Suatu kali aku pernah mengenal seorang
gadis bernama Bunga. Katanya, dia dilahirkan di sebuah bank. Kadangkala, saat
mengendarai mobil menuju Semarang, aku meyakini cerita itu. Kubayangkan dia
lahir ketika ibunya menghadap teller yang sedang menghitung uangnya. Sejumlah
besar uang yang dikantongi di plastik kresek yang berwarna mirip baju
narapidana dalam kartun-kartun. Lalu ibunya menjerit ketika akan melahirkan
Bunga dan selang beberapa saat, dia mbrojol
begitu saja. Kubayangkan orang-orang panik, ada yang berteriak, ada yang
mencoba menenangkan ibunya, dan ada yang bertanya ‘bagaimana...bagaimana’.
Semua orang terus pontang-panting merasakan panik membekap diri mereka sampai
bayi itu keluar begitu saja dari rahim ibunya. Persis seperti adegan bayi
keluar di kamar mandi. Bunga tumbuh jadi anak gadis yang manis, kehilangan
keperawanan di usia enam belas tahun saat duduk di kelas dua SMA. Sayangnya,
yang mengoyak delta berharga itu adalah aku.
Setelah
itu Bunga mati. Beberapa orang bilang dia bunuh diri karena gagal meraih summa
cum-laude di jurusan Tata Boga. Yang lain mengatakan dia mati tertabrak mobil
pada waktu mabuk di atas jembatan tua. Yang lain lagi mengatakan dia mati dalam
keadaan damai, dalam lindungan dan rahmat Tuhan, setelah tiba-tiba berhenti
bernapas pada suatu sore di bulan Mei. Aku memercayai seluruh cerita itu dan
membayangkan Bunga mati berkali-kali.
Aku
pernah melihat gambar sepucuk pistol Baretta 92 kaliber 9 milimeter, dan
berusaha membayangkan menembakkannya ke dahi Bunga supaya dia menghilang dari
ingatanku. Tapi toh sekarang dia sudah tidak lagi ada. Yang kuhadapi kali ini
malah lebih memuakkan.
Sempat aku menghentikan laju mobilku,
melambat dan diam seperti patung ribuan tahun agar aku kena sihir gereja kuno
yang kupandang. Aku menyukai kubah tuanya dan dinding-dinding tua itu membawaku
pada halaman luas sebuah rumah tradisional di gang yang kususuri ketika aku
kecil. Sayangnya aku lupa gang itu berada di mana. Aku tidak pernah mengingat
hal-hal yang kutemukan secara spontan. Mereka terbuang dari otak. Lalu apakah
semua mantan kekasihku mengingat nama lengkapku? Mungkinkah aku juga bagian
dari hal yang “ditemukan secara sepintas dan terbuang untuk selamanya?” Aku
tidak mungkin menanyakan semua itu pada mereka. Mereka telah menikah, punya
anak, dan kini bekerja di balik meja setrika sehari penuh. Aku lupa beberapa
nama akhir mereka. Cukup setimpal membayangkan hanya sepertiga kenangan yang
terbuka ketika aku mengucap salah satu nama dari mereka.
Yang
kukhawatirkan tiap kali mengitari bangunan-bangunan kolonial di kota ini adalah
rasa malu, kekalahan dan kesedihan abadi.
Aku
mendaftar di sebuah akademi pelayaran untuk satu tujuan: Menyanyikan Dzala Estorbashia dan melihat Laut Hitam
dari puncak bangunan tertinggi di Tbilisi. Nyatanya semua itu tidak tercapai
setelah aku kena enam belas tendangan, tiga tamparan, dan empat pukulan. Aku
menyerah dan kembali ke kota kelahiranku untuk ditertawakan semua orang
termasuk sahabat-sahabat terbaikku. Saat
aku mendaftar menjadi taruna, aku ditemani ayahku dan kami melewati jembatan
tempat Bunga yang belum dikabarkan mati di sana. Aku ditemani seorang sopir
yang paham betul seluk-beluk Semarang. Mata merah sopir itu begitu
menggangguku; urat-urat di matanya seakan menodongku dengan pisau paling tajam
dan aku masyuk ke dalam dua mata itu. Kemerahannya seolah menerjunkanku pada
rasa bersalah akan insomnia panjang yang kuderita. Ingin aku menidurkan diri di
bangku penumpang, namun aku sadar, tidak ada gunanya lagi menghitung anak domba
di dalam otakku. Aku mungkin akan mampu terpejam ketika perjalanan pulang. Setelah
sampai di akademi, aku terus mengusap-usap kedua tanganku. Di sana aku merasa
asing. Inikah yang kuinginkan: setiap orang mengenakan baju ketat dan mereka
memakai topi pet abu-abu yang mirip kapal terbalik. Aku muak tapi itu sudah
terlanjur. Aku ada di sana, mengikuti tes sehari, dan lulus dengan gampang. Aku
hanya sampai pada empat puluh push-up dan setelah itu, bertahun-tahun kemudian,
berat badanku naik dua kali lipat dan aku tidak bisa lagi menghasilkan satu pun
push-up sepanjang hidupuku.
Bertahun-tahun
kemudian, setelah keluar dari akademi pelayaran, aku bertemu Tomy dan seorang
wanita yang mengaku sebagai pacarnya.
“Aku
sekarang jadi Lemustar,” katanya. Barisan pohon-pohon di luar kaca kafe seperti
mengekalkan kenanganku ketika Tomy berkata begitu. Aku seperti ingat malam
kelam jam dua belas ketika kami dibangunkan dengan tendangan dan anak-anak yang
bertelanjang dada mesti rela paru-parunya kena sedikit hantaman dari kaki para
senior yang masih mengenakan sepatu malam itu. Kami berjalan puluhan kilometer
mencapai pantai Marina dan didudukkan di aspal jalanan pantai itu supaya mau
menenggak sebotol akua bekas gosok gigi para senior. Beberapa taruna muntah-muntah
dan aku tidak peduli saat itu meskipun makan taik atau minum air bekas
kumur-kumur. Kelelahan begitu membuat otakku rusak dan aku cuma ingin berbaring
setelahnya.
Dia
bertanya bagaimana kabarku. Aku baik, dan sekarang aku sedang mencoba menulis novel.
Menurutnya itu tidak perlu, yang dibutuhkan seseorang saat ini adalah uang.
Seperti dia. Pacarnya duduk dan terus sibuk memenceti tombol handphonenya. Itu
pun terjadi pada hampir seluruh pengunjung di kafe. Benar-benar kebanggaan yang
memuakkan.
Kami
berpisah setelah keluar dari kafe. Aku menghentikan diriku sejenak di depan
pintu, menghisap udara segar dari pohon-pohon siang itu, dan tetap mencoba
tenang. Pertemuan-pertemuan seperti tadi akan banyak kualami ketika aku kembali
ke kota ini.
Aku
masih ingat apa yang sering dikatakan Bunga kalau aku ditemukan tengah membaca
buku di kantin.
“Kamu
seperti orang tua. Mencoba tahu segalanya.”
Kami
juga termasuk empat puluh tiga siswa dari empat puluh lima di dalam kelas, yang
tak tahu apapun dari maksud Pak Warsito saat dia coba menerangkan rumus-rumus
Fisika kesayangannya. Di waktu ujian nasional, ketika mata pelajaran Fisika
tengah diujikan, butuh tujuh jawaban dari tujuh siswa SMA berbeda buat
meyakinkanku bahwa mereka tidak berusaha menjerumuskan diriku agar tidak lulus.
Nilai ujian Fisikaku 95 dan Bunga 100. Dia naik ke panggung dan memeroleh
medali dari Kepala Sekolah karena capaian yang begitu mustahil di mata Pak
Warsito. Meskipun begitu, guru kalem itu tetap saja memberi selamat pada Bunga.
Saat
itu aku telah mengenakan helm di kepalaku dan hampir menghidupkan mesin motor
tatkala aku melihat seekor beruang yang dulu sering menakutkanku di akademi
pelayaran. Dia, Nainggolan, senior dua tingkat di atasku. Seorang polisi taruna
yang tugasnya membangunkan para taruna awal seperti diriku dan menendangi siapa
saja yang lamban dengan sepatu tebalnya yang mengerikan. Buru-buru aku tancap
gas, menggember motorku dan menghilang dari mukanya. Lega sekali bisa keluar
dari cengkraman seekor binatang yang selalu menendang paru-parumu ketika kau
terlambat bangun pagi.
*
Aku terombang-ambing dan mengikuti kata
hatiku untuk terus berlari. Aku pernah membunuh seorang nenek tua hanya karena
dia meminta receh di samping jendela mobilku. Malam itu, begitu larut dan di
antara gedung-gedung tua Kota Lama, seorang renta mencoba mendekatiku. Saat itu
aku tanpa sadar berhenti di sana untuk mengenang kota itu sedemikian rupa. Kota
dengan sepenggal kenangan yang membawaku pada akademi, ketika seorang nenek
mengerikan dengan pakaian compang-camping berusaha mendekatiku dan aku panik,
melarikan mobilku, sampai menyerempet tubuhnya. Dia terjatuh, tak bangun lagi,
dan aku lari lintang pukang menuju kegelapan. Mungkin dia belum mati saat ini,
aku tidak tahu. Esoknya, ketika aku kembali, nenek itu sudah tidak ada. Begitu
pun seminggu setelahnya. Hanya berbekas menjelma ingatan spontan yang kadang timbul-tenggelam
dalam rutinitas.
Jadi, di sinilah aku, memandang gereja
itu dan mencoba menjelma sebagai abdi setia dengan membayangkan sebuah bilik
pengakuan di sana. Oh, Tuhan, mengapa Kau meninggalkan Dia agar bisa menebus
dosa kami umat yang begitu kurang ajar? Seandainya Dia hanya diam di tengah
salib itu; tentu kami selamanya abadi dalam neraka. Dan ketika aku hampir
tenggelam, suara orang-orang di sekitarku, para tukang becak dan segala macam
orang, mengerubungi diriku. Entah kenapa di pikiranku muncul satu lagi
peristiwa yang mendebarkan: Pertanyaan seniorku pada saat aku mengikuti
orientasi taruna baru dan merasa tubuhku sakit setelah makan siang di tengah
lapangan penuh debu yang beterbangan.
“Apa kamu anak
mama?”
“Ya,” kataku.
Sama seperti
sebelumnya, dan orang-orang memang benar tentang diriku. Aku si anak manja.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar