Kamis, 26 Mei 2016

Nukilan Novel Hingga Ikan Terbang dan Burung Berenang--sebuah karya pendek



.2

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Ketika kubuka kelopak mataku, noda hitam di langit-langit sudah hilang. Mungkin kemarin malam hanya imajinasiku.
            Aku makan omelet nasi, dan minum sekaleng bir sambil menonton tivi. Hari ini tidak ada yang spesial kecuali hari pemilihan presiden sudah dekat. Lalu aku kenakan kostum kerjaku dan bersiap menghadapi hari yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
            Meskipun masih pagi, hawa terasa sudah panas. Atau ini cuma perasaanku saja karena mengenakan kostum ayam ini. Di dalam sini, aku melihat seorang anak kecil mulai mendekatiku.
            “Ibu, tolong foto aku bersama ayam ini!” katanya. Dia menarik sayapku dan aku terpaksa merunduk agar dia bisa menggapainya.
            “Diam di tempat...nak, satu, dua...,” dan setelah suara ckrek mengakhiri itu semua. Kredit foto langsung muncul di bawah lensa kamera. Itu adalah foto yang mengagumkan bagi anak tersebut. Bagiku itu sama sekali memuakkan. Saat kupandang lebih dekat ibu si anak, aku rasa aku mengenalnya. Dan ternyata betul. Dia adalah temanku di sekolah menengah dulu.
            Sontak, aku pun membuka kepala ayamku ini, dan tersenyum di depannya.
            “Ini aku, Bagsu, masih ingat?”
            Melisa menatapku. Dia berpikir sejenak setelah mulutnya setengah terbuka dan berkata aha, dia ingat aku. Kami pun berbicara secara formal, menanyakan kabar dan hal yang kubenci: pekerjaan.
            “Yah, inilah pekerjaanku. Kalau bisa dibilang begitu.”
            Anaknya pun mencuap-cuap, “Ibu ayo kita pergi dari sini.”
            Melisa menanyakan rumahku, kujawab tiga blok dari sini, depan toko alam musik Alfalfa. Dia terlonjak seolah-olah mendapat durian runtuh. “Kau tahu apa yang cocok,” katanya, “anakku pun namanya Alfalfa. Sini dulu fa, salaman sama paman. Dia teman mama dulu di SMA.”
            Anak itu pun mendongak, sambil merengut dia menyalami sayapku. Mereka kemudian pergi dan Melisa meninggalkan kartu namanya. Seorang ibu rumah tangga aku pikir tidak perlu kartu nama.
            Mungkin anaknya merasa aneh ketika melihatku. Tapi bagaimanapun, sebagian besar orang dewasa kalau dilihat dari bawah akan nampak jelek di mata anak-anak. Itu petuah yang jitu dari Orwell.
            Setelah pekerjaanku selesai, aku ganti pakaian dan menuju sebuah danau di pinggiran kota untuk santai mencoba membaca lanjutan Ketika Air Asin Bertemu Segelas Bir . Namun  seekor bebek membuatku melepas bacaanku. Aku mendekati tepi danau dan memandang bebek itu dengan saksama. Warna bulunya yang coklat, paruhnya yang melengkung, seolah-olah membuatku tercangkung di sini. Diam dan memerhatikan segala tingkah lakunya. Aku seperti kena sihir dan mendapati hari sudah begitu malam ketika lampu-lampu mulai dinyalakan. Bebek itu menghilang. Aku tidak bisa menemukannya. Aku sulut sebatang rokok yang gemetaran untuk meredakan dingin. Kerah jaket kutinggikan hingga menutup sebagian kepalaku. Aku bersandar di sebatang pohon besar dan mulai membayangkan masa lalu. Lintasan kenangan yang hadir saat usai pertandingan lari estafet dan kami ganti baju. Teman-teman wanita ganti baju terlebih dahulu dan secara tidak sengaja aku melihat gundukan terbalut bra hitam berbintil-bintil oranye yang tengah dimasukkan ke baju seragam. Sesuatu dalam diriku saat itu mengeras dan malamnya aku masturbasi di kasur yang pengap, dengan kemiskinan dan nenek bau yang selalu kudoakan cepat-cepat mati.
            Nenekku merawatku tapi dengan rasa enggan. Ibuku pelacur dan ayahku tidak pernah pulang. Ibuku mati pasca mengidap gonorhe dan dia berujar bahwa aku mesti kuat. Aku memang kuat, kuyakinkan itu. Untung anak-anak sekolah tidak tahu bahwa ibuku seorang pelacur. Tapi ibu-ibu mereka seperti jijik jika memandangku. Aku hanya berteman dengan satu orang anak kurus dengan mata yang selalu berair. Anak itu yang selalu mengajakku pergi ke pantai dan mendengar ombak di sore hari. Suatu ketika, dia berusaha menciumku dan mengelus-elus bagian bawah pusarku. Sejak saat itu aku membencinya dan dia berusaha meminta maaf. Aku lulus SD dan melupakan kejadian itu. Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin dialah pewaris sah si Frank guruku itu. Sekarang bagaimana, ya, keadaannya?
            Nenekku akhirnya mati. Dia sudah sekecil kera merah di hutan yang kujelajahi sendirian waktu itu. Aku hidup sendirian di sebuah rumah yang tidak begitu besar dengan tabungan almarhumah nenek dan ibuku si pelacur. Aku hidup di sana sampai menjelang SMA dan setelah lulus sekolah menengah pertama, aku memulai hidupku di pusat kota. Menjual rumahku dan tinggal di asrama sekolah. Hidupku penuh kebahagiaan saat itu. Aku menunggangi dua wanita selama dudukdi kelas dua dan menghisap ganja di kelas tiga. Teman-temanku menjuluki diriku Si Merah karena kemaluanku berwarna merah terang seperti pencerahan bagi mereka. Mereka semua menghormatiku dan selalu memberi selinting ganja untuk aku hisap. Bila ada yang pulang ke rumah dan kembali ke asrama membawa makanan atau apapun, maka yang pertama dibagi adalah aku. Mereka semua berteman denganku karena aku orangnya tidak takut apapun dan tidak pernah menghawatirkan masa depan. Masa depan yang kuangankan dulu adalah menjadi seorang gigolo atau pemilik perusahaan rekaman. Aku berani menantang beberapa guru dan siap adu pukul dengan seorang guru olah raga yang kabarnya suka meniduri muridnya yang tampak nakal. Dan sekarang aku terpuruk di sini dengan jualan telur mengenakan kostum ayam cebol sialan! Ditinggalkan orang-orang dan menangis sendirian. Menghisap rokok lalu memandang bulan dan bintang.
            Saat aku hanyut dalam kenangan dan kesedihan, sebuah suara mengambil diriku dalam karnaval yang kuputar.
            “Hei, bagi rokoknya,” seru suara itu.
            Aku menoleh dan melonjak hingga tersungkur ke belakang. Hantu gemuk yang mengerikan!
            “Hei, jangan takut. Aku cuma mengenakan kostumku. Tadi habis menghadiri ulang tahun seorang bocah!”
            Ketika dia melangkah mendekatiku, akhirnya sorot lampu berhasil menangkap sosoknya. Badut gemuk yang nampak mengerikan dengan senyum buatan berwarna merah di sekitar bibirnya.
            Kuberi dia sebatang rokok.
            Dari kopernya, dia mengeluarkan pistol. Jangan-jangan ini akhir dari diriku!
            Bukan. Pistol itu malah ia arahkan ke mulutnya. Sambil menghisap rokok yang belum dinyalakan, ia mau mati.
            Aku mengucek mataku. Ingin merekam kematian ini dengan jelas tapi ternyata aku salah. Pistol itu hanya pemantik api.
            Dia menghisap rokoknya dan mengembuskannya ke udara hingga berbentuk O.
            “Sendirian di sini ngapain, kau?”
            “Aku memandang danau.”
            “Pekerjaanmu apa?”
            “Jualan telur.”
            “Aku badut pesta. Kau lihat, kan. Aku menyewa sebuah apartemen bobrok di bangun besar sebelah sana.” Ia menunjuk gedung tinggi kusam yang terlihat sepertinya dengan satu embusan napas bisa rubuh tiba-tiba.
            “Saat memandang danau. Yang menyenangkan adalah menyaksikan bias lampu di permukaannya. Itu seperti ular-ular yang bercahaya.”
            Aku pun mengangguk.
            Dia mencoba menyelidiku dari matanya. Mata dengan bulatan merah yang mengerikan di sekitar.
            “Kau di sini tidak coba bunuh diri, kan?” tanyanya tiba-tiba.
            “Bukan.”
            “Tapi kau terlihat kacau.”
            “Itu mungkin karena tanganku. Ini karena kecelakaan beberapa tahun lalu.”
            “Tidak, bukan itu. Tapi tampangmu. Seperti habis menangis.”
            “Karena kehidupan,” jawabku.
            “Oh....”
            Setelah itu kami berdiam cukup lama dan memandang danau dengan ular-ular itu. Dia berdiri dari tempat duduknya, membersihkan pantatnya dari rumpur dan berucap, “Baiklah. Aku pulang dulu. Kapan-kapan kita pasti bisa bertemu lagi. Saat itu, kau tidak boleh menangis lagi. Sebab setelah pertemuan itu saja kau boleh menangis, sampai jumpa!”
            Kata-katanya aneh, tapi aku pun membalas lambaiannya ketika dia sudah jauh beranjak.
            Saat aku kembali dari danau, aku terkejut dengan situasi di dalam rumahku. Tujuh ikan plantisku berkurang satu. Kusibak karang tapi tidak ada. Setelah mencari di sana-sini, akhirnya aku menemukannya, jauh di sebelah akuarium, di samping kaki almari, tertutup kertas-kertas. Aneh sekali karena jarak lompatannya begitu jauh. Aku kembalikan ikan itu ke akuarium dan ikan itu seperti mabuk, hampir mati sampai berangsur-angsur normal lagi.
            Aku buka lagi halaman novel yang kubawa tadi. Selama sesaat aku membaca sampai aku merasa terganggu karena gedoran pintu. Rasanya aku sudah melunasi kontrakanku buat satu bulan ke depan. Apa yang perlu dilakukan lagi?
            Dengan langkah malas aku menggapai pintu. Namun ketika kubuka, bukan ibu pemilik rumah yang datang, hanya angin lalu yang membenturkan suara-suaranya. Tidak ada orang sama sekali.
            Aku mengantuk. Dan seketika aku tidur pulas.
            Saat fajar, pintuku kembali diketuk-ketuk. Kali ini bukan sihir angin, melainkan seorang perempuan.
            Melisa.


.3

Hal pertama yang dia lakukan setelah menerobos masuk adalah melucuti pakaianku. Tanganku gemetar, dan itu merupakan kesenangan baginya. Dia menunjuk puting susunya dan kugetarkan. Kejut listrik itu menggetarkan dirinya, membuatnya mabuk dalam rengkuhanku. Dia tertawa senang.
            “Aku akan sering ke sini,” katanya setelah itu.
            Melisa yang kukenang adalah gadis pendiam. Seorang perempuan berkacamata yang tidak sudi bila jawaban ulangannya ditiru orang lain. Dia seperti membuat perlindungan, sebuah parit dari tangan dan lirikannya di sekitar jawaban itu dan orang-orang enggan meliriknya kecuali terpaksa. Kebetulan saat itu dia murid terpintar di kelas. Hanya sedikit yang mau berteman dengannya. Dan aku juga tidak begitu memerhatikan dirinya.
            Dia seperti anjing lapar yang menjilati seluruh tubuhku. Seolah dia penjilat profesional yang mengerikan. Matanya bersinar dan aku serasa tidak mengenalinya. Kedua tanganku diarahkan olehnya buat memegang sepasang pir itu. Aku gemetar akan hal itu. Sudah lebih dari setahun aku tidak merasakan wanita dan kedatangannya, meskipun tidak kukira, setidaknya jadi penghiburan diri.
            Suara kucing bertengkar membangunkan lamunanku. Aku cepat-cepat ganti pakaian, menjadi ayam lagi. Hari ini tanggal 15. Hari ulang tahun anakku, Denis, dan semestinya aku harus membawakan hadiah untuknya. Selepas berlagak menawarkan telur, yang kuanggap percuma, aku cepat-cepat pulang, ganti baju. Aku beli kue tart yang dibungkus kertas kado bergambar kapal favorit Denis. Aku memesan tiket, naik trem selama setengah jam. Waktu menunjukkan pukul delapan malam saat aku tiba di depan pintu rumah yang tertutup, dengan siluet gembira di sebuah jendela yang menggambarkan seorang anak, kue ultahnya, ibu, dan seorang lelaki dewasa yang memberinya mainan yang menurutku seperti kapal. Aku kaku di depan jendela itu, dan beberapa saat kemudian, berbalik arah lalu pulang. Aku sudah tidak diingat lagi.
            Mungkin istriku punya pacar baru. Ayah baru bagi anakku. Di perjalanan pulang, aku buka Ketika Air Asin Bertemu Segelas Bir lanjutan saat Hananto memikirkan buah dada temannya.

Hananto menggenggam tangan Roxanne dengan gugup. Taman itu begitu bersih. Beberapa petugas menyapu dengan serius di sekitar taman. Untuk masuk ke sini, pengunjung dikenakan biaya yang murah sekali. Saat itu minggu, jadi pengunjungnya membludak. Seekor kera kecil memamerkan bokongnya kepada bocah kecil yang dengan kesal menghantamkan botol ke kandang besi si kera. Kera itu berteriak, anak kecil itu lari tunggang langgang menghampiri kedua orang tuanya yang tersenyum karena tingkah konyol anaknya.
            “Mau es krim?” tanya Hananto.
            Roxanne mengangguk. Hananto pergi meninggalkan dirinya yang sedang duduk di samping permainan jungkat-jungkit. Teleponnya berbunyi. Suara Yoko.
            “Hei, manis, kamu sedang ngapain?”
            “Aku di taman krida, sama temanku, ada apa?”
            “Oh, kebetulan, malam ini akan ada pertunjukan lumba-lumba. Aku mau lihat ke sana, kamu mau?”
            “Boleh juga. Aku ajak temanku ya?”
            “Ya...yang kemarin itu?”
            “Iya. Eh, kata dia, dia nggak bisa lihat Yoko kemarin malam.”
            “Hah, maksudnya?”
            “Katanya, kemarin malam sewaktu aku tunjukin kamu, dia bilang gak tahu di mana kamu. Padahal di depannya persis. Tolol banget, kan.”
            “Hihihi, mungkin aku hantu kali...”
            Saat pembicaraan itu berlangsung, Hananto sudah sampai membawa dua kerucut dengan segunung es di atasnya. Es krim vanila bertumpuk di atas es krim coklat.
            “Udah dulu, ya,” kata Roxanne.
“Bicara dengan siapa sih?”
“Yoko. Temanku kemarin.”
“Oh, nih.”
“Makasih.”
Roxanne menjilati es krimnya. Hari minggu yang indah.
“Eh, nanti malam ada pertunjukan lumba-lumba, mau lihat, ga?”
“Oke, siaplah.”
“Sama Yoko, ya.”
“Terserah. Aku ajak teman lagi.Bagaimana kalau Mick?”
“Mick? Gak apa-apa.”
Malam itu, Mick Jagger dan Hananto sudah tiba di depan rumah Roxanne. Adolf, ayah Roxanne yang terkenal karena kumis kota di atas bibirnya adalah orang tua tergalak yang pernah ada. Dengan matanya yang merah dan pelipis penuh otot, dia memandangi dua pemuda itu. “Jangan sampai lupa. Pulang pukul 9. Ngerti kalian?”
Tapi bagi Hananto, itu bukan masalah. Adolf agak segan dengan anak itu, karena dia mengenal kedua orang tuanya. Sampai saat itu, hanya Hananto yang berani mendekati Roxanne.
Sirkus lumba-lumba sudah penuh orang saat mereka bertiga sampai. Kemudian seorang pria dari belakang Roxanne memegang pundaknya dan memberi salam. Dia Yoko.
“Wah, Yoko, kau kelihatan berbeda,” kata Roxanne terheran-heran.
“Biar gak diusir.”
Yoko mengenakan jaket hitam tebal dan celana jins dengan sepatu kets warna hitam. Dia terlihat gahar, minus kumis. Semua riasannya, termasuk wig, ditinggalkan di rumah.
Jadi dia Yoko, pikir Hananto. Orangnya sudah tua. Seumuran ayahku mungkin.
Meskipun begitu, wajah Yoko nampak halus, seperti wanita. Waria jalanan itu merawat dirinya dengan baik, sehingga tidak terkesan murahan.
Mereka duduk di barisan belakang paling tinggi. Setiap orang sudah menanti-nanti aksi Junggur si lumba-lumba. Dan seorang pawang masuk membawa lingkaran api di tangannya. Dari dalam air, Junggur melompat dan semua orang bertepuk tangan. Junggur bermain matematika dengan menjawab soal tambah-tambahan ringan. Tiga anggukan disertai suara ciut yang manis berarti angka 3. Junggur sangat menghibur penonton. Tapi perhatian Yoko bukan pada si lumba-lumba, melainkan pada Hananto. Dari awal tadi, dia memerhatikan wajah Hananto yang membangkitkan kenangan lamanya akan masa lalunya saat hanya bisa memandangi Gunter dari samping.
“Pertunjukan tadi konyol, ya?” tanya Mick.
“Konyol apanya?”
“Mereka mengeksploitasi seekor lumba-lumba agar dapat uang. Kenapa gak mengeksploitasi dirinya aja: jadi lonte dan gigolo!”
“Pemikiran yang bagus,” sahut Yoko.
Roxanne nampak cemas. “Gimana kalau kita makan mi di sebelah sana.
“Oke, ayo. Kau yang traktir, ya,” kata ,Mick. Bocah itu gampang sekali dialihkan.
Mereka berdua berlari, meninggalkan Hananto dengan Yoko.
“Pertunjukannya bagus,” kata Hananto.
“Ya, memang.”
“Kemarin aku kok tidak melihat kamu, ya? Atau mataku kurang sehat mungkin, haha.”
“Mungkin karena gaunku bisa menyamar di kegelapan. Tidak usah dipikirkan. Toh, kita sudah bertemu.”
Mereka berempat menikmati mi ayam di tengah dinginnya malam. Yoko nampak seperti pria normal. Tidak ada perilaku yang gemulai sehingga Mick Jagger mengira dia kakak Roxanne.
“Selama ini kau ada di mana? Kulihat Roxanne selalu sendirian.”
Sebelum Yoko bicara, Roxanne sudah mengucapkan kata.
“Rumahnya tidak jauh dariku. Dia sepupuku.”
“Oh.”
“Sekarang, habiskan makananmu!”
“Baiklah...”
Bulan di atas kepala mereka benar-benar misterius. Hanya beberapa suasana yang akan diingat manusia sepanjang hidupunya: bulan di malam hari; hujan dan dia menontonnya dari balik kaca; bayangan bulan di permukaan danau, laut ,sungai. Suasana-suasana seperti inilah yang terasa menekan, getir, dan sendu. Meski kau sebahagia apapun.
“Kalian tahu apa yang baru?” tanya Mick Jagger.
“Apa?”
“Sekarang, kalau mau berbelanja di minimarket, baiknya bawa tas penampung belanjaan sendiri. Lebih baik dari kain. Karena jika tidak bawa, kau dikenakan biaya seharga mi ayam buat nebus tas plastik untuk membawa belanjaanmu. Keluargaku sudah menerapkan itu. Masing-masing dari kami membawa tas kain sendiri-sendiri. Jadi jika berbelanja, kami tidak perlu mengeluarkan uang tambahan. Sekecil apapun, uang tambahan yang dikenakan saat belanja itu rasanya menyebalkan.”
“Kalau dipikir-pikir, betul juga, ya,” kata Roxanne.
“Ide keluarga kami,kan?”
“Bukan yang itu. Meskipun itu betul. Yang kau katakan, kalau mengeluarkan biaya apapun sebagai tambahan setelah belanja itu rasanya menyebalkan. Meskipun juga biaya untuk amal. Biasanya di minimarket tertentu ada kotak amalnya dan kita dipaksa buat memasukkan uang di sana. Itu rasanya menyebalkan.”
“Hemm... ya, kotak amal. Meskipun dapat pahala, tapi pahala tidak bisa dilihat. Kita tidak tahu itu benar atau tidak. Kita tidak tahu sorga ada atau tidak. Semua hanya dari kata-kata saja!”
“Wah, terlalu ngelantur, kau...”
“Bagiku, agama hanya bisa dipikirkan saat tua nanti. Masa muda hanya memikirkan bagaimana lulus dan masuk universitas besar atau masuk universitas kecil dan bisa bekerja. Agama diperlukan saat kita sudah tua. Atau tidak sama sekali,” sahut Hananto.
“Yang pasti, aku tidak percaya pada kata-kata seratus persen,” kata Mick Jagger.
Hanya Yoko yang diam. Pikirannya seakan tidak ada di sana. Dia memikirkan masa lalunya. Saat bercanda dengan teman-teman dan dia sok akrab di samping Gunter agar bisa berada sedekat mungkin dengannya dan mencium wangi parfumnya. Dia amat mencintai ayah Hananto.
Saat mereka berjalan ke arah rumah Roxanne. Sebuah mobil Datsun tua entah jenis apa, tiba-tiba berhenti. Itu mobil Tuan Gunter.
“Ayah,” seru Hananto.
Dalam hati, Yoko serasa berdebar. Jadi dia anaknya, pikir Yoko. Pantas sangat mirip.
Mereka semua menyalami Tuan Gunter begitu pula Yoko. Tapi Tuan Gunter tidak mengenali dia sama sekali.
“Anak-anak, kami pulang dulu.”
“Mick, antar Roxanne pulang, ya,” kata Hananto.
“Beres.”
Tuan Gunter mengangguk kepada mereka semua dan setelah keduanya masuk mobil, beberapa saat kemudian sudah tidak nampak dari pandangan Yoko.
Dia tidak mengenaliku, dia sudah tua. Meskipun begitu, rambutnya tidak berkurang seinci pun. Masih setampan dulu, batin Yoko, berdebar-debar.
Malam itu, suasana bulan memberati diri Yoko yang sendu dan ingin cepat pulang buat menangis.




Pastoral



pagi yang robek
menjenguk warnanya
piuh angin menusuk kulitku
dan partikel debu
ditembaki cahaya matari
terjatuh ke lubuk kata
aku keluar, menghadapi keriuhan dunia
tapi tak mengerti apa yang mesti dicari:
tak ada clairvoyan hidup di abad ini
tak ada masa depan
yang digambarkan sejelas kemarin
di belakangku
bau cercaan seperti bacin ludah orang tua
aku menengok ke dalam hitam sumur
meneriakkan namamu bertubi-tubi
pada bukit hijau yang kosong
pada gunung pucat
yang membiarkan aku dilupakan
aku ungkai kisah masa lalu
dan tidak ada
tidak ada lagi kegembiraan putih
tempat anak-anak meringankan tubuh
jelma pesawat terbang
berputar-putar                         
di tengah hari
kini aku saksi september luntur
mataku terbawa jauh
menembus merkuri lampu yang tersisa
bersitegang dalam kesepian:
agar tak bahagia

2015