Selasa, 21 Juni 2016

Guci Retak



akan dipanggil layaknya apa masa lalu yang tak dibiarkan lupa?
menyabit ekor mataku rontok dan wajahku babak belur dihajar kesepian
jalan-jalan pongah, manusia mirip asu tertawa meledek kesusastraanku
serupa ikan-ikan di sungai busuk limbah pembuangan mayat ular limbung
sebelum menggali ajal, aku akan menunggu masa lalu dijemur insomnia
lalu berpesta seperti bocah di hadapan boneka dan cangkir-cangkir kosong.

dengan bah dari langit, aku gemetaran menyaksikan lampu jas hujan para polisi
berpendar, melingkar, membungkuk, pecah oleh pripit mendadak
bertarung, teriak, melon-melon yang dibungkus baju putih kena tilang—
serigala masa lalu meninggalkan tetak panjang di geladak perahu-perahu dunia bawah,
ke Lethe, murung penuh hantu memandang bintang dan neraka
menjemur mereka dan aku.

aku untal racun lautan. aku hangatkan memori becak-becak tua ketika aku duduk di landasan kaki bertahun-tahun lalu agar kulitku tergigit yuyu kecil di saku; sementara pipa celanaku terombang ambing angin dan pak tua pengayuh dan handuk kumal di lehernya tak mengerti kenangan ini. aku bahkan lupa namanya, seperti sinagog yang tak pernah kukunjungi atau vihara tempat naga berbau dupa membisu tanpa dogma tertentu. aku lupa melempari masjid kepala babi jika saja aku punya iman berlebih pada kekunoan sedangkan aku lupa mengebom gereja karena tak dicuci otak oleh onta-onta tua berjidat hitam. aku lupa menyembah api, api di mana-mana api kebencian aku lupa...

Bagian yang Menyedihkan Tak Bisa Dihapus



Bagian 1:
Malam lagi. Jauh di sana—sebelum kami berbicara tentang teks, sebelum kami bicara tentang hujan yang datang di sebuah kota yang tak kumiliki—bunyi kesibukan menuntunku melihatnya lebih dekat. Maka kami menaiki tangga persegi yang panjang, menuju sebuah jendela lebar dari masjid tanpa cat yang bangunannya masih direnovasi. Tampak hotel besar dengan nama bercahaya yang menyinari sebagian atap rumah di sekelilingnya. Satu kubah besar dari sebuah masjid lalu keheningan, keheningan menyeruak tiba-tiba saat kami tidak mendengar yang lain. Hanya suara kami. Hanya dengung dari mulut kami.
“Di sini, aku biasa selonjorkan diri,” kata Penyair Tua itu. Rambutnya keperakan diterpa sinar bulan. Suara tikus-tikus mengais sampah dan musik dari buku puisinya, menjelma pelipur lara.
“Seperti fragmen sebuah novel. Kejadian ini seperti fragmen sebuah novel!” Pengarang Biasa menggerakkan sebagian tangannya dan berusaha menerangkan apa yang ia lupa. Kemudian kenangan datang tiba-tiba sehabis memandang kumpulan atap di jauh sana.
Dia berjalan jauh ke pantainya lagi. Pasir dan kano. Bunyi laut. Perempuan berkacamata hitam. Aku tak memiliki apapun selain membaca puisi Penyair Tua dan mencoba mendengar kata-kata Pengarang Biasa tentang kenangannya akibat persinggungan dengan ini semua.
Penyair Tua berbicara padaku mengenai kehidupan. Jalan berliku menuju rumahnya selalu kuanggap kebahagiaan atas pertemuan menyenangkan.
“Pohon raksasa itu berubah jadi monster!”
“Dan kau merawatnya dengan baik, kawanku,” jawab Pengarang Biasa.
“Pohon raksasa yang puitis,” imbuh Penyair Sekota. Artinya tiga kalimat telah melayang ke udara. Malam itu musik di kepalaku adalah Nocturne dari tahun 1892. Dan aku tak bisa gegas sebab teks-teks yang kami lontarkan membentuk sembahyang hening yang ungu yang biru tempat bintang-bintang menempel begitu juga kerinduanku pada luasan di jauh sana. Kekosongan. Kesementaraan momen. Aku ingin tetap ada di sana. Mencoba jadi hamba Tuhan yang setia.
Seekor tokek mengunyah kecoak dan seekor semut hitam mencicipi bubuk kopi di sendok cangkirku. Satu buku. Dua dan ratusan. Aku mencari sebuah buku. Aku mencari ratusan kekayaan. Di luar pintu, hanya keheningan dan masjid di samping rumah Penyair Tua itu tetap singup dalam kemistikannya seusai kami turun dari undak-undakan berdebu.
Aku melambung bersama Nocturne. Masuk. Kata-katanya hanya melewati kupingku. Sastra. Perenial. Tuhan. Tuhan. Masuk dan keluar dari kupingku. Nocturne melewati aku dan aku tenggelam dalam rimba melodius. Ketika mengunjungi rumah sajak Penyair Tua kawanku ini, yang bisa kulakukan adalah menikmati kesendirian dalam kegembiraan kolektif. Puisi. Puisi. Seperti manis di lentik bulu mata cinta pertamaku.
“Hanya bermodal nekat, seseorang bisa membukukan puisi-puisinya!”
“Di luar daun-daun gugur. Kata-kata ini bisa juga kau coretkan di buku metafisismu!”
Buku bersampul kapal uap adalah buku terbaik yang dia miliki. Di dalamnya takkan kau temukan kata-kata. Sebaliknya, seorang pembaca kekosongan mesti menorehkannya sendiri.
“Satu-satunya petunjuk bahwa waktu telah larut, cuma tokek kusam ini!” Ia menunjuk kadal itu yang bersembunyi di celah genteng seolah tahu dia dituding karena suatu hal.
Tak ada bunyi. Asap rokoknya melambung jauh dan lenyap. Moksa dalam cerita. Di kakiku nyamuk-nyamuk menghisap darah dan rasa bahagiaku adalah duduk di samping buku-buku masa lalu. Aku tidak butuh kehidupan lain selama ada di sini. Aku tidak butuh dunia ribut yang menuding diriku sebagai anjing sial. Aku tidak butuh kesendirian selama bersama kaum bahasa yang tak mesti menampakkan diri di luar sana. Gairah eksistensi hanya kitsch yang diurai waktu. Puisi kami bisa dibaca suasana. Puisi kami bergaung di dinding-dinding dan kedalaman malam. Di antara keheningan, seekor tikus mencoba masuk ke tempolong gula.
“Hush, kus. Pergilah! Ini bukan jaman puisi yang membebaskan makna kata!”
“Ini jaman puisi tanpa anak tangga!”
“Tidak mungkin puisi terbebas dari makna kata-katanya. Sebab puisi disandangi bahasa!”
“Betul. Kalau ada kredo macam gitu. Cuma puisi jelek yang dia tuliskan!”
“Satu bintang dan keabadian semu.”
“Satu bintang, ya, hanya satu.”
“Nol besar!”
Kami setuju dengan itu. Aku makin yakin bahwa puisi jelek mesti dipendam dalam kelupaan. Puisi jelek yang digaung-gaungkan di masa lalu, harus tetap jadi masa lalu. Dia tidak seperti kenangan, yang pantas diulang-ulang.
Ketika kau menulis puisi jelek yang menjelek-jelekkan keyakinan penyair lain maka kau bukanlah seorang penulis puisi meski puisimu jelek. Seperti aku.
Tidak ada penyair yang bilang dia penyair. Penyair didaku oleh alam. Puisi jelek bertebaran dari mereka yang bukan penyair. Penyair adalah tulisan dan laku asketik. Penyair bukanlah keglamoran pertemuan dan kejelekan karya yang dibilang bagus dari lingkar pertemanan. Penyair adalah dia yang sedang duduk dan menatap lampu terang. Dunia di luarnya daun-daun gugur bulan November yang mulai dingin. Penyair ini ada di hadapanku. Menghisap lisong dan mulai meneruskan pengembaraannya dalam kata-katanya sendiri. Dalam ikatan bahasa.
Malam itu, kenangan, Nocturne, dan suara penyair tua di depanku, menjadikan aku masuk dalam dunia sesungguhnya. Tanpa keraguan. Tak ada omong kosong.
Bagian 2:
Lampu itu amat temaram. Kisahku belum usai di sana. Semut hitam muncul dan lenyap seperti puisi-puisi yang pernah kutulis. Puisi-puisi yang kutulis mengacak-acakkan kakinya di taplak meja penuh buku itu. Mataku menghisap malam, di antara kepedihan dan insomnia, aku menemukan satu titik lampu merah yang berpijar di rerimbunan daun pohon-pohon maut. Aku membawanya sampai ke luar kota. Melewati debu yang diembus truk-truk raksasa. Melewati perempuan-perempuan yang menawarkan pahanya seolah dirinya menu cepat saji. Melewati rembulan. Dan menuju rumah sajak dengan pohon yang gulir-gulirnya menghujam genteng. Penyair Tua hidup sebatang kara tapi penuh puisi. Puisinya melewati diriku. Dan aku terhisap pada sebuah sajak tentang Despedida. Aku berlayar dalam kolase. Aku meludahi orang gondrong yang sok di koran pagi sebuah negeri kabut asap. Aku memikirkan tawa seorang perempuan yang kecil dan manja. Aku terhisap dalam suaranya. Akulah kehidupan di antara kata-katanya padaku waktu itu. Aku tak menemukan apapun untuk jadi diriku.
Aku buka pintu rumahnya. Menemukan dia menghisap rokoknya. Kami berbincang dan duduk sembari dia merebus air lalu menyeduh kopi.
Jendela yang memperlihatkan tembok adalah bingkai yang kurindukan jika duduk di sana. Keluar lagi adalah suasana dingin gaib yang meniupkan kekosongan sementara.
“Selamat malam, penyair bakat alam!”
“Selamat menempuh kesendiran bersama kami!”
“Yang jelas, aku menulis puisi untuk diriku sendiri. Inilah kehormatan.”
“Ya.”
“Ya, ya-yaka, yaka. Ini diucapkan dalam sebuah cerpen.”
“Karangan siapa?” tanyanya.
“James Joyce.”
“Betulkah? Seperti apa tadi ucapnya?”
“Ya, yaka, yaka!”
“Ya, yaka, yaka” Dia membuka mulut dan menamparnya berkali-kali. Seperti kartun Indian marah yang dibuat para gringo.
“Kalau gitu seharusnya kau bilang. ‘Ouwouwouwo....’”
“Tidak pas dengan tadi, ya?”
“Ya. Kurang pas.”
Sesudahnya dia duduk lagi. Kami duduk kembali. Dua kucing melintas di luar. Satu hitam satu putih. Satu timpang ke kiri yang lain ke kanan. Konsep dan metafor. Yang pertama tidak mesti yang utama. Sekarang kami akan berdiri dan menari dalam kegembiraan meskipun dunia kiamat dan orang-orang lain mesti menari seperti kami. Meskipun didengungkan sangkakala dan ada orang-orang bangkit dari kuburnya. Makna kami yang menari di atas tanah sebuah rumah dengan pohon monsternya akan tetap ada, meskipun entah diingat oleh siapa atau apa. Kami akan tetap ada dan menari di sana. Kami akan tetap ada dan berbincang tentang puisi di sana. Kami akan tetap ada dan menyeduh kopi hitam di sana dan kami akan tetap ada seperti puisi-puisi yang hangus, puisi-puisi anonim yang melebihi sebuah keabadian. Kami akan tetap ada meskipun keberadaan sudah tidak ada. Makna masih ada dan dijejakkan di sana.
“Bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Tidakkah mesti diganti begini: ‘Bagaimana kenapa?’”
“Apanya yang diganti?”
“Pertanyaanmu.”
“Kenapa mesti kuganti begitu.”
“Itu cuma aku.”
“Maksudmu?”
“Itu hanya aku yang tak mau mendengarmu bertanya: ‘Bagaimana?’”
“Dancuk kau!”
“Hehe.”
“Huh! Baik kuganti: Bagaimana kenapa?”
“Maksudnya ‘Bagaimana kenapa’?”
“Pertanyaan awalku!”
“Oh....”
“Ayo cepat jawab!”
“Weit...tunggu dulu. Aku butuh seteguk kopi!”
“Jawab sekarang!”
“Nah... kita akan membuat buku puisi!”
“Ide yang bagus.”
“Mengesankan.”
“Setiap orang dari kita urun 10 puisi!”
“Oke. Buku puisi tak perlu tebal. Bosan bacanya!”
Aku memikirkan Serenada. Aku memikirkan puisi yang kucipta setelah tamasya ke taman krida. Dan suara gadis kecilku yang merajuk karena keinginannya batal.
Aku memikirkan hujan jatuh dan hujan tak kunjung jatuh. Aku memikirkan Tuhan tapi tidak bisa kutemukan wajah yang pas darinya. Aku memikirkan jalan panjang yang sejuk di sebelah kenangan masa laluku dan aku merasa mau muntah sepanjang jalan itu. Aku memikirkan wajah perempuan dan perempuan itu pasti tidak memikirkanku. Aku memikirkan aku-aku yang kini berada jauh dariku. Melintasi waktu dan hidup di dunianya sendiri. Aku memikirkan rembulan. Kesintingan macam apa yang bakal kudapat. Aku memikirkan manusia sebab mereka menyebalkan. Aku memikirkan orang dungu yang berkata bahwa dia penganut paham tak jelas yang ia cetuskan sendiri dengan nama nihilisme teror; dan menurutnya takdir manusia adalah musnah. Aku memikirkan kata-kata dan mereka tidak datang bila kupikirkan. Aku memikirkan kehendakku dan sebuah buku puisi tidak perlu diakui orang lain; cukup kami saja yang merituskannya di dalam rumah sajak seorang penyair. Aku tak memiliki teman abadi yang bisa menerima segalanya kecuali kawan-kawan kesusastraan yang bekerja karena seni itu sendiri. Orang-orang sejati yang tak memiliki nafsu ingin diakui. Aku memikirkan lukisan-lukisan dan bangunan-bangunan di tepi danau yang sejuk dan sepasang homo melantunkan kegembiraannya di sebuah waduk yang kecil dan sunyi ketika pagi. Aku akan memihak pada mereka karena kebebasan adalah kutukan. Aku memikirkan agama tapi tidak ada yang pas di hatiku. Aku memikirkan cinta pertamaku dan gulungan rambutnya yang mengombak dan harum. Kekasih masa kecilku yang ditelan waktu. Aku ingin lari dari kenangan tapi orang-orang sok yang menulis puisi membuatku muntah dan kembali pada masa laluku. Aku memikirkan pengetahuan sebuah batu yang sering kulempar ke kali di masa aku kecil: Apakah dia tidak marah padaku ketika tenggelam ke dalam kegelapan kali kotor itu. Dan aku memikirkan malam karena kemistikannya berarti satu: kesunyian.
Bagian 3:
Di dalam sebuah novel yang kau baca, seseorang tenggelam di laut karena dia melupakan kenangannya. Kesunyian menindihnya; ia telah sangat lupa pada kenangan sebab mengira akan datang sebuah jawaban pada seorang tokoh yang mencoba mengartikan definisi kesunyian. Kau terkejut membaca kisah itu. Seperti cermin pertama yang kau dapati dirimu ada di dalamnya ketika masih bocah. Setiap detik terperanjat dan takjub pada dunia.
Di tengah laut, sebuah perahu tanpa awak mendatangimu. Itu karena, selesai membaca novel, kau mengambang di kesesatan laut. Tepat saat membaca titik kalimat terakhir di pungkasan novel, kau langsung dilemparkan oleh segenap kekuatan dari luar dirimu sampai ke hamparan laut. Kau kaget. Dalam dingin air dan rasa tak percaya, kau mengutuki dirimu sendiri dan rasa takut menjalar karena hantu tak nampak yang membawamu ke sini; Hantu Penghayatan. Ketakjuban bundar yang menelan kita saat hanyut dalam sebuah cerita.
Kau mencakar-cakari udara, tak bisa berenang sebelum satu raihan terakhir tanganmu sampai pada lingiran perahu di bagian buritan. Kau angkat tubuhmu, memasuki perahu. Dayung panjang di sebelahmu. Kau selamat, tidak jadi mati.
Kau berada di mana, kau tanyakan itu berulang kali pada dirimu. Tapi jawabannya tidak ada. Kau tidak tahu dirimu berada di mana. Kau merasa semua biru ini begitu mengerikan. Kesunyian, kekosongan.
Kau mendayung. Entah berapa lama kau mendayung. Berjalan atau tidak, yang jelas di sana cuma ada biru sejauh mata memandang. Kehidupan lain sekadar suara dalam laut: debur yang menggoncang itu perahu dengan dirimu di dalamnya. Kau sendirian. Kau selalu sendirian. Mungkin saat ini ada yang menonton dirimu dari luar dan mempermainkan kau ke dalam sebuah novel yang baru saja kau tandas ceritanya.
Bagian 4:
Aku dirikan rumah. Di pantai. Tidak ada siapapun di sana. Kehidupan terindah yang bakal dimiliki manusia adalah tidak ada eksistensi lain yang sebentuk dengannya di sebuah tempat. Pasir berbunyi, jejak diriku sendiri melangkahinya dari hari ke hari dan suara ombak di lautan, tentu saja akan berharga untuk disesap sendirian. Setelah ini aku tidak akan menulis lagi. Aku hanya menulis apa yang pernah kutulis; berkali-kali sampai nanti mati. Di rumah itu akan kupasang sesuatu mirip fonograf. Sesuatu buat mendengar musik dan aku hidup di sana selama mungkin.
Di rumahku akan ada ribuan buku yang membuatku terus sibuk menelusuri dunia dari abad-abad lalu hingga kini. Satu lampu di sudut meja untuk menerangi aku membaca. Dan sore dan malam dari tahun-tahun yang hilang. Akan tidak ada keramaian dan bahasa manusia hanya kubaca dalam buku-buku. Setelah itu kebisuan merapat ketika aku memandang senja atau bintang-bintang dan suara air di laut, ribuan pasir tergerus ke dalamnya.
Aku melangkah, menuju kasur. Lalu kupandang jendela yang menanarkan biru padaku. Aku akan menulisnya berkali-kali. Tak bosan karena di sana hanya aku seorang. Aku tak perlu orang lain untuk mengusir kesepian sebab bagiku dia adalah teman yang sesungguhnya. Dia datang, melempar batu kecil ke kepalaku dan dia bersembunyi di kotak penyimpanan kubik es nenekku. Dia lenyap di antara mata merah sebuah lampu yang digelut rimbun daun pepohonan. Dia menatapku dengan tajam; sebuah tatapan angkuh yang mengajarkan padaku bahwa apa yang sudah terjadi biar jadi masa lalu. Aku akan menerimanya dengan santun, sebagai sahabat seumur hidupku.
Rumahku kayu. Tak ada pagar di luarnya. Langsung menatap laut. Pantai tanpa pohon-pohon palem. Pantai tanpa pekikan camar. Hanya aku dan buku. Suara lain adalah gemuruh ombak.
Pagi hari adalah waktu berdoa. Bukan kepada apa atau siapa. Aku berdoa untuk diriku sendiri. Dari suasana pagi, berkah teks demi teks yang terjalin rapi dalam buku-buku; dan bau dingin yang mengingatkan diriku pada kesegaran yang aku rindukan.
Aku memutar musik. Taman abadi kehidupan Faun. Aku meniup seruling, memanjang dan lama. Menyibak cahaya mentari di bukit-bukit hijau. Dan yang terakhir aku bayangkan adalah sebuah lubang hitam menyeramkan yang bakal menghisap aku ke dalam entah.
Selama ini, ratusan tahun aku hidup, yang ada cuma kesesatan.

Persistence of Memory



Suatu kali aku pernah mengenal seorang gadis bernama Bunga. Katanya, dia dilahirkan di sebuah bank. Kadangkala, saat mengendarai mobil menuju Semarang, aku meyakini cerita itu. Kubayangkan dia lahir ketika ibunya menghadap teller yang sedang menghitung uangnya. Sejumlah besar uang yang dikantongi di plastik kresek yang berwarna mirip baju narapidana dalam kartun-kartun. Lalu ibunya menjerit ketika akan melahirkan Bunga dan selang beberapa saat, dia mbrojol begitu saja. Kubayangkan orang-orang panik, ada yang berteriak, ada yang mencoba menenangkan ibunya, dan ada yang bertanya ‘bagaimana...bagaimana’. Semua orang terus pontang-panting merasakan panik membekap diri mereka sampai bayi itu keluar begitu saja dari rahim ibunya. Persis seperti adegan bayi keluar di kamar mandi. Bunga tumbuh jadi anak gadis yang manis, kehilangan keperawanan di usia enam belas tahun saat duduk di kelas dua SMA. Sayangnya, yang mengoyak delta berharga itu adalah aku.
            Setelah itu Bunga mati. Beberapa orang bilang dia bunuh diri karena gagal meraih summa cum-laude di jurusan Tata Boga. Yang lain mengatakan dia mati tertabrak mobil pada waktu mabuk di atas jembatan tua. Yang lain lagi mengatakan dia mati dalam keadaan damai, dalam lindungan dan rahmat Tuhan, setelah tiba-tiba berhenti bernapas pada suatu sore di bulan Mei. Aku memercayai seluruh cerita itu dan membayangkan Bunga mati berkali-kali.
            Aku pernah melihat gambar sepucuk pistol Baretta 92 kaliber 9 milimeter, dan berusaha membayangkan menembakkannya ke dahi Bunga supaya dia menghilang dari ingatanku. Tapi toh sekarang dia sudah tidak lagi ada. Yang kuhadapi kali ini malah lebih memuakkan.

Sempat aku menghentikan laju mobilku, melambat dan diam seperti patung ribuan tahun agar aku kena sihir gereja kuno yang kupandang. Aku menyukai kubah tuanya dan dinding-dinding tua itu membawaku pada halaman luas sebuah rumah tradisional di gang yang kususuri ketika aku kecil. Sayangnya aku lupa gang itu berada di mana. Aku tidak pernah mengingat hal-hal yang kutemukan secara spontan. Mereka terbuang dari otak. Lalu apakah semua mantan kekasihku mengingat nama lengkapku? Mungkinkah aku juga bagian dari hal yang “ditemukan secara sepintas dan terbuang untuk selamanya?” Aku tidak mungkin menanyakan semua itu pada mereka. Mereka telah menikah, punya anak, dan kini bekerja di balik meja setrika sehari penuh. Aku lupa beberapa nama akhir mereka. Cukup setimpal membayangkan hanya sepertiga kenangan yang terbuka ketika aku mengucap salah satu nama dari mereka.
            Yang kukhawatirkan tiap kali mengitari bangunan-bangunan kolonial di kota ini adalah rasa malu, kekalahan dan kesedihan abadi.
            Aku mendaftar di sebuah akademi pelayaran untuk satu tujuan: Menyanyikan Dzala Estorbashia dan melihat Laut Hitam dari puncak bangunan tertinggi di Tbilisi. Nyatanya semua itu tidak tercapai setelah aku kena enam belas tendangan, tiga tamparan, dan empat pukulan. Aku menyerah dan kembali ke kota kelahiranku untuk ditertawakan semua orang termasuk sahabat-sahabat terbaikku.  Saat aku mendaftar menjadi taruna, aku ditemani ayahku dan kami melewati jembatan tempat Bunga yang belum dikabarkan mati di sana. Aku ditemani seorang sopir yang paham betul seluk-beluk Semarang. Mata merah sopir itu begitu menggangguku; urat-urat di matanya seakan menodongku dengan pisau paling tajam dan aku masyuk ke dalam dua mata itu. Kemerahannya seolah menerjunkanku pada rasa bersalah akan insomnia panjang yang kuderita. Ingin aku menidurkan diri di bangku penumpang, namun aku sadar, tidak ada gunanya lagi menghitung anak domba di dalam otakku. Aku mungkin akan mampu terpejam ketika perjalanan pulang. Setelah sampai di akademi, aku terus mengusap-usap kedua tanganku. Di sana aku merasa asing. Inikah yang kuinginkan: setiap orang mengenakan baju ketat dan mereka memakai topi pet abu-abu yang mirip kapal terbalik. Aku muak tapi itu sudah terlanjur. Aku ada di sana, mengikuti tes sehari, dan lulus dengan gampang. Aku hanya sampai pada empat puluh push-up dan setelah itu, bertahun-tahun kemudian, berat badanku naik dua kali lipat dan aku tidak bisa lagi menghasilkan satu pun push-up sepanjang hidupuku.
            Bertahun-tahun kemudian, setelah keluar dari akademi pelayaran, aku bertemu Tomy dan seorang wanita yang mengaku sebagai pacarnya.
            “Aku sekarang jadi Lemustar,” katanya. Barisan pohon-pohon di luar kaca kafe seperti mengekalkan kenanganku ketika Tomy berkata begitu. Aku seperti ingat malam kelam jam dua belas ketika kami dibangunkan dengan tendangan dan anak-anak yang bertelanjang dada mesti rela paru-parunya kena sedikit hantaman dari kaki para senior yang masih mengenakan sepatu malam itu. Kami berjalan puluhan kilometer mencapai pantai Marina dan didudukkan di aspal jalanan pantai itu supaya mau menenggak sebotol akua bekas gosok gigi para senior. Beberapa taruna muntah-muntah dan aku tidak peduli saat itu meskipun makan taik atau minum air bekas kumur-kumur. Kelelahan begitu membuat otakku rusak dan aku cuma ingin berbaring setelahnya.
            Dia bertanya bagaimana kabarku. Aku baik, dan sekarang aku sedang mencoba menulis novel. Menurutnya itu tidak perlu, yang dibutuhkan seseorang saat ini adalah uang. Seperti dia. Pacarnya duduk dan terus sibuk memenceti tombol handphonenya. Itu pun terjadi pada hampir seluruh pengunjung di kafe. Benar-benar kebanggaan yang memuakkan.
            Kami berpisah setelah keluar dari kafe. Aku menghentikan diriku sejenak di depan pintu, menghisap udara segar dari pohon-pohon siang itu, dan tetap mencoba tenang. Pertemuan-pertemuan seperti tadi akan banyak kualami ketika aku kembali ke kota ini.
            Aku masih ingat apa yang sering dikatakan Bunga kalau aku ditemukan tengah membaca buku di kantin.
            “Kamu seperti orang tua. Mencoba tahu segalanya.”
            Kami juga termasuk empat puluh tiga siswa dari empat puluh lima di dalam kelas, yang tak tahu apapun dari maksud Pak Warsito saat dia coba menerangkan rumus-rumus Fisika kesayangannya. Di waktu ujian nasional, ketika mata pelajaran Fisika tengah diujikan, butuh tujuh jawaban dari tujuh siswa SMA berbeda buat meyakinkanku bahwa mereka tidak berusaha menjerumuskan diriku agar tidak lulus. Nilai ujian Fisikaku 95 dan Bunga 100. Dia naik ke panggung dan memeroleh medali dari Kepala Sekolah karena capaian yang begitu mustahil di mata Pak Warsito. Meskipun begitu, guru kalem itu tetap saja memberi selamat pada Bunga.
            Saat itu aku telah mengenakan helm di kepalaku dan hampir menghidupkan mesin motor tatkala aku melihat seekor beruang yang dulu sering menakutkanku di akademi pelayaran. Dia, Nainggolan, senior dua tingkat di atasku. Seorang polisi taruna yang tugasnya membangunkan para taruna awal seperti diriku dan menendangi siapa saja yang lamban dengan sepatu tebalnya yang mengerikan. Buru-buru aku tancap gas, menggember motorku dan menghilang dari mukanya. Lega sekali bisa keluar dari cengkraman seekor binatang yang selalu menendang paru-parumu ketika kau terlambat bangun pagi.

*

Aku terombang-ambing dan mengikuti kata hatiku untuk terus berlari. Aku pernah membunuh seorang nenek tua hanya karena dia meminta receh di samping jendela mobilku. Malam itu, begitu larut dan di antara gedung-gedung tua Kota Lama, seorang renta mencoba mendekatiku. Saat itu aku tanpa sadar berhenti di sana untuk mengenang kota itu sedemikian rupa. Kota dengan sepenggal kenangan yang membawaku pada akademi, ketika seorang nenek mengerikan dengan pakaian compang-camping berusaha mendekatiku dan aku panik, melarikan mobilku, sampai menyerempet tubuhnya. Dia terjatuh, tak bangun lagi, dan aku lari lintang pukang menuju kegelapan. Mungkin dia belum mati saat ini, aku tidak tahu. Esoknya, ketika aku kembali, nenek itu sudah tidak ada. Begitu pun seminggu setelahnya. Hanya berbekas menjelma ingatan spontan yang kadang timbul-tenggelam dalam rutinitas.

Jadi, di sinilah aku, memandang gereja itu dan mencoba menjelma sebagai abdi setia dengan membayangkan sebuah bilik pengakuan di sana. Oh, Tuhan, mengapa Kau meninggalkan Dia agar bisa menebus dosa kami umat yang begitu kurang ajar? Seandainya Dia hanya diam di tengah salib itu; tentu kami selamanya abadi dalam neraka. Dan ketika aku hampir tenggelam, suara orang-orang di sekitarku, para tukang becak dan segala macam orang, mengerubungi diriku. Entah kenapa di pikiranku muncul satu lagi peristiwa yang mendebarkan: Pertanyaan seniorku pada saat aku mengikuti orientasi taruna baru dan merasa tubuhku sakit setelah makan siang di tengah lapangan penuh debu yang beterbangan.
“Apa kamu anak mama?”
“Ya,” kataku.
Sama seperti sebelumnya, dan orang-orang memang benar tentang diriku. Aku si anak manja.[]