Kamis, 02 Agustus 2012

Romansa


/1/
Dan kita membaca sejuta aksara cinta disebalik rindang pepohonan yang ria,seribu burung telah turun dari sarang-sarangnya mengguratkan gegaris di langit sana,coba kau rasa sejumlah setia meramu ciumnya dalam kedalaman yang dalam.Aku kecup pantas jidatmu yang langsat saat mengena sinar mentari pagi,aku basuhi dirimu yang telanjang rindu dengan kuyup kembang merahjambu.Sebentang langit tersenyum di biru pagi itu,aksara mulai merambati kita dan menengok kearah-arah mata,sesudah maya tersembul dari batang pohon akasia di lapangan bola.Kenang seperti sudah duga serupa sudah kerasa.Kuambil huruf a untuk menyatakan aku mencinta.Kita memampangkan arena percintaan pada lebah-lebah pekerja yang kesehariannya hanya disuruh mengambil syahwat manis madu untuk ratu,sehingga cemburu melecut di asa mereka dan terganggulah pagi kita.

“Sayang,ini parau suara sebekas rinduku karena teriak lantang memanggil namamu.”Mengejar putri dan menggaibkannya sebuah tenung sirep,’’Tidur,tidurlah dalam hatiku yang teduh.Lepas,lepaslah bibir merah dalam nafasku yang terjebak ingin.Mimpi,mimpilah yang ditemani sekujur wujudku yang serupa penyelamatmu.’’

/2/
Gema tak juga bicara,memantulkan kisah-kisahku agar menjadi tembang lulabi bagimu di kamar penuh bunga,pantas sekali.Gaun yang kususupkan di mimpimu,pantas bagi dirimu.Sewarna warna kulitmu,secerah binar matamu.Pelangi menghujami mata dengan wewarna indah,lagi seolah kau berada disamping yang hilang.Kegemaan yang mati itu aku akan tambal dengan bisik gairah di telingamu,’’Ah,mari kita bercanda di padang lukisan lili Van Gogh!’’Seutas garis tak seperti garis bengkok yang multiwarna kita tarik dan masuklah kita dalam guratan mahakarya.

/3/
Ritmis harpa yang dimainkan dewi di kahyangan.’’Kau,lihat ada dia yang mengintip kita berduaan di balik semak memandang awan-awan bergeliat dari kiri ke kanan bumi berputar!’’Sesekali senyum dewi membuat kekasih cemburu,’’Ah,masih putih senyumu!’’

harpa yang menggetarkan darah dan menggelayutkan irama pikat di tebaran awan-langit,Sekoloni burung berimigrasi sembari menyapa dewi harpa,dan kita menjalin dua-duaan yang mesra.Menujum,madam sosostris membuka kartu-kartu nasib kepada umat yang bengal dan diganjari azab,’’Kita jangan ya,sayang! Memperlakukan alam seolah-olah ia barang.Kalau mendirikan berbagai bebangunan,dirikanlah saja di hatiku.Susunlah bagai ia puzzle yang kau rekat dengan lem rindu.Dan saat jadi,hinggap dan tinggalah selama-lamanya disana!’’

/4/
Malam,sayang.Kita harus meneduh sebentar.Di pucuk-pucuk daun lontar,yang tergerak angin layang—mengangguk-angguk.Biar kuselam bibirmu dalam pertukaran ganas yang memakan bibir-bibirmu,lalu kita saksikan nafas bertukar dan peluh berkejar menetes ke permukaan kulit-kulit kita.Setengah bulan akan menutup mata,dedaun merunduk malu,saat itulah gerayang tanganku meraih pundakmu untuk melepas rindu.

Sajak kelas bawah ini mengutarakan keinginan kekasih sepi,mengunyah sunyi dan terjerampak lagi dengan unsur birahi,ya,sorga bagi kita kaula muda yang panas darah dan hatinya!

/5/
‘’Sayang,kau lihat dua merpati jinak itu,setia adalah harga mati.Kembara mereka bersama-sama.Melintasi jagad raya yang berlipat jaraknya.Mendarat di bulevar-bulevar megah eropa,meminta remah roti,biji-biji jagung,membagi jantan dan betina.Sewaktu aku kecil dulu,kekasih.Ada permainan burung yang bernama keplekan.Burung betina dibawa di sisi lain burung jantan dan saat jantan dilepas,maka ia akan hinggap di punggung betina.Kekasih perbolehkan aku untuk selalu hinggap di hatimu dan seluruh rindu mengkristalkan waktu?’’ Merpati selalu pegang janji,menumpasi dengki satu sama lain dan terbang mengiringi pungkas matahari yang senja tergelingsir waktu dan mempersilahkan bulan mengganti jaga.

Rindu adalah parang yang menyayat reraga yang tersiksa,maka lelehkan rindu dengan rasa cinta.Kita pacu waktu pada padang aspodel yang mengirimkan ruh-ruh bergementayang dalam gigil yang tak terurus.Kita lewati aspodel yang setransparan ruh-ruh yang tak kasat mata.Kita pacu kuda ras troya yang terkuat dari jamanya dan berdua melewati oase kering dan dahaga.

/6/
Racun meresap di dada,pucuk tugunya menyemburatkan air suci kehidupan.Kuhisap engkau,sayang dalam segala rasa dosa dan larangan bercinta.Tiada apa kata selain manja yang renjana.Tiada yang lain selain cinta.Cinta mengelabui dosa dalam ikatan perkawinan yang menagih setia.Kutusukkan dalam lubang surga mencipta kehidupan.Walau dosa mendekap raga kita,namun nikmat adalah tak tertahan.Pesta!

Menjelajahi Peta menuju tanda x yang menyembunyikan harta.Lalu hitam-hitam pasukan terakota menggelikan rerasa.bukanya berperang tapi berpenyamun harta.Adalah sekongkol penyamun dan serdadu di atas ladang  yang subur penuh warisan tak ternilai.

/7/
Kesunyian mengerucut,melemparkan cemeti amarasuli yang getirnya tak ada ampun,suara pecut itu menggelegar bersama gentayangannya halilintar.’’Sayang,masihkah rindu ini terus bertahan dalam siksa yang teramat dalam.Ketika jarak memisahkan kita,walau sedetik,semenit adalah luka dari lancip pedang-pedang pangeran persia.’’

/8/
Menunggu adalah batu.Lebih-lebih dirimu,serupa kupu yang terungku jarak yang rindu.Sayang,pungkaskan saja,pungkaskan saja jarak dengan sihir sapu terbang.Tebang menuju hatiku dan tiada aku melepas lagi,sebab menungggu merindu adalah nestapa bagiku bagimu.Kata-kata kehilangan arti tanpa dirimu yang merupakan generasi juliet tertempuh cinta kata-kata romeo.Rindu itu sampar;yang menular menjangkiti yang mendekat.Rindu yang semenjana adalah kait di dada.Buas egonya yang minta ingin bersama.Angin tak yakin dirasa,pelangi hanya cuma sepintas saja.Dan engkau adinda,menggambar hati merah marun di pelupuk mata yang semerta merta mengombaki segala tunggu yang menyerbu menempatkan pilu.

/9/
Bertemu adalah merdeka.lepas dari penjajahan derita.Oh hati yang dilanda kepayang,mabuk, memandang segala miring rupa.mamang dalam tindak-tanduk setelah bertemu kekasih,’’Apa yang akan kita lakukan sehabis melepas renjana yang edan,ini?’’

2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar