Selasa, 21 Juni 2016

Bagian yang Menyedihkan Tak Bisa Dihapus



Bagian 1:
Malam lagi. Jauh di sana—sebelum kami berbicara tentang teks, sebelum kami bicara tentang hujan yang datang di sebuah kota yang tak kumiliki—bunyi kesibukan menuntunku melihatnya lebih dekat. Maka kami menaiki tangga persegi yang panjang, menuju sebuah jendela lebar dari masjid tanpa cat yang bangunannya masih direnovasi. Tampak hotel besar dengan nama bercahaya yang menyinari sebagian atap rumah di sekelilingnya. Satu kubah besar dari sebuah masjid lalu keheningan, keheningan menyeruak tiba-tiba saat kami tidak mendengar yang lain. Hanya suara kami. Hanya dengung dari mulut kami.
“Di sini, aku biasa selonjorkan diri,” kata Penyair Tua itu. Rambutnya keperakan diterpa sinar bulan. Suara tikus-tikus mengais sampah dan musik dari buku puisinya, menjelma pelipur lara.
“Seperti fragmen sebuah novel. Kejadian ini seperti fragmen sebuah novel!” Pengarang Biasa menggerakkan sebagian tangannya dan berusaha menerangkan apa yang ia lupa. Kemudian kenangan datang tiba-tiba sehabis memandang kumpulan atap di jauh sana.
Dia berjalan jauh ke pantainya lagi. Pasir dan kano. Bunyi laut. Perempuan berkacamata hitam. Aku tak memiliki apapun selain membaca puisi Penyair Tua dan mencoba mendengar kata-kata Pengarang Biasa tentang kenangannya akibat persinggungan dengan ini semua.
Penyair Tua berbicara padaku mengenai kehidupan. Jalan berliku menuju rumahnya selalu kuanggap kebahagiaan atas pertemuan menyenangkan.
“Pohon raksasa itu berubah jadi monster!”
“Dan kau merawatnya dengan baik, kawanku,” jawab Pengarang Biasa.
“Pohon raksasa yang puitis,” imbuh Penyair Sekota. Artinya tiga kalimat telah melayang ke udara. Malam itu musik di kepalaku adalah Nocturne dari tahun 1892. Dan aku tak bisa gegas sebab teks-teks yang kami lontarkan membentuk sembahyang hening yang ungu yang biru tempat bintang-bintang menempel begitu juga kerinduanku pada luasan di jauh sana. Kekosongan. Kesementaraan momen. Aku ingin tetap ada di sana. Mencoba jadi hamba Tuhan yang setia.
Seekor tokek mengunyah kecoak dan seekor semut hitam mencicipi bubuk kopi di sendok cangkirku. Satu buku. Dua dan ratusan. Aku mencari sebuah buku. Aku mencari ratusan kekayaan. Di luar pintu, hanya keheningan dan masjid di samping rumah Penyair Tua itu tetap singup dalam kemistikannya seusai kami turun dari undak-undakan berdebu.
Aku melambung bersama Nocturne. Masuk. Kata-katanya hanya melewati kupingku. Sastra. Perenial. Tuhan. Tuhan. Masuk dan keluar dari kupingku. Nocturne melewati aku dan aku tenggelam dalam rimba melodius. Ketika mengunjungi rumah sajak Penyair Tua kawanku ini, yang bisa kulakukan adalah menikmati kesendirian dalam kegembiraan kolektif. Puisi. Puisi. Seperti manis di lentik bulu mata cinta pertamaku.
“Hanya bermodal nekat, seseorang bisa membukukan puisi-puisinya!”
“Di luar daun-daun gugur. Kata-kata ini bisa juga kau coretkan di buku metafisismu!”
Buku bersampul kapal uap adalah buku terbaik yang dia miliki. Di dalamnya takkan kau temukan kata-kata. Sebaliknya, seorang pembaca kekosongan mesti menorehkannya sendiri.
“Satu-satunya petunjuk bahwa waktu telah larut, cuma tokek kusam ini!” Ia menunjuk kadal itu yang bersembunyi di celah genteng seolah tahu dia dituding karena suatu hal.
Tak ada bunyi. Asap rokoknya melambung jauh dan lenyap. Moksa dalam cerita. Di kakiku nyamuk-nyamuk menghisap darah dan rasa bahagiaku adalah duduk di samping buku-buku masa lalu. Aku tidak butuh kehidupan lain selama ada di sini. Aku tidak butuh dunia ribut yang menuding diriku sebagai anjing sial. Aku tidak butuh kesendirian selama bersama kaum bahasa yang tak mesti menampakkan diri di luar sana. Gairah eksistensi hanya kitsch yang diurai waktu. Puisi kami bisa dibaca suasana. Puisi kami bergaung di dinding-dinding dan kedalaman malam. Di antara keheningan, seekor tikus mencoba masuk ke tempolong gula.
“Hush, kus. Pergilah! Ini bukan jaman puisi yang membebaskan makna kata!”
“Ini jaman puisi tanpa anak tangga!”
“Tidak mungkin puisi terbebas dari makna kata-katanya. Sebab puisi disandangi bahasa!”
“Betul. Kalau ada kredo macam gitu. Cuma puisi jelek yang dia tuliskan!”
“Satu bintang dan keabadian semu.”
“Satu bintang, ya, hanya satu.”
“Nol besar!”
Kami setuju dengan itu. Aku makin yakin bahwa puisi jelek mesti dipendam dalam kelupaan. Puisi jelek yang digaung-gaungkan di masa lalu, harus tetap jadi masa lalu. Dia tidak seperti kenangan, yang pantas diulang-ulang.
Ketika kau menulis puisi jelek yang menjelek-jelekkan keyakinan penyair lain maka kau bukanlah seorang penulis puisi meski puisimu jelek. Seperti aku.
Tidak ada penyair yang bilang dia penyair. Penyair didaku oleh alam. Puisi jelek bertebaran dari mereka yang bukan penyair. Penyair adalah tulisan dan laku asketik. Penyair bukanlah keglamoran pertemuan dan kejelekan karya yang dibilang bagus dari lingkar pertemanan. Penyair adalah dia yang sedang duduk dan menatap lampu terang. Dunia di luarnya daun-daun gugur bulan November yang mulai dingin. Penyair ini ada di hadapanku. Menghisap lisong dan mulai meneruskan pengembaraannya dalam kata-katanya sendiri. Dalam ikatan bahasa.
Malam itu, kenangan, Nocturne, dan suara penyair tua di depanku, menjadikan aku masuk dalam dunia sesungguhnya. Tanpa keraguan. Tak ada omong kosong.
Bagian 2:
Lampu itu amat temaram. Kisahku belum usai di sana. Semut hitam muncul dan lenyap seperti puisi-puisi yang pernah kutulis. Puisi-puisi yang kutulis mengacak-acakkan kakinya di taplak meja penuh buku itu. Mataku menghisap malam, di antara kepedihan dan insomnia, aku menemukan satu titik lampu merah yang berpijar di rerimbunan daun pohon-pohon maut. Aku membawanya sampai ke luar kota. Melewati debu yang diembus truk-truk raksasa. Melewati perempuan-perempuan yang menawarkan pahanya seolah dirinya menu cepat saji. Melewati rembulan. Dan menuju rumah sajak dengan pohon yang gulir-gulirnya menghujam genteng. Penyair Tua hidup sebatang kara tapi penuh puisi. Puisinya melewati diriku. Dan aku terhisap pada sebuah sajak tentang Despedida. Aku berlayar dalam kolase. Aku meludahi orang gondrong yang sok di koran pagi sebuah negeri kabut asap. Aku memikirkan tawa seorang perempuan yang kecil dan manja. Aku terhisap dalam suaranya. Akulah kehidupan di antara kata-katanya padaku waktu itu. Aku tak menemukan apapun untuk jadi diriku.
Aku buka pintu rumahnya. Menemukan dia menghisap rokoknya. Kami berbincang dan duduk sembari dia merebus air lalu menyeduh kopi.
Jendela yang memperlihatkan tembok adalah bingkai yang kurindukan jika duduk di sana. Keluar lagi adalah suasana dingin gaib yang meniupkan kekosongan sementara.
“Selamat malam, penyair bakat alam!”
“Selamat menempuh kesendiran bersama kami!”
“Yang jelas, aku menulis puisi untuk diriku sendiri. Inilah kehormatan.”
“Ya.”
“Ya, ya-yaka, yaka. Ini diucapkan dalam sebuah cerpen.”
“Karangan siapa?” tanyanya.
“James Joyce.”
“Betulkah? Seperti apa tadi ucapnya?”
“Ya, yaka, yaka!”
“Ya, yaka, yaka” Dia membuka mulut dan menamparnya berkali-kali. Seperti kartun Indian marah yang dibuat para gringo.
“Kalau gitu seharusnya kau bilang. ‘Ouwouwouwo....’”
“Tidak pas dengan tadi, ya?”
“Ya. Kurang pas.”
Sesudahnya dia duduk lagi. Kami duduk kembali. Dua kucing melintas di luar. Satu hitam satu putih. Satu timpang ke kiri yang lain ke kanan. Konsep dan metafor. Yang pertama tidak mesti yang utama. Sekarang kami akan berdiri dan menari dalam kegembiraan meskipun dunia kiamat dan orang-orang lain mesti menari seperti kami. Meskipun didengungkan sangkakala dan ada orang-orang bangkit dari kuburnya. Makna kami yang menari di atas tanah sebuah rumah dengan pohon monsternya akan tetap ada, meskipun entah diingat oleh siapa atau apa. Kami akan tetap ada dan menari di sana. Kami akan tetap ada dan berbincang tentang puisi di sana. Kami akan tetap ada dan menyeduh kopi hitam di sana dan kami akan tetap ada seperti puisi-puisi yang hangus, puisi-puisi anonim yang melebihi sebuah keabadian. Kami akan tetap ada meskipun keberadaan sudah tidak ada. Makna masih ada dan dijejakkan di sana.
“Bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Tidakkah mesti diganti begini: ‘Bagaimana kenapa?’”
“Apanya yang diganti?”
“Pertanyaanmu.”
“Kenapa mesti kuganti begitu.”
“Itu cuma aku.”
“Maksudmu?”
“Itu hanya aku yang tak mau mendengarmu bertanya: ‘Bagaimana?’”
“Dancuk kau!”
“Hehe.”
“Huh! Baik kuganti: Bagaimana kenapa?”
“Maksudnya ‘Bagaimana kenapa’?”
“Pertanyaan awalku!”
“Oh....”
“Ayo cepat jawab!”
“Weit...tunggu dulu. Aku butuh seteguk kopi!”
“Jawab sekarang!”
“Nah... kita akan membuat buku puisi!”
“Ide yang bagus.”
“Mengesankan.”
“Setiap orang dari kita urun 10 puisi!”
“Oke. Buku puisi tak perlu tebal. Bosan bacanya!”
Aku memikirkan Serenada. Aku memikirkan puisi yang kucipta setelah tamasya ke taman krida. Dan suara gadis kecilku yang merajuk karena keinginannya batal.
Aku memikirkan hujan jatuh dan hujan tak kunjung jatuh. Aku memikirkan Tuhan tapi tidak bisa kutemukan wajah yang pas darinya. Aku memikirkan jalan panjang yang sejuk di sebelah kenangan masa laluku dan aku merasa mau muntah sepanjang jalan itu. Aku memikirkan wajah perempuan dan perempuan itu pasti tidak memikirkanku. Aku memikirkan aku-aku yang kini berada jauh dariku. Melintasi waktu dan hidup di dunianya sendiri. Aku memikirkan rembulan. Kesintingan macam apa yang bakal kudapat. Aku memikirkan manusia sebab mereka menyebalkan. Aku memikirkan orang dungu yang berkata bahwa dia penganut paham tak jelas yang ia cetuskan sendiri dengan nama nihilisme teror; dan menurutnya takdir manusia adalah musnah. Aku memikirkan kata-kata dan mereka tidak datang bila kupikirkan. Aku memikirkan kehendakku dan sebuah buku puisi tidak perlu diakui orang lain; cukup kami saja yang merituskannya di dalam rumah sajak seorang penyair. Aku tak memiliki teman abadi yang bisa menerima segalanya kecuali kawan-kawan kesusastraan yang bekerja karena seni itu sendiri. Orang-orang sejati yang tak memiliki nafsu ingin diakui. Aku memikirkan lukisan-lukisan dan bangunan-bangunan di tepi danau yang sejuk dan sepasang homo melantunkan kegembiraannya di sebuah waduk yang kecil dan sunyi ketika pagi. Aku akan memihak pada mereka karena kebebasan adalah kutukan. Aku memikirkan agama tapi tidak ada yang pas di hatiku. Aku memikirkan cinta pertamaku dan gulungan rambutnya yang mengombak dan harum. Kekasih masa kecilku yang ditelan waktu. Aku ingin lari dari kenangan tapi orang-orang sok yang menulis puisi membuatku muntah dan kembali pada masa laluku. Aku memikirkan pengetahuan sebuah batu yang sering kulempar ke kali di masa aku kecil: Apakah dia tidak marah padaku ketika tenggelam ke dalam kegelapan kali kotor itu. Dan aku memikirkan malam karena kemistikannya berarti satu: kesunyian.
Bagian 3:
Di dalam sebuah novel yang kau baca, seseorang tenggelam di laut karena dia melupakan kenangannya. Kesunyian menindihnya; ia telah sangat lupa pada kenangan sebab mengira akan datang sebuah jawaban pada seorang tokoh yang mencoba mengartikan definisi kesunyian. Kau terkejut membaca kisah itu. Seperti cermin pertama yang kau dapati dirimu ada di dalamnya ketika masih bocah. Setiap detik terperanjat dan takjub pada dunia.
Di tengah laut, sebuah perahu tanpa awak mendatangimu. Itu karena, selesai membaca novel, kau mengambang di kesesatan laut. Tepat saat membaca titik kalimat terakhir di pungkasan novel, kau langsung dilemparkan oleh segenap kekuatan dari luar dirimu sampai ke hamparan laut. Kau kaget. Dalam dingin air dan rasa tak percaya, kau mengutuki dirimu sendiri dan rasa takut menjalar karena hantu tak nampak yang membawamu ke sini; Hantu Penghayatan. Ketakjuban bundar yang menelan kita saat hanyut dalam sebuah cerita.
Kau mencakar-cakari udara, tak bisa berenang sebelum satu raihan terakhir tanganmu sampai pada lingiran perahu di bagian buritan. Kau angkat tubuhmu, memasuki perahu. Dayung panjang di sebelahmu. Kau selamat, tidak jadi mati.
Kau berada di mana, kau tanyakan itu berulang kali pada dirimu. Tapi jawabannya tidak ada. Kau tidak tahu dirimu berada di mana. Kau merasa semua biru ini begitu mengerikan. Kesunyian, kekosongan.
Kau mendayung. Entah berapa lama kau mendayung. Berjalan atau tidak, yang jelas di sana cuma ada biru sejauh mata memandang. Kehidupan lain sekadar suara dalam laut: debur yang menggoncang itu perahu dengan dirimu di dalamnya. Kau sendirian. Kau selalu sendirian. Mungkin saat ini ada yang menonton dirimu dari luar dan mempermainkan kau ke dalam sebuah novel yang baru saja kau tandas ceritanya.
Bagian 4:
Aku dirikan rumah. Di pantai. Tidak ada siapapun di sana. Kehidupan terindah yang bakal dimiliki manusia adalah tidak ada eksistensi lain yang sebentuk dengannya di sebuah tempat. Pasir berbunyi, jejak diriku sendiri melangkahinya dari hari ke hari dan suara ombak di lautan, tentu saja akan berharga untuk disesap sendirian. Setelah ini aku tidak akan menulis lagi. Aku hanya menulis apa yang pernah kutulis; berkali-kali sampai nanti mati. Di rumah itu akan kupasang sesuatu mirip fonograf. Sesuatu buat mendengar musik dan aku hidup di sana selama mungkin.
Di rumahku akan ada ribuan buku yang membuatku terus sibuk menelusuri dunia dari abad-abad lalu hingga kini. Satu lampu di sudut meja untuk menerangi aku membaca. Dan sore dan malam dari tahun-tahun yang hilang. Akan tidak ada keramaian dan bahasa manusia hanya kubaca dalam buku-buku. Setelah itu kebisuan merapat ketika aku memandang senja atau bintang-bintang dan suara air di laut, ribuan pasir tergerus ke dalamnya.
Aku melangkah, menuju kasur. Lalu kupandang jendela yang menanarkan biru padaku. Aku akan menulisnya berkali-kali. Tak bosan karena di sana hanya aku seorang. Aku tak perlu orang lain untuk mengusir kesepian sebab bagiku dia adalah teman yang sesungguhnya. Dia datang, melempar batu kecil ke kepalaku dan dia bersembunyi di kotak penyimpanan kubik es nenekku. Dia lenyap di antara mata merah sebuah lampu yang digelut rimbun daun pepohonan. Dia menatapku dengan tajam; sebuah tatapan angkuh yang mengajarkan padaku bahwa apa yang sudah terjadi biar jadi masa lalu. Aku akan menerimanya dengan santun, sebagai sahabat seumur hidupku.
Rumahku kayu. Tak ada pagar di luarnya. Langsung menatap laut. Pantai tanpa pohon-pohon palem. Pantai tanpa pekikan camar. Hanya aku dan buku. Suara lain adalah gemuruh ombak.
Pagi hari adalah waktu berdoa. Bukan kepada apa atau siapa. Aku berdoa untuk diriku sendiri. Dari suasana pagi, berkah teks demi teks yang terjalin rapi dalam buku-buku; dan bau dingin yang mengingatkan diriku pada kesegaran yang aku rindukan.
Aku memutar musik. Taman abadi kehidupan Faun. Aku meniup seruling, memanjang dan lama. Menyibak cahaya mentari di bukit-bukit hijau. Dan yang terakhir aku bayangkan adalah sebuah lubang hitam menyeramkan yang bakal menghisap aku ke dalam entah.
Selama ini, ratusan tahun aku hidup, yang ada cuma kesesatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar