Minggu, 26 Agustus 2012

Kaki-kaki


ia menatap langit yang kembali berputar
di seputar permukaan globa yang putih
setiap waktu ada yang telah luruh lumpuh
berkurang atas keadaan yang diam membeku
lalu ia beranjak meninggal,menjemput tanggal
bersulut di tepi tubir daun menetes terserap
tanah yang lembab.hilang dan tertimbun

kali ini ada yang datang.pulang membawa
impian lalu pergi lagi dengan kehampaan
ditatah angin untuk pulang,dikembalikan
debu untuk pergi.keluar dari kungkungan
ke jalan dimana semua bercampur bagai
lumpur bubur di sebuah kota yang kini
asing.dimana airmata telah keruh tercampur
pekat lumpur.diusia yang semakin melupa
bahwa,almanak yang lesap,membawa sepercuil
hidupnya.terpecahlah ia,karena pontang-panting

2012

Jumat, 10 Agustus 2012

Sajak Terbakar

:leny,ama,nisa,o.et

mukadimah--
geletar tanganmu menafik hadirku
seperti zabib di satu asam anggur
kau kasih aku kelindan masygul
menjurus ke hati tuang selaksa pilu

embun pertama yang jatuh ketanah
dari tubir lumbu  hijau teduh
menampik.kau terbenam gairah,
rasa ini luluh lantah  luruh

halimun fajar menyusut
kau bangunkan aku mimpi
aral tertemboki kini ini hati
kau meninggalkanku pergi

1/
kurapal teluh
dari dendam yang tertimbun:
api hitam membara di binar mata
laksa jarum kata siap kuedar
kutujukan buat engkau:
gadis dengan senyum berpendar

kaupecuti aku
dengan dadung pengikat lembu
terbilai aku,lepuh isi hatiku

2/
madah debu:
lewat halimbubu
aku isyaratkan pada angin
ini ciuman
memang agaknya kecil-kecil
berdentum-singgung kepadamu
aku debu
mencumbumu

3/
tahun baru,tahun yang menyembilu
letik kembang api,tambahkan ini elegi
hari pertama januari yang nirmala
kulalui diganggu maru
tersebab sendu menunggu gadis pembuat pilu
hari pertama masih berasa desember kelabu

meski riuh berasal dari letup-letup konfeti
nyanyi-nyanyi happy new year diputar lagi
aku yang pasti,terus dihujam sepi
karena dadu cinta belum sempat kupaduk
masih tertinggal di awal yang gawal

mengelocak hati hari demi hari
tak ada yang pasti
pikiran-pikiran rindu yang membuncah
menenes dari otak gegar,mengenang kalah

kisah-kisah yang tak katam
kita sebut pacaran
beringsut ke dalam rahasia,semakin terpendam
tersingkap berbagai makna,cinta telah balam

kuregup dahulu rum jadah nafasmu
pengagum dan penyair aku
menulis indahmu;gadis manis
menyalir teruntuk di ngiang-pikir

4/
rimpuh duka ini,tua berambang teparmati
gadis-gadis seperti melati
wangi tak tersentuh jamah
tertinggi dalam bentuk ratna yang marwah

rikuh duka ini,tipis terabrasi
mimpi menemukan kita tertelungkup pasi
sebab pagi tengah sakit;terengah dan malis
ditutupinya cakrawala pertama yang majelis

ringkih duka ini,kurus tak terurus
kau selalu mencium melati di pipi
kupandang.kurasakan ada hati yang jelus
karena gadis lebih suka wangi ketimbang laki
yang trombol mengintip gadis membuka pepunuk
julang tinggi.sekaligus langsat tengkuk

rebah hati ini,mempersilahkan kau datangi
tapi luka yang kau beri,tak kunjung mati
membenalu menghisap energi
mengerkau terhasilkan sendu

5/

a.
elang purba memekau
diatas langit memandang segara
mencari mangsa sepenukik pukau
tak bisa lebih besar ketimbang barakuda

:laki murba mencari gadisnya
dengan rinai kata-kata,
ia mencoba menjerat hatinya
menjerembabkan gadis dalam cinta
namun apalah daya
gadis tangkal ini tipu
di sepanjang penolakan itu,
laki menekur menendang bebatu
ada air mata di hati yang lugu

b.
reranting kering pepohonan
gagak tercetus pekik sembari menapak
senja telah limbur musim gugur
dedaun berdesik satu sama lain
kesiur serangga telah mandeg
di pepohonan tanah merah bertahta taharah
kelak aku juga menyusul kakek-nenekku
jerekat ke bumi menjelma tanah

:pekau ombak dan pekik camar
aku melancongkan kaki di pesisir
aku ingat gadis-gadis dalam kenang samar
tersenyum aku kuingat tingkah mereka yang nyinyir
menyentakku untuk berbuat semestinya
dilempengkan karena mereka cinta

tetapi sekarang kita tersaput beda
menjelma lagi orang-orang yang alpa
cinta adalah anasir yang jatuh terkapar
di kubangan lumpur bahagia

c.
dari senja yang begitu jingga
aku riung terdiam di bilikku
kukhayal masa depan dengan kata-kata
;buldan eropa-teluk bosphorus
lewat jendela kupandang luasnya
terima kasih senja! aku dihibur fatamorgana

:dari malam yang syahdu hening
bulan bersinar menjelaskan ceruk maria
selaksa bintang berdenyar-denyar jauhnya
ini malam,kusingkap bentuk bulan dengan senyum wajahmu

d.
zirnikh ucapmu
mengakhiri masa indah itu
racun! racun bagiku
yang terpaksa kusesap lesap
mengakibatkanku memirau memandangi lelampu berkerjap

:tiang palka tiba-tiba melentuk
disebab garangnya angin sakal
membentur mendentum-dentum
dan camar cuma bisa mengejek
berdiri diatas tiang

6/
gadis-gadis menyembulkan wangi yang mengasap
di angin-angin teduh di hari pagi
kau gadis menjilami sedikit bibirmu
meronakan warna marun itu

kuingin mengecup disuatu waktu
tak apa haram,bisa juga muhrim
karena manusia itu pembuat dosa
kertap gaduh awan mendung yang lalim
memuntahkan asam hujan dari perbuatan manusia
ya,manusia tempat mengendapnya dosa

gadis,renggang waktu libur sajakku
sajak permen sajak yang manis
ku tak mau kau terlampau begitu
membuatku bersalah karena kau nangis

kau campuh aku dengan tombak yang kaupinjam dari ganimede
ia kecintaan zeus,aku mencintaimu
sungguh zeus begitu terlalu
mengangkat cerita orang-orang sodom dan gomorra
gadis aku tak begitu,aku mencintaimu selalu
walau kau tombak hatiku
hingga bernenesan darah keluar dari tubuhku
aku tetap,meski kecewa aku untukmu
aku tetap mencintaimu

7/
aku ingin kita berkerumus
terjerembab di rimbun hutan pinus
saat itu kau takkan menolakku
kau,pengoyak-moyak hatiku
harus disini bersamaku

fana memang indah
tak ada pinus disini
yang ada cuma pilus
makanan yang kita santap kanak dulu

8/
aku mencintaimu dengan semua dirimu
gadis,wangi tubuhmu
mengkal dadamu
binar denyar terang matamu
merah marun bibirmu
semua ‘u’ hanya untukmu

9/
I
kau bantun hatiku dengan catut
sehabis zuhud subuh di fajar merekah
gita-gitamu merajuk,
‘ya,tuhan jauhkanlah ia dari diriku
karena ia yang terburuk bagiku.’

bilamana aku merugi bagimu bak benalu
menghisap kuncup bungamu
mencuri nektar mahkotamu
aku minta maaf,itu karena aku cinta padamu gadis!

limbung jalanmu tersebab aku
biar! biar aku tenggelam beribu-ribu
dilupakanmu diganti yang baru

II
si baru menunggu-nunggu
dari tangannya terayun kepundakmu
kuat-kuat,rekat-rekat
tangannya seakan fasih menghapal namanya,
‘aku kumbakarna,aku kumbakarna sang perkasa!’
di hatiku aku berujam,aku sang pengecut yang kecut!

10/
ini ujudku yang telah sempal
sekarang kau giris melihatku gadis?
aku,kata-kataku bual-bual begal
mencoba merampok hatimu,
tak sampai ujung,tak sampai sandung

dengan sajak hati terkabar ini
kusketsa camar di langit berkembara
satu flamengo dengan penampilan gandes
menari-nari menyipak air sempit
lewat sajak telah basi
kulukis kau kau dengan darah tinta
satu hati membara di liang lesap ambles
palung jiwaku yang pernah kau gamit
membakar hati berubah merak seratus bulu

penutup--
selamat malam,pagi dan senja petang
akan sedia-selalu kukenang
gadis-gadisku yang perawan
gadis-gadisku yang rupawan
cinta ini tetap limbur bah
membuat angan-angan rebah
terjatuh sakit dihunjam lebah
melampai dedaun
melambaikan parak

terbawa angin sapu tanganku
hatiku
inginku
kasihku
selamat bertempuh jalan
yang lempeng dan berkelok gadis-gadisku!
satu waktu,pandang-kenanglah ujudku
yang kian tirus terlelap candu.

Menguntai Sepi



ada jarak yang lelap
merenggangkan suatu tali merah percintaan
yang baru saja diuntai
untuk memulai awal dari suatu cerita

ada pediangan yang hangat.memerlukan dua macam kelamin
mengikat rengkuh yang berlama satu sama lain

ada jalanan beraspal.menuntun kita kepada tujuan
meski malam,jalanan berubah menjadi bisik setan

ada dua tangan,meraba raba sebuah gundah dan cemas
sebab telah dilihatkan kepada mata bibir yang gemas

menangkapi kata kata rayuan yang nista
menunjukkan pikatan yang mengelabuhi
bagai tikus terhipnotis mata kucing anggora
hingga tubunya terobek taring tajamnya

ada dua kata yang meminjam masam senyum malam
‘aku-sepi’

dan berhenti di tengah jalan
memunguti kesenyapan yang berceceran

Jumat, 03 Agustus 2012

Kali Samsat


:alfiyan,rudi,dani,albert,riyanto,faisal

di kali itu,menepati janji
enam bocah sedang bermimpi
yang bersumpah untuk
bermain di kali,sehabis raport
dibagikan kapada orang tua kami

kami akan menyandarkan sepeda kami
di tugur pohon penuh kelabang dan serangga
mirip kupu.
kami menelanjangkan kaki,
berharap tak ada secuil tajam
di pendam di dasar kali.
seketika kami menyemplung,
dengan sigap dan tanpa gerak gesa
menangkap dua sepat sekaligus.
adakalanya belut terlihat dan membuat kami gusar
apakah itu belut atau ular.

kami melambatkan kaki,mentas
dan berdiri di tepi
untuk mengamati sekilas.

di kali samsat itu kami pilin kenangan
menjumbai ke otak dan ulu hati
agar di masa kami uzur nanti,
akan ada saja kenangan tentang kali
yang tibatiba kembali.

Kudus,2012

Kamis, 02 Agustus 2012

Romansa


/1/
Dan kita membaca sejuta aksara cinta disebalik rindang pepohonan yang ria,seribu burung telah turun dari sarang-sarangnya mengguratkan gegaris di langit sana,coba kau rasa sejumlah setia meramu ciumnya dalam kedalaman yang dalam.Aku kecup pantas jidatmu yang langsat saat mengena sinar mentari pagi,aku basuhi dirimu yang telanjang rindu dengan kuyup kembang merahjambu.Sebentang langit tersenyum di biru pagi itu,aksara mulai merambati kita dan menengok kearah-arah mata,sesudah maya tersembul dari batang pohon akasia di lapangan bola.Kenang seperti sudah duga serupa sudah kerasa.Kuambil huruf a untuk menyatakan aku mencinta.Kita memampangkan arena percintaan pada lebah-lebah pekerja yang kesehariannya hanya disuruh mengambil syahwat manis madu untuk ratu,sehingga cemburu melecut di asa mereka dan terganggulah pagi kita.

“Sayang,ini parau suara sebekas rinduku karena teriak lantang memanggil namamu.”Mengejar putri dan menggaibkannya sebuah tenung sirep,’’Tidur,tidurlah dalam hatiku yang teduh.Lepas,lepaslah bibir merah dalam nafasku yang terjebak ingin.Mimpi,mimpilah yang ditemani sekujur wujudku yang serupa penyelamatmu.’’

/2/
Gema tak juga bicara,memantulkan kisah-kisahku agar menjadi tembang lulabi bagimu di kamar penuh bunga,pantas sekali.Gaun yang kususupkan di mimpimu,pantas bagi dirimu.Sewarna warna kulitmu,secerah binar matamu.Pelangi menghujami mata dengan wewarna indah,lagi seolah kau berada disamping yang hilang.Kegemaan yang mati itu aku akan tambal dengan bisik gairah di telingamu,’’Ah,mari kita bercanda di padang lukisan lili Van Gogh!’’Seutas garis tak seperti garis bengkok yang multiwarna kita tarik dan masuklah kita dalam guratan mahakarya.

/3/
Ritmis harpa yang dimainkan dewi di kahyangan.’’Kau,lihat ada dia yang mengintip kita berduaan di balik semak memandang awan-awan bergeliat dari kiri ke kanan bumi berputar!’’Sesekali senyum dewi membuat kekasih cemburu,’’Ah,masih putih senyumu!’’

harpa yang menggetarkan darah dan menggelayutkan irama pikat di tebaran awan-langit,Sekoloni burung berimigrasi sembari menyapa dewi harpa,dan kita menjalin dua-duaan yang mesra.Menujum,madam sosostris membuka kartu-kartu nasib kepada umat yang bengal dan diganjari azab,’’Kita jangan ya,sayang! Memperlakukan alam seolah-olah ia barang.Kalau mendirikan berbagai bebangunan,dirikanlah saja di hatiku.Susunlah bagai ia puzzle yang kau rekat dengan lem rindu.Dan saat jadi,hinggap dan tinggalah selama-lamanya disana!’’

/4/
Malam,sayang.Kita harus meneduh sebentar.Di pucuk-pucuk daun lontar,yang tergerak angin layang—mengangguk-angguk.Biar kuselam bibirmu dalam pertukaran ganas yang memakan bibir-bibirmu,lalu kita saksikan nafas bertukar dan peluh berkejar menetes ke permukaan kulit-kulit kita.Setengah bulan akan menutup mata,dedaun merunduk malu,saat itulah gerayang tanganku meraih pundakmu untuk melepas rindu.

Sajak kelas bawah ini mengutarakan keinginan kekasih sepi,mengunyah sunyi dan terjerampak lagi dengan unsur birahi,ya,sorga bagi kita kaula muda yang panas darah dan hatinya!

/5/
‘’Sayang,kau lihat dua merpati jinak itu,setia adalah harga mati.Kembara mereka bersama-sama.Melintasi jagad raya yang berlipat jaraknya.Mendarat di bulevar-bulevar megah eropa,meminta remah roti,biji-biji jagung,membagi jantan dan betina.Sewaktu aku kecil dulu,kekasih.Ada permainan burung yang bernama keplekan.Burung betina dibawa di sisi lain burung jantan dan saat jantan dilepas,maka ia akan hinggap di punggung betina.Kekasih perbolehkan aku untuk selalu hinggap di hatimu dan seluruh rindu mengkristalkan waktu?’’ Merpati selalu pegang janji,menumpasi dengki satu sama lain dan terbang mengiringi pungkas matahari yang senja tergelingsir waktu dan mempersilahkan bulan mengganti jaga.

Rindu adalah parang yang menyayat reraga yang tersiksa,maka lelehkan rindu dengan rasa cinta.Kita pacu waktu pada padang aspodel yang mengirimkan ruh-ruh bergementayang dalam gigil yang tak terurus.Kita lewati aspodel yang setransparan ruh-ruh yang tak kasat mata.Kita pacu kuda ras troya yang terkuat dari jamanya dan berdua melewati oase kering dan dahaga.

/6/
Racun meresap di dada,pucuk tugunya menyemburatkan air suci kehidupan.Kuhisap engkau,sayang dalam segala rasa dosa dan larangan bercinta.Tiada apa kata selain manja yang renjana.Tiada yang lain selain cinta.Cinta mengelabui dosa dalam ikatan perkawinan yang menagih setia.Kutusukkan dalam lubang surga mencipta kehidupan.Walau dosa mendekap raga kita,namun nikmat adalah tak tertahan.Pesta!

Menjelajahi Peta menuju tanda x yang menyembunyikan harta.Lalu hitam-hitam pasukan terakota menggelikan rerasa.bukanya berperang tapi berpenyamun harta.Adalah sekongkol penyamun dan serdadu di atas ladang  yang subur penuh warisan tak ternilai.

/7/
Kesunyian mengerucut,melemparkan cemeti amarasuli yang getirnya tak ada ampun,suara pecut itu menggelegar bersama gentayangannya halilintar.’’Sayang,masihkah rindu ini terus bertahan dalam siksa yang teramat dalam.Ketika jarak memisahkan kita,walau sedetik,semenit adalah luka dari lancip pedang-pedang pangeran persia.’’

/8/
Menunggu adalah batu.Lebih-lebih dirimu,serupa kupu yang terungku jarak yang rindu.Sayang,pungkaskan saja,pungkaskan saja jarak dengan sihir sapu terbang.Tebang menuju hatiku dan tiada aku melepas lagi,sebab menungggu merindu adalah nestapa bagiku bagimu.Kata-kata kehilangan arti tanpa dirimu yang merupakan generasi juliet tertempuh cinta kata-kata romeo.Rindu itu sampar;yang menular menjangkiti yang mendekat.Rindu yang semenjana adalah kait di dada.Buas egonya yang minta ingin bersama.Angin tak yakin dirasa,pelangi hanya cuma sepintas saja.Dan engkau adinda,menggambar hati merah marun di pelupuk mata yang semerta merta mengombaki segala tunggu yang menyerbu menempatkan pilu.

/9/
Bertemu adalah merdeka.lepas dari penjajahan derita.Oh hati yang dilanda kepayang,mabuk, memandang segala miring rupa.mamang dalam tindak-tanduk setelah bertemu kekasih,’’Apa yang akan kita lakukan sehabis melepas renjana yang edan,ini?’’

2012