.2
Pagi-pagi
sekali aku sudah bangun. Ketika kubuka kelopak mataku, noda hitam di
langit-langit sudah hilang. Mungkin kemarin malam hanya imajinasiku.
Aku makan omelet nasi, dan minum
sekaleng bir sambil menonton tivi. Hari ini tidak ada yang spesial kecuali hari
pemilihan presiden sudah dekat. Lalu aku kenakan kostum kerjaku dan bersiap
menghadapi hari yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
Meskipun masih pagi, hawa terasa
sudah panas. Atau ini cuma perasaanku saja karena mengenakan kostum ayam ini.
Di dalam sini, aku melihat seorang anak kecil mulai mendekatiku.
“Ibu, tolong foto aku bersama ayam
ini!” katanya. Dia menarik sayapku dan aku terpaksa merunduk agar dia bisa
menggapainya.
“Diam di tempat...nak, satu, dua...,”
dan setelah suara ckrek mengakhiri
itu semua. Kredit foto langsung muncul di bawah lensa kamera. Itu adalah foto
yang mengagumkan bagi anak tersebut. Bagiku itu sama sekali memuakkan. Saat
kupandang lebih dekat ibu si anak, aku rasa aku mengenalnya. Dan ternyata
betul. Dia adalah temanku di sekolah menengah dulu.
Sontak, aku pun membuka kepala
ayamku ini, dan tersenyum di depannya.
“Ini aku, Bagsu, masih ingat?”
Melisa menatapku. Dia berpikir
sejenak setelah mulutnya setengah terbuka dan berkata aha, dia ingat aku. Kami
pun berbicara secara formal, menanyakan kabar dan hal yang kubenci: pekerjaan.
“Yah, inilah pekerjaanku. Kalau bisa
dibilang begitu.”
Anaknya pun mencuap-cuap, “Ibu ayo
kita pergi dari sini.”
Melisa menanyakan rumahku, kujawab
tiga blok dari sini, depan toko alam musik Alfalfa. Dia terlonjak seolah-olah
mendapat durian runtuh. “Kau tahu apa yang cocok,” katanya, “anakku pun namanya
Alfalfa. Sini dulu fa, salaman sama paman. Dia teman mama dulu di SMA.”
Anak itu pun mendongak, sambil
merengut dia menyalami sayapku. Mereka kemudian pergi dan Melisa meninggalkan
kartu namanya. Seorang ibu rumah tangga aku pikir tidak perlu kartu nama.
Mungkin anaknya merasa aneh ketika melihatku.
Tapi bagaimanapun, sebagian besar orang dewasa kalau dilihat dari bawah akan
nampak jelek di mata anak-anak. Itu petuah yang jitu dari Orwell.
Setelah pekerjaanku selesai, aku
ganti pakaian dan menuju sebuah danau di pinggiran kota untuk santai mencoba
membaca lanjutan Ketika Air Asin Bertemu
Segelas Bir . Namun seekor bebek membuatku melepas bacaanku. Aku
mendekati tepi danau dan memandang bebek itu dengan saksama. Warna bulunya yang
coklat, paruhnya yang melengkung, seolah-olah membuatku tercangkung di sini.
Diam dan memerhatikan segala tingkah lakunya. Aku seperti kena sihir dan
mendapati hari sudah begitu malam ketika lampu-lampu mulai dinyalakan. Bebek
itu menghilang. Aku tidak bisa menemukannya. Aku sulut sebatang rokok yang
gemetaran untuk meredakan dingin. Kerah jaket kutinggikan hingga menutup
sebagian kepalaku. Aku bersandar di sebatang pohon besar dan mulai membayangkan
masa lalu. Lintasan kenangan yang hadir saat usai pertandingan lari estafet dan
kami ganti baju. Teman-teman wanita ganti baju terlebih dahulu dan secara tidak
sengaja aku melihat gundukan terbalut bra hitam berbintil-bintil oranye yang
tengah dimasukkan ke baju seragam. Sesuatu dalam diriku saat itu mengeras dan
malamnya aku masturbasi di kasur yang pengap, dengan kemiskinan dan nenek bau
yang selalu kudoakan cepat-cepat mati.
Nenekku merawatku tapi dengan rasa
enggan. Ibuku pelacur dan ayahku tidak pernah pulang. Ibuku mati pasca mengidap
gonorhe dan dia berujar bahwa aku mesti kuat. Aku memang kuat, kuyakinkan itu.
Untung anak-anak sekolah tidak tahu bahwa ibuku seorang pelacur. Tapi ibu-ibu
mereka seperti jijik jika memandangku. Aku hanya berteman dengan satu orang
anak kurus dengan mata yang selalu berair. Anak itu yang selalu mengajakku
pergi ke pantai dan mendengar ombak di sore hari. Suatu ketika, dia berusaha
menciumku dan mengelus-elus bagian bawah pusarku. Sejak saat itu aku
membencinya dan dia berusaha meminta maaf. Aku lulus SD dan melupakan kejadian
itu. Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin dialah pewaris sah si Frank guruku
itu. Sekarang bagaimana, ya, keadaannya?
Nenekku akhirnya mati. Dia sudah
sekecil kera merah di hutan yang kujelajahi sendirian waktu itu. Aku hidup
sendirian di sebuah rumah yang tidak begitu besar dengan tabungan almarhumah
nenek dan ibuku si pelacur. Aku hidup di sana sampai menjelang SMA dan setelah lulus
sekolah menengah pertama, aku memulai hidupku di pusat kota. Menjual rumahku
dan tinggal di asrama sekolah. Hidupku penuh kebahagiaan saat itu. Aku
menunggangi dua wanita selama dudukdi kelas dua dan menghisap ganja di kelas
tiga. Teman-temanku menjuluki diriku Si Merah karena kemaluanku berwarna merah
terang seperti pencerahan bagi mereka. Mereka semua menghormatiku dan selalu
memberi selinting ganja untuk aku hisap. Bila ada yang pulang ke rumah dan
kembali ke asrama membawa makanan atau apapun, maka yang pertama dibagi adalah
aku. Mereka semua berteman denganku karena aku orangnya tidak takut apapun dan
tidak pernah menghawatirkan masa depan. Masa depan yang kuangankan dulu adalah
menjadi seorang gigolo atau pemilik perusahaan rekaman. Aku berani menantang
beberapa guru dan siap adu pukul dengan seorang guru olah raga yang kabarnya
suka meniduri muridnya yang tampak nakal. Dan sekarang aku terpuruk di sini
dengan jualan telur mengenakan kostum ayam cebol sialan! Ditinggalkan
orang-orang dan menangis sendirian. Menghisap rokok lalu memandang bulan dan
bintang.
Saat aku hanyut dalam kenangan dan
kesedihan, sebuah suara mengambil diriku dalam karnaval yang kuputar.
“Hei, bagi rokoknya,” seru suara
itu.
Aku menoleh dan melonjak hingga
tersungkur ke belakang. Hantu gemuk yang mengerikan!
“Hei, jangan takut. Aku cuma
mengenakan kostumku. Tadi habis menghadiri ulang tahun seorang bocah!”
Ketika dia melangkah mendekatiku,
akhirnya sorot lampu berhasil menangkap sosoknya. Badut gemuk yang nampak
mengerikan dengan senyum buatan berwarna merah di sekitar bibirnya.
Kuberi dia sebatang rokok.
Dari kopernya, dia mengeluarkan
pistol. Jangan-jangan ini akhir dari diriku!
Bukan. Pistol itu malah ia arahkan
ke mulutnya. Sambil menghisap rokok yang belum dinyalakan, ia mau mati.
Aku mengucek mataku. Ingin merekam
kematian ini dengan jelas tapi ternyata aku salah. Pistol itu hanya pemantik
api.
Dia menghisap rokoknya dan
mengembuskannya ke udara hingga berbentuk O.
“Sendirian di sini ngapain, kau?”
“Aku memandang danau.”
“Pekerjaanmu apa?”
“Jualan telur.”
“Aku badut pesta. Kau lihat, kan.
Aku menyewa sebuah apartemen bobrok di bangun besar sebelah sana.” Ia menunjuk
gedung tinggi kusam yang terlihat sepertinya dengan satu embusan napas bisa
rubuh tiba-tiba.
“Saat memandang danau. Yang
menyenangkan adalah menyaksikan bias lampu di permukaannya. Itu seperti
ular-ular yang bercahaya.”
Aku pun mengangguk.
Dia mencoba menyelidiku dari
matanya. Mata dengan bulatan merah yang mengerikan di sekitar.
“Kau di sini tidak coba bunuh diri,
kan?” tanyanya tiba-tiba.
“Bukan.”
“Tapi kau terlihat kacau.”
“Itu mungkin karena tanganku. Ini
karena kecelakaan beberapa tahun lalu.”
“Tidak, bukan itu. Tapi tampangmu.
Seperti habis menangis.”
“Karena kehidupan,” jawabku.
“Oh....”
Setelah itu kami berdiam cukup lama
dan memandang danau dengan ular-ular itu. Dia berdiri dari tempat duduknya,
membersihkan pantatnya dari rumpur dan berucap, “Baiklah. Aku pulang dulu.
Kapan-kapan kita pasti bisa bertemu lagi. Saat itu, kau tidak boleh menangis
lagi. Sebab setelah pertemuan itu saja kau boleh menangis, sampai jumpa!”
Kata-katanya aneh, tapi aku pun
membalas lambaiannya ketika dia sudah jauh beranjak.
Saat aku kembali dari danau, aku
terkejut dengan situasi di dalam rumahku. Tujuh ikan plantisku berkurang satu.
Kusibak karang tapi tidak ada. Setelah mencari di sana-sini, akhirnya aku
menemukannya, jauh di sebelah akuarium, di samping kaki almari, tertutup
kertas-kertas. Aneh sekali karena jarak lompatannya begitu jauh. Aku kembalikan
ikan itu ke akuarium dan ikan itu seperti mabuk, hampir mati sampai
berangsur-angsur normal lagi.
Aku buka lagi halaman novel yang
kubawa tadi. Selama sesaat aku membaca sampai aku merasa terganggu karena
gedoran pintu. Rasanya aku sudah melunasi kontrakanku buat satu bulan ke depan.
Apa yang perlu dilakukan lagi?
Dengan langkah malas aku menggapai
pintu. Namun ketika kubuka, bukan ibu pemilik rumah yang datang, hanya angin
lalu yang membenturkan suara-suaranya. Tidak ada orang sama sekali.
Aku mengantuk. Dan seketika aku
tidur pulas.
Saat fajar, pintuku kembali
diketuk-ketuk. Kali ini bukan sihir angin, melainkan seorang perempuan.
Melisa.
.3
Hal
pertama yang dia lakukan setelah menerobos masuk adalah melucuti pakaianku.
Tanganku gemetar, dan itu merupakan kesenangan baginya. Dia menunjuk puting
susunya dan kugetarkan. Kejut listrik itu menggetarkan dirinya, membuatnya
mabuk dalam rengkuhanku. Dia tertawa senang.
“Aku akan sering ke sini,” katanya
setelah itu.
Melisa yang kukenang adalah gadis
pendiam. Seorang perempuan berkacamata yang tidak sudi bila jawaban ulangannya
ditiru orang lain. Dia seperti membuat perlindungan, sebuah parit dari tangan
dan lirikannya di sekitar jawaban itu dan orang-orang enggan meliriknya kecuali
terpaksa. Kebetulan saat itu dia murid terpintar di kelas. Hanya sedikit yang
mau berteman dengannya. Dan aku juga tidak begitu memerhatikan dirinya.
Dia seperti anjing lapar yang
menjilati seluruh tubuhku. Seolah dia penjilat profesional yang mengerikan.
Matanya bersinar dan aku serasa tidak mengenalinya. Kedua tanganku diarahkan
olehnya buat memegang sepasang pir itu. Aku gemetar akan hal itu. Sudah lebih
dari setahun aku tidak merasakan wanita dan kedatangannya, meskipun tidak
kukira, setidaknya jadi penghiburan diri.
Suara kucing bertengkar membangunkan
lamunanku. Aku cepat-cepat ganti pakaian, menjadi ayam lagi. Hari ini tanggal
15. Hari ulang tahun anakku, Denis, dan semestinya aku harus membawakan hadiah
untuknya. Selepas berlagak menawarkan telur, yang kuanggap percuma, aku
cepat-cepat pulang, ganti baju. Aku beli kue tart yang dibungkus kertas kado
bergambar kapal favorit Denis. Aku memesan tiket, naik trem selama setengah
jam. Waktu menunjukkan pukul delapan malam saat aku tiba di depan pintu rumah
yang tertutup, dengan siluet gembira di sebuah jendela yang menggambarkan
seorang anak, kue ultahnya, ibu, dan seorang lelaki dewasa yang memberinya
mainan yang menurutku seperti kapal. Aku kaku di depan jendela itu, dan
beberapa saat kemudian, berbalik arah lalu pulang. Aku sudah tidak diingat
lagi.
Mungkin istriku punya pacar baru.
Ayah baru bagi anakku. Di perjalanan pulang, aku buka Ketika Air Asin Bertemu Segelas Bir lanjutan saat Hananto
memikirkan buah dada temannya.
Hananto menggenggam tangan Roxanne
dengan gugup. Taman itu begitu bersih. Beberapa petugas menyapu dengan serius
di sekitar taman. Untuk masuk ke sini, pengunjung dikenakan biaya yang murah
sekali. Saat itu minggu, jadi pengunjungnya membludak. Seekor kera kecil memamerkan
bokongnya kepada bocah kecil yang dengan kesal menghantamkan botol ke kandang
besi si kera. Kera itu berteriak, anak kecil itu lari tunggang langgang
menghampiri kedua orang tuanya yang tersenyum karena tingkah konyol anaknya.
“Mau
es krim?” tanya Hananto.
Roxanne
mengangguk. Hananto pergi meninggalkan dirinya yang sedang duduk di samping
permainan jungkat-jungkit. Teleponnya berbunyi. Suara Yoko.
“Hei,
manis, kamu sedang ngapain?”
“Aku
di taman krida, sama temanku, ada apa?”
“Oh,
kebetulan, malam ini akan ada pertunjukan lumba-lumba. Aku mau lihat ke sana,
kamu mau?”
“Boleh
juga. Aku ajak temanku ya?”
“Ya...yang
kemarin itu?”
“Iya.
Eh, kata dia, dia nggak bisa lihat Yoko kemarin malam.”
“Hah,
maksudnya?”
“Katanya,
kemarin malam sewaktu aku tunjukin kamu, dia bilang gak tahu di mana kamu.
Padahal di depannya persis. Tolol banget, kan.”
“Hihihi,
mungkin aku hantu kali...”
Saat
pembicaraan itu berlangsung, Hananto sudah sampai membawa dua kerucut dengan
segunung es di atasnya. Es krim vanila bertumpuk di atas es krim coklat.
“Udah
dulu, ya,” kata Roxanne.
“Bicara dengan siapa
sih?”
“Yoko. Temanku
kemarin.”
“Oh, nih.”
“Makasih.”
Roxanne menjilati es
krimnya. Hari minggu yang indah.
“Eh, nanti malam ada
pertunjukan lumba-lumba, mau lihat, ga?”
“Oke, siaplah.”
“Sama Yoko, ya.”
“Terserah. Aku ajak
teman lagi.Bagaimana kalau Mick?”
“Mick? Gak apa-apa.”
Malam itu, Mick Jagger
dan Hananto sudah tiba di depan rumah Roxanne. Adolf, ayah Roxanne yang
terkenal karena kumis kota di atas bibirnya adalah orang tua tergalak yang
pernah ada. Dengan matanya yang merah dan pelipis penuh otot, dia memandangi
dua pemuda itu. “Jangan sampai lupa. Pulang pukul 9. Ngerti kalian?”
Tapi bagi Hananto, itu
bukan masalah. Adolf agak segan dengan anak itu, karena dia mengenal kedua
orang tuanya. Sampai saat itu, hanya Hananto yang berani mendekati Roxanne.
Sirkus lumba-lumba
sudah penuh orang saat mereka bertiga sampai. Kemudian seorang pria dari
belakang Roxanne memegang pundaknya dan memberi salam. Dia Yoko.
“Wah, Yoko, kau
kelihatan berbeda,” kata Roxanne terheran-heran.
“Biar gak diusir.”
Yoko mengenakan jaket
hitam tebal dan celana jins dengan sepatu kets warna hitam. Dia terlihat gahar,
minus kumis. Semua riasannya, termasuk wig, ditinggalkan di rumah.
Jadi dia Yoko, pikir
Hananto. Orangnya sudah tua. Seumuran ayahku mungkin.
Meskipun begitu, wajah
Yoko nampak halus, seperti wanita. Waria jalanan itu merawat dirinya dengan
baik, sehingga tidak terkesan murahan.
Mereka duduk di
barisan belakang paling tinggi. Setiap orang sudah menanti-nanti aksi Junggur
si lumba-lumba. Dan seorang pawang masuk membawa lingkaran api di tangannya.
Dari dalam air, Junggur melompat dan semua orang bertepuk tangan. Junggur
bermain matematika dengan menjawab soal tambah-tambahan ringan. Tiga anggukan
disertai suara ciut yang manis berarti angka 3. Junggur sangat menghibur
penonton. Tapi perhatian Yoko bukan pada si lumba-lumba, melainkan pada
Hananto. Dari awal tadi, dia memerhatikan wajah Hananto yang membangkitkan
kenangan lamanya akan masa lalunya saat hanya bisa memandangi Gunter dari
samping.
“Pertunjukan tadi
konyol, ya?” tanya Mick.
“Konyol apanya?”
“Mereka
mengeksploitasi seekor lumba-lumba agar dapat uang. Kenapa gak mengeksploitasi
dirinya aja: jadi lonte dan gigolo!”
“Pemikiran yang
bagus,” sahut Yoko.
Roxanne nampak cemas.
“Gimana kalau kita makan mi di sebelah sana.
“Oke, ayo. Kau yang
traktir, ya,” kata ,Mick. Bocah itu gampang sekali dialihkan.
Mereka berdua berlari,
meninggalkan Hananto dengan Yoko.
“Pertunjukannya
bagus,” kata Hananto.
“Ya, memang.”
“Kemarin aku kok tidak
melihat kamu, ya? Atau mataku kurang sehat mungkin, haha.”
“Mungkin karena gaunku
bisa menyamar di kegelapan. Tidak usah dipikirkan. Toh, kita sudah bertemu.”
Mereka berempat
menikmati mi ayam di tengah dinginnya malam. Yoko nampak seperti pria normal.
Tidak ada perilaku yang gemulai sehingga Mick Jagger mengira dia kakak Roxanne.
“Selama ini kau ada di
mana? Kulihat Roxanne selalu sendirian.”
Sebelum Yoko bicara,
Roxanne sudah mengucapkan kata.
“Rumahnya tidak jauh
dariku. Dia sepupuku.”
“Oh.”
“Sekarang, habiskan
makananmu!”
“Baiklah...”
Bulan di atas kepala
mereka benar-benar misterius. Hanya beberapa suasana yang akan diingat manusia
sepanjang hidupunya: bulan di malam hari; hujan dan dia menontonnya dari balik
kaca; bayangan bulan di permukaan danau, laut ,sungai. Suasana-suasana seperti
inilah yang terasa menekan, getir, dan sendu. Meski kau sebahagia apapun.
“Kalian tahu apa yang
baru?” tanya Mick Jagger.
“Apa?”
“Sekarang, kalau mau
berbelanja di minimarket, baiknya bawa tas penampung belanjaan sendiri. Lebih
baik dari kain. Karena jika tidak bawa, kau dikenakan biaya seharga mi ayam
buat nebus tas plastik untuk membawa belanjaanmu. Keluargaku sudah menerapkan itu.
Masing-masing dari kami membawa tas kain sendiri-sendiri. Jadi jika berbelanja,
kami tidak perlu mengeluarkan uang tambahan. Sekecil apapun, uang tambahan yang
dikenakan saat belanja itu rasanya menyebalkan.”
“Kalau dipikir-pikir,
betul juga, ya,” kata Roxanne.
“Ide keluarga
kami,kan?”
“Bukan yang itu.
Meskipun itu betul. Yang kau katakan, kalau mengeluarkan biaya apapun sebagai
tambahan setelah belanja itu rasanya menyebalkan. Meskipun juga biaya untuk
amal. Biasanya di minimarket tertentu ada kotak amalnya dan kita dipaksa buat
memasukkan uang di sana. Itu rasanya menyebalkan.”
“Hemm... ya, kotak
amal. Meskipun dapat pahala, tapi pahala tidak bisa dilihat. Kita tidak tahu
itu benar atau tidak. Kita tidak tahu sorga ada atau tidak. Semua hanya dari
kata-kata saja!”
“Wah, terlalu
ngelantur, kau...”
“Bagiku, agama hanya
bisa dipikirkan saat tua nanti. Masa muda hanya memikirkan bagaimana lulus dan
masuk universitas besar atau masuk universitas kecil dan bisa bekerja. Agama
diperlukan saat kita sudah tua. Atau tidak sama sekali,” sahut Hananto.
“Yang pasti, aku tidak
percaya pada kata-kata seratus persen,” kata Mick Jagger.
Hanya Yoko yang diam.
Pikirannya seakan tidak ada di sana. Dia memikirkan masa lalunya. Saat bercanda
dengan teman-teman dan dia sok akrab di samping Gunter agar bisa berada sedekat
mungkin dengannya dan mencium wangi parfumnya. Dia amat mencintai ayah Hananto.
Saat mereka berjalan
ke arah rumah Roxanne. Sebuah mobil Datsun tua entah jenis apa, tiba-tiba
berhenti. Itu mobil Tuan Gunter.
“Ayah,” seru Hananto.
Dalam hati, Yoko
serasa berdebar. Jadi dia anaknya, pikir Yoko. Pantas sangat mirip.
Mereka semua menyalami
Tuan Gunter begitu pula Yoko. Tapi Tuan Gunter tidak mengenali dia sama sekali.
“Anak-anak, kami
pulang dulu.”
“Mick, antar Roxanne
pulang, ya,” kata Hananto.
“Beres.”
Tuan Gunter mengangguk
kepada mereka semua dan setelah keduanya masuk mobil, beberapa saat kemudian
sudah tidak nampak dari pandangan Yoko.
Dia tidak mengenaliku,
dia sudah tua. Meskipun begitu, rambutnya tidak berkurang seinci pun. Masih
setampan dulu, batin Yoko, berdebar-debar.
Malam itu, suasana
bulan memberati diri Yoko yang sendu dan ingin cepat pulang buat menangis.