Bagian
1:
Malam lagi. Jauh di
sana—sebelum kami berbicara tentang teks, sebelum kami bicara tentang hujan
yang datang di sebuah kota yang tak kumiliki—bunyi kesibukan menuntunku
melihatnya lebih dekat. Maka kami menaiki tangga persegi yang panjang, menuju
sebuah jendela lebar dari masjid tanpa cat yang bangunannya masih direnovasi.
Tampak hotel besar dengan nama bercahaya yang menyinari sebagian atap rumah di
sekelilingnya. Satu kubah besar dari sebuah masjid lalu keheningan, keheningan
menyeruak tiba-tiba saat kami tidak mendengar yang lain. Hanya suara kami.
Hanya dengung dari mulut kami.
“Di
sini, aku biasa selonjorkan diri,” kata Penyair Tua itu. Rambutnya keperakan
diterpa sinar bulan. Suara tikus-tikus mengais sampah dan musik dari buku
puisinya, menjelma pelipur lara.
“Seperti
fragmen sebuah novel. Kejadian ini seperti fragmen sebuah novel!” Pengarang
Biasa menggerakkan sebagian tangannya dan berusaha menerangkan apa yang ia
lupa. Kemudian kenangan datang tiba-tiba sehabis memandang kumpulan atap di
jauh sana.
Dia
berjalan jauh ke pantainya lagi. Pasir dan kano. Bunyi laut. Perempuan
berkacamata hitam. Aku tak memiliki apapun selain membaca puisi Penyair Tua dan
mencoba mendengar kata-kata Pengarang Biasa tentang kenangannya akibat
persinggungan dengan ini semua.
Penyair
Tua berbicara padaku mengenai kehidupan. Jalan berliku menuju rumahnya selalu
kuanggap kebahagiaan atas pertemuan menyenangkan.
“Pohon
raksasa itu berubah jadi monster!”
“Dan
kau merawatnya dengan baik, kawanku,” jawab Pengarang Biasa.
“Pohon
raksasa yang puitis,” imbuh Penyair Sekota. Artinya tiga kalimat telah melayang
ke udara. Malam itu musik di kepalaku adalah Nocturne dari tahun 1892. Dan aku tak bisa gegas sebab teks-teks
yang kami lontarkan membentuk sembahyang hening yang ungu yang biru tempat
bintang-bintang menempel begitu juga kerinduanku pada luasan di jauh sana.
Kekosongan. Kesementaraan momen. Aku ingin tetap ada di sana. Mencoba jadi
hamba Tuhan yang setia.
Seekor
tokek mengunyah kecoak dan seekor semut hitam mencicipi bubuk kopi di sendok
cangkirku. Satu buku. Dua dan ratusan. Aku mencari sebuah buku. Aku mencari
ratusan kekayaan. Di luar pintu, hanya keheningan dan masjid di samping rumah
Penyair Tua itu tetap singup dalam kemistikannya seusai kami turun dari
undak-undakan berdebu.
Aku
melambung bersama Nocturne. Masuk.
Kata-katanya hanya melewati kupingku. Sastra. Perenial. Tuhan. Tuhan. Masuk dan
keluar dari kupingku. Nocturne
melewati aku dan aku tenggelam dalam rimba melodius. Ketika mengunjungi rumah
sajak Penyair Tua kawanku ini, yang bisa kulakukan adalah menikmati kesendirian
dalam kegembiraan kolektif. Puisi. Puisi. Seperti manis di lentik bulu mata
cinta pertamaku.
“Hanya
bermodal nekat, seseorang bisa membukukan puisi-puisinya!”
“Di
luar daun-daun gugur. Kata-kata ini bisa juga kau coretkan di buku
metafisismu!”
Buku
bersampul kapal uap adalah buku terbaik yang dia miliki. Di dalamnya takkan kau
temukan kata-kata. Sebaliknya, seorang pembaca kekosongan mesti menorehkannya
sendiri.
“Satu-satunya
petunjuk bahwa waktu telah larut, cuma tokek kusam ini!” Ia menunjuk kadal itu
yang bersembunyi di celah genteng seolah tahu dia dituding karena suatu hal.
Tak
ada bunyi. Asap rokoknya melambung jauh dan lenyap. Moksa dalam cerita. Di
kakiku nyamuk-nyamuk menghisap darah dan rasa bahagiaku adalah duduk di samping
buku-buku masa lalu. Aku tidak butuh kehidupan lain selama ada di sini. Aku
tidak butuh dunia ribut yang menuding diriku sebagai anjing sial. Aku tidak
butuh kesendirian selama bersama kaum bahasa yang tak mesti menampakkan diri di
luar sana. Gairah eksistensi hanya kitsch
yang diurai waktu. Puisi kami bisa dibaca suasana. Puisi kami bergaung di
dinding-dinding dan kedalaman malam. Di antara keheningan, seekor tikus mencoba
masuk ke tempolong gula.
“Hush,
kus. Pergilah! Ini bukan jaman puisi yang membebaskan makna kata!”
“Ini
jaman puisi tanpa anak tangga!”
“Tidak
mungkin puisi terbebas dari makna kata-katanya. Sebab puisi disandangi bahasa!”
“Betul.
Kalau ada kredo macam gitu. Cuma puisi jelek yang dia tuliskan!”
“Satu
bintang dan keabadian semu.”
“Satu
bintang, ya, hanya satu.”
“Nol
besar!”
Kami
setuju dengan itu. Aku makin yakin bahwa puisi jelek mesti dipendam dalam
kelupaan. Puisi jelek yang digaung-gaungkan di masa lalu, harus tetap jadi masa
lalu. Dia tidak seperti kenangan, yang pantas diulang-ulang.
Ketika
kau menulis puisi jelek yang menjelek-jelekkan keyakinan penyair lain maka kau
bukanlah seorang penulis puisi meski puisimu jelek. Seperti aku.
Tidak
ada penyair yang bilang dia penyair. Penyair didaku oleh alam. Puisi jelek
bertebaran dari mereka yang bukan penyair. Penyair adalah tulisan dan laku
asketik. Penyair bukanlah keglamoran pertemuan dan kejelekan karya yang
dibilang bagus dari lingkar pertemanan. Penyair adalah dia yang sedang duduk
dan menatap lampu terang. Dunia di luarnya daun-daun gugur bulan November yang
mulai dingin. Penyair ini ada di hadapanku. Menghisap lisong dan mulai
meneruskan pengembaraannya dalam kata-katanya sendiri. Dalam ikatan bahasa.
Malam
itu, kenangan, Nocturne, dan suara
penyair tua di depanku, menjadikan aku masuk dalam dunia sesungguhnya. Tanpa
keraguan. Tak ada omong kosong.
Bagian
2:
Lampu itu amat temaram.
Kisahku belum usai di sana. Semut hitam muncul dan lenyap seperti puisi-puisi
yang pernah kutulis. Puisi-puisi yang kutulis mengacak-acakkan kakinya di
taplak meja penuh buku itu. Mataku menghisap malam, di antara kepedihan dan
insomnia, aku menemukan satu titik lampu merah yang berpijar di rerimbunan daun
pohon-pohon maut. Aku membawanya sampai ke luar kota. Melewati debu yang
diembus truk-truk raksasa. Melewati perempuan-perempuan yang menawarkan pahanya
seolah dirinya menu cepat saji. Melewati rembulan. Dan menuju rumah sajak
dengan pohon yang gulir-gulirnya menghujam genteng. Penyair Tua hidup sebatang
kara tapi penuh puisi. Puisinya melewati diriku. Dan aku terhisap pada sebuah
sajak tentang Despedida. Aku berlayar dalam kolase. Aku meludahi orang gondrong
yang sok di koran pagi sebuah negeri kabut asap. Aku memikirkan tawa seorang
perempuan yang kecil dan manja. Aku terhisap dalam suaranya. Akulah kehidupan
di antara kata-katanya padaku waktu itu. Aku tak menemukan apapun untuk jadi
diriku.
Aku
buka pintu rumahnya. Menemukan dia menghisap rokoknya. Kami berbincang dan
duduk sembari dia merebus air lalu menyeduh kopi.
Jendela
yang memperlihatkan tembok adalah bingkai yang kurindukan jika duduk di sana.
Keluar lagi adalah suasana dingin gaib yang meniupkan kekosongan sementara.
“Selamat
malam, penyair bakat alam!”
“Selamat
menempuh kesendiran bersama kami!”
“Yang
jelas, aku menulis puisi untuk diriku sendiri. Inilah kehormatan.”
“Ya.”
“Ya,
ya-yaka, yaka. Ini diucapkan dalam
sebuah cerpen.”
“Karangan
siapa?” tanyanya.
“James
Joyce.”
“Betulkah?
Seperti apa tadi ucapnya?”
“Ya,
yaka, yaka!”
“Ya,
yaka, yaka” Dia membuka mulut dan menamparnya berkali-kali. Seperti kartun
Indian marah yang dibuat para gringo.
“Kalau
gitu seharusnya kau bilang. ‘Ouwouwouwo....’”
“Tidak
pas dengan tadi, ya?”
“Ya.
Kurang pas.”
Sesudahnya
dia duduk lagi. Kami duduk kembali. Dua kucing melintas di luar. Satu hitam
satu putih. Satu timpang ke kiri yang lain ke kanan. Konsep dan metafor. Yang
pertama tidak mesti yang utama. Sekarang kami akan berdiri dan menari dalam
kegembiraan meskipun dunia kiamat dan orang-orang lain mesti menari seperti
kami. Meskipun didengungkan sangkakala dan ada orang-orang bangkit dari kuburnya.
Makna kami yang menari di atas tanah sebuah rumah dengan pohon monsternya akan
tetap ada, meskipun entah diingat oleh siapa atau apa. Kami akan tetap ada dan
menari di sana. Kami akan tetap ada dan berbincang tentang puisi di sana. Kami
akan tetap ada dan menyeduh kopi hitam di sana dan kami akan tetap ada seperti
puisi-puisi yang hangus, puisi-puisi anonim yang melebihi sebuah keabadian.
Kami akan tetap ada meskipun keberadaan sudah tidak ada. Makna masih ada dan
dijejakkan di sana.
“Bagaimana?”
“Bagaimana
apanya?”
“Tidakkah
mesti diganti begini: ‘Bagaimana kenapa?’”
“Apanya
yang diganti?”
“Pertanyaanmu.”
“Kenapa
mesti kuganti begitu.”
“Itu
cuma aku.”
“Maksudmu?”
“Itu
hanya aku yang tak mau mendengarmu bertanya: ‘Bagaimana?’”
“Dancuk
kau!”
“Hehe.”
“Huh!
Baik kuganti: Bagaimana kenapa?”
“Maksudnya
‘Bagaimana kenapa’?”
“Pertanyaan
awalku!”
“Oh....”
“Ayo
cepat jawab!”
“Weit...tunggu
dulu. Aku butuh seteguk kopi!”
“Jawab
sekarang!”
“Nah...
kita akan membuat buku puisi!”
“Ide
yang bagus.”
“Mengesankan.”
“Setiap
orang dari kita urun 10 puisi!”
“Oke.
Buku puisi tak perlu tebal. Bosan bacanya!”
Aku
memikirkan Serenada. Aku memikirkan
puisi yang kucipta setelah tamasya ke taman krida. Dan suara gadis kecilku yang
merajuk karena keinginannya batal.
Aku
memikirkan hujan jatuh dan hujan tak kunjung jatuh. Aku memikirkan Tuhan tapi
tidak bisa kutemukan wajah yang pas darinya. Aku memikirkan jalan panjang yang
sejuk di sebelah kenangan masa laluku dan aku merasa mau muntah sepanjang jalan
itu. Aku memikirkan wajah perempuan dan perempuan itu pasti tidak memikirkanku.
Aku memikirkan aku-aku yang kini berada jauh dariku. Melintasi waktu dan hidup
di dunianya sendiri. Aku memikirkan rembulan. Kesintingan macam apa yang bakal
kudapat. Aku memikirkan manusia sebab mereka menyebalkan. Aku memikirkan orang
dungu yang berkata bahwa dia penganut paham tak jelas yang ia cetuskan sendiri
dengan nama nihilisme teror; dan menurutnya takdir manusia adalah musnah. Aku
memikirkan kata-kata dan mereka tidak datang bila kupikirkan. Aku memikirkan
kehendakku dan sebuah buku puisi tidak perlu diakui orang lain; cukup kami saja
yang merituskannya di dalam rumah sajak seorang penyair. Aku tak memiliki teman
abadi yang bisa menerima segalanya kecuali kawan-kawan kesusastraan yang
bekerja karena seni itu sendiri. Orang-orang sejati yang tak memiliki nafsu
ingin diakui. Aku memikirkan lukisan-lukisan dan bangunan-bangunan di tepi
danau yang sejuk dan sepasang homo melantunkan kegembiraannya di sebuah waduk
yang kecil dan sunyi ketika pagi. Aku akan memihak pada mereka karena kebebasan
adalah kutukan. Aku memikirkan agama tapi tidak ada yang pas di hatiku. Aku
memikirkan cinta pertamaku dan gulungan rambutnya yang mengombak dan harum.
Kekasih masa kecilku yang ditelan waktu. Aku ingin lari dari kenangan tapi
orang-orang sok yang menulis puisi membuatku muntah dan kembali pada masa
laluku. Aku memikirkan pengetahuan sebuah batu yang sering kulempar ke kali di
masa aku kecil: Apakah dia tidak marah padaku ketika tenggelam ke dalam
kegelapan kali kotor itu. Dan aku memikirkan malam karena kemistikannya berarti
satu: kesunyian.
Bagian
3:
Di dalam sebuah novel
yang kau baca, seseorang tenggelam di laut karena dia melupakan kenangannya.
Kesunyian menindihnya; ia telah sangat lupa pada kenangan sebab mengira akan
datang sebuah jawaban pada seorang tokoh yang mencoba mengartikan definisi
kesunyian. Kau terkejut membaca kisah itu. Seperti cermin pertama yang kau
dapati dirimu ada di dalamnya ketika masih bocah. Setiap detik terperanjat dan
takjub pada dunia.
Di
tengah laut, sebuah perahu tanpa awak mendatangimu. Itu karena, selesai membaca
novel, kau mengambang di kesesatan laut. Tepat saat membaca titik kalimat
terakhir di pungkasan novel, kau langsung dilemparkan oleh segenap kekuatan
dari luar dirimu sampai ke hamparan laut. Kau kaget. Dalam dingin air dan rasa
tak percaya, kau mengutuki dirimu sendiri dan rasa takut menjalar karena hantu
tak nampak yang membawamu ke sini; Hantu Penghayatan. Ketakjuban bundar yang
menelan kita saat hanyut dalam sebuah cerita.
Kau
mencakar-cakari udara, tak bisa berenang sebelum satu raihan terakhir tanganmu
sampai pada lingiran perahu di bagian buritan. Kau angkat tubuhmu, memasuki
perahu. Dayung panjang di sebelahmu. Kau selamat, tidak jadi mati.
Kau
berada di mana, kau tanyakan itu berulang kali pada dirimu. Tapi jawabannya
tidak ada. Kau tidak tahu dirimu berada di mana. Kau merasa semua biru ini
begitu mengerikan. Kesunyian, kekosongan.
Kau
mendayung. Entah berapa lama kau mendayung. Berjalan atau tidak, yang jelas di
sana cuma ada biru sejauh mata memandang. Kehidupan lain sekadar suara dalam
laut: debur yang menggoncang itu perahu dengan dirimu di dalamnya. Kau
sendirian. Kau selalu sendirian. Mungkin saat ini ada yang menonton dirimu dari
luar dan mempermainkan kau ke dalam sebuah novel yang baru saja kau tandas
ceritanya.
Bagian
4:
Aku dirikan rumah. Di
pantai. Tidak ada siapapun di sana. Kehidupan terindah yang bakal dimiliki
manusia adalah tidak ada eksistensi lain yang sebentuk dengannya di sebuah
tempat. Pasir berbunyi, jejak diriku sendiri melangkahinya dari hari ke hari
dan suara ombak di lautan, tentu saja akan berharga untuk disesap sendirian.
Setelah ini aku tidak akan menulis lagi. Aku hanya menulis apa yang pernah
kutulis; berkali-kali sampai nanti mati. Di rumah itu akan kupasang sesuatu
mirip fonograf. Sesuatu buat mendengar musik dan aku hidup di sana selama
mungkin.
Di
rumahku akan ada ribuan buku yang membuatku terus sibuk menelusuri dunia dari
abad-abad lalu hingga kini. Satu lampu di sudut meja untuk menerangi aku
membaca. Dan sore dan malam dari tahun-tahun yang hilang. Akan tidak ada
keramaian dan bahasa manusia hanya kubaca dalam buku-buku. Setelah itu kebisuan
merapat ketika aku memandang senja atau bintang-bintang dan suara air di laut,
ribuan pasir tergerus ke dalamnya.
Aku
melangkah, menuju kasur. Lalu kupandang jendela yang menanarkan biru padaku.
Aku akan menulisnya berkali-kali. Tak bosan karena di sana hanya aku seorang.
Aku tak perlu orang lain untuk mengusir kesepian sebab bagiku dia adalah teman
yang sesungguhnya. Dia datang, melempar batu kecil ke kepalaku dan dia
bersembunyi di kotak penyimpanan kubik es nenekku. Dia lenyap di antara mata
merah sebuah lampu yang digelut rimbun daun pepohonan. Dia menatapku dengan
tajam; sebuah tatapan angkuh yang mengajarkan padaku bahwa apa yang sudah
terjadi biar jadi masa lalu. Aku akan menerimanya dengan santun, sebagai
sahabat seumur hidupku.
Rumahku
kayu. Tak ada pagar di luarnya. Langsung menatap laut. Pantai tanpa pohon-pohon
palem. Pantai tanpa pekikan camar. Hanya aku dan buku. Suara lain adalah
gemuruh ombak.
Pagi
hari adalah waktu berdoa. Bukan kepada apa atau siapa. Aku berdoa untuk diriku
sendiri. Dari suasana pagi, berkah teks demi teks yang terjalin rapi dalam
buku-buku; dan bau dingin yang mengingatkan diriku pada kesegaran yang aku
rindukan.
Aku
memutar musik. Taman abadi kehidupan Faun. Aku meniup seruling, memanjang dan
lama. Menyibak cahaya mentari di bukit-bukit hijau. Dan yang terakhir aku
bayangkan adalah sebuah lubang hitam menyeramkan yang bakal menghisap aku ke
dalam entah.
Selama
ini, ratusan tahun aku hidup, yang ada cuma kesesatan.