Selasa, 30 Juli 2013

MENGABADIKAN DIRIMU



kelak kamu temukan sesumbang panggilan
kepadamu di ujung jauh merambati udara
menebangi daun-daun menuju telingamu.
entah,sayup-sayup atau jelas,kamu dengar
seperti dentang lonceng pada subuh.aku
berjalan menuju telingamu,membisikkan
kata-kata yang menggelikan,gemetar
sedang rembulan ingin menutup tubuhnya
yang telanjang karena terlalu cerlang.
ketulian merajut nada-nada
dan kita selalu mendengarnya:
kotak dengan patung sepasang pedansa.
kamu akan melukis bunga kuning warna.
matahari telah datang dan seonggok telinga,
terhempas ke lantai.sebab kesepian sudah menjaram
sungguhpun jika kata-kata punya lawannya
namun,ia yang sendiri mesti membebat lubang
darah yang mengalir dari penangkap suara.
dari tanganmu,apabila cahaya tengah sesumbar
semburat dari mata suar,seperti matahari-matahari
kecil yang berpinak,menggelantung pada jemari.
dan kaki-kaki nasab bilqis itu,menjuntai
memancarkan aroma adam yang baru pertama
menemukan hawa dari patahan rusuknya:
orgas! orgas!
kuda-kuda manchuria berlari di rumbing rambutmu
mereka selalu memboneka sebagai penebar wangi
ranum dirimu meski tanpa kata-kata.
tiap kali kesusahan memunculkan dirinya padamu
aku teringat maria yang bersusah menggapai kurma
setelah melahirkan seorang nabi.
dan panggilan-panggilan itu:
“leny…leny…”
adalah sekadar suara tersisih lidah
seseorang dengan hidup
terasing dan dangkal
bagai manusia jahiliyah
:aku

Senin, 22 Juli 2013

INTAN DALAM SAJAK



dalam sajak aku menyebutmu
diam-diam udara menyampai
tak begitu maksud pesan itu.
menarilah,sementara musim
bergerak meninggalkan tahun
gerimis alpa terus turun

menarilah,karena bakal degup
jantung menyala sebab kamu.
di altar selaksa lilin yang entah
kubisikkan kebisuan doa:
-tuhan,dara kecil bertandang,
berkelepak nuju sangkar hatiku

karena janji tak dijanjikan
hanya bisu terucap di mata
menyanyilah,sehabis gugur
daun pertama,bunga raya
di ringkih ranting hatiku
dalam jinak dan ketiadaan

Selasa, 16 Juli 2013

Untuk Negeriku

Ode Harto

skak!
bidak melompat keluar petak

mengumpetlah kamu
tuhan datang!
sembunyi di almari
seperti bocah

antara baju-baju
sempak dan kutang
tuhan tahu kok
sambil cengar-cengir
langsung mengambilmu

tahun-tahun terus lepas
…2008,2009,2010
    2011,2012,2013…

Pak Harto oh,Pak Harto
gimana?
Penak to?

Senin, 15 Juli 2013

Puisi-puisi Bagus Burham dimuat Banjarmasin Post,14 Juli 2013

Berikut puisi-puisi lama saya yang dimuat di Banjarmasin Post,selamat menikmati untuk teman-teman



ANGIN

pada angin yang berhawa dingin
di asal suara gaung bertalu ujung
seorang saputangan tinggal di tanjung
membawa airmata,bekas selamat tinggal
kepada lelaki yang senoktah di kapal

pada angin yang bergelontoran
menempelkan hiasan di daun-daun hijau
mendekap alamat yang masih menyimpul
dalam tiap-tiap goyangan batang dahan

angin yang membawa kata-suara
merambatlah untuk satu yang masih ditunggu
di tanjung,segala temu belum kunjung
di tanjung,rindu kerap membunuh waktu


ODE DAUN JATI
               
kami mesti bangun pagi-pagi
dengan wudhu embun
yang di sisakan malam,
memastikan apakah kami,
masih menempel di tangan dahan
ataukah tanpa sadar,
kami terkapar
di tanah yang keras dan kasar

kami perlu mengetahui
apa kami masih wangi
atau kering menggugur diri
tercampak sendiri.
dicabut musim yang terik
karena kami akan digunakan,
untuk menyelapik
daging hewan di pasar
  
MARIONETTE BERGERAK

ketika telah muncul rembulan bulat
kabut menguap dari balik lidah waktu
kusir-kusir tak berkepala melintas jalan,
kami bawa tarian gelanggang gulita
di remang-remang etalase toko
tak ada yang melihat,jika tuhan tidak tidur

“di mana engkau bawa tanganku.kemarin
terlepas dan tak ditemukan si pemahat”
“ yang lain melempar mata kita pada seekor kucing,
kucing anggora gemuk yang malas bergerak”

warna waktu mirip sinar lilin
terang,nyalang dalam kesuraman
dan tahun-tahun tetap berganti
mereka terus-menerus menari




SERENADA CINTA

telah kusiapkan sajak ini jauh-jauh hari bagimu
ketika ribuan rintik hujan menjatuhkan daksanya
ke isi kota di bulan oktober untuk yang pertama
dan anginan meluruhi peputik bunga mangga
yang terjatuh pula daun-daun wanginya
di bulan yang tertutup awan-awan malam

serta bau tanah yang menyampur dengan hujan
aku beri engkau sekuntum kata dari taman bunga
memerbak di penghujung musim yang akan dingin
kurangkai satu demi satu dari ulu hatiku
di oktober,kata dan taman bebunga
maukah engkau jadi kekasihku?