemuan kami adalah dengan kematian.
Pantai kami adalah keakraban dan keputus asaan yang menyenangkan,
sebuah laut dingin dari air besi yang kita arungi
menuju paling ujung,tak terkejut,
lalai bahwa tuhan dan firmannya,
rindu akan perbedaan,pembaruan,penguasa.



Puisi-puisi Adonis,diterjemahkan dalam Bahasa Inggris oleh Khaled Mattawa

CINTA

Jalanan dan rumah mengasihiku,
kehidupan dan kematian,
dan kendi tanah merah
dicintai oleh air.

Para tetangga mencintaiku,
tanah lapang,pengirikan,dan api.

Bekerja keras lebih baik,
Dunia,mencintaiku

dan dihargai dengan gembira.

Dan dengan berantakan saudaraku berhambur disekeliling,
robek dari dadanya yang layu
tersembunyi oleh bulir gandum dan musim,
akik dari darah syiah

Ia adalah dewa cinta selama aku masih hidup.
Apa yang akan cinta lakukan jika akupun menjauh?
RAHASIA

Kematian menahan kami dalam rengkuhannya,
sembrono dan sederhana,
membawa kami,rahasia dengan rahasianya
dan menggulung umat kami menjelma satu.




Elegi
(Untuk Ayahku)

1.
Ayahku adalah esok
yang mengalir lembut kearah kami,
matahari,
dan diatas rumah kami awan terbit.

Aku mencintainya,perbedaan menguburkan rahasia,
jidat diselimuti tanah.

Aku mencintainya,tulangnya yang membusuk dan lumpur.

2.
Diatas rumah kami keheningan menggelombang
                                            dan ketenangan isak tangisan—
dan kala ayahku wafat
tanah lapang mengering,burung pipit berhamburan.