Selasa, 21 Juni 2016

Persistence of Memory



Suatu kali aku pernah mengenal seorang gadis bernama Bunga. Katanya, dia dilahirkan di sebuah bank. Kadangkala, saat mengendarai mobil menuju Semarang, aku meyakini cerita itu. Kubayangkan dia lahir ketika ibunya menghadap teller yang sedang menghitung uangnya. Sejumlah besar uang yang dikantongi di plastik kresek yang berwarna mirip baju narapidana dalam kartun-kartun. Lalu ibunya menjerit ketika akan melahirkan Bunga dan selang beberapa saat, dia mbrojol begitu saja. Kubayangkan orang-orang panik, ada yang berteriak, ada yang mencoba menenangkan ibunya, dan ada yang bertanya ‘bagaimana...bagaimana’. Semua orang terus pontang-panting merasakan panik membekap diri mereka sampai bayi itu keluar begitu saja dari rahim ibunya. Persis seperti adegan bayi keluar di kamar mandi. Bunga tumbuh jadi anak gadis yang manis, kehilangan keperawanan di usia enam belas tahun saat duduk di kelas dua SMA. Sayangnya, yang mengoyak delta berharga itu adalah aku.
            Setelah itu Bunga mati. Beberapa orang bilang dia bunuh diri karena gagal meraih summa cum-laude di jurusan Tata Boga. Yang lain mengatakan dia mati tertabrak mobil pada waktu mabuk di atas jembatan tua. Yang lain lagi mengatakan dia mati dalam keadaan damai, dalam lindungan dan rahmat Tuhan, setelah tiba-tiba berhenti bernapas pada suatu sore di bulan Mei. Aku memercayai seluruh cerita itu dan membayangkan Bunga mati berkali-kali.
            Aku pernah melihat gambar sepucuk pistol Baretta 92 kaliber 9 milimeter, dan berusaha membayangkan menembakkannya ke dahi Bunga supaya dia menghilang dari ingatanku. Tapi toh sekarang dia sudah tidak lagi ada. Yang kuhadapi kali ini malah lebih memuakkan.

Sempat aku menghentikan laju mobilku, melambat dan diam seperti patung ribuan tahun agar aku kena sihir gereja kuno yang kupandang. Aku menyukai kubah tuanya dan dinding-dinding tua itu membawaku pada halaman luas sebuah rumah tradisional di gang yang kususuri ketika aku kecil. Sayangnya aku lupa gang itu berada di mana. Aku tidak pernah mengingat hal-hal yang kutemukan secara spontan. Mereka terbuang dari otak. Lalu apakah semua mantan kekasihku mengingat nama lengkapku? Mungkinkah aku juga bagian dari hal yang “ditemukan secara sepintas dan terbuang untuk selamanya?” Aku tidak mungkin menanyakan semua itu pada mereka. Mereka telah menikah, punya anak, dan kini bekerja di balik meja setrika sehari penuh. Aku lupa beberapa nama akhir mereka. Cukup setimpal membayangkan hanya sepertiga kenangan yang terbuka ketika aku mengucap salah satu nama dari mereka.
            Yang kukhawatirkan tiap kali mengitari bangunan-bangunan kolonial di kota ini adalah rasa malu, kekalahan dan kesedihan abadi.
            Aku mendaftar di sebuah akademi pelayaran untuk satu tujuan: Menyanyikan Dzala Estorbashia dan melihat Laut Hitam dari puncak bangunan tertinggi di Tbilisi. Nyatanya semua itu tidak tercapai setelah aku kena enam belas tendangan, tiga tamparan, dan empat pukulan. Aku menyerah dan kembali ke kota kelahiranku untuk ditertawakan semua orang termasuk sahabat-sahabat terbaikku.  Saat aku mendaftar menjadi taruna, aku ditemani ayahku dan kami melewati jembatan tempat Bunga yang belum dikabarkan mati di sana. Aku ditemani seorang sopir yang paham betul seluk-beluk Semarang. Mata merah sopir itu begitu menggangguku; urat-urat di matanya seakan menodongku dengan pisau paling tajam dan aku masyuk ke dalam dua mata itu. Kemerahannya seolah menerjunkanku pada rasa bersalah akan insomnia panjang yang kuderita. Ingin aku menidurkan diri di bangku penumpang, namun aku sadar, tidak ada gunanya lagi menghitung anak domba di dalam otakku. Aku mungkin akan mampu terpejam ketika perjalanan pulang. Setelah sampai di akademi, aku terus mengusap-usap kedua tanganku. Di sana aku merasa asing. Inikah yang kuinginkan: setiap orang mengenakan baju ketat dan mereka memakai topi pet abu-abu yang mirip kapal terbalik. Aku muak tapi itu sudah terlanjur. Aku ada di sana, mengikuti tes sehari, dan lulus dengan gampang. Aku hanya sampai pada empat puluh push-up dan setelah itu, bertahun-tahun kemudian, berat badanku naik dua kali lipat dan aku tidak bisa lagi menghasilkan satu pun push-up sepanjang hidupuku.
            Bertahun-tahun kemudian, setelah keluar dari akademi pelayaran, aku bertemu Tomy dan seorang wanita yang mengaku sebagai pacarnya.
            “Aku sekarang jadi Lemustar,” katanya. Barisan pohon-pohon di luar kaca kafe seperti mengekalkan kenanganku ketika Tomy berkata begitu. Aku seperti ingat malam kelam jam dua belas ketika kami dibangunkan dengan tendangan dan anak-anak yang bertelanjang dada mesti rela paru-parunya kena sedikit hantaman dari kaki para senior yang masih mengenakan sepatu malam itu. Kami berjalan puluhan kilometer mencapai pantai Marina dan didudukkan di aspal jalanan pantai itu supaya mau menenggak sebotol akua bekas gosok gigi para senior. Beberapa taruna muntah-muntah dan aku tidak peduli saat itu meskipun makan taik atau minum air bekas kumur-kumur. Kelelahan begitu membuat otakku rusak dan aku cuma ingin berbaring setelahnya.
            Dia bertanya bagaimana kabarku. Aku baik, dan sekarang aku sedang mencoba menulis novel. Menurutnya itu tidak perlu, yang dibutuhkan seseorang saat ini adalah uang. Seperti dia. Pacarnya duduk dan terus sibuk memenceti tombol handphonenya. Itu pun terjadi pada hampir seluruh pengunjung di kafe. Benar-benar kebanggaan yang memuakkan.
            Kami berpisah setelah keluar dari kafe. Aku menghentikan diriku sejenak di depan pintu, menghisap udara segar dari pohon-pohon siang itu, dan tetap mencoba tenang. Pertemuan-pertemuan seperti tadi akan banyak kualami ketika aku kembali ke kota ini.
            Aku masih ingat apa yang sering dikatakan Bunga kalau aku ditemukan tengah membaca buku di kantin.
            “Kamu seperti orang tua. Mencoba tahu segalanya.”
            Kami juga termasuk empat puluh tiga siswa dari empat puluh lima di dalam kelas, yang tak tahu apapun dari maksud Pak Warsito saat dia coba menerangkan rumus-rumus Fisika kesayangannya. Di waktu ujian nasional, ketika mata pelajaran Fisika tengah diujikan, butuh tujuh jawaban dari tujuh siswa SMA berbeda buat meyakinkanku bahwa mereka tidak berusaha menjerumuskan diriku agar tidak lulus. Nilai ujian Fisikaku 95 dan Bunga 100. Dia naik ke panggung dan memeroleh medali dari Kepala Sekolah karena capaian yang begitu mustahil di mata Pak Warsito. Meskipun begitu, guru kalem itu tetap saja memberi selamat pada Bunga.
            Saat itu aku telah mengenakan helm di kepalaku dan hampir menghidupkan mesin motor tatkala aku melihat seekor beruang yang dulu sering menakutkanku di akademi pelayaran. Dia, Nainggolan, senior dua tingkat di atasku. Seorang polisi taruna yang tugasnya membangunkan para taruna awal seperti diriku dan menendangi siapa saja yang lamban dengan sepatu tebalnya yang mengerikan. Buru-buru aku tancap gas, menggember motorku dan menghilang dari mukanya. Lega sekali bisa keluar dari cengkraman seekor binatang yang selalu menendang paru-parumu ketika kau terlambat bangun pagi.

*

Aku terombang-ambing dan mengikuti kata hatiku untuk terus berlari. Aku pernah membunuh seorang nenek tua hanya karena dia meminta receh di samping jendela mobilku. Malam itu, begitu larut dan di antara gedung-gedung tua Kota Lama, seorang renta mencoba mendekatiku. Saat itu aku tanpa sadar berhenti di sana untuk mengenang kota itu sedemikian rupa. Kota dengan sepenggal kenangan yang membawaku pada akademi, ketika seorang nenek mengerikan dengan pakaian compang-camping berusaha mendekatiku dan aku panik, melarikan mobilku, sampai menyerempet tubuhnya. Dia terjatuh, tak bangun lagi, dan aku lari lintang pukang menuju kegelapan. Mungkin dia belum mati saat ini, aku tidak tahu. Esoknya, ketika aku kembali, nenek itu sudah tidak ada. Begitu pun seminggu setelahnya. Hanya berbekas menjelma ingatan spontan yang kadang timbul-tenggelam dalam rutinitas.

Jadi, di sinilah aku, memandang gereja itu dan mencoba menjelma sebagai abdi setia dengan membayangkan sebuah bilik pengakuan di sana. Oh, Tuhan, mengapa Kau meninggalkan Dia agar bisa menebus dosa kami umat yang begitu kurang ajar? Seandainya Dia hanya diam di tengah salib itu; tentu kami selamanya abadi dalam neraka. Dan ketika aku hampir tenggelam, suara orang-orang di sekitarku, para tukang becak dan segala macam orang, mengerubungi diriku. Entah kenapa di pikiranku muncul satu lagi peristiwa yang mendebarkan: Pertanyaan seniorku pada saat aku mengikuti orientasi taruna baru dan merasa tubuhku sakit setelah makan siang di tengah lapangan penuh debu yang beterbangan.
“Apa kamu anak mama?”
“Ya,” kataku.
Sama seperti sebelumnya, dan orang-orang memang benar tentang diriku. Aku si anak manja.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar