/1/
Dan kita membaca sejuta aksara cinta disebalik rindang
pepohonan yang ria,seribu burung telah turun dari sarang-sarangnya mengguratkan
gegaris di langit sana,coba kau rasa sejumlah setia meramu ciumnya dalam
kedalaman yang dalam.Aku kecup pantas jidatmu yang langsat saat mengena sinar
mentari pagi,aku basuhi dirimu yang telanjang rindu dengan kuyup kembang
merahjambu.Sebentang langit tersenyum di biru pagi itu,aksara mulai merambati
kita dan menengok kearah-arah mata,sesudah maya tersembul dari batang pohon
akasia di lapangan bola.Kenang seperti sudah duga serupa sudah kerasa.Kuambil
huruf a untuk menyatakan aku mencinta.Kita memampangkan arena percintaan pada
lebah-lebah pekerja yang kesehariannya hanya disuruh mengambil syahwat manis
madu untuk ratu,sehingga cemburu melecut di asa mereka dan terganggulah pagi
kita.
“Sayang,ini parau suara sebekas rinduku karena teriak
lantang memanggil namamu.”Mengejar putri dan menggaibkannya sebuah tenung
sirep,’’Tidur,tidurlah dalam hatiku yang teduh.Lepas,lepaslah bibir merah dalam
nafasku yang terjebak ingin.Mimpi,mimpilah yang ditemani sekujur wujudku yang
serupa penyelamatmu.’’
/2/
Gema tak juga bicara,memantulkan kisah-kisahku agar menjadi
tembang lulabi bagimu di kamar penuh bunga,pantas sekali.Gaun yang kususupkan
di mimpimu,pantas bagi dirimu.Sewarna warna kulitmu,secerah binar matamu.Pelangi
menghujami mata dengan wewarna indah,lagi seolah kau berada disamping yang
hilang.Kegemaan yang mati itu aku akan tambal dengan bisik gairah di
telingamu,’’Ah,mari kita bercanda di padang lukisan lili Van Gogh!’’Seutas garis
tak seperti garis bengkok yang multiwarna kita tarik dan masuklah kita dalam
guratan mahakarya.
/3/
Ritmis harpa yang dimainkan dewi di kahyangan.’’Kau,lihat
ada dia yang mengintip kita berduaan di balik semak memandang awan-awan
bergeliat dari kiri ke kanan bumi berputar!’’Sesekali senyum dewi membuat
kekasih cemburu,’’Ah,masih putih senyumu!’’
harpa yang menggetarkan darah dan menggelayutkan irama pikat
di tebaran awan-langit,Sekoloni burung berimigrasi sembari menyapa dewi
harpa,dan kita menjalin dua-duaan yang mesra.Menujum,madam sosostris membuka
kartu-kartu nasib kepada umat yang bengal dan diganjari azab,’’Kita jangan
ya,sayang! Memperlakukan alam seolah-olah ia barang.Kalau mendirikan berbagai
bebangunan,dirikanlah saja di hatiku.Susunlah bagai ia puzzle yang kau rekat
dengan lem rindu.Dan saat jadi,hinggap dan tinggalah selama-lamanya disana!’’
/4/
Malam,sayang.Kita harus meneduh sebentar.Di pucuk-pucuk daun
lontar,yang tergerak angin layang—mengangguk-angguk.Biar kuselam bibirmu dalam
pertukaran ganas yang memakan bibir-bibirmu,lalu kita saksikan nafas bertukar
dan peluh berkejar menetes ke permukaan kulit-kulit kita.Setengah bulan akan
menutup mata,dedaun merunduk malu,saat itulah gerayang tanganku meraih pundakmu
untuk melepas rindu.
Sajak kelas bawah ini mengutarakan keinginan kekasih
sepi,mengunyah sunyi dan terjerampak lagi dengan unsur birahi,ya,sorga bagi
kita kaula muda yang panas darah dan hatinya!
/5/
‘’Sayang,kau lihat dua merpati jinak itu,setia adalah harga
mati.Kembara mereka bersama-sama.Melintasi jagad raya yang berlipat
jaraknya.Mendarat di bulevar-bulevar megah eropa,meminta remah roti,biji-biji
jagung,membagi jantan dan betina.Sewaktu aku kecil dulu,kekasih.Ada permainan
burung yang bernama keplekan.Burung
betina dibawa di sisi lain burung jantan dan saat jantan dilepas,maka ia akan
hinggap di punggung betina.Kekasih perbolehkan aku untuk selalu hinggap di
hatimu dan seluruh rindu mengkristalkan waktu?’’ Merpati selalu pegang
janji,menumpasi dengki satu sama lain dan terbang mengiringi pungkas matahari
yang senja tergelingsir waktu dan mempersilahkan bulan mengganti jaga.
Rindu adalah parang yang menyayat reraga yang tersiksa,maka
lelehkan rindu dengan rasa cinta.Kita pacu waktu pada padang aspodel yang
mengirimkan ruh-ruh bergementayang dalam gigil yang tak terurus.Kita lewati
aspodel yang setransparan ruh-ruh yang tak kasat mata.Kita pacu kuda ras troya
yang terkuat dari jamanya dan berdua melewati oase kering dan dahaga.
/6/
Racun meresap di dada,pucuk tugunya menyemburatkan air suci
kehidupan.Kuhisap engkau,sayang dalam segala rasa dosa dan larangan
bercinta.Tiada apa kata selain manja yang renjana.Tiada yang lain selain
cinta.Cinta mengelabui dosa dalam ikatan perkawinan yang menagih
setia.Kutusukkan dalam lubang surga mencipta kehidupan.Walau dosa mendekap raga
kita,namun nikmat adalah tak tertahan.Pesta!
Menjelajahi Peta menuju tanda x yang menyembunyikan
harta.Lalu hitam-hitam pasukan terakota menggelikan rerasa.bukanya berperang
tapi berpenyamun harta.Adalah sekongkol penyamun dan serdadu di atas
ladang yang subur penuh warisan tak
ternilai.
/7/
Kesunyian mengerucut,melemparkan cemeti amarasuli yang
getirnya tak ada ampun,suara pecut itu menggelegar bersama gentayangannya
halilintar.’’Sayang,masihkah rindu ini terus bertahan dalam siksa yang teramat
dalam.Ketika jarak memisahkan kita,walau sedetik,semenit adalah luka dari
lancip pedang-pedang pangeran persia.’’
/8/
Menunggu adalah batu.Lebih-lebih dirimu,serupa kupu yang
terungku jarak yang rindu.Sayang,pungkaskan saja,pungkaskan saja jarak dengan
sihir sapu terbang.Tebang menuju hatiku dan tiada aku melepas lagi,sebab
menungggu merindu adalah nestapa bagiku bagimu.Kata-kata kehilangan arti tanpa
dirimu yang merupakan generasi juliet tertempuh cinta kata-kata romeo.Rindu itu
sampar;yang menular menjangkiti yang mendekat.Rindu yang semenjana adalah kait
di dada.Buas egonya yang minta ingin bersama.Angin tak yakin dirasa,pelangi
hanya cuma sepintas saja.Dan engkau adinda,menggambar hati merah marun di
pelupuk mata yang semerta merta mengombaki segala tunggu yang menyerbu
menempatkan pilu.
/9/
Bertemu adalah merdeka.lepas dari penjajahan derita.Oh hati
yang dilanda kepayang,mabuk, memandang segala miring rupa.mamang dalam
tindak-tanduk setelah bertemu kekasih,’’Apa yang akan kita lakukan sehabis
melepas renjana yang edan,ini?’’
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar