Rabu, 09 November 2011

Insomnia

berharap aku mampu memuncaki pagi
selongsong minuman menemani
membawa malam ke akar sepi
jangkrik bersiur sahabat sejati
dendangnya hening raya
jalan kini sunyi
aspal tidak lagi bertuan
berpegang mati tiangtiang
mata tidak akan pejam

ingin sekali mataku tersejukan fajar
kabut menyusut melihat pagi
mau sekali membawa diri
meneguk embun di kala pagi

malam
tidur tanpa pejam
bangun tanpa tidur

pagi yang menostalgia puisi
pagi yang kurindu

mimpi lekaslah horor
tampar alam bawah sadarku
kembalikan pagi berhargaku

november 2011

Bahasa Kesuraman

Langkahku mundur
jalanku semakin ngawur
mabuk sebotol keras
gila sedemitdemit pelosok kota
bangkaibangkai berjalan akanku
sandal tua sepatu beludru
menendang hantam lambung
kepalmengepal tangan meninju
anyir darah peluh berciprat dari pelipisku
burungburung mematuki kulit ini
gontai makin aku gontai
jejak patah tertembak bedil
bersarang peluru paku
sedang kelewang menghadap menyayat dagingku!
arghh panas!
berlari,berlari!
hingga pagi memuntahkan tahi
belangbelang badan ini tergrogoti mimpi
biar mati


November 2011

Rabu, 02 November 2011

Memendam Kata

ketika angin menguakan kabut
ditebar debu begitu menderu
bujurbujur kesepian di lingkarkan
lagulagu kepedihan di kumandangkan
kursikursi tua rapuh,jarijari hancur
berdiam merdeka belum tahu apa
atau mungkin alpa pada tempatnya

puisi bukan sekedar biasa
dilahirkan bagi semesta raya
bukan berlian bukan mulia pualam
namun puisi dari altar suci penciptaan
pena lebih berat dari karungkarung gandum
yang dibawa kuli dengan tergopohnya
penyair bisa gila terusik kata
dan mati memendam  kata

pucuk padi merunduk jadi
merakaatkan berkah bagi bumi
sejak angin bertaut lagi
pohonpohon bergerak kata tergerak pena
berubah puisi

Maskumambang( English Version )

Terjemahan oleh Stephanie Crabtree dengan bantuan dari Nick Williams

Dawn slowly penetrates the fog
Bintaro flowers fall in the library yard
On the edge of the pool, near a clump of taro
I sit on a stone shedding my tears

My grandchildren,
What kind of age
What kind of civilization
Will we pass down to you

My soul sings the song of Maskumambang
We are an arrogant generation
Biting off more than we can chew

We are not capable of making plans to face the future
Because we do not have the knowledge to read the bookkeeping of the past
And we cannot read the bookkeeping of today
Therefore the plans of the future are merely speculation, desire, and delusion

My grandchildren,
Our country is devastated by the wave of this age of insanity
Our virtuous ideals are pummeled by rocks
Lethargic on the lap of stones
But with a great effort I survive
Embracing healthy reason and the soul's voice
Despite being cast into the gutter of this age

Our nation today
Is like dice trapped in a box of debt
Shaken by nations with superior power

We are not able to oppose it
All this occurs in the name of development
Which mimics the order of development in the colonial era
The order of the state and the order of law
Also mimics the order of colonialism
Causing the people and the law to exist without sovereignty
Only the government and the political parties are legitimately sovereign

O gutter of civilization,
O dignity of a country now tattered,
Tumultuous country, fragile nation
Power and violence run rampant
The market is burnt, villages burnt,
Vagrants' huts demolished
Without any changes
All in the name of the superstition of development

Restaurants burnt, shops burnt, churches burnt
In the name of blazing religious zeal
If religion becomes a political emblem

Then religion will certainly erode
Because politics does not have a head,
Nor ears, nor a heart
Politics only knows win or lose,
Allies and enemies,
Shallow civilization

Although the life of a nation needs politics,
Politics must not interfere with the independence of faith and reason
In humankind's good fortune
Nonetheless, man's good fortune
In fairness live together in the world
We must guard the benefits of natural law
The lawful benefits of the community
And the good fortune of healthy reason

The sun creeps up from the eastern horizon
After passing the wall of trees
The gracious air greets my body
Spreading the scent of onions cooking in the kitchen
A pair of copulating beetles buzzes by

WS Rendra

Maskumambang

Kabut fajar menyusup dengan perlahan
bunga Bintaro berguguran di halaman perpustakaan
di tepi kolam, di dekat rumpun keladi
aku duduk diatas batu melelehkan airmata

Cucu-cucuku
zaman macam apa,
peradaban macam apa
yang akan kami wariskan kepada kalian.

Jiwaku menyanyikan lagu maskumambang
kami adalah angkatan pongah
besar pasak dari tiang.

kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan,
karena kami tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu
dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini
maka rencana masa depan hanyalah spekulasi, keinginan, dan angan-angan

Cucu-cucuku
negara terlanda gelombang zaman edan
cita-cita kebajikan terhempas batu
lesu dipangku batu
tetapi aku keras bertahan
mendekap akal sehat dan suara jiwa
biarpun tercampak diselokan zaman

Bangsa kita kini
seperti dadu terperangkap dalam kaleng hutang
yang dikocok-kocok oleh bangsa adi kuasa
tanpa kita bisa melawannya
semuanya ini terjadi atas nama pembangunan
yang mencontoh tatanan pembangunan di jaman penjajahan
Tatanan kenegaraan dan tatanan hukum
juga mencontoh tatanan penjajahan
menyebabkan rakyat dan hukum hadir tanpa kedaulatan
Yang sah berdaulat hanya pemerintah dan partai politik

o comberan peradaban,
o martabat bangsa yang kini compang-camping
negara gaduh, bangsa rapuh
Kekuasaan kekerasan meraja lela
Pasar dibakar, kampung dibakar,
gubuk-gubuk gelandangan dibongkar
tanpa ada gantinya
semua atas nama tahayul pembangunan.

restoran dibakar, toko dibakar, gereja dibakar,
atas nama semangat agama yang berkobar
Apabila agama menjadi lencana politik
maka erosi agama pasti terjadi
karena politik tidak punya kepala,
tidak punya telinga, tidak punya hati,
politik hanya mengenal kalah dan menang
kawan dan lawan,
peradaban yang dangkal

Meskipun hidup berbangsa perlu politik,
tetapi politik
tidak boleh menjamah kemerdekaan iman dan akal
didalam daulat manusia
namun daulat manusia
dalam kewajaran hidup bersama di dunia
harus menjaga daulat hukum alam,
daulat hukum masyarakat
dan daulat hukum akal sehat

Matahari yang merayap naik dari ufuk timur
telah melampaui pohon dinding
udara yang ramah menyapa tubuhku
menyebarkan bau bawang yang digoreng di dapur
berdengung sepasang kumbang yang bersenggama