Selasa, 21 Juni 2016

Guci Retak



akan dipanggil layaknya apa masa lalu yang tak dibiarkan lupa?
menyabit ekor mataku rontok dan wajahku babak belur dihajar kesepian
jalan-jalan pongah, manusia mirip asu tertawa meledek kesusastraanku
serupa ikan-ikan di sungai busuk limbah pembuangan mayat ular limbung
sebelum menggali ajal, aku akan menunggu masa lalu dijemur insomnia
lalu berpesta seperti bocah di hadapan boneka dan cangkir-cangkir kosong.

dengan bah dari langit, aku gemetaran menyaksikan lampu jas hujan para polisi
berpendar, melingkar, membungkuk, pecah oleh pripit mendadak
bertarung, teriak, melon-melon yang dibungkus baju putih kena tilang—
serigala masa lalu meninggalkan tetak panjang di geladak perahu-perahu dunia bawah,
ke Lethe, murung penuh hantu memandang bintang dan neraka
menjemur mereka dan aku.

aku untal racun lautan. aku hangatkan memori becak-becak tua ketika aku duduk di landasan kaki bertahun-tahun lalu agar kulitku tergigit yuyu kecil di saku; sementara pipa celanaku terombang ambing angin dan pak tua pengayuh dan handuk kumal di lehernya tak mengerti kenangan ini. aku bahkan lupa namanya, seperti sinagog yang tak pernah kukunjungi atau vihara tempat naga berbau dupa membisu tanpa dogma tertentu. aku lupa melempari masjid kepala babi jika saja aku punya iman berlebih pada kekunoan sedangkan aku lupa mengebom gereja karena tak dicuci otak oleh onta-onta tua berjidat hitam. aku lupa menyembah api, api di mana-mana api kebencian aku lupa...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar